
Aku Ingin Dirimu
Selamat Membaca
...
“Maksud Papah?” Tanya Liona dengan perasaan yang sangat kaget, mata nya pun terlihat mulai berkaca-kaca. Bukan hanya dia yang kaget tapi mereka semua yang mengerti maksud pembicaraan itu pun sama kaget nya dengan Liona.
Ashton berdiri dari tempat duduk nya membawa Liona kedalam pelukannya, di usap wajah cantik yang terlihat basah itu.
“Jangan menangis aku akan bicara sama Papah.” Bujuk Ashton setelah menenangkan kekasih nya itu.
Ashton membawa pandangan nya kearah Chris, melihat apakah laki-laki paruh baya itu sedang mencoba bercanda dengan mereka. Tapi dia tidak menemukan apa yang dicari nya.
“Kenapa Papah ingin membatalkan pernikahan kami?” Pertanyaan Ashton begitu menelisik di pendengaran Chris.
Chris terkesiap ketika mendengar perkataan Ashton yang ditujukan kepada dirinya.
“Maksud Papah tadi bukan membatalkan maaf-maaf,” Ucap Chris seraya mengangkat satu tangan lalu melanjutkan perkataan nya lagi “maksud Papah menunda,” lanjutnya kemudian.
“Kenapa di tunda?” Sahut Freed yang sedang duduk di samping Chris sembari menghadap kearah sahabat nya itu.
“Liona kan masih sakit, takutnya fisik dan mental nya belum siap.” Ujar Chris perhatian.
“Pah pernikahan Ashton dan Liona masih tersisa satu bulan lagi terhitung mulai dari besok kan, jadi Charllote akan membantu proses pemulihan Liona agar trauma nya bisa diatasi. Ada dokter ahli dibidang nya juga yang akan membantu, jadi Papah tidak perlu khawatir.” Ujar Charllote meyakinkan sang Papah.
“Sebaik nya jangan ditunda lagi. Sejauh ini kita sudah terlalu lama menunda pernikahan mereka, yang seharusnya lima tahun yang lalu malah baru bisa terencanakan sekarang.” Lucy mengutarakan isi hati nya.
“Mom.,!?” Panggil Ashton kepada Lucy karena dia tidak ingin Mommy nya terlihat egois dipandangan orang-orang yang berada diruangan itu, apalagi di mata calon istrinya.
Lucy memandang kepada Ashton diseberang sana, seakan ada makna yang tersirat dari kedua bola matanya itu. Apakah dia salah jika berkata seperti itu, apakah dia salah jika ingin melihat anak nya segera menikah, kenapa mereka tidak mengerti perasaannya.
Emily menangkap raut wajah sahabat nya itu, raut wajah yang dia ketahui apa artinya itu. Sedari dulu Lucy lah yang menginginkan Liona menjadi calon istri anaknya, itulah sebabnya Lucy sangat menyayangi Liona. Dia membujuk suaminya itu untuk menjodohkan Ashton dengan Liona, karena yang berteman dekat adalah Freed dengan Chris sementara Lucy dan Emily mereka menjadi dekat karena suami mereka itu.
“Pernikahan anak-anak kita tidak akan ditunda lagi.” Emily mendekati Lucy seraya menggenggam tangan sahabat nya itu.
“Aku bukannya tidak peduli dengan keadaan Liona, tapi....” perkataan Lucy terhenti karena Emily yang tiba-tiba memotong nya.
“Aku mengerti bagaimana perasaan mu, jangan di lanjutkan lagi. Pernikahan mereka tidak akan ditunda.” Emily mengucapkan perkataannya dengan sangat yakin.
“Lio janji akan melakukan perawatan dengan baik agar bisa menghilangkan trauma ini.” Sesal Liona dengan suaranya yang sendu tidak bisa menahan kesedihan nya. Air mata nya terjatuh begitu saja.
“Sayang kamu jangan merasa bersalah pada diri mu sendiri, ini sama sekali bukan salah mu. Musibah itu tidak memandang kepada siapa dia akan datang tua, muda, miskin, kaya, sakit, sehat, yang terpenting sekarang kamu baik-baik saja. Mommy yakin kamu dan Ashton bisa melewati ini semua, jadi kamu harus tetap semangat dan jangan berpikir yang aneh-aneh.” Sahut Lucy dari tempat duduk nya.
“Maaf kan Papah Li, Papah tidak bermaksud seperti itu. Papah hanya khawatir dengan keadaan mu.” Ujar Chris seraya memijat pelipisnya.
“Papah jangan berkata seperti itu, kita semua disini juga khawatir dengan keadaan Liona itulah sebabnya kita berada disini karena kita perduli dengan nya.” Sahut Maverick sambil menggendong putra nya didalam dekapan nya karena anak laki-laki itu sudah tertidur pulas beberapa saat yang lalu.
“Baiklah kalau begitu pernikahan mereka akan tetap dilanjutkan seperti yang sudah direncanakan sebelum nya, Ash kamu temani Liona melakukan perawatan nya.” Ucap Freed memberikan pendapatnya.
“Pasti Dad.” Jawab Ashton dengan sungguh-sungguh.
Inilah yang dinamakan keluarga, saling menguatkan, saling mengasihi, saling membantu, saling melengkapi satu sama lain. Hanya keluarga yang bisa mengerti keadaan kita dan mengerti isi hati kita. Mereka sudah menjadi keluarga bahkan dari sebelum anak nya di jodohkan karena persahabatan yang sangat dalam menjadikan mereka keluarga pada akhirnya.
Tak lama satu persatu dari mereka mulai meninggalkan ruangan itu dan kembali ke rumah nya masing-masing.
“Mamah sama Papah sebaiknya pulang dan istirahat dirumah saja, tidak baik untuk kesehatan kalian jika memaksakan untuk menjaga Liona disini. Charllote akan meminta dokter dan petugas lainnya untuk stand by mengecek keadaan Liona, lagian juga ada Ashton disini yang akan menjaga Liona.” Ujar Charllote seakan mengerti apa yang di inginkan sepasang kekasih itu.
“Ash akan menjaga Liona disini, Papah sama Mamah tidak perlu khawatir dan istirahat lah dengan nyaman dirumah.” Ujar Ashton kembali meyakinkan mertua nya itu.
Emily sebenarnya berat ingin meninggalkan putri nya itu, tapi dia juga memikirkan kesehatan suami nya. Biar bagaimana pun dia juga harus menjaga kesehatan nya, apalagi suami nya itu juga tidak akan pulang kerumah jika diri nya tidak pulang. Akhirnya dia menuruti perkataan anak dan menantu nya tadi.
“Segera hubungi Mamah ya jika terjadi apa-apa.” Ucap Emily seraya mengusap kepala putri nya itu lalu meninggalkan kecupan dikening nya, begitu juga dengan Papah nya dan mereka akhirnya pamit dari situ kembali kerumah untuk beristirahat.
Charllote adalah orang terakhir yang keluar dari ruangan itu setelah dia memberitahukan kepada pasangan itu jika ada petugas dan dokter yang akan siap sedia jika terjadi apa-apa pada Liona dan dia memberikan kata-kata positif kepada adik bungsu nya itu, memberikan semangat dan jangan memikirkan yang aneh-aneh, untuk sesaat dia tidak terlihat menjadi seorang kakak untuk adik nya itu lebih ke perannya sebagai dokter yang memberikan semangat kepada pasiennya. Akhirnya Charllote juga pamit dari sana karena ketiga anak nya juga sudah mulai mengantuk.
“Da-da paman tampan.” Ucap Gabriel dengan mata sayu nya, terlihat dia sedang digendong sembari menyandarkan kepala nya di bahu Papi nya itu.
Ashton tersenyum mendengarkan perkataan Gabriel, menurutnya anak itu sangat lucu sekali dan juga menggemaskan.
...
Kini diruangan itu hanya tersisa sepasang kekasih yang sedang menahan diri sejak tadi untuk melepaskan kerinduan mereka. Ashton membawa Liona kedalam dekapan nya, dipeluk erat tubuh gadis yang sedang memakai seragam rumah sakit itu.
“Aku merindukan mu,
“Aku juga sangat merindukan mu, tidak melihat mu sebentar saja seperti kemaren nafas ku seakan berhenti,
“Terima kasih karena sudah datang menyelamatkan ku,
“Sayang kau tidak perlu berterimakasih, itu sudah tugas ku. Aku sudah pernah bilang kalau kau adalah tangung jawab ku, dan aku akan melakukan apa pun untuk mu,
Liona tersenyum bahagia, bangga, perasaan nya berbunga-bunga, cinta nya tumbuh dengan mekar, semakin hari semakin bertambah, kepada laki-laki yang sedang memeluk tubuh nya dengan begitu posesif nya.
“Apa kau ingin tidur?” Ucap laki-laki itu setelah melepas pelukkan nya.
“Aku belum mengantuk, seharian ini aku tertidur.
“Jadi kau ingin apa?” Tanya Ashton dengan perhatian sambil tangan nya menyelipkan rambut yang yang menutup wajah cantik gadis didepannya itu.
“Aku ingin diri mu.” Jawab Liona dengan menengadahkan kepala nya sedikit keatas untuk melihat wajah laki-laki itu seraya dia menggigit bibir bawahnya.
Ashton memandang wajah Liona, menatap jauh kedalam manik mata gadis itu. Ada sesuatu yang sama-sama mereka inginkan tapi belum sepantas nya mereka melakukan itu.
Ashton membawa tangan nya ke bibir Liona, mengusap bibir yang sangat menggoda itu padahal tidak ada polesan lipstik disana dan hanya menampkkan warna soft pink alami. Ingin rasanya dia menyatukan bibirnya dengan bibir gadis itu, tapi dia takut tidak bisa mengontrol dirinya jika sudah melakukan itu. Dan akhirnya dia hanya bisa mencium kening gadis itu sedikit lebih lama dari biasanya, membiarkan Liona merasakan sedalam apa cinta nya kepada gadis itu. Kata-kata tidak akan mampu mengungkapkan bagaimana cinta dan sayang nya hanya terarah kepada Liona.
“Aku adalah milik mu, dan kau adalah milik ku. Selamanya akan seperti itu, tidak akan ada yang bisa memisahkan kita.” Ujar Ashton setelah melepas kecupan nya dari kening Liona.
“Terimakasih sayang. Terimakasih untuk cinta yang kau berikan kepada ku, aku juga sangat mencinta mu.” Ucap Liona menatap kedua manik mata Ashton.
Sekian lama mereka saling memandangi menyampaikan sesuatu yang tersirat melalui tatapan mata mereka yang saling beradu pandang, hingga akhirnya mereka memutuskan untuk beristirahat karena waktu sudah mulai larut. Ashton berbaring disamping Liona karena memang ranjang di ruangan itu lumayan besar dan itu bisa digunakan untuk ditiduri oleh dua orang.
Akhirnya mereka tertidur dengan Ashton yang memeluk Liona, memberikan kehangatan pada gadis itu.
"Hari itu akan datang saat kamu menjadi milikku. Tapi aku hanya akan menunggunya saat itu tiba. Jika memang aku harus menunggu selamanya, itupun akan aku lakukan. Karena aku tak bisa hidup tanpamu." Ashton.
Jangan Lupa Berikan Rate 🌟 5 nya, Tekan Like nya, Ketikkan komentar nya, dan Favoritkan ASHTON & LIONA di Cerita mu agar tidak ketinggalan update terbaru.
Terima Kasih
♥️