Become The Billionaire'S Wife

Become The Billionaire'S Wife
Persiapan



Mendengar perintah dari ayahandanya, Marvin pun langsung menekan nomor orang kepercayaan keluarganya dan menyampaikan perintah ayahnya.


Tidak perlu dibayangkan lagi, Ken dan ayahnya tentu tengah berpusing-pusing ria setelah menerima perintah itu. Mereka harus cepat memutar otak dan segera menentukan akan memilih barang yang mana. Dan jalan pintasnya adalah melimpahkan tugas tersebut pada bawahannya.


Demi apa, pentolan The Lion gen 2 pun harus ikut terkena imbasnya. Merekalah yang harus turun ke lapangan untuk menyiapkan segala persiapannya dengan waktu kurang dari dua jam. Hal gila apa ini?


Sementara itu, yang punya hajat justru tengah berbahagia. Setelah menelepon Ken dan ayahnya, ia pun tersenyum manis seolah tidak pernah membuat kesalahan apapun.


"Terimakasih, Pi! Papi sama Mami sudah bersedia meminang Elisa untuk Marvin." Lelaki itu tersenyum secerah mentari pada kedua orang tuanya dan berhambur memeluk keduanya.


"Jika kau mau berterimakasih, bekerja dan jalankan perusahaan dengan baik. Satu lagi, itu anak gadis orang, jika sudah kau nikahi, dijaga baik-baik! Jangan sampai mempermalukan keluarga lagi!" Morgan meleraikan pelukan putranya dan melayangkan tatapan tajam.


"Tentu saja, Pi. Marvin sangat mencintainya, muah ...." Putranya yang menyebalkan itu mencium pipinya hingga membuatnya bergidik karena geli.


"Dasar menjijikkan!" Morgan mengusap pipinya. Sejak kapan putranya jadi segila ini? Hingga membuatnya merinding. Entah bagaimana juga anak lelakinya bisa meniduri seorang wanita, siapa pula yang mengajarinya? Apa anak itu diam-diam pernah mengintip aktifitas malamnya bersama istrinya? Berbagai pertanyaan bermunculan begitu saja di kepala Morgan.


Sementara istrinya hanya tertawa geli melihat tingkah suami serta anak lelakinya.


"Mami, i love you." Setelah terkekeh karena protes ayahnya, Marvin ganti mencium ibunya dengan gemas.


"Ya, sudah. Cepatlah bersiap-siap! Sampaikan juga ke Luisa, Mami dan Papi mau menyampaikan hal ini pada opa dan oma." Eylina tersenyum.


Pemuda itupun langsung bergegas dan melambaikan tangannya dengan gembira. Tentu saja, tidak ada hal yang lebih menggembirakan dari pada hari ini. Hari dimana ia akan meminang gadis pujaannya.


Sementara Eylina dan Morgan tengah saling pandang. Sama-sama bingung, haruskah kehamilan calon istri Marvin dibeberkan? Bagaimana jika hal itu justru membuat dua orang yang mereka hormati malah syok!


"Bagaimana, Pi?" tanya Eylina setelah beberapa saat berpikir.


Sementara Morgan masih mondar-mandir ditepi tempat tidurnya. Ia lalu berhenti dan menatap istrinya.


"Jika Marvin berani jujur pada kita, kenapa kita harus menutupinya?" jawabnya dengan tatapan yang menyimpan beban.


Morgan lalu menghela napasnya perlahan, ia duduk disamping istrinya dan menggenggam tangannya.


"Aku tahu Papa adalah orang yang penuh toleransi. Beliau pasti bisa mengerti." Morgan tersenyum.


Melihat hal itu, Eylina pun ikut tersenyum. Ya, di dalam keluarga ini sangat menjunjung tinggi kejujuran. Tapi, dengan kondisi mertuanya yang sudah tidak seperti dulu lagi, apakah mereka bisa menerima kenyataan ini?


Batin Eylina masih terus berdebat. Tapi kembali lagi, jika mereka harus mendengar dari orang lain maka semuanya juga akan berimbas buruk. Mereka pasti akan bertambah rasa kecewanya.


"Ya, sudah. Kau temani aku, ya?" pinta Morgan, membuyarkan lamunan istrinya.


Eylina mengangguk dan kemudian mengikuti suaminya. Mereka berjalan beriringan menuju kamar papa dan mamanya.


Tapi rupanya dua orang yang akan mereka temui kini sedang berada di ruang keluarga.


"Pa, Ma!" sapa Morgan seraya tersenyum kikuk.


"Morgan, Eylina? Duduklah! Kami sedang nonton acara keluarga, kalian mau bergabung?" tanya ayahnya.


Wira mengerutkan dahinya melihat putranya menunduk setelah mengatakannya.


"Kelihatannya itu adalah hal penting. Katakanlah!"


Mendengar hal itu Morgan justru sedikit takut. Ia takut membayangkan akan bagaimana reaksi orangtuanya nanti. Sesaat ia menarik napas panjang.


"Pa, mmm ... cucu Papa, Marvin memintaku untuk meminang salah satu putri dari Dimas Hanggara untuknya," ujar Morgan, ia menghentikan sejenak ucapannya.


"Wah benarkah? Baguslah, jadi kita tidak perlu repot-repot menjodohkannya." Wira tersenyum mendengarnya.


"Tapi, Pa ... Marvin ...." Tak kuasa rasanya Morgan mengatakannya.


"Marvin kenapa?" Kali ini mamanya yang berbicara. Ia penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh Morgan.


"Marvin telah lebih dulu menghamilinya," lirih Morgan dengan wajah yang tertunduk.


"Apa?" mama Ayu membelalakkan matanya.


Sementara papa Wira hanya menunduk, ia masih mencerna ucapan Morgan. Mungkin ia juga merasa syok dan kecewa pada cucunya.


"Iya, Ma. Marvin telah menodai anak gadis Hanggara hingga hamil sekarang," tegas Morgan kembali.


Setelah beberapa saat terdiam, akhirnya Wira mengangkat kepalanya dan menatap Morgan dengan tatapan dalam.


"Jujur Papa kecewa mendengarnya. Tapi yang namanya kesalahan tetap harus dipertanggungjawabkan. Jika memang benar Marvin yang melakukannya, maka biarkan ia bertanggung jawab atas semuanya. Biarkan ia menjadi dewasa dengan jalannya sendiri. Tapi ingatkan kembali pada putramu jika ini adalah jalan yang salah. Masih beruntung anak gadis yang ia hamili adalah anak dari Hanggara. Jika itu adalah anak orang yang lain lagi, Papa tidak bisa bayangkan akan se-malu apa keluarga kita."


"Baik, Pa. Maafkan Morgan yang telah gagal mendidik anak Morgan." Sebagai orang tua dari pemuda itu, tentu Morgan merasa malu bahkan pada papanya sendiri. Eylina pun juga sama, ia merasa malu sekali karena bisa kecolongan seperti ini.


"Lalu, kapan kau akan meminangnya?"


"Malam ini juga, Pa. Marvin telah menyampaikannya pada Hanggara jika malam ini keluarga kita akan datang berkunjung kesana," jelas Morgan.


Ia tidak mengerti, karena papanya justru terkekeh mendengarnya.


"Rupanya anak nakal itu jantan juga," ujarnya lalu kembali terkekeh.


"Jadi bocah itu sudah lebih dulu datang sendiri ke rumah Hanggara?" tanyanya kemudian.


"Iya, Pa."


"Kalau begitu, kita tunggu apa lagi? Kenapa tidak bersiap-siap? Apa kalian akan datang dengan tangan kosong?" Wira menaikkan kedua alisnya yang sudah berkerut.


"Rey dan putranya yang menyiapkannya, kita hanya perlu mempersiapkan diri saja," jelas Morgan.


Wira dan istrinya hanya manggut-manggut. "Ya sudah, mari kita bersiap-siap!"