
"Ya sudah, aku pamit dulu. Ingat, jangan nakal!" ujar Marvin lagi, seraya mentowel hidung Elisa dengan gemas dan tersenyum manis.
Dia tidak tahu jika hal itu akan membuat wanita yang berdiri dihadapannya jadi semakin grogi. Pipinya sudah tidak bisa dikendalikan. Entah dari mana datangnya warna merah itu. Tiba-tiba saja sudah menghias di pipinya.
Ambulans ... tolong panggil ambulans, detak jantung Elisa semakin tidak terkendali. Dan respon yang bisa ia lakukan hanya mencoba bernapas teratur dan mengedipkan matanya untuk menenangkan debaran di dalam dadanya. Jika tidak, mungkin dia akan pingsan saat ini juga.
"Sudah kubilang, jangan kau buat seperti itu!" Kau bisa membuatku tidak fokus nanti." Marvin melayangkan cubitan gemas di pipi kekasihnya. Walaupun sebenarnya ia ingin melakukan lebih dari itu.
Justru aku yang tidak bisa fokus bekerja nantinya, kurasa aku sedang tidak sehat, batin Lisa.
Sementara ketiga teman Lisa, hanya mampu berekspresi gemas, mengiba, ikut halu sambil saling menggenggam satu sama lain. Siapa yang tidak ingin diperlakukan semanis ini, coba? Apalagi oleh seorang Presdir muda, tampan dan macho seperti Marvin.
"Marvin, jangan seperti ini!" pinta Lisa lirih, ia menundukkan kepalanya.
"Kenapa? Kita adalah sepasang kekasih. Jadi wajar saja jika aku memperlakukanmu seperti ini," jawabnya enteng begitu saja.
"Tapi ini kan di kantor." Lisa menatap padanya.
"Baiklah, baiklah kalau begitu, Sayang. Aku benar-benar pamit sekarang," katanya, mengakhiri drama romantis pagi ini. Ia lalu meraih kepala Lisa dan mendaratkan sebuah ciuman lembut di kening gadis itu.
Lisa sampai mematung karenanya. Ini adalah pertama kalinya ada lelaki yang bersikap sampai sejauh ini padanya. Dan lebih parahnya, dia tidak bisa menolaknya.
"Bye, Sayang." Lelaki itu mundur dan melambaikan tangannya sambil tersenyum. Setelahnya lalu berbalik dan berjalan dengan gagah, semakin bertambah gagah karena balutan pakaian lambang kekuasaan yang ia kenakan.
Sementara Lisa masih mematung disana hingga ketiga temannya datang menghampirinya dan menyeretnya lalu menempelkannya ke dinding.
"Kalian?" tanyanya heran setelah sadar dan melihat ketiga temannya sudah seperti preman yang akan meminta upeti padanya.
"Aaaa ... please jelasin ke aku, Lisa. Gimana ceritanya kamu bisa kenal sama pak Marvin?" rengek Nia, tidak sebanding dengan sikap garang yang tadi ditunjukkannya.
"Sejak kapan kamu kenal sama pak Marvin? Kenal dimana sih? Kamu baru satu minggu kerja disini, please jelasin!" Yang ini suara Evi. Dia mengguncang-guncangkan bahu Elisa dengan manja.
"Iya nih, kasih tau dong ke kita. Nggak kasihan apa sama kita, udah lama kerja disini tapi nggak dapet gebetan satupun," ujar Dina sedikit santai, tidak seperti dua temannya tadi.
"Iihhh ... Lisa, cepetan dong! Nggak usah pakai mikir gitu lah, apa sih rahasianya?" rengek Nia dengan tidak sabar karena melihat Lisa terlihat berpikir.
"Iya ... iya, cukup teman-teman! Aku pusing kalau kalian terus mengguncang tubuhku seperti ini." Lisa melerai tangan teman-temannya yang menempel di kedua bahunya.
"Ya udah cepet ceritain dong makanya!" ujar Nia lagi.
"Iya, tapi kit masuk dulu ya? Udah waktunya kerja, kan?" Lisa lalu melipir begitu saja. Ia sebenarnya ingin lari, guna menghindari teman-temannya.
"Gimana?" tanya Evi yang mengambil tempat duduk di sebelahnya.
"Nggak ada rahasia khusus. Percaya deh! Aku sendiri juga nggak tau, kenapa pak Marvin mendekatiku," jawab Lisa jujur seraya menatap satu persatu teman-temannya.
"Kok bisa sih?" tanya Nia masih heran. Tentu saja, dia dan kedua rekannya tidak tahu jika Lisa adalah anak orang kaya raya juga. Mereka mengira jika Lisa juga sama seperti mereka, yang berasal dari kalangan menengah kebawah.
"Ya udahlah teman-teman, kerja yuk! Nanti ada yang datang, nggak enak juga kan kalau lihat kita hanya ngobrol-ngobrol kayak gini," saran Lisa.
"Tunggu, tunggu! Kamu udah jadian juga sama pak Marvin?" Evi masih belum terima.
"Udahlah Evi, aku bingung jelasinnya. Aku sendiri juga nggak tahu harus bilang gimana. Ya udah lupain aja, ya?" pinta Lisa.
"Emmm ... aku pengen tau! Lihat kamu sama pak Marvin manis kayak tadi. Please dong, kalau ada teman pak Marvin kenalin ke aku dong!" rengek Evi seraya memasang wajah mengiba.
"Enak aja, aku juga mau dong Lisa. Kita kan sahabat, bagi satu dong yang mirip-mirip pak Marvin. Ganteng, kaya dan macho gitu. Aaa ... pasti hot banget deh." Nia tak mau kalah.
"Duh ... pada ngomong apa sih? Hot? apaan yang hot? Kalian mendingan ngalah dulu deh! Aku nih yang lebih tua dari kalian, aku duluan dong! Iya kan, Lisa?" timpal Dina yang mulai gerah dengan dua rekan lainnya.
"Astaga ... aku harus bilang apa? Udah deh, pusing tau?" Lisa menggeleng dan mulai sibuk dengan layar monitornya. Sehingga mau tidak mau, yang lain pun jadi bubar barisan.