
"Sekarang ikut aku!" Marvin menggenggam jemari lentik kekasihnya.
"Kemana?" tanya Lisa. Lagi-lagi ia dibuat terheran-heran dengan apa yang akan dibuat oleh Marvin.
"Aku akan membawamu kerumah keluarga besarku, aku akan bilang ke Papi untuk segera menyiapkan segalanya."
Marvin tersenyum hangat, ia berusaha agar tidak membuat Lisa justru takut padanya.
"Apa tidak terlalu cepat?" Lisa sedikit ragu akan keputusan Marvin. Ia juga belum mengatakan apapun pada orangtuanya. Bagaimana ia harus mengatakannya nanti? Otak Lisa terus berputar.
"Tidak, Sayang. Menurutlah padaku, maka semua akan baik-baik saja." Kini lelaki itu menangkup wajah mungil gadis yang ada dihadapannya dengan penuh rasa cinta. Sebenarnya ia merasa gemas sekali akan kepolosan yang kelewat batas dari kekasihnya.
Tidak tahukah kau, aku sangat mengkhawatirkan mu? batin Marvin gemas.
Ia tidak habis pikir, apakah Lisa tidak pernah merasa takut jika sewaktu-waktu Stevi akan nekat melukainya atau bahkan mengancam nyawanya? Mengingat gadis tidak waras itu sudah senekat itu saat masih remaja. Bukan tidak mungkin jika hal yang lebih ekstrim akan dilakukannya.
"Baiklah!" Lisa mengangguk seraya tersenyum ragu. Lalu beberapa saat kemudian pandangannya terasa gelap, hingga membuatnya hampir kehilangan keseimbangan. Sesaat ia merasa dunia seolah berputar.
Ia melepaskan tangan Marvin lalu memegangi kepalanya yang berdenyut dan berusaha menyenderkan tubuhnya pada dinding kaca di belakangnya. Rasanya sendi-sendinya terasa sakit dan nyeri hingga hampir tak bisa menopang berat tubuhnya.
Melihat kekasihnya yang akan jatuh terhuyung kesamping Marvin pun merasa khawatir.
"Sayang! Kau kenapa? Wajahmu memucat?" tanya Marvin sedikit cemas sambil meraih tangan Elisa yang berubah menjadi dingin. Ia menyandarkan tubuh Lisa pada dada bidangnya.
Ia juga meraba kening dan perpotongan leher Lisa yang terlihat berkeringat. Rasanya dingin semua. Tak menunggu waktu lama, ia pun segera mengangkat tubuh kekasihnya dan membawanya naik ke ruangannya.
Serangan panik mendera Marvin tanpa ampun. Bagaimana tidak, beberapa saat lalu kekasihnya masih baik-baik saja dan sekarang justru terkulai lemas tak berdaya. Dengan gesit ia berlari setelah lift yang ia naiki telah sampai pada lantai ruangannya.
Lalu ia menggerakkan kakinya dengan keras dan dalam sekali tendang saja ruangannya langsung terbuka. Ken yang sedang sibuk berada di dalam ruangan pun tersentak karenanya. Ia lalu berdiri dari posisinya saat melihat bosnya masuk ke ruangan dengan membawa Elisa dalam gendongannya.
"Tuan, ada apa dengan nona Elisa?" tanya Ken dengan wajah sedikit bingung. Ia berjalan mendekati bosnya.
"Elisa pingsan. Biarkan di sini dulu! Nanti setelah dia sadar aku akan membawanya ke rumah sakit."
Marvin lalu membaringkan tubuh Lisa di sofa panjang yang ada di ruangan itu. Ia juga melepaskan sepatu yang menempel di kaki kekasihnya.
Dengan perasaan yang masih cemas, Marvin mengusap wajah cantik yang terlihat pucat itu.
"Apa yang terjadi padamu, Lisa?" tanyanya, meski ia tahu Lisa nya tidak akan bisa menjawab pertanyaannya. Marvin menggenggam dan menciumi tangan lembut gadis itu dengan penuh rasa sayang.
"Sayang! Kau sudah sadar?" Marvin bertanya seraya tersenyum hangat padanya.
"Marvin?Aku kenapa?" tanyanya bingung seraya mengedarkan pandangannya.
"Aku ada dimana?" sambungnya lagi seraya berusaha untuk bangun.
"Sayang, tenanglah! Kau ada di ruanganku sekarang. Tadi kau pingsan," jelas Marvin. Ia mencegah Lissa yang akan bangun.
"Bisakah aku ke kamar mandi?" tanya Lisa seraya menutup mulutnya.
"Tentu saja." Marvin lalu membantu kekasihnya untuk bangun dari tempatnya dan memapahnya ke kamar mandi.
Namun belum juga sampai, Lisa lebih memilih berlari dan segera masuk tanpa mengunci pintunya. Perutnya terasa diaduk, dadanya terasa sesak seolah ingin mengeluarkan segala yang ada di dalam lambungnya.
"Huek!"
Begitulah suara nyaring dan spontan yang terdengar oleh telinga Marvin serta sekertarisnya.
Lelaki itu langsung menerobos masuk menghampiri Lisa yang berada di depan wastafel dan tengah membersihkan muntahannya. Nampak gadis itu sedikit menderita karena seluruh isi lambungnya keluar begitu saja.
"Sayang, kau kenapa?" tanya Marvin dengan wajah panik. Ia berusaha membantu Lisa dengan memberikan pijatan di area leher belakang. Berharap hal ini akan sedikit membantu.
Dan rupanya benar, Lisa sedikit lebih rileks sekarang. Ia lalu membasuh bibirnya dan berkumur untuk menghilangkan sisa rasa asam di dalam mulutnya.
"Ku rasa, aku hanya sedang tidak sehat saja," ujarnya seraya meminta Marvin menghentikan aktifitas memijatnya. Wajahnya masih pucat serta matanya sedikit mengeluarkan cairan bening.
"Kita kerumah sakit sekarang!" ajak Marvin.
"Tidak perlu, Marvin. Mungkin aku hanya masuk angin. Nanti aku akan minum obat di ruang P3K dan setelah itu aku pasti membaik." Lisa merasa Marvin terlalu berlebihan. Padahal masuk angin adalah hal yang sudah umum terjadi.
"Tidak! Aku tidak mau kau sembarangan minum obat. Kita kerumah sakit sekarang! Anggap saja kalau aku sedang mengkhawatirkan karyawan ku jika kau keberatan karena aku mengkhawatirkan mu sebagai kekasihku!"
"Baiklah," ujar Lisa pasrah. Ia lalu keluar dari kamar mandi dan memakai sepatunya kemudian berjalan gontai mengikuti Marvin.
Kenapa aku merasa dia sangat posesif? batin Lisa. Ia menatap punggung kekar yang d di depan matanya.
"Ken! Batalkan semua jadwal hari ini! Aku sedang sibuk, jika memungkinkan dan kau bisa mengatasinya, atur saja sesukamu. Ingat, jangan ceroboh!" Marvin mewanti-wanti sekertarisnya. Ia lalu merangkul bahu Lisa dan menutup pintu tak bersalah yang tadi sempat terkena tendangannya.