Become The Billionaire'S Wife

Become The Billionaire'S Wife
Di Cafe



"Beruntung banget jadi Lisa," ujar Evi setelah Lisa dan bosnya menghilang dibalik pintu lift.


"Iya, aku juga pengen dapat yang kayak gitu," timpal Nia seraya memasang wajah pengen.


"Hus, kalau kalian pengen. Minta ajarin sana sama Lisa, gimana caranya buat dapetin orang seperti pak Marvin. Kalau menurutku, ada sesuatu yang istimewa di dalam diri Lisa, yang membuat pak Marvin jatuh hati padanya." Dina melontarkan kalimat yang langsung membuat dua rekannya diam seketika.


Mereka lalu berjalan gontai sambil masih memikirkan bagaimana caranya agar bisa mendekati orang-orang penting seperti bosnya.


Sementara yang sedang dibicarakan, kini sudah duduk didalam mobil yang sedang dikemudikan oleh Marvin.


"Sayang, kita mampir ke cafe dulu, mau?" tanya Marvin. Ia butuh sesuatu untuk menyegarkan tenggorokannya.


"Baiklah," jawab Lisa pasrah, yang justru membuat Marvin menoleh kearahnya.


"Sayang, kenapa kau terlihat tidak bersemangat? Apa kau tidak merindukanku? Kau tidak senang pergi bersamaku? Padahal aku rindu sekali denganmu," ujar Marvin seraya meraih tangan kekasihnya.


"Marvin, bukan begitu. Tapi tolong beri aku waktu, aku sama sekali belum terbiasa menjalani kehidupan sebagai pasangan seperti ini," pinta Lisa.


Maafkan aku, Marvin. Aku hanya masih takut jika pada akhirnya kau juga akan pergi. Aku sangat terkesan denganmu, tapi aku tidak berani memastikan jika itu adalah rasa suka atau bahkan cinta. Aku takut semuanya akan cepat berakhir dan tidak sesuai yang ku harapkan.


"Sayang, apa kau masih ragu padaku?" Marvin memperlambat laju kendaraannya dan menepikannya di pinggir jalan raya. Tidak peduli ini termasuk pelanggaran atau bukan. Yang jelas, wanita yang ada disampingnya jauh lebih penting.


Setelah mobilnya berhenti, Marvin meraih kedua tangan Lisa dan menatap ke dalam matanya.


"Dengarkan aku baik-baik. Jika kau ragu akan hubungan ini, atau kau ragu akan cinta yang ku ucapkan. Aku bisa melamar mu hari ini juga. Kau tahu kenapa aku tidak langsung mengatakan pada ayahku agar langsung melamar mu malam itu juga?" Marvin memperdalam tatapannya.


Sementara Lisa menggeleng dengan pelan seraya menatap polos pada lelaki yang ada dihadapannya.


"Itu semua ku lakukan agar kita bisa saling mengenal satu sama lain, agar kau bisa mengenalku lebih baik lagi. Tapi jika kau meragukan ku seperti ini, baiklah ... aku akan meminta ayahku untuk melamar mu malam ini juga." Marvin mengucapkannya dengan penuh keyakinan.


"Tidak, jangan begitu!"


"Sayang, kau tahu aku telah menodai mu. Kau mungkin tidak sadar, tapi aku melakukannya secara sadar. Aku tahu kau masih gadis, aku merasa harus bertanggung jawab untuk itu. Bagaimana jika kau hamil?"


"Jadi hanya karena rasa bersalah, kau mendekatiku?" tanya Lisa.


"Tidak! Aku tertarik padamu saat pertama kali melihatmu dalam acara makam malam itu. Aku tidak tahu, mungkin ini sudah takdir atau bagaimana. Pada akhirnya malam itu kita terlibat hubungan yang sangat jauh. Awalnya aku merasa bersalah padamu, tapi semakin aku mengenalmu, aku semakin yakin jika hatiku sudah jatuh padamu sejak saat pertama kali melihatmu. Aku tidak bisa jauh darimu." Marvin menggenggam tangan Lisa seolah memberikan keyakinan.


Kali ini Marvin tidak bisa menahannya lagi. Ia meraih tubuh Lisa dan mendekapnya ke dalam pelukannya. Mencurahkan perasaan yang selama ini menggangganggu hatinya.


Tanpa kuasa menolak, Lisa pun membiarkan tubuhnya di dekap oleh orang yang baru saja menjadi kekasihnya semalam. Untuk beberapa saat mereka saling memejamkan mata satu sama lain. Tidak ada tindakan lebih, hanya sekedar berpelukan saja tapi membuat keduanya menjadi lebih tenang setelahnya.


"Baiklah, kita lanjutkan perjalanannya. Aku ingin menanyakan sesuatu padamu," ujar Marvin setelah meleraikan pelukannya.


"Tentang apa?" Lisa mengerutkan dahinya.


"Tentang kakakmu, tapi nanti kalau kit sudah sampai di cafe."


Mendengar hal itu, Lisa pun hanya mengangguk dan kembali fokus pada jalanan yang ada dihadapannya.


Hingga kurang lebih sepuluh menit kemudian, Marvin membelokkan mobilnya ke sebuah cafe. Mereka turun dan memesan tempat VIP dari cafe tersebut.


"Tadi kau bilang mau bertanya tentang kakakku?" tanya Lisa setelah menyeruput minumannya.


"Ya, Sayang. Apa Stevi itu benar kakakmu?" tanya Marvin ragu-ragu. Ia takut akan menyinggung perasaan Elisa.


"Tentu saja, kenapa?" Lisa justru tersenyum bingung seraya mengerutkan dahinya.


"Tidak apa-apa. Oh ya, apa menurutmu masuk akal jika seseorang memiliki kembaran atau ada seorang yang lain yang wajahnya sama persis tapi tidak memiliki hubungan darah apapun?" tanya Marvin mulai sedikit serius.


Elisa tersenyum. "Marvin, jujur aku tidak tahu arah pembicaraanmu. Tapi yang kutahu, manusia memiliki kembaran atau orang yang sama persis seperti kita, itu hingga tujuh orang."


"Aku juga tahu hal itu Sayang, tapi mungkinkah benar-benar akan bisa sama persis?" Marvin begitu ragu, entah kenapa perasaannya sangat tidak enak.


"Aku juga tidak tahu hal itu, Marvin. Karena aku belum pernah melihat orang yang begitu mirip tapi tidak memiliki hubungan darah apapun," terang Lisa.


"Saat di Kota B tadi, aku melihat seorang gadis yang mirip sekali dengan kakakmu. Bisa dikatakan wajahnya sama persis. Mungkinkah orang yang tidak punya hubungan darah sama sekali bisa mirip seperti itu?"


"Kau yakin tidak salah lihat?" Lisa ganti bertanya. Ya, sebenarnya ia hanya malas saja jika membahas tentang kakaknya.


"Tentu saja, lain kali aku akan mengajakmu kesana dan lihatlah sendiri seperti apa kemiripan mereka," ujar Marvin lalu menyeruput minumannya. Ia tahu Lisa enggan sekali membicarakan tentang kakaknya. Entah karena apa, ia belum tahu. Tapi sepertinya Stevi memang menyimpan sebuah misteri.