ASHTON & LIONA

ASHTON & LIONA
Bab 49




...Selamat membaca 🤗...


...• • • • •...


Dikantor Austin uring-uringan merasa nasibnya sial sekali. Kenapa wanita yang dia tunggu-tunggu itu tidak datang hari ini.


Padahal dirinya yang meminta tolong kepada Liona untuk mengatur pertemuan nya dengan Jocelyn malah kedua sahabat nya yang tidak berusaha sama sekali itu yang mendapatkan kesempatan.


“Hmmm kenapa aku sial sekali.” Gumam Austin kepada dirinya sendiri.


Tak ingin menjadi gila sendiri didalam ruangan nya itu, ia pun memutuskan untuk menemui Ashton diruangan nya.


...• • • • •...


Ashton yang tengah sibuk memeriksa dokumen yang ada diatas meja nya menghentikan sejenak aktivitas nya ketika mendengar suara ketukkan dari luar sana.


“Masuk.” Sahut nya dari tempat duduknya kemudian memfokuskan kembali kepada dokumen-dokumen tersebut.


“Mana Liona?” Tanya Austin ketika melihat sahabat nya itu sendirian.


“Kenapa kau menanyakan istriku?” Tanya Ashton sinis.


“Ya ampun Ashton, memang nya salah jika aku bertanya! Tenang saja, aku tidak akan merebutnya dari mu.


“Dia sudah pulang. Barusan saja!


“Nah kalau begitu kan bagus. Ketika aku bertanya kau langsung menjawab, bukan nya malah balik bertanya,


“Kenapa kau malah mengajari ku?


“Jadi begini Ash, aku bukan nya mau mengajari mu. Tapi hanya saja aku rasa kau memerlukan sedikit pengetahuan tentang berkomunikasi yang baik. Ketika seseorang bertanya kau harus nya menjawab, bukan nya malah balik bertanya.


Tiba-tiba melayang lah sebuah kertas kearah Austin yang sudah Ashton remas sedari tadi karena bosan mendengarkan ceramah laki-laki itu yang menurutnya sama sekali tidak penting.


“Kau,,, kalau tidak ada yang penting silahkan keluar.” Ujar Ashton menatap kesal kepada Austin.


“Memang nya kau tidak membutuhkan ku.” Kata Austin lagi sambil menaik-turunkan sebelas alisnya, “Kalau tidak ada aku akan keluar sekarang.” Kata nya lagi.


Seketika Ashton segera melepas dokumen yang tadi dia pegang dan beralih kepada Austin. Memang benar dia tengah membutuhkan ide dari sahabat nya itu untuk memberikan kejutan yang luar biasa pada Liona saat mereka liburan nanti.


“Jadi kau punya ide apa?” Tanya Ashton langsung to the point.


“Giliran butuh saja kau memanusiakan diriku, coba saja kalau tidak.” Austin menggelengkan kepala nya memikirkan apa yang ada didalam pikirannya saat ini, “entahlah.” Kata nya lagi.


Kemudian dia mulai menjelaskan ide kejutan yang sudah ada dipikiran nya sedari tadi kepada Ashton hingga akhirnya sahabatnya tersebut setuju dan meminta agar segera disiapkan sebaik mungkin.


...• • • • •...


Disisi lain terlihat dua anak manusia sedang memadu kasih, hubungan layaknya sepasang suami istri itu mereka lakukan tanpa ada nya ikatan apa pun.


Pertemuan singkat diantara mereka membawa nya kepada rasa ingin memiliki satu sama lain. Padahal diawal pertemuan mereka dahulu, gelagat nya terlihat seperti dua orang yang saling membenci satu sama lain.


Tapi siapa sangka ternyata jauh di dalam itu semua ada jiwa yang saling merindu, ada hati yang terluka tak kala tidak mampu bertemu dengan orang yang dicintai nya, dan kehampaan yang kian mengusik ketika kamu tidak tau dimana orang yang kamu rindukan berada saat ini.


Hanya bermodalkan kepercayaan mereka akhirnya melakukan sesuatu yang seharusnya belum mereka lakukan, meskipun mereka sudah sama-sama dewasa.


Hingga akhirnya pelepasan terjadi diantara mereka berdua, saling menatap satu sama lain. Bertanya apakah dia yang sebenarnya aku inginkan? Pantaskah dia bersama ku?


Sekian lama mereka menatap saling membenarkan apa yang barusan mereka lakukan, Leandra kembali menagih janji kepada laki-laki yang barusan saja melakukan hubungan intim dengan nya itu.


“Aku tadi sudah berkata jika kau ingin lebih, maka aku juga ingin lebih.” Kata Leandra memulai perbincangan diantara mereka berdua, “dan kau berkata jika kau akan mengabulkan apa pun yang aku inginkan.” Kata nya lagi.


Kini Andrew sudah turun dari atas tubuh Leandra dan memposisikan dirinya berbaring disamping wanita itu sambil menyisipkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah Leandra. Terlihat juga peluh yang menghiasi kening nya dan dengan perhatian Andrew mengusapnya.


“Iya aku akan mengabulkan apa pun yang kau ingin kan.” Jawab Andrew lagi, kini tangan nya melingkar diatas tubuh Leandra yang tengah tertutupi oleh selimut berwarna putih itu.


“Aku tidak akan bertanya lagi jika kau serius dengan ucapan mu itu, karena ketika kau sudah berjanji maka kau juga harus menepati nya.” Kata Leandra sambil menatap dalam-dalam kedua manik mata yang tengah memperhatikan dirinya berbicara saat ini.


“Iya aku serius dan aku juga berjanji akan mengabulkan permintaanmu. Jadi katakan, apa yang kau inginkan?” Tanya Andrew dengan mudah nya.


“Aku ingin kau menikahi ku.” Perkataan itu terlepas dengan mudah nya dari mulut Leandra.


Padahal mereka baru beberapa kali bertemu dan dia dengan mudah nya mengajak laki-laki yang dia tidak tau asal usul nya itu darimana untuk menikahi dirinya.


Andrew tertegun mendengarkan perkataan Leandra, dia tidak menyangka jika wanita itu akan berkata seperti itu. Bahkan dia tidak berpikir sejauh itu tadi.


“Kau serius dengan ucapan mu?” Sekarang Andrew yang mulai mempertanyakan keseriusan wanita itu untuk menikah dengan nya.


“Iya aku serius.” Jawab Leandra dengan sangat yakin. Seolah-olah keputusan nya untuk menikah di usianya yang sudah menginjak 25 tahun itu adalah keputusan yang sangat baik.


“Kenapa kau ingin aku menikahi mu?” Tanya Andrew ingin tau.


“Karena aku membutuhkan sosok seorang pelindung, kau tau sendiri kan jika aku hidup sendiri di dunia ini. Banyak yang ingin mencelakai ku. Jadi itulah sebabnya aku ingin kau menikahi ku, agar aku punya seseorang disamping ku yang selalu ada dan bisa melindungi ku.” Jelas Leandra.


“Kenapa kau sangat yakin jika aku akan melindungi mu?


Andrew tertawa mendengarkan penuturan Leandra. Wanita yang sama sekali belum mengenali nya itu berkata dengan sangat yakin jika dirinya bisa melindungi wanita itu.


Lantas apa yang bisa dia lakukan lagi ketika wanita yang dia sukai itu sudah menaruh kepercayaan sebesar itu kepadanya dan dia pun sudah berjanji akan mengabulkan apa pun permintaan Leandra tadi.


“Baiklah aku akan menikahi mu.” Kata Andrew.


“Ya kau memang harus menikahi ku, karena kau tadi sudah berjanji.” Sahut Leandra mengingatkan.


“Kau ingin pernikahan seperti apa?” Tanya Andrew lagi.


“Memang nya kau sudah tidak sabar ya untuk menikahi ku?


“Tentu saja, memang nya apa lagi yang aku inginkan. Pekerjaan sudah bagus, umur ku sudah cukup, calon istri ku juga cantik. Tidak ada yang perlu di pertimbangkan lagi.


Leandra tersenyum mendengar kalimat terakhir yang keluar dari mulut Andrew, “jadi Ketika aku sudah tidak cantik lagi, kau akan meninggalkan ku nanti?


“Tidak, aku bukan tipe laki-laki yang seperti itu.


“Perlu kau tau.,!” Kata Leandra dengan sangat serius.


“Apa itu?” Andrew mewanti-wanti kata-kata apa yang akan keluar dari mulut wanita itu.


“Aku tidak ingin pernikahan yang megah, pernikahan yang semua orang tau, aku hanya ingin pernikahan kecil yang hanya ada keluarga mu, dan sahabat kita.” Jawab Leandra.


“Kenapa? Biasanya wanita ingin pernikahan yang sangat megah? Kenapa kau ingin pernikahan yang biasa-biasa saja?


“Karena aku tidak memiliki orang tua, aku tidak ingin bahagia diatas kematian orang tua ku.” Tatapan nya sendu ketika mengucapkan kalimat itu.


Andrew pun terharu dan ikut sedih mendengar pengakuan Leandra, “Dengarkan aku, kau layak untuk bahagia. Dan kematian orang tua mu bukan disebabkan oleh mu.” Andrew mendekap tubuh Leandra memberi ketenangan bagi wanita yang sebentar lagi akan menjadi istrinya itu.


“Tapi aku hanya ingin pernikahan yang kecil saja, aku ingin kau mengabulkan permintaan ku yang satu ini,


“Aku akan mengabulkan nya jika kau mendasari itu semua atas rasa kebahagian dihati mu, bukan atas rasa penyesalan. Pernikahan ini bukan hanya tentang dirimu, tapi juga tentang aku yang akan mendampingi mu untuk seterusnya. Aku tidak ingin menjadi seorang suami yang membiarkan istri nya merasa bersalah dihari pernikahan nya.” Jelas Andrew.


Leandra nampak berpikir panjang, bingung harus berkata apa. Hingga akhirnya dia menjelaskan kepada Andrew jika dia lah yang mendesak kedua orang tua nya waktu itu untuk segera kembali ke London untuk hadir di acara ulang tahun nya.


Dia tidak ingin ulang tahun nya dirayakan tanpa ada nya orang tua nya. Padahal waktu itu kedua orang tua nya sedang melakukan perjalanan bisnis dan dia meminta mereka untuk segera kembali ke London dengan berbagai macam alasan.


Hingga akhirnya pesawat yang di tumpangi oleh orang tuanya mengalami kecelakaan pada saat menuju ke London, dan hal itu sangat-sangat membuat Leandra menyesal karena telah mendesak orang tuanya untuk segera kembali.


Jika dia tau hal itu akan terjadi, maka dia tidak akan meminta hal yang menurutnya sekarang sangat lah kekanak-kanakkan.


Siapa pun akan berpikir jika permintaan tersebut sangatlah kekanakan di saat usia nya yang hampir menginjak 22 tahun pada saat itu, disaat orang lain akan masa bodoh dengan perayaan ulang tahun tanpa melibatkan kehadiran orang tua tapi dia dengan manja nya menyuruh orang tuanya untuk segera pulang saat itu.


Tentu saja dia mampu melakukan hal itu, karena dia adalah anak tunggal. Kasih sayang yang dia dapatkan tidak pernah kurang dari kedua orang tua nya dan orang tua nya pun dengan sangat patuh mengabulkan apa pun permintaan anak semata wayang nya itu.


Hingga kejadian na’as pun menghampiri mereka saat itu dan membuat mereka tidak dapat menghindari nya. Sekarang Leandra hidup dengan rasa bersalah yang ada pada dirinya. Bagaikan bayangan hitam yang terus berada disisi nya dimana pun dia berpijak.


Mendengarkan penjelasan dari Leandra tadi, Andrew pun akhirnya mengerti mengapa wanita itu menyalahkan dirinya atas kematian kedua orang tuanya itu.


“Mari kita bicarakan hal ini di lain waktu lagi.” Ujar Andrew setelah mendengar penjelasan Leandra tadi.


“Kenapa harus di lain waktu? Kenapa tidak sekarang saja?


“Kau sedang tidak baik-baik saja setelah menceritakan hal yang sudah membuat mu merasa bersalah selama ini, lebih baik kau tenang kan dirimu dulu. Aku ingin kau berpikir lebih bijak lagi dalam hal ini. Dan perlu aku tekan kan kepadamu, jika kematian orang tua mu itu sama sekali bukan kesalahan mu. Tidak ada yang tau kapan kematian akan menjemput kita, karena itu adalah takdir yang tidak bisa dihindari.


Akhirnya Leandra menuruti perkataan Andrew dan tidak melanjutkan topik pembahasan mereka itu tadi.


...• • • • •...


Sore hari nya Ashton kembali kerumah karena memang pekerjaan nya sudah selesai jadi dia bisa pulang tepat waktu.


Setiba nya didepan rumah, Ashton pun berteriak seperti hanya ada dirinya dan Liona di dunia ini, yang lain nya sedang pindah ke planet mars, “Sayang aku pulang.” Teriak Ashton.


Liona yang baru saja keluar dari dapur mengambil minuman pun kaget mendengar teriakan Ashton yang begitu menggelegar ditelinga nya.



Ketika Ashton sudah masuk, dia kaget melihat bagian tubuh Liona yang terekspos dengan liarnya disana.


Dia pun cepat-cepat menghampiri Liona dan membawanya naik keatas sebelum mata nakal adik-adik nya melihat bagian itu.


...Jangan Lupa Berikan Rate 🌟 5 nya, Tekan...


...Like nya, Ketikkan komentar nya, dan...


...Favoritkan ASHTON & LIONA di Cerita mu...


...Agar tidak ketinggalan update terbaru....


...Terima Kasih...


...♥️...