
"Pagi semua," sapa Elisa setelah masuk ruang kerjanya.
"Pagi," Nia beserta yang lain menjawab seraya menoleh kearahnya.
"Ciee ... berangkat bareng nih ceritanya?" timpal Evi yang sudah siap didepan layar monitor.
"Nggak juga, kita cuma ketemu di depan lift aja. Iya kan, Bim?" lirik Lisa pada pemuda berkacamata yang baru duduk di meja kerja yang ada di sampingnya.
"Iya," jawab Bimo singkat seraya nyengir kuda, ekspresi andalannya.
"Oh ... ya? Kok aku nggak bisa percaya ya? Dari pertama masuk kerja kemarin kok aku lihatnya nggak biasa, ya?" sahut Nia lolos begitu saja.
"Ehem ... ehem! Pagi," sapa seseorang yang baru saja masuk ke ruangan mereka.
"Eh, kak Lusi? Ada apa ya, Kak?" tanya Dina selaku leader tim.
"Disini ada namanya Bimo?" tanyanya seraya mengedarkan pandangan ke ruangan itu.
Sementara yang disebutkan namanya segera mengangkat tangannya dan berdiri, "Saya, Kak," jawab lelaki berkacamata itu.
Lusi berjalan kearahnya, sedangkan yang lainnya saling pandang seolah sedang bertanya-tanya, ada apa gerangan dengan pegawai baru itu? Sehingga Lusi, staf HRD datang menemuinya sambil membawa sebuah amplop berwarna putih.
"Bimo, ini ada surat untukmu. Bacalah! Jika sudah mengerti, segera laksanakan!" perintah Lusi.
Bimo menerima surat itu dengan wajah bingung. Apa gerangan yang membuatnya mendapat surat itu? Apakah dia berbuat salah atau telah melakukan sesuatu hal yang melanggar ketentuan perusahaan?
Ia lalu membukanya dan membaca surat itu, yang isinya menyatakan jika dirinya dipindah ke bagian lain.
"Saya dipindahkan, Kak?" tanyanya pada Lusi yang masih disana untuk memberi penjelasan pada pemuda itu.
"Betul, mulai hari ini kau dipindahkan di lantai sebelas. Kepala HRD mengatakan jika kau lebih dibutuhkan disana," terang Lusi. Membuat staf yang lain terkejut, termasuk Lisa. Ia akan kehilangan sosok Bimo yang bisa membuatnya tertawa disela-sela pekerjaan yang menyita waktu.
Ada sedikit guratan rasa kecewa di wajah Bimo. Ia sudah cukup merasa nyaman disini bersama tim Dina. Disini ada Lisa yang sama-sama baru belajar, sama sepertinya.
"Jadi gimana, Bim?" tanya Lusi lagi.
"Baik, Kak." Bimo pasrah lalu mengambil tasnya. Ia berpamitan pada rekan satu ruangannya.
"Lisa, sampai ketemu," ujarnya pada Lisa, orang terakhir yang ia pamiti.
"Oke, selamat bekerja ya, Bim," kata Lisa seraya tersenyum.
"Siap!" jawab keempat wanita cantik itu secara serempak.
"Kok Bimo dipindah, ya?" tanya Nia penasaran setelah kepergian Lusi dan Bimo dari ruangan itu.
"Iya, ya? Kenapa?" Evi pun mencoba mencari jawaban yang kira-kira masuk akal.
"Nggak tahu deh. Ya udah pada mulai kerja gih! Yang jelas, Bimo dipindahkan pasti ada sebabnya. Tadi kak Lusi kan udah bilang kalau Bimo lebih dibutuhkan di lantai sebelas. Ya udah sih, nanti juga ada orang yang menggantikan Bimo." Dina berusaha menenangkan timnya.
"Tuh ... udah, balik kerja lagi! Bu Ketua udah ngasih penjelasannya," ujar Nia seraya cekikikan yang di sahut ketawa renyah dari Evi dan Lisa.
Mereka berempat lalu kembali pada kesibukan masing-masing sambil menunggu staf baru yang akan menggantikan Bimo di ruangan itu.
*****
Sementara di tempat yang lain, Ken sedang membawa mobilnya menuju ke Cafe dimana tamu dari Jepang sedang menunggu kedatangannya bersama bosnya.
"Tentang kutu biawak itu apa sudah kau urus, Ken?" tanya Marvin.
"Sudah, Tuan. Saya sudah meminta pihak HRD untuk mengurusnya," jawab Ken sambil tetap fokus mengemudi.
"Kau bilang apa pada orang HRD?"
"Saya mengatakan sesuai instruksi anda, Tuan."
"Bodoh! Kau membuatku terkesan tidak profesional, Ken!" protes Marvin seraya memukul tempat dimana sekertarisnya tengah duduk.
"Tidak, Tuan. Saya mengatakan jika memang staf bernama Bimo tidak terlalu dibutuhkan di ruangan itu. Saya tidak mengatakan jika anda telah diperbudak oleh cinta anda pada Nona Lisa. Dan memindah staf itu ke ruangan lain."
Ken berkata tanpa beban, tanpa melirik ke arah bosnya sama sekali.
"Ken! Berani sekali kau mengataiku seperti itu!" teriak Marvin dengan kesal.
Sementara Ken tidak bergeming sama sekali. Toh bagaimanapun dia tidak akan dipecat oleh bos gilanya ini. Siapa lagi yang akan betah menggantikan posisinya menghadapi segala sikap Marvin? Terlebih lagi saat ini, bosnya yang jatuh cinta, tapi dia yang dibuat repot oleh kukang kasmaran itu.
Setelah perdebatan itu keduanya lalu terdiam dan hanya menikmati pemandangan jalanan kota yang cukup sibuk. Hingga mobil yang membawa mereka tiba di sebuah gedung bertuliskan Amaris. Tempat dimana tamunya sedang menunggunya.
💗💗💗💗💗💗
Maaf ya, cuma bisa update 1 eps. Authornya lagi repot banget soalnya 🙏