ASHTON & LIONA

ASHTON & LIONA
Bab 21



Kepanikkan Ashton



HAPPY INDEPENDENCE DAY INDONESIA


75TH


2020, AUGUST 17TH


🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉


🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩 🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩


MERDEKA


Selamat Membaca 🤗


...


Beberapa hari setelah kencan mereka pada waktu yang lalu, Ashton dan juga Liona sudah mulai disibukkan dengan jadwal yang sangat padat. Liona sibuk untuk persiapan acara fashion show dan Ashton sibuk dengan urusan perusahaan dan mendatangi beberapa cabang terdekat di London.


Namun keduanya tidak lupa untuk saling memberi kabar dan saling menyemangati. Seperti sekarang keduanya sedang melakukan video call setelah melakukan aktivitas harian mereka.


“Ash apa kau bisa datang di acara fashion show besok malam?” Tanya Liona dengan penuh harap.


“Aku tidak bisa berjanji sayang, tapi akan aku usahakan.” Jawab Ashton tidak ingin membuat Liona kecewa.


Ashton sebenarnya juga tidak tau apakah dia bisa menghadiri acara itu esok hari, mengingat jika ia harus mengunjungi cabang perusahaan nya yang berada di Stratford dan melakukan meeting dengan perusahaan dari Jerman. Tapi dia akan mengusahakan yang terbaik jika itu permintaan dari Liona.


Liona nampak sedikit kecewa karena dia sangat berharap Ashton hadir disana dan melihat gaun-gaun hasil rancangan nya yang digunakan oleh artis-artis papan atas dan pengusaha kaya raya. Tapi dia juga tidak boleh egois karena Ashton sendiri ada kesibukkan diluar sana dan tidak mungkin juga dia menyuruh Ashton memilih salah satu diantaranya karena sama-sama penting.


“Jangan kecewa sayang, aku kan tidak bilang jika tidak mau. Tapi aku akan usahakan untuk hadir disana. Meskipun sedikit terlambat tidak apa-apa kan?” Sahut Ashton kemudian.


Liona tersenyum mendengarkan perkataan Ashton barusan dan wajah nya menjadi bersemangat lagi.


“Baiklah, aku akan menunggu mu meskipun terlambat sedikit.” Balas Liona dengan senyuman.


“Kalau begitu kita istirahat ya, besok aku akan menghubungi mu lagi.” Ucap Ashton dan Liona menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


”Selamat malam sayang.” Ucap kedua nya silih berganti lalu sama-sama mematikan panggilan tersebut.


...


Keesokan harinya Liona sudah mulai sibuk di butik untuk persiapan acara fashion show yang akan diadakan sore hari nanti. Mulai dari pengecekan kesiapan busana yang akan ditampilkan, hingga meladeni sedikit keluhan dari beberapa klien nya yang meminta perombakan. Ia benar-benar membutuhkan kesabaran yang sangat ekstra dalam meladeni konsumennya.


“Andai kau disini Ash, pasti aku akan lebih semangat lagi.” Tutur Liona dalam hatinya dengan manja.


Ia benar-benar membutuhkan sosok Ashton saat ini untuk memberinya semangat apalagi ini acara yang sangat besar.


“Semangat Liona, kau pasti bisa menyelesaikan semuanya hari ini. Semangat!!!” Ucapnya menyemangati dirinya sendiri.


...


Disisi lain terlihat Ashton sedang melakukan meeting di Stratford dengan klien nya yang akan diajak kerja sama, namun sampai pada waktu sudah menunjukkan pukul 15.40 sore belum ada titik temu kesepakatan antar dua perusahaan yang akan menjalin kerja sama itu.


Ashton benar-benar sangat geram dengan utusan perusahaan dari Jerman yang ingin mengajukan kerja sama tersebut.


“Kalau aku tau bukan bos nya yang datang, maka aku tidak akan mau datang ke Stratford jauh-jauh seperti ini. Buang-buang waktu saja berbicara dengan utusan bodoh seperti mereka.” Batin Ashton dengan kesal seraya mengusap wajah nya kasar.


Ashton berdiri dan melangkahkan kaki nya keluar dari ruang meeting dengan emosi yang sudah mencapai ubun-ubun, dia memilih keluar dari sana sebelum tinju nya benar-benar mendarat di wajah utusan dari Jerman tersebut.


Austin segera mengejar atasannya tersebut dan mencoba membujuknya.


“Hei perusahaan mereka tidak ada apa-apa nya dibandingkan dengan perusahaan ku, kenapa harus aku yang menuruti keinginan mereka. Jika mereka tidak setuju dengan pertimbangan yang kita berikan dan tidak mau menandatangani berkas kerja sama maka jangan dilanjutkan. Aku tidak mau kedepan nya akan lebih sulit lagi. Dan satu lagi sampai kan kepada mereka jika ingin menemui ku di kemudian hari jangan menyuruh utusan, tapi bos mereka sendiri yang harus datang menemui ku. Kenapa aku di sama-sama kan dengan bawahan bodoh seperti mereka.” Hardik Ashton lalu melanjutkan jalan nya lagi.


“Ash kau mau kemana?” Teriak Austin lagi.


“Aku akan kembali ke London sekarang, aku harus menghadiri acara fashion show nya Liona.” Sahut Ashton seraya melanjutkan langkah nya.


Austin menghembuskan napasnya berat melihat sahabat nya itu pergi begitu saja. Dia paham betul siapa Ashton, laki-laki itu tidak akan mau bertemu dengan orang yang membuat mood nya menjadi jelek. Jadi Austin sendiri lah yang harus menyelesaikan meeting tersebut.


...


”Semuanya stand bay diposisi masing-masing, kita harus berhasil malam ini. Tidak boleh ada yang melihat kita menculik Nona Liona, jika sampai ada yang melihat kita maka kita akan habis oleh bos.” Ucap ketua penjahat suruhan.


“Siap bos.” Ucap ketiga penjahat yang lainnya secara bersamaan.


Acara yang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari itu akhirnya tiba, Liona sangat gugup malam ini karena rancangan nya akan menjadi tontonan kaum desainer yang lebih terkenal dari nya. Ini adalah ajang pertunjukkan dimana dia bisa membuktikan bahwa dirinya juga berbakat, serta mampu untuk berkolaborasi dengan desainer-desainer kelas atas lainnya.


Jonathan yang memang dari awal menggunakan jasa dari butik Liona menghampiri gadis itu, ketika melihat dia berdiri di pojokan panggung melihat model-model yang sedang melakukan catwalk menggunakan gaun hasil rancangan nya.


“Li apa kita bisa berbicara sebentar?” Tanya Jonathan ketika sudah berdiri disamping gadis itu.


“Ada apa lagi kau menemui ku, jika ada hal penting yang ingin kau bicarakan silahkan lewat sekretaris ku.” Jawab Liona lalu mencoba menghindar.


“Li berikan aku kesempatan sebentar saja, aku ingin berbicara pada mu.” Paksa Jonathan sambil menggenggam erat pergelangan tangan Liona agar gadis itu tidak kabur.


“Kau lepas kan tangan ku atau aku akan berteriak disini.” Ancam Liona dengan napas nya yang memburu.


Jonathan akhirnya melepaskan tangan gadis itu dan membiarkan nya pergi, lalu seringai senyuman jahat muncul wajah laki-laki itu.


“Sebentar lagi, sebentar lagi kau akan kembali kepada ku Li.” Ucap Jonathan pada dirinya sendiri dan menghubungi orang-orang nya untuk siap menjalankan misi.


...


“Kalau bukan karena pertemuan bodoh itu, aku pasti sudah tiba disini dari tadi.” Cetus Ashton dengan kesal.


Lalu ia mengeluarkan ponselnya dari saku jasnya dan menghubungi Liona dari dalam mobilnya, berharap jika gadis itu mau keluar dan menemuinya disana. Namun berulang kali Ashton mencoba menghubungi Liona, tapi tidak kunjung di jawab oleh gadis itu.


“Apa dia marah kepada ku sampai-sampai tidak mengangkat telepon ku seperti ini.” Gumam Ashton bertanya pada dirinya sendiri.


Padahal Liona sedang fokus menyaksikan acara fashion show didalam sana dan tidak tau jika Ashton sudah menghubungi nya berulang kali.


“Apa aku susul saja kedalam ya, tapi apa bisa aku menemukan nya di gedung sebesar ini.” Gumam Ashton lagi.


Setelah sibuk dengan pemikiran nya sendiri, Ashton memutuskan menghampiri Liona kedalam. Ia bisa menanyakan keberadaan Liona kepada orang-orang didalam sana pikirnya.


“Semoga saja ada yang mengenali ku. Jadi aku tidak perlu menegur mereka terlebih dahulu dan bisa bertanya keberadaan Liona kepada mereka.” Ucap Ashton dengan sedikit percaya diri.


Biasanya orang-orang selalu berkata, semoga saja ada yang aku kenal disana jadi aku bisa menyapa mereka. Namun berbeda dengan Ashton, laki-laki itu dia lebih memilih orang lain lah yang terlebih dahulu mengenal nya dan menyapa nya. Karena dapat disimpulkan selain Liona, keluarganya dan ketiga sahabatnya tidak ada orang diluar sana yang mau dia ingat wajah nya. Karena bagi nya itu tidak penting.


Dan benar saja ketika laki-laki itu masuk kedalam tidak ada satu pun yang di kenal nya, namun dia tidak putus asa untuk mencari calon istrinya itu. Ia membawa langkah nya kesana kemari tapi tak kunjung ditemukan juga. Hingga beberapa saat ia merasa sedikit lelah dan memilih berisitirahat sejenak di bangku yang ada didalam gedung itu, dan ada seseorang yang datang menghampirinya dan ternyata itu adalah seorang wartawan yang memang mengenal Ashton sebagai seorang pengusaha yang sangat sukses di London.


Sangat susah untuk mewawancarai laki-laki itu karena ia tidak suka disorot dan menjadi pembicaraan publik, dan saat ini benar-benar waktu yang pas pikir para wartawan itu untuk mewawancarai Ashton. Apalagi melihat kehadirannya di acara fashion show seperti itu, semakin membuat wartawan ingin menggali informasi tentang alasan kehadirannya. Karena mereka tau jika pemimpin dari perusahaan CAPITAL GROUP tersebut tidak pernah menghadiri acara-acara seperti itu jika bukan karena ingin bertemu dengan seseorang.


Dalam sekejap saja wartawan mulai berbondong-bondong mengambil gambar laki-laki itu dan melakukan wawancara.


“Maaf Tuan Ashton, apa yang membuat anda sampai bisa berada di acara Victoria’s Secret ini?” Tanya wartawan A.


“Aku kemari mencari calon istri ku.” Jawab Ashton tenang.


“Bukan nya anda belum memiliki calon istri Tuan Ashton? Tanya wartawan B.


“Kurang ajar sekali orang-orang ini, apa mereka berpikir diriku tidak selaku itu.” Batin Ashton kesal.


“Aku sudah memiliki calon istri dan sebentar lagi kami akan menikah.” Jelas Ashton seraya tersenyum.


Liona yang menyadari jika ada yang sedang menyita perhatian para wartawan selain model yang sedang melakukan catwalk diatas panggung, mencoba mencari tau apa yang sedang terjadi. Ketika tubuhnya yang kecil itu mencoba menembus kerumunan para wartawan yang sedang melakukan wawancara, ia menangkap sesosok laki-laki yang sangat ia kenal siapa itu. Tidak susah untuk melihat laki-laki itu dengan tubuhnya yang tinggi, siapa saja pasti bisa langsung melihat nya.


“Ashton.” Ucap Liona ketika sudah berhasil melalui kerumunan yang sangat padat tadi.


“Sayang.” Balas Ashton dengan wajah sumringah nya.


Perhatian wartawan tersita kearah sebutan sayang yang ditujukan oleh Ashton kepada gadis yang sedang berdiri tidak jauh dari nya itu. Ashton menghampiri gadis itu dan menampakkan senyuman teduh nya, karena berhasil dipertemukan dengan calon istrinya tersebut. Akhirnya disitulah Ashton mengumumkan jika Liona adalah calon istrinya, dan banyak yang tidak percaya akan hal itu. Namun Ashton mau pun Liona tidak menggubris hal tersebut, percuma meladeni media sampai kapan pun tidak akan pernah habis mengupas tentang kehidupan orang lain.


“Kenapa kau bisa seterlambat ini Ash.” Kesal Liona dengan wajah cemberutnya.


“Maafkan aku sayang, tadi meeting nya sangat lama sekali. Bahkan aku meninggalkan nya begitu saja, dan langsung kemari.” Jelas Ashton seraya memegang kedua tangan Liona.


Namun gadis itu tidak merespon perkataan Ashton, dia masih kesal terhadap laki-laki didepan nya itu.


“Aku tadi sudah menghubungi mu berulang kali, tapi malah tidak dijawab.” Terang Ashton.


Liona seketika membelalakkan kedua mata nya, dia baru sadar jika ponselnya dalam keadaan mode senyap agar tidak menggangu kelangsungan acara.


“Maafkan aku Ash, aku tidak tau.” Jawab Liona ketika sudah membuka ponselnya, dan terlihat beberapa panggilan yang Ashton lakukan pada dirinya satu jam yang lalu.


“Kalau para wartawan tidak menyorot ku, mungkin sampai sekarang kita tidak akan bertemu.” Ucap Ashton dengan senyuman sedikit sombong.


“Sombong sekali.” Balas Liona seraya mencebikkan bibirnya.


“Hahaha kenyataan nya memang seperti itu sayang.” Tawa Ashton dengan pura-pura polos.


“Iya, iya tau yang memang terkenal dari sana nya.” Sinis Liona, merasa terkalahkan dengan ketenaran calon suaminya itu.


Ashton hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala nya melihat tingkah gadis nya itu.


...





Saat ini adalah sesi foto terhadap para model, desainer, dan juga pengusaha serta artis terkenal yang datang di acara tersebut. Tak lupa juga mereka mengabadikan momen Ashton bersama calon istrinya tersebut.


Tapi Ashton menolak mentah-mentah jika ada yang datang ingin berfoto dengan nya, Liona pun tidak bisa berkata apa-apa melihat Ashton yang menolak orang-orang tersebut.


Setelah berada di penghujung acara, tapi tidak lagi terlalu formal hanya saling bertukar sapa dengan para desainer lainnya Liona meninggalkan mereka dan Ashton dengan Sekretarisnya Leah untuk ke toilet sebentar.


Sepeninggalan Liona beberapa saat yang lalu, Ashton merasa jika kekasihnya itu terlalu lama jika hanya pamit untuk ke toilet saja. Ia memutuskan memanggil sekretaris Leah yang sedang mengobrol dengan tim kerjanya dan meminta untuk mengecek Liona ke toilet.


Tidak mungkin jika dirinya sendiri yang masuk kesana. Sekretaris Leah hanya bisa patuh dan melakukan apa yang di perintahkan oleh calon suami dari bos nya itu. Namun sekembalinya sekretaris Leah dari toilet, ia tidak bersama-sama dengan Liona. Ashton mengernyitkan kening nya.


“Mana Liona?” Tanya Ashton masih dengan perasaan tenang.


“Maaf Tuan Ashton, Nona Liona tidak ada di toilet. Saya sudah mengetuk dan menunggu semua toilet kosong, tapi Nona Liona tidak ada disana.” Jawab Leah dengan sedikit khawatir.


“Kemana Liona, apa dia pulang duluan. Tapi tidak mungkin, tadi dia pamitnya ke toilet.” Ucap Ashton pada dirinya sendiri.


Lalu ia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Liona, tapi tidak ada tanda-tanda sahutan dari seberang sana. Ashton menjadi khawatir seketika, pikiran nya melayang kemana-mana.


Jangan Lupa Berikan Rate 🌟 5 nya, Tekan Like nya, Ketikkan komentar nya, dan Favoritkan ASHTON & LIONA di Cerita mu agar tidak ketinggalan update terbaru.


Terima Kasih


♥️