
Sesampainya di halaman gedung utama, Stevi tersenyum lebar.
Ia tentu sangat senang karena pada akhirnya ia akan bisa bertemu dengan tuan muda yang telah lama menyembunyikan identitas dirinya itu.
Bahkan pernah beberapa kali ia ikut berkunjung ke tempat tinggal Tuan Morgan diluar negeri pun dia tidak pernah beruntung. Tuan muda itu selalu tidak pernah terlihat.
"Selamat pagi Nona, bisa saya bantu?" sapa seorang petugas keamanan setelah beberapa saat mengamati wanita cantik itu hanya berdiri di depan loby.
"Selamat pagi, saya dari perusahaan Crown Group, diutus oleh Tuan Hanggara untuk menemui Tuan muda," kata Stevi sangat anggun dan elegan.
"Jika begitu silahkan masuk, Nona. Saya akan sampaikan pada resepsionis,"
Sekuriti itu memandu Stevi untuk menunggu di loby. Sementara dia menyampaikan maksud kedatangan gadis itu kepada resepsionis.
Setelah cukup lama menunggu, akhirnya datanglah salah satu staf sekertaris bernama Winda.
"Selamat pagi, Nona Stevi," sapa Winda ramah.
Stevi tersenyum sangat ramah, "Selamat pagi," jawabnya.
"Mari ikuti saya, Tuan Marvin ada di ruangannya."
Dengan perasaan yang semakin membuncah, Stevi mengikuti langkah Winda. Jantungnya bahkan sudah berdebar-debar membayangkan seperti apa wajah Marvin, dan akan seperti apa kesan pertemuan pertama mereka. Ia harus menampilkan kesan terbaiknya. Begitu tekadnya.
Winda memencet tombol lift yang akan membawa mereka ke lantai khusus untuk Morgan dan Marvin.
Tak lama pintu lift terbuka, mereka pun masuk dan menunggu hingga sampai pada lantai yang dituju.
Ting ....
Setelah beberapa saat akhirnya mereka sampai juga.
Wow, suasana disini sangat tenang sekali. Jika aku bisa mengambil hati Marvin dan bisa menjadi kekasihnya, pasti kami bisa menikmati suasana tenang ini di perusahaan ini. Membahas urusan kerjasama, dan ....
Stevi sudah gemas sendiri membayangkannya.
"Ini adalah ruangan Tuan Marvin, Nona," kata Winda sebelum mengetuk pintunya.
Stevi tersenyum mendengarnya, ia sudah tidak sabar. Tapi tentu ia harus mengendalikan dirinya dengan baik.
"Sekertaris Ken, ini adalah Nona Stevi dari Crown Group," Winda memperkenalkan gadis itu pada sekertaris pribadi Marvin.
Ken mengulurkan tangannya dan disambut oleh gadis itu. Jika sekertarisnya setampan ini, bagaimana dengan bosnya? batin Stevi.
Menjabat tangan Ken saja ia sudah berdebar-debar.
"Masuklah, Nona!" perintah Ken.
Stevi pun mengikuti lelaki itu masuk ke ruangan Marvin, sementara Winda kembali pada pekerjaannya.
Mendengar kata-kata sekertarisnya, Marvin pun memutar kursinya sehingga ia kini berhadapan dengan dua orang dihadapannya.
Tampan sekali, batin Stevi.
Tapi sayangnya Marvin belum melihat kearahnya. Lelaki itu masih sibuk memandangi foto seorang gadis di dalam ponselnya.
"Tuan muda, ini adalah Nona Stevi. Putri dari Tuan Hanggara," kata Rey lagi.
Marvin sebenarnya sangat sebal karena keasyikannya terganggu. Tapi ia sadar ini adalah kantor. Disini dia harus bersikap profesional.
Ia pun meletakkan ponselnya di laci dan menatap tamu yang baru saja masuk ke ruangannya.
Tersenyum. Marvin tersenyum pada Stevi, membuat gadis itu hampir kehilangan konsentrasinya.
"Ada perlu apa, sampai Nona datang kesini?" tanya Marvin masih duduk ditempatnya dengan gaya angkuhnya. Salah satu kakinya menopang pada kaki yang lain. Serta tangan bersedekap di depan dadanya.
Astaga ... aku bisa mati berdiri jika begini, dia lebih tampan dari yang kubayangkan.
"Saya hanya diutus oleh ayah saya untuk menyerahkan bingkisan selamat datang ini pada Tuan Marvin," jawab Stevi seraya menyerahkan paper bag besar yang ia bawa tadi.
"Ken!" panggil Marvin seraya memberi isyarat.
Tanpa perlu menunggu perintah lagi, Ken segera menerima bingkisan yang dibawakan oleh gadis tadi.
Untuk sekejap ekspresi Stevi sedikit berubah, mungkin ia kecewa karena gagal berkontak fisik, menatap mata dan mencari kesempatan pada Marvin.
"Silahkan duduk!" Morgan mempersilahkan tamunya.
"Terimakasih, Tuan."
Gadis itu melangkahkan kakinya dan duduk dengan anggun. Sangat berkelas, begitulah kesan yang nampak dari dalam dirinya.
"Apa ada hal lain lagi yang akan anda sampaikan?" tanya Marvin yang tidak menikmati pertemuan ini.
"Tentu saja, Tuan. Saya diutus memberitahukan kembali undangan makan malam dari ayah saya kepada keluarga Tuan muda," jelas Stevi dengan gaya bicaranya yang elegan.
Marvin manggut-manggut mendengarnya, "Aku sudah tahu dan masih ingat,"
"Saya juga ingin membicarakan tentang meeting diantara perusahaan kita, Tuan."
"Meeting? Ken apakah benar begitu?" tanya Marvin pada sekertaris yang sibuk di mejanya.
Ken segera memeriksa jadwal di ponselnya, tapi meeting yang dimaksud oleh Stevi masih lama sekali.
"Benar, Tuan. Tapi meeting itu baru akan dijadwalkan bulan depan,"
"Masih lama juga, jadi kurasa kau bisa membicarakannya lain waktu saja. Aku masih banyak sekali urusan, jika tidak ada hal yang sangat penting lagi, anda bisa meninggalkan ruangan ini," pinta Marvin secara acuh. Entah kenapa, ia tidak merasa nyaman dengan wanita yang ada dihadapannya.