
Sudah empat hari telah berlalu, dan hari ini adalah hari dimana undangan makan malam dari keluarga Hanggara itu tiba.
Malam yang cerah dan bertabur bintang seolah mendukung acara malam hari ini.
Semua orang di keluarga Wiratmadja tengah bersiap-siap sejak sore tadi.
Mereka yang diundang, tapi mereka juga tak kalah repot dengan orang yang mengundang mereka.
Berbagai buah tangan telah disiapkan oleh para pelayan dibawah pengawasan Bu Sus, kepala pelayan.
"Sudah siap semua?" tanya Morgan saat semua anggota keluarga telah berkumpul di ruang keluarga.
"Sudah, Pi," ujar Luisa.
"Marvin, kau sakit, Nak?" tanya Eylina seraya menempelkan punggung tangannya ke dahi putranya. Marvin terlihat lebih pucat dari biasanya dan lebih banyak diam sejak sepulang dari kantor tadi.
"Tidak, Mi. Marvin hanya sedikit kelelahan saat di kantor, tadi," jawabnya asal. Padahal kenyataannya tidak seperti itu.
Kelelahan apa? Semua pekerjaannya di kerjakan oleh Ken, sedangkan dia asik mengintai mangsanya setiap waktu. Rela naik turun lift hanya untuk melihat Lisa nya sedang apa. Bahkan di kantin pun juga dia selalu membuntutinya. Kalau saja Lisa tidak selalu bersama teman-temannya, ia akan dengan mudah bisa meluangkan waktu untuk sekedar makan siang bersama. Mengobrol ringan dan tertawa bersama. Melihat senyum manis gadis itu. Ah ... betapa menyenangkannya, benak Marvin.
Tapi sayang sekali, teman-teman Lisa yang ceriwis dan absurd itu selalu menempel seperti ulat bulu, kemanapun Lisa pergi. Membuat Marvin uring-uringan setiap waktu karena kesal tidak mendapat kesempatan berduaan dengan gadis itu. Sudah dua hari ini pula Lisa menolak untuk diantar ataupun dijemput olehnya.
Hal itu bukan tanpa alasan, tak lain dan tak bukan adalah karena kakak perempuannya. Setiap Marvin datang menjemput, setiap kali itu pula Stevi selalu mengintai.
"Marvin, tapi tanganmu dingin sekali, kenapa?" tanya Maminya seraya mengerutkan keningnya.
"Tidak apa-apa Mami, Marvin tadi memang mandi air dingin. Hari ini airnya benar-benar sangat dingin, sepertinya bumi kita sedang mengalami penurunan suhu," ujarnya asal, disertai tawa aneh. Mungkin dia ketularan virus nyengir dari Bimo karena terlalu membenci pria itu.
"Nak, kalau kau sakit, kau tidak perlu ikut menghadiri makan malamnya juga tidak apa-apa. Bukan begitu, Pi?" Eylina menoleh pada suaminya untuk meminta pendapat.
"Jangan dong, Mi! Jika Marvin melewatkan malam ini, kapan lagi kita bisa memperkenalkan putra kita dengan putri dari keluarga Hanggara? Bukan begitu, Marvin? Siapa tahu salah satu dari mereka berdua ada yang bisa memikat putra kita," ujar Morgan seraya menepuk bahu putranya.
"I ... iya, Pi." Marvin tersenyum dengan wajah pucatnya.
Aku baru saja memenangkan sedikit hatinya, aku tidak ingin dia menjauhi lagi.
"Ya sudah, kita berangkat sekarang. Bu Sus, tolong suruh pelayan yang lain untuk membawa bingkisan ini ke mobil!" perintah Morgan pada pengganti Pak Gunawan.
"Baik, Tuan." Bu Sus menurut dan menginstruksikan agar anak buahnya mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Tuan Besar Morgan.
*****
Diwaktu yang sama di sisi yang lain, keluarga Hanggara tengah sibuk mempersiapkan acara makan malam spesial hari ini.
Hanggara dan istrinya beserta dua pembantu dan juga beberapa orang sewaan tengah berada di taman belakang untuk mengecek semua persiapannya.
"Susun yang rapi, ya Bi!" perintah Maria pada Bi Sum dan Bi Yanti yang tengah sibuk menata meja.
"Baik, Nyonya." Kedua orang itu mengangguk dan melanjutkan kembali aktivitasnya.
"Yuk, Pa! Kita ke kamar dua putri kita. Semoga saja Tuan Wira tetap mengadakan perjodohan itu ya, Pa?" Maria berjalan beriringan dengan suaminya menyusuri jalan setapak dengan susunan bebatuan yang rapi.
"Semoga saja, Ma. Semoga saja Tuan Wira bisa membujuk cucunya untuk tetap mau menerima perjodohan ini." Hanggara tersenyum.
"Tapi ... ada sesuatu yang Papa khawatirkan," ujar Hanggara dengan raut wajah yang tidak bisa ditebak. Ada guratan rasa takut dan khawatir disana.
"Kenapa, Pa?" tanya Maria seraya menghentikan langkahnya di teras belakang.
"Putri kita ada dua, Papa khawatir salah satu dari mereka akan kecewa jika pada akhirnya Tuan Muda Marvin memilih salah satu diantara mereka."
"Mama hanya berharap mereka bisa dewasa, Pa. Tidak tau siapa yang akan dipilih. Justru Mama khawatir jika keluarga besar Tuan Wira akan mempertanyakan Lisa." Maria mulai cemas.
"Itu dia, Ma. Bagaimana jika mereka tahu kebenaran tentang putri kita? Setiap akan ada perjodohan, selalu Lisa yang dipilih. Dan Mama tahu pada akhirnya pihak lelaki akan membatalkan perjodohan itu setelah tahu kebenaran tentang Lisa." Sama seperti istrinya, Hanggara pun sama cemasnya mengingat sudah banyak keluarga yang datang akan meminang putri mereka, tapi selalu tidak jadi dan justru membuatnya menanggung malu.