Become The Billionaire'S Wife

Become The Billionaire'S Wife
Perasaan Tidak Enak



Sementara itu diwaktu yang sama dengan keluarga Marvin yang bersiap-siap. Dikediaman Hanggara, persiapan juga telah dilakukan. Keluarga Marvin mengirimkan make up artist ternama untuk merias pengantin wanita dan juga keluarganya.


Tak lupa ia juga mengirimkan beberapa pelayan untuk membantu persiapan disana.


Hanggara dan istrinya bahagia sekali hari ini. Putri keduanya akhirnya akan menikah, ya meskipun Stevi sempat mengatakan keberatan jika ia di dahului tapi pada akhirnya Hanggara mampu membuat gadis itu menerima keadaan.


"Semoga pernikahanmu lancar ya, Sayang." Maria yang tengah berdiri dibelakang putrinya pun mengulas senyumnya. Ia memegangi kedua bahu putrinya yang kini telah menjelma bagai seorang Puteri.


"Amin, terimakasih atas doanya, Ma. Lisa juga berharap demikian." Elisa meraih tangan ibunya lalu menatap wajahnya. Setelah sekian lamanya, akhirnya ia bisa merasakan kasih sayang seorang ibu padanya. Ia sangat terharu, kehadiran Marvin begitu membawa banyak perubahan baginya.


Ia yang dulu selalu dipandang sebelah mata, bahkan oleh orang tuanya sendiri, kini perlahan-lahan mereka mau mendengarkannya. Ayah dan ibunya mulai memberikan banyak perhatian padanya. Terlebih lagi karena Stevi, kakaknya akhir-akhir ini jarang sekali dirumah. Membuat Lisa memiliki banyak kesempatan untuk mendekatkan dirinya dengan kedua orang tuanya.


Rumah terasa begitu nyaman dan damai rasanya, begitulah yang dirasakan Lisa juga bi Sum dan bi Yanti, yang memang mereka sangat tahu bagaimana tabiat dari kakak perempuannya itu.


"Jika sudah siap semua, kita bisa berangkat sekarang." Maria tersenyum seraya menangkup wajah putrinya. Entah kenapa ia seperti rindu sekali pada putrinya ini. Seolah terpisah jarak dan waktu yang begitu lama.


"Sudah, Ma." Elisa berdiri, ia berjalan dengan dituntun oleh mamanya. Sementara di bagian belakang ada dua orang yang membantu memegangi gaun pengantinnya yang menjuntai panjang agar tidak mengganggunya saat berjalan.


"Kita tidak jadi berangkat bersama papa, Sayang, karena papa tadi baru saja mendapat telepon jika salah satu rekannya akan datang kemari dan ingin berangkat bersama dengannya. Beliau juga membawakan banyak sekali bingkisan untukmu, katanya. Jadi papa tidak bisa menolaknya, lagipula hanya sebentar saja. Nanti papa akan menyusul dibelakang kita." Maria menjelaskan pelan-pelan pada putrinya.


"Lalu kita berangkat dengan siapa, Ma?" Tiba-tiba saja perasaannya sedikit cemas.


"Kita berangkat bertiga bersama kakakmu. Dia yang akan membawa kita. Kau tahu kakakmu terlihat antusias sekali. Ya ... walaupun tadinya dia sedikit keberatan jika kau mendahuluinya. Mama rasa hal itu wajar saja, semoga saja setelah kau menikah, kakakmu juga segera menemukan jodohnya." Maria berkata santai seolah tanpa beban.


Elisa terdiam, perasaannya sedikit tidak enak saat ini. Tapi ... dia juga bersama dengan mamanya, kan? Stevi tidak mungkin berbuat macam-macam. Bukankah dia akan selalu menurut dan bersikap manis saat ada mama atau papanya?


Sementara dibawah, yang baru saja dibahas sedang tersenyum lebar dan tengah duduk bersama ayahnya. Hanggara juga tersenyum melihat putrinya.


"Elisa, memang Marvin tidak salah memilihmu. Kau sangat cantik sekali, Nak. Oh ya, maafkan Papa karena tidak bisa berangkat bersamamu. Papa harus menunggu rekan Papa yang akan datang sebentar lagi. Tapi kau tenang saja, setelah rekan Papa tiba disini, Papa akan langsung menyusul." Hanggara mengutarakan maksudnya.


"Tidak apa-apa, Pa." Lisa tersenyum kaku.


"Baiklah kalau begitu kita bisa berangkat sekarang. Marvin dan keluarganya pasti sudah menunggu," usul Stevi.


"Benar, Sayang. Apalagi mempelai prianya, pasti sudah tidak sabar ingin melihat calon istrinya yang cantik ini," goda Maria. Seharusnya pipi Lisa menjadi merona, tapi ini tidak terjadi. Perasaannya justru deg-degan karena cemas.


"Ya sudah ... tunggu apa lagi?" Stevi lalu melangkah mendahului mereka, seolah ia yang paling bersemangat hari ini.


Gadis itu mulai menyalakan mesin mobilnya dan melajukannya keluar dari halaman rumah, menuju ke jalanan.


Tidak banyak obrolan didalam sana, hanya suara Maria yang mendominasi. Ia terus berbicara dan mendoakan agar hari ini berjalan dengan lancar. Sesekali ia juga mengajak Stevi berbicara, mendoakan gadis itu agar segera menemukan jodoh yang tepat. Tidak banyak jawaban, Stevi hanya mengangguk dan terkadang tersenyum.


Hingga menit-menit berlalu, Maria baru tersadar jika jalanan ini seperti bukan jalan yang akan membawa mereka ke gedung pernikahan itu.


"Sayang, sepertinya kita salah jalan, Nak!" tegurnya seraya memastikan dengan melihat sisi kiri dan kanan jalan.


Sementara Stevi tidak menyahuti sama sekali, terlihat ia hanya menunjukkan sebuah seringai di sudut bibirnya.


Perasaan Lisa semakin cemas lantaran jalanan semakin sepi dan terasa semakin jauh dari kota. Ia menatap ibunya yang juga terlihat bingung.


"Kak, kita mau kemana? Jalanan ini jelas bukan menuju ke arah gedung pernikahan itu!" Lisa membuka suaranya.


Lagi-lagi Stevi tetap tidak bergeming sedikitpun. Tatapan matanya berubah menjadi tatapan yang penuh ambisi dan kemarahan.


"Sayang, bicaralah! Jika kau ingin mampir di suatu tempat, maka katakan! acara pernikahan adikmu sebentar lagi akan dimulai. Semua orang sudah menunggu disana." Maria juga tiba-tiba merasa cemas.


"Diam kalian berdua!" Suara Stevi terdengar memenuhi seisi mobil hingga membuat ibunya tersentak kaget.


"Stevi, ada apa denganmu?" Maria berusaha mencari tahu. Ia meraih bahu Stevi yang sedang fokus pada kemudinya.


"Singkirkan tangan Mama atau aku akan buat mobil ini terbalik!" ancamnya.


Dengan perasaan takut, Maria pun menarik tangannya perlahan. Ia sangat syok atas perlakuan dari putri pertamanya. Bagaimana bisa Stevi menjadi seperti ini.


"Kak! Jika Kak Stevi membenciku, maka cukup aku saja! Jangan libatkan Mama dalam hal ini! Hentikan mobilnya! Kita bisa bicara baik-baik." Merasa geram dengan tingkah kakaknya, Elisa pun tidak bisa tinggal diam.


"Diam kau!" gertak Stevi. Mobil yang ia kemudikan berbelok ke sebuah tempat yang terlihat sudah tidak terpakai. Ada beberapa bangunan yang terlihat berderet disana.


________


Yang mau marah, waktu dan tempat dipersilahkan 🙏.