
Dengan perasaan takut bercampur heran, Maria tidak lagi bisa berkata apa-apa. Ia hanya bisa menggenggam tangan Elisa yang juga terasa dingin karena gadis itu juga merasakan kecemasan di dalam hatinya.
Ia tidak lagi mencemaskan dirinya sendiri saat ini, tapi juga mamanya. Jika kakak perempuannya sudah seberani ini menggertaknya, bukan tidak mungkin wanita itu juga akan berani berbuat lebih jauh atau bahkan bisa mencelakai mamanya.
Mata Elisa mencoba menengok ke arah luar, kanan dan kiri serta sekelilingnya. Tapi sial, ia tidak mengenali tempat ini. Lebih sialnya lagi ia serta mamanya tidak ada yang memegang ponsel yang bisa digunakan untuk menghubungi seseorang.
Setelah mobil yang membawa mereka berhenti sempurna, Stevi terlihat menyeringai licik sambil melirik dua orang yang duduk dibelakangnya.
"Turun!" perintahnya tanpa menoleh.
Di tempat itu tidak terlihat ada satupun kegiatan yang menunjukkan adanya kehidupan manusia disana. Rumput-rumput yang tumbuh begitu tinggi nampak menghiasi segala penjuru tempat itu.
"Kita ada dimana, Kak? Jangan membuat Mama takut!" Dengan suara yang terdengar berani, Elisa mencoba mencari tahu.
"Aku tidak butuh ocehan mu, dasar murahan! Cepat turuti perkataan ku!"
Stevi lalu turun dan bergegas membuka pintu dengan kasar sambil menodongkan sebilah pisau pada dua wanita yang masih berada didalam mobil itu.
Maria semakin gemetar ketakutan, air matanya seketika meleleh membasahi pipinya. Tapi ia tidak berani sama sekali untuk sekedar membuka suara. Ia tidak menyangka, anak yang ia lahirkan dan ia besarkan dengan penuh kasih sayang akan berani membuatnya dalam situasi seperti saat ini.
Dengan sangat terpaksa Lisa mengikuti permainan kakaknya. Lagipula ia juga tidak bisa bergerak bebas karena gaun prngantin yang dipakainya. Kali ini ia benar-benar berharap papanya atau Marvin akan berusaha mencarinya dan dan bisa datang tepat waktu.
"Jalan!" perintah Stevi saat adik dan mamanya sudah turun. Sementara ia masih tetap menodongkan pisaunya sambil berjalan di belakang dua wanita itu.
Ia menggiring tawanannya menuju salah satu bangunan yang terlihat paling kecil diantara bangunan lainnya. Bangunan itu mungkin dulu adalah sebuah kantor kecil, karena terlihat bagian dalamnya yang bersekat-sekat.
"Duduk!" Stevi menyuruh adik dan mamanya untuk duduk di sebuah bangku panjang yang sudah lusuh yang terletak di bagian tengah bangunan.
"Lepaskan kami! Apa tujuanmu membawa kami kesini?" Lisa bersuara.
"Lepas? Hahaha ...." Stevi justru tertawa mendengarnya. Terdengar sarkas namun juga seperti menyimpan banyak dendam.
"Berdoa saja pada Tuhanmu agar kalian bisa lepas dari sini!" ujarnya sombong seraya memainkan benda tajam yang ada ditangannya. Sesekali ia tersenyum sendiri.
"Apa kau tidak pernah puas berusaha mencelakai ku sejak dulu? Apa kau belum puas juga telah membuat namaku menjadi bahan hinaan dimana-mana? Apa kau belum puas telah membuat hidupku susah selama ini?"
Pertanyaan-pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibir Lisa. Membuat Maria mengernyitkan dahinya karena tidak mengerti akan maksud dari ucapan putrinya.
Mendengar ucapan Lisa, Stevi menoleh dan menatap tajam pada gadis itu.
"Kenapa? Kenapa kau begitu membenciku?" lirih Lisa. Ia masih mengingat hubungan darah diantara keduanya. Bagaimana mungkin bisa seorang saudara kandung bisa membenci saudaranya yang lain sampai seperti itu?
"Karena kehadiranmu, kasih sayang Mama dan Papa jadi terbagi, karena kehadiranmu semua mata lelaki menjadi tertuju padamu, bahkan Andra yang sudah menjalin hubungan denganku pun diam-diam menyukaimu. Dan karena kau juga, Marvin tidak pernah melirikku sama sekali. Padahal sejak lama aku menantikan kedatangannya di sini, aku yang berusaha mengenalnya sejak dulu hingga aku pernah beberapa kali datang ke negara tempatnya tinggal beberapa tahun yang lalu. Tapi kau, kenapa kau begitu mudah mengenalnya?"
Stevi merendahkan suaranya diakhir kalimatnya.
"Aku tidak pernah mengharapkan semua itu. Kau yang terlalu tamak, Kak. Apa kau tidak pernah melihat jika mama dan papa selama ini memprioritaskan mu? Aku menerimanya walau aku sangat kurang kasih sayang. Aku selama ini diam dan hanya bisa memeluk bi Sum dan bi Yanti saat aku bersedih. Selama inipun aku sudah cukup mengalah menerima segala perlakuan mu juga papa dan mama. Aku menerima semua fitnah yang sengaja kau buat untuk membuat reputasi dan nama baikku menjadi hancur. Aku menerima semua kebencian papa dan mama padaku karena ulah mu. Sementara kau menjadi anak kesayangan mereka, akupun tidak masalah. Lalu kau masih tega menjebak ku dengan bersekongkol bersama Boby agar aku lebih celaka lagi. Sebagai kakak, tidak pernahkah kau memikirkan adikmu sedikit saja?"
Air mata Lisa meleleh begitu saja jika mengingat semua yang ia alami selama ini. Lebih dari dua puluh tahun hidup bersama kakak yang licik serta orang tua yang kurang peka bukanlah hal mudah. Tak jarang air mata selalu mewarnai hari-harinya.
Stevi terdiam sejenak, sementara Maria tidak bisa menahan laju buliran bening yang sejak tadi sudah membasahi pipinya. Mendengar semua ucapan Lisa, hatinya begitu terasa sakit sekali. Bagaimana ia bisa buta hingga selama ini. Termakan tipuan Stevi dan menyia-nyiakan Lisa yang tidak berdosa selama ini.
"Cukup dengan ocehan mu! Aku tidak ingin mendengarnya! Diam disitu dan jangan kemana-mana!" Stevi berlalu dan keluar dari bangunan itu.
Sementara ditempat yang lain, Hanggara baru saja tiba di gedung pernikahan putrinya bersama dengan rekannya. Ia tersenyum lebar saat memasuki ruang tunggu, dimana keluarga calon besannya sedang berkumpul.
"Selamat sore, Tuan Wira, Tuan Morgan," sapanya seraya mengedarkan pandangannya kesekeliling ruangan. Senyumnya memudar saat mendapati putrinya tidak ada disana.
"Sore Hanggara, dimana putrimu serta istrimu?" tanya Morgan. Marvin juga mendekat ke arah calon mertuanya.
"Mereka sudah sejak tadi berangkat, Tuan. Saya kira mereka sudah sampai. Kalau begitu saya akan hubungi Stevi dulu, karena tadi dialah yang saya tugaskan untuk membawa pengantinnya."
Hanggara lalu mengeluarkan ponselnya dan dengan cepat menghubungkannya pada nomor Stevi.
Namun sayangnya panggilannya tidak dapat tersambung sama sekali. Ia dengan wajah tak berseri sama sekali, menatap pada calon besannya serta calon menantunya yang sudah menunggu kabar darinya.
"Nomor Stevi tidak dapat dihubungi, Tuan." Tiba-tiba perasaan tidak enak menyerangnya begitu saja.
"Apa? Pantas saja dari tadi perasaanku sangat tidak nyaman." Marvin memijat pelipisnya yang terasa berdenyut.
"Ken!" teriaknya memanggil sahabat yang merangkap sebagai sekertarisnya agar mendekat padanya.
"Iya, Tuan?" Ken yang menangkap raut wajah tuannya sedang tidak baik-baik saja pun langsung mencoba menelisik.
"Stevi membawa Elisa ku, Ken! Cepat lacak keberadaannya sekarang juga! Jika perlu kerahkan semua orang untuk menemukan Lisa secepatnya! Aku tidak ingin hari bahagiaku menjadi kacau karenanya."
"Baik, Tuan." Ken menerima perintah Marvin dan langsung berkoordinasi dengan ayahnya. Sementara yang lain masih terdiam dan ikut memikirkan apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa Stevi membawa Lisa? Begitulah yang ada dalam pikiran Eylina, serta yang lainnya.