Become The Billionaire'S Wife

Become The Billionaire'S Wife
Kebenaran



Beberapa hari kemudian setelah Marvin memberikan tugas padanya, Ken akhirnya berhasil mengumpulkan banyak informasi untuk bosnya.


Saat ini ia sedang menuju ke ruangan paling mewah di dalam gedung kantor utama Globalindo.


"Permisi, Tuan," ujarnya saat memasuki ruangan milik bosnya.


Marvin yang sedang duduk di kursi kekuasaannya pun langsung memutar posisinya menghadap sekertarisnya yang baru saja masuk.


"Ada apa lagi? Kau bilang kau mau membereskan tugas?" tanya Marvin.


"Tugas saya sudah beres, Tuan. Ini adalah segala informasi terkait data diri dari dua perempuan yang Tuan bilang wajahnya sangat mirip." Ken menyerahkan sebuah map juga sebuah amplop coklat pada bosnya.


Marvin dengan segera meraih apa yang baru saja diserahkan oleh sekertarisnya seraya bangkit dari posisinya.


Ia membaca satu persatu informasi dan data diri dari perempuan bernama Stevi dan juga Aruna. Ia mengamati baik-baik mulai dari tanggal lahir, kota kelahiran beserta nama orang tua masing-masing dari mereka.


Namun yang menjadi perhatiannya adalah informasi medis mengenai Stevi. Ia sampai membelalakkan matanya saat mengetahui fakta mengejutkan dari gadis itu.


"Apa informasi ini benar dan bisa dipertanggungjawabkan?" tanya Marvin serius.


"Benar, Tuan. Salah seorang anak buah bernama Gary juga mengikuti nona Stevi saat dia mengunjungi rumah sakit. Setelah nona Stevi keluar dari sana, Gary langsung mengorek informasi dari sana." Ken mengatakan dengan yakin.


"Lalu pihak rumah sakit memberikannya begitu saja? Kau pikir mereka bodoh? Mana ada rumah sakit seperti itu? Semua rumah sakit akan menutupi data setiap pasiennya, Ken." Marvin tidak bisa percaya begitu saja atas semua informasi yang diterimanya.


"Gary mengatakan jika hal ini terkait dengan kepentingan penyelidikan, Tuan. Lagipula tidak ada dokter ataupun petugas rumah sakit yang akan berpikir dua kali untuk tidak menuruti segala sesuatu yang berhubungan dengan keluarga Wiratmadja. Karena rumah sakit itu juga bisa berdiri karena sumbangan dari Tuan besar kala itu."


Mendengar penjelasan dari sekertarisnya, Marvin hanya manggut-manggut saja sambil melihat-lihat foto dari dalam amplop coklat yang diterimanya tadi.


Sebagian adalah foto keluarga Hanggara, dan sebagian yang lain adalah foto-foto Elisa yang sempat tersebar beberapa tahun silam. Foto sedang disebuah kamar bersama dengan laki-laki yang terlihat asing dimata Marvin.


Melihat foto itu, Marvin mengepalkan tangannya dan mengeraskan rahangnya.


"Apa maksudnya ini?" tanyanya dengan kilatan amarah dimatanya.


"Itu adalah foto yang sengaja disebarkan oleh nona Stevi untuk merusak citra nona Elisa, Tuan. Lelaki yang ada di dalam foto itu bernama Andra, yang tak lain adalah mantan kekasih dari nona Stevi sendiri," terang Ken.


"Haaahhhh!" Marvin menggebrak mejanya hingga Ken sendiri terkejut atas reaksi dari bosnya.


"Ken, kumpulkan lagi informasi tentang Aruna! Aku yakin gadis itu ada hubungan dengan Stevi dan tidak diketahui oleh keluarga Hanggara."


"Baik, Tuan. Gary masih terus mencari informasi di Kota B hingga sekarang. Semoga ada titik terang yang bisa kita jadikan bukti." Ken sendiri juga pusing dengan semua ini. Ia juga tidak menyangka, bagaimana bisa selama dua puluh lima tahun keluarga itu tidak mengenali putrinya sendiri.


Setelah mendengar penuturan dari sekertarisnya, Marvin lalu bergegas hendak keluar dari ruangannya.


"Tuan, Anda mau kemana?" tanya Ken bingung.


"Ke ruangan Elisa," jawabnya tanpa menoleh.


Dengan tidak sabar Marvin memencet tombol lift lalu mondar-mandir didepannya sambil berkacak pinggang.


Rasanya lama sekali, dan beberapa saat kemudian akhirnya benda sialan itu terbuka juga.


Setelah sampai di lantai tempat Elisa bekerja, ia segera melangkahkan kakinya lebar-lebar agar cepat sampai.


Semua orang yang ada di ruangan itu tercengang saat melihat siapa yang baru saja masuk, begitupun Lisa. Ia sampai mengernyitkan dahinya melihat kekasihnya datang padanya seperti sedang memburu sesuatu.


"Sayang, tinggalkan dulu pekerjaanmu! Aku ingin berbicara hal penting padamu," ujarnya seraya mengambil alih sebuah map yang sedang dipegang oleh Lisa, kemudian meletakkannya di meja. Marvin menggandeng tangan Lisa dan mengajaknya keluar ruangan.


Dengan wajah masih bingung, Lisa hanya bisa menurut saja atas perlakuan dari kekasih sekaligus bosnya.


"Marvin, tunggu! Kita mau kemana?" tanya Lisa setelah sadar akan situasinya.


"Sayang, baiklah." Marvin menempelkan tubuh Lisa di dinding kaca lalu menatap ke dalam matanya.


"Dengarkan aku! Aku harus segera menikahi mu dan membawamu pergi dari rumah itu, kau tahu? Aku baru saja mendapat semua informasi tentang kakakmu. Dia adalah orang yang berbahaya, Sayang. Aku tidak ingin kau tinggal dirumah itu lebih lama lagi dan menjadi target kegilaannya sewaktu-waktu." Marvin mengatakannya dengan napas yang memburu.


"Marvin, tenanglah dulu! Aku tidak mengerti maksudmu. Aku tahu kak Stevi itu orang yang suka nekat untuk mewujudkan keinginannya, tapi selama ini aku masih bisa mengatasinya. Lagipula di rumahku ada banyak orang, masih ada papa, mama dan juga dua bibi yang bekerja disana. Ada dua sekuriti juga yang berjaga di depan."


"Sayang, percayalah! Aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu. Lebih dari yang kau tahu, kakakmu menderita gangguan jiwa, Sayang. Rumah sakit menyarankan agar dia dirawat, tapi dia tidak mau dan memilih berobat jalan dengan alasan bahwa ia tidak pernah membahayakan siapapun selama ini. Pihak keluarga ataupun orang terdekat juga tidak pernah melaporkan hal buruk pada rumah sakit." Marvin setengah jengkel juga menjelaskannya. Bagaimana pihak rumah sakit bisa seceroboh ini.


Sementara Lisa masih terkejut setelah mendengar apa yang baru saja dibeberkan oleh kekasihnya. Ia tidak menyangka jika kakaknya menderita gangguan kejiwaan. Sejak kapan? Begitulah pikirnya.