
Malam itu keluarga Morgan memutuskan untuk menginap di rumah ibu mertuanya, karena hari sudah semakin larut saat mereka selesai mengobrol.
Sudah menjadi hal yang biasa jika orang yang sudah lama tidak bertemu akan menghabiskan waktunya untuk mengobrol dan menceritakan segalanya hingga lupa waktu.
Di dalam rumah itu ada suami Dara dan juga putri Dara yang berusia tujuh belas tahun. Mereka juga ikut mengobrol bersama dengan keluarga Morgan semalam.
Dan hari ini saat pagi menjelang, semua orang bersiap-siap untuk kembali kerumah utama. Kecuali Marvin, ia hari ini langsung berangkat ke kantornya.
Ia meminta seseorang untuk mengirimkan mobilnya ke kediaman oma Santi, karena ia ada tugas khusus pagi ini sebelum berangkat ke kantor. Tugas yang sangat penting, lebih penting dari pada sebuah meeting.
"Oma, Tante, Marvin pamit dulu," pamitnya seraya mencium tangan oma nya serta memeluknya.
"Hati-hati, Sayang. Cucu Oma, semoga selalu dilancarkan segala urusannya," jawab oma Santi seraya mengusap puncak kepala cucu lelakinya.
"Amin, terimakasih doanya, Oma." Tersenyum hangat.
"Pi, Mi, Marvin berangkat dulu," pamitnya kemudian pada orang tuanya seraya melambaikan tangan.
Namun tak berapa lama kemudian, ia kembali lagi dan menyosor sepupunya yang sedang asik menyantap sarapan paginya.
"Kak Marvin berangkat ya, Celia." Marvin tersenyum penuh kemenangan setelah mengacak gemas rambut Celia, putri dari tantenya.
Sementara gadis manis yang dipamiti hanya mencebik seraya menatap tajam padanya. Setiap bertemu selalu seperti itu, karena dimata Marvin, Celia sangat menggemaskan dan manis. Berbeda dengan adik kandungnya sendiri yang sedikit bar-bar dan narsis.
Sesampainya dihalaman, Marvin langsung masuk ke dalam mobil pribadinya dan melajukannya turun ke jalan raya.
Ia mengemudi dengan lembut seraya bersenandung ria mengikuti irama musik yang mengalun lembut memenuhi seisi dalam mobil. Ah ... hari ini ia benar-benar bersemangat sekali karena status barunya sebagai kekasih Elisa.
Selain bernyanyi ia juga kadang membuat ekspresi seperti orang yang gemas pada sesuatu saat mengingat ekspresi Elisa semalam.
Menit demi menit akhirnya berlalu, Marvin semakin bersemangat saat mobilnya berbelok ke jalanan rumah pujaannya. Ia menghentikan mobilnya dengan sempurna di depan gerbang rumah Elisa yang menjulang tinggi.
Dengan sigap ia mengeluarkan ponselnya dan memencet nomor seseorang yang ia beri nama Cinta, di ponselnya.
"Aku sudah ada di depan rumahmu, Sayang." Marvin tak kuasa untuk tidak mengulas senyumnya. Senang sekali bisa memanggil gadis itu dengan sebutan sayang.
Sementara Lisa langsung memerah pipinya saat mendengar panggilan sayang yang terlontar dari bibir Marvin. Membuatnya sedikit kehilangan fokusnya.
"Sayang, kau mendengar ku?" tanya Marvin setelah beberapa saat tak mendengar jawaban dari lawan bicaranya ditelepon.
"Ah ... emm ... iya, aku baru saja akan sarapan," jawab Lisa gugup. Ia saat ini sudah sedikit menjauh dari meja makan.
"Kita sarapan di kantor saja, bagaimana? Atau di cafe seperti waktu itu?" tawar Marvin.
"Emm ... baiklah, tunggu sebentar! Aku akan mengambil tas ku dulu." Elisa lalu menutup saluran teleponnya secara sepihak.
Ia lalu berjalan tergesa-gesa dan menyahut tasnya begitu saja, kemudian berpamitan seraya mencium tangan kedua orang tuanya.
"Lagi-lagi kau tidak sarapan, Nak?" tanya Maria.
"Tidak apa-apa, Ma. Lisa bisa makan di kantin," jawabnya seraya mengulas senyum. Membuat Maria sedikit heran namun juga terkesima. Entah sudah berapa lama ia tidak pernah melihat senyum putrinya setulus dan seceria ini.
Maria lalu seperti mengingat-ingat sesuatu. Memang benar, Elisa tidak pernah terlihat selepas ini sebelum-sebelumnya. Lalu apa yang salah?
Ia masih menatap kepergian putrinya seraya ikut tersenyum. Berbeda lagi dengan Stevi, ia menatap kepergian adiknya dengan penuh rasa kebencian yang sudah seperti mendarah daging didalam dirinya.
Aku harus apa sekarang, aku harus bagaimana? Boby sudah tidak bisa diandalkan lagi. Lalu siapa lagi yang bisa ku ajak kerjasama untuk menyingkirkan dan menghancurkan bocah sialan itu? gerutu Stevi.
"Stevi, nanti kamu mampir ke kantornya pak Boby ya? Papa titip sesuatu, nanti serahkan sama beliau!" ujar Hanggara setelah selesai dengan makanannya.
"Baik, Pa," jawab Stevi seraya tersenyum.
"Pa, Elisa berbeda sekali, ya? Mama lihat dia sekarang lebih ceria. Mama senang sekali melihatnya," ujar Maria seraya tersenyum.
"Mudah-mudahan Lisa bisa menjadi lebih baik lagi, Ma. Dia sudah dewasa sekarang, sudah lebih mandiri. Semoga saja pemikirannya juga semakin matang," jawab Hanggara. Ia pun menaruh harapan besar pada putri keduanya.