
Wira menatap dengan serius ke arah putranya. Kelopak matanya yang sudah dipenuhi kerutan itu pun nampak berkedut-kedut.
"Tapi ini semua karena Papa, Morgan. Semua orang menjadi menderita karena Papa," ujar Wira yang merasa bersalah.
"Bukan, Pa. Bukan! Papa sudah terlalu baik selama ini. Papa juga bahkan sudah memberikan Jordan kesempatan dan menyuntikkan banyak dana di perusahaannya. Tapi apa balasannya? Kita semua hampir dilenyapkan nya!" Morgan tidak habis pikir dengan Papanya. Yang selalu merasa bersalah atas hal buruk yang menimpa orang lain. Bahkan pada Jordan yang jelas-jelas sudah sangat jahat.
"Pa, bahkan saat Hendrawan telah menembaknya pun, dia masih tidak ingin mengucap maaf atau kata penyesalan. Dia justru berusaha untuk meraih pistolnya dan mengarahkannya tepat di dada Hendrawan. Orang-orang The Lion melihatnya sendiri, Pa. Saat Rey datang kesana, saat Jordan sudah hampir diujung jurang kematian, lelaki itu pun masih bisa tersenyum licik melihat Hendrawan sudah terbujur tak bernyawa. Bukankah itu gila? Mereka bahkan sudah bersahabat sejak lama." Morgan mencoba membuka jalan pikiran ayahnya.
"Baiklah, Morgan. Jika begitu terserah padamu dan Marvin. Tapi Papa harap jangan putuskan kerjasama dengan keluarga Hanggara, Nak!" pinta Wira.
"Ya, Morgan tau, Pa. Morgan juga tau, Hanggara tidak seperti Jordan. Rey sudah menyelidiki segala sesuatu tentangnya. Meski Hanggara adalah putra kandung Jordan, tapi dia tidak pernah sekalipun berhubungan dengan Jordan, ayahnya. Sebagai anak dari istri kedua, Hanggara diasingkan sejak kecil dan hanya tinggal bersama kakek neneknya." Morgan menundukkan kepalanya. Ia juga tau lelaki itu juga sangat berjasa selama ini. Mungkin Hanggara juga berpikiran sama dengan ayahnya. Bersalah, ya ... mungkin karena sebagai anak dari Jordan, ia sangat merasa bersalah setelah mengetahui semua kebenaran tentang ayah kandungnya.
"Baguslah, Papa hanya merasa berdosa karena Jordan dan Hendrawan pada akhirnya harus meninggal begitu saja. Dan Papa lebih merasa bersalah, karena Jordan dan Hendrawan baku tembak hanya gara-gara nama Papa," ujar Wira masih penuh penyesalan.
"Sudahlah, Pa. Semua itu sudah berlalu sangat lama. Bukan Papa yang bersalah disini, tapi Jordan yang kelewat busuk hatinya. Papa tidak perlu merasa bersalah lagi ataupun menyesal. Mereka telah menerima akibat dari perbuatan mereka sendiri, jadi Papa tidak perlu memikirkannya." Morgan mengusap punggung ayahnya dengan lembut.
"Ya sudah, kita makan dulu sekarang!" ajak Oma Ayu.
"Baiklah," Morgan lalu membenarkan posisi duduknya dan menyantap makanan yang baru saja disajikan diatas piringnya.
*****
Sementara di tempat yang lain, di kediaman Hanggara. Semua orang juga sedang berada di ruang makan. Elisa baru saja duduk di kursinya saat Hanggara akan memulai obrolannya.
"Elisa, Stevi ... semalam Papa mendapat telepon dari Tuan Wira. Beliau mengatakan akan menjodohkan cucunya dengan salah satu diantara kalian. Papa harap, siapapun yang akan terpilih nantinya, kalian bisa sportif menerimanya." Hanggara menyampaikan apa yang di dengar oleh telinganya semalam.
Mendengar hal itu Stevi membulatkan matanya dan menatap ayahnya, "Benarkah, Pa?" tanyanya antusias.
"Benar sayang, tapi Papa harap. Kalian bersaing secara adil dan terbuka, ya?" ujarnya.
Sementara Lisa hanya mengedihkan bahunya karena tidak tertarik dengan apa yang baru saja dibahas oleh ayahnya. Lagipula dia juga tidak tahu siapa itu cucu Tuan Wira.
Ia lebih fokus pada dering ponselnya yang ada di dalam tas. Diambilnya ponsel itu dan terlihat disana, nama Marvin menghiasi layar ponselnya.
"Ya, Marvin?" Lisa berbicara seraya berdiri dari tempatnya. Meninggalkan sepotong sandwich yang teronggok diatas piringnya.
Mendengar nama Marvin disebut oleh Lisa, Stevi pun menoleh dengan cepat ke arah adiknya.
"Aku sudah ada di depan rumahmu!" Ujar Marvin ceria.
Lisa sampai terkejut mendengarnya, ia sampai menaikkan kedua alisnya. Ini baru jam 06.30, tapi pria itu sudah bertandang di depan rumahnya.
"Marvin, sudah kubilang aku bisa naik taksi. Kenapa kau repot-repot menjemput ku?" Protes Elisa lalu menutup teleponnya. Ia kemudian mengambil tasnya yang masih ada di ruang makan.
"Lisa berangkat, Ma, Pa," pamitnya. Ia sampai melupakan sarapannya.
"Tidak sarapan dulu Lisa?" tanya Maria.
"Tidak, Ma. Lisa bisa makan di kantin, nanti." Gadis itu lalu bergegas melanjutkan kembali langkahnya.
Sesampainya diluar pagar, Lisa mendapati sebuah mobil mewah yang lain dari pada yang kemarin, sedang terparkir disana.
"Marv ...." baru saja ia akan protes, tapi lelaki yang ada di dalam mobil itu malah memasang wajah ceria, tersenyum merekah secerah mentari pagi. Membuat Lisa menjadi tidak tega jika harus memarahinya.
"Pagi Nona Elisa," sapanya dengan senyum yang masih terukir.
"Pagi, sudah kubilang kau tidak perlu repot menjemput ku," protes Lisa lirih seraya memonyongkan bibirnya. Yang ditelinga Marvin terdengar manja dan menggemaskan.