
Setelah jamuan makan siang selesai, Marvin dan Ken berbincang-bincang dengan para pengurus panti tentang rencana pemindahan tempat tinggal bagi anak-anak panti.
"Baiklah, saya rasa cukup sampai disini, Bu Yuli. Saya pamit dulu karena masih ada beberapa urusan yang harus saya selesaikan." Marvin berdiri dari tempatnya.
"Iya, Tuan. Sekali lagi terimakasih atas semuanya. Saya titip salam untuk seluruh keluarga besar Tuan Wira. Semoga selalu diberi kesehatan, umur yang panjang dan dilancarkan segala urusannya." Bu Yuli berkata tulus seraya tersenyum.
"Amin, terimakasih sudah mendoakan kakek saya," balas Marvin.
Mereka lalu keluar dari ruangan yang bisa disebut ruangan khusus yang biasa dipakai untuk rapat para pengurus panti.
Bu Yuli mengantarkan mereka sampai ke halaman, diikuti anak-anak penghuni panti itu. Mereka tampak tersenyum ceria sambil melambaikan tangan pada mobil Marvin yang mulai menjauhi area panti.
"Ken, kau tahu. Aku sangat bangga sekali pada Opa," ujar Marvin seraya tersenyum.
"Tentu saja, Tuan. Tuan Wira adalah orang yang sangat mulia hatinya. Berkat beliau juga, ayah saya berhasil menjadi sekertaris yang hebat." Ken berbicara sambil tetap fokus pada kemudinya.
Keduanya lalu diam, dan keheningan pun tercipta. Marvin sudah memejamkan matanya dengan sangat tenang, sementara Ken harus tetap terjaga memegang kemudinya.
Perjalanan masih sangat panjang, mobil yang ia kemudikan baru saja melewati jalanan yang sangat rindang. Di sisi kiri dan kanan nampak banyak pepohonan berbaris rapi menghiasi jalan.
Setelah melewati lebih dari dua jam perjalanan, akhirnya tibalah mereka di Kota J. Kota dimana kesibukan masih terlihat di berbagai sudutnya.
Ken memperlambat laju mobilnya saat mendekati gedung kantor milik Globalindo. Matanya sesaat menangkap wajah manis gadis penjual kue yang sedang melayani pembelinya.
Ken pernah membeli kue ditempat itu, dan memang rasanya sangat enak. Tekstur kuenya lembut dan manisnya pas. Begitulah kesan yang Ken dapat saat mencicipinya. Sayangnya ia belum punya kesempatan untuk mencicipinya lagi, padahal letak kantor dan tempat jualan Arumi juga sangat dekat.
"Kita sudah sampai, Tuan." Ken menghentikan mobilnya dan menoleh kearah bosnya yang masih memejamkan matanya.
Mendengar ada yang memanggilnya, Marvin pun menggeliatkan badannya serta mengerjapkan matanya yang masih terasa lengket. Ia menengok ke sekelilingnya untuk memastikan.
"Kenapa kau baru membangunkan ku dasar sialan!" umpatnya.
"Karena tadi saya masih fokus mengemudi, Tuan. Anda tadi juga tidur sangat pulas seperti bayi, jadi saya tidak sampai hati membangunkannya," jawab Ken tanpa dosa.
"Apa? Kau memang benar-benar menjengkelkan! Sekarang penampilanku pasti sangat kusut. Lisa pasti kaget melihatku, nanti."
Kebodohan dimulai, batin Ken.
"Anda bisa mandi di ruangan Anda, sebelum menemui nona Elisa, Tuan," saran Ken.
"Kau benar juga, terkadang kau memang pintar, Ken." Marvin lalu bergegas turun dan segera masuk ke dalam kantor. Ia menuju ke ruangannya untuk membersihkan diri sebelum menemui kekasih tercintanya.
Sementara Ken hanya menggelengkan kepalanya. Ia hanya asal memberi saran, tapi bosnya yang kelewat bodoh karena cinta itu justru mengikuti sarannya.
Satu-satunya orang yang Ken tahu tidak pernah dibuat bodoh karena cinta hanyalah ayahnya. Ayahnya masih tetap berwibawa meski cintanya pada ibunya juga sangat besar, begitulah yang terlihat dimata ken.
Mungkinkah ada hal yang Ken sendiri tidak tahu? Saat ayahnya menyatakan cintanya mungkin? Terkadang Ken ingin tahu lebih banyak, tapi melihat cara ayah dan ibunya saling mencintai dan menghargai, rasanya sudah cukup.
Ken turun dan meninggalkan mobil bosnya di tempat parkir khusus. Ia melangkahkan kakinya menyusul Marvin.
Di ruangannya, Marvin terlihat baru saja selesai membersihkan diri. Ia terlihat sangat segar dan tampan sekarang. Siap untuk menemui pujaan hatinya.
Ia bergegas dan berjalan melewati Ken yang baru sampai di ruangan itu.
"Lama sekali!" gerutunya saat lift tak kunjung sampai ke lantai yang dituju.
Sementara di lantai tempat Lisa berada, gadis itu tengah bersama teman-temannya sedang berjalan dan saling bergurau satu sama lain.
"Terus nasib Bimo gimana dong?" Nia memasang wajah prihatin.
"Dari awal juga kan aku sudah bilang, aku nggak ada hubungan apapun sama Bimo. Kalian jangan bikin gosip ah," protes Lisa.
Dan setelah itu tak ada sahutan lagi dari teman-temannya karena mereka terpaku pada sosok tampan yang sedang berjalan mendekati mereka.
"Hai, Sayang!" sapa Marvin yang langsung membuat Lisa menoleh ke arah sumber suara.
"Marvin?" tatap Lisa heran dengan keberadaan lelaki itu yang secara tiba-tiba.
"Mau pulang sekarang?"
"Iya, bisakah aku pulang sendiri?" tanya Lisa sedikit ragu. Ia langsung mendapat tatapan tajam dari kekasihnya.
"Apa maksudmu kau mau pulang dengan lelaki itu?"
"Tidak, bukan begitu, aku hanya ing-"
Tidak mau mendengar alasan Elisa, Marvin langsung merangkul gadis itu dan membawanya. Tidak ada perlawanan dari Lisa, tapi justru teman-temannya yang memekik tanpa suara.