
Di waktu yang sudah pukul 18.30 WIB itu semua orang yang memiliki kepentingan akhirnya pergi meninggalkan lokasi tersebut dengan cepat.
Sementara Sovia dan kedua putrinya diamankan oleh Gary dan orang-orang yang tadi ditunjuk langsung oleh Marvin.
Tidak tanggung-tanggung, Ken serta yang lain membawa mobil mereka dengan kecepatan yang tinggi agar lekas sampai di tempat tujuan.
Namun karena melihat penampilan Lisa yang sudah berantakan, akhirnya Marvin memutuskan untuk menyuruh Ken menghentikan mobilnya disalah satu rumah pengantin terdekat dari gedung pernikahan. Tidak terlalu wah tapi bangunan itu terlihat cukup berkelas.
Sebagai orang yang memiliki segalanya, hanya dengan menunjukkan kartu identitas dan juga salah satu kartu tanpa limit, Marvin dan Elisa tentu langsung mendapatkan pelayanan terbaik disana.
Tanpa basa-basi lagi, Marvin segera menyampaikan keinginannya dan hanya memberi waktu kurang dari dua puluh menit untuk menyulap Elisa menjadi seorang putri.
Beruntung sekali karena hanya tatanan rambutnya saja yang rusak, sedangkan make up nya masih cukup bagus sehingga orang yang disuruh oleh Marvin pun bisa mensiasati dan mengerjakan semuanya dengan baik.
Ia juga memilihkan gaun terbaik yang mereka punya, meski gaun itu tentu saja masih dibawah gaun-gaun rancangan Emily. Tapi ini tetap sangat membantu untuk menyelamatkan pesta pernikahan kedua mempelai itu hari ini.
"Sempurna! Semua sudah siap, Tuan Marvin." Sang pemilik tempat itu tersenyum puas melihat hasil sulapnya.
"Good job! Ambil ini!" Marvin menyerahkan sebuah kartu padanya.
"Terimakasih, Tuan." Dengan gayanya yang centil, orang itu menerima kartu itu dan menyelesiakan pembayarannya.
Setelah urusan di tempat itu selesai, Marvin mengajak Elisa untuk kembali melanjutkan perjalanan. Ia menggandeng dan menuntun gadis itu dengan hati-hati.
Sementara itu ditempat yang lain, Morgan sudah sedikit kewalahan meladeni pertanyaan para tamu undangan yang menanyakan dimana keberadaan dua calon mempelainya.
Hal ini tentu saja terjadi, karena acara pernikahannya harusnya sudah dimulai sejak tadi, tapi hingga sekarang belum ada tanda-tanda akan dilangsungkannya pesta ini.
Morgan lalu memilih untuk sedikit menjauh dari kerumunan dan pergi ke tempat yang sedikit lengang. Ia tengah harap-harap cemas saat ini. Beberapa kali ia menengok arloji yang ada ditangannya.
Lelaki itu berdecak dan terlihat mondar-mandir disana sebelum akhirnya datanglah sepasang calon pengantin yang sejak tadi sudah ditunggu-tunggu olehnya dan oleh semua orang.
"Marvin," gumamnya lirih seraya bergegas menghampirinya.
"Papa." Lelaki itu berhambur dan memeluk ayahnya seraya tersenyum haru.
"Syukurlah kalian baik-baik saja. Ayo! Semua orang sudah menunggu kalian." Dengan perasaan lega dan bangga Morgan menuntun kedua mempelai melewati kerumunan para tamu yang sudah memenuhi ruangan itu.
Semua orang nampak terlihat kagum, mereka tersenyum melihat kedua calon mempelai yang nampak begitu serasi bak seorang putri dan pangeran.
Setelah semua orang dan semua anggota keluarganya hadir disana, acara pun segera dimulai.
Baik Morgan dan Marvin sama-sama menyampaikan permintaan maafnya pada para tamu karena telah menunggu lama untuk acara ini. Tapi tentu mereka tidak menyampaikan alasannya yang sebenarnya.
Kini, dengan disaksikan oleh para tamu undangan, kedua mempelai saling mengucapkan janji suci pernikahan mereka dengan sungguh-sungguh. Berjanji untuk saling mencintai dan menerima segala kekurangan dan kelebihan masing-masing. Berjanji untuk tetap setia selama-lamanya hingga maut datang menjemput dan memisahkan mereka.
Akhirnya, setelah badai yang datang menghampiri mereka, sekarang keduanya telah berhasil menyatukan cinta mereka.
Semua keluarga tersenyum bahagia dan haru, begitupun para tamu undangan. Mereka juga seolah turut berbahagia atas bersatunya dua insan yang telah disatukan dalam sebuah ikatan suci tali pernikahan.
Harapan demi harapan seolah terlantun dengan sendirinya dari hati kedua mempelai, juga dari hati kedua keluarga mereka.
Berharap semoga pernikahan ini akan awet, seumur hidup mereka dan juga berharap pernikahan ini akan membawa berkah bagi kedua keluarga mereka.
Kedua pasang mata yang saling mencintai itu bersatu dalam sebuah pandangan. Marvin tersenyum. "Aku berterimakasih pada Tuhan, karena Tuhan mengijinkanku memilikimu seutuhnya," katanya ditengah-tengah acara.
"Terimakasih juga karena sudah mengubah seluruh hidupku," balas Lisa.
Keduanya lalu saling tersenyum dan bergandengan lalu menerima bouqet bunga yang akan mereka lemparkan dari atas panggung tempat mereka tengah berdiri sekarang.
Seorang pemandu acara mulai menghitung, dan pada hitungan ketiga bunga itu Lisa lemparkan dengan posisi membelakangi para tamunya.
Para muda-mudi bersorak saat bunga itu tengah melayang lepas dari genggaman mempelai wanita. Entah siapa orang yang berhasil menangkapnya. Yang pasti, semua orang percaya jika siapapun yang berhasil mendapatkannya, maka ia akan segera menemukan jodohnya.