Become The Billionaire'S Wife

Become The Billionaire'S Wife
Pagi yang baru



"Aaaa ...," pekik Elisa di pagi-pagi buta. Ia begitu terkejut mendapati tubuhnya begitu polos tanpa sehelai benang pun.


Buru-buru ia menarik selimut dan memukul orang yang masih terlelap dengan posisi tengkurap disampingnya.


"Apa yang kau lakukan disini, Marvin?" tanyanya dengan nada tinggi.


Sementara lelaki itu masih mengerjapkan matanya dan berusaha membalikkan badannya.


"Aaaa ...." Elisa kembali memekik karena melihat batang kesaktian lelaki yang baru saja sah menjadi suaminya semalam.


"Sayang, ada apa? Kenapa kau terus berteriak sejak tadi?" Marvin bangkit dan duduk disamping istrinya.


"Katakan padaku, apa yang kau lakukan disini?" tanyanya sambil terus menutup matanya dengan kedua tangannya.


"Apa yang kulakukan? Hahaha ... apa kau lupa jika aku sudah resmi menjadi suamimu?"


Elisa pun terdiam sesaat setelah mendengar perkataan suaminya. Ia lalu mengintip dari sela-sela jari tangannya yang masih menutupi wajahnya.


"Ayo buka wajahmu!" pinta Marvin seraya tersenyum melihat tingkah istrinya.


Wajahmu pasti merah sekali kan sekarang? Ayo tunjukkan padaku! Biar ku lahap habis kau pagi ini.


Lelaki itu terkekeh dalam hatinya. Ia tidak habis pikir, semalam mereka baru saja bergumul dengan suka rela dan penuh cinta, lalu pagi ini gadis itu lupa akan statusnya.


"Ayo, buka!"


Lalu Elisa pun menurunkan tangannya perlahan. Dan benar saja, wajahnya sudah semerah tomat saat ini.


"Kau tahu, aku adalah orang yang tidak mengenal ampun jika sudah menghukum seseorang."


"A ... apa maksudmu?" Dengan ekspresi polosnya, Elisa menatap suaminya dengan tanpa dosa.


Hal itu sukses membuat gejolak Marvin bangkit tanpa terkendali pagi ini.


"Wajahmu ini, jangan berekspresi seperti ini! Dan mata indah mu itu, jangan kau kedip-kedipkan seperti itu!"


Hanya dalam hitungan detik, suasana telah menjadi berubah. Bulu-bulu halus ditubuh Elisa menjadi berdiri tanpa perlu dikomando.


"A ... aku, bisakah aku membersihkan diri?" Dengan salah tingkah Elisa mencoba menetralkan suasana pagi ini.


"Untuk apa? Aku tidak masalah meski kau sudah mandi atau tidak pernah mandi pun."


Dengan secepat kilat tangan Marvin membuat tubuh istrinya terbaring kebelakang. Ia lalu menguncinya dengan kedua tangannya.


"Ma ... Marvin."


Entah apa yang membuat lidah Lisa terasa begitu kaku. Jantungnya bahkan tak bisa memompa dengan benar saat ini. Terlebih saat suaminya mendekatkan wajahnya dan menyusuri permukaan dadanya.


Lari lah jika memang kau bisa. Aku tidak akan melepaskan mu begitu saja, sayang. Sudah sekian lamanya kau menyiksaku dengan segala tingkah mu.


Untuk sesaat Marvin menghentikan aktifitasnya dan melihat wajah istrinya yang terlihat tak berdaya.


"Aku sangat mencintaimu," ucap Marvin seraya menatap wajah istrinya yang ada dibawahnya.


Namun ELisa nya hanya menatapnya polos dan sesekali mengedipkan matanya tanpa sengaja. Ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Apakah harus membalas ucapan suaminya?


Ia sungguh tidak pernah belajar sesuatu yang romantis seperti ini.


"Terus saja seperti itu! Aku hendak mengampuni mu karena aku ingat kau sedang mengandung anak kita. Tapi jika tingkah mu menggemaskan seperti ini, siapa yang akan sanggup melewatkannya. Apa kau sengaja melakukannya agar aku terpancing?"


"A ... apa maksudmu?" Lisa semakin bingung dibuatnya.


"Hahaha ... kau ini benar-benar ya? Kenapa kau polos sekali seperti ini?"


Marvin tak bisa menahan tawanya melihat wajah istrinya yang polos, bingung dan menggemaskan itu.


"Ya sudah, ayo cepat bersihkan dirimu! Kita pergi sarapan setelah ini."


Dan akhirnya pagi itu berlalu begitu saja. Elisa selamat dan lolos dari hukuman suaminya. Meski tidak sepenuhnya lolos, karena suaminya terus menjahilinya bahkan meminta mandi bersama.