ASHTON & LIONA

ASHTON & LIONA
Bab 35




Selamat Membaca 🤗


* * *


Selesai nya menikmati makan siang Ashton dan Liona memutuskan untuk jalan-jalan terlebih dahulu. Banyak-banyak nya tempat wisata di Maldives namun mereka hanya berkunjung ke beberapa tempat saja dan menyelesaikan acara jalan-jalan nya di pantai dengan di temani oleh pengawal yang terus berada disisi mereka.


“Anggap saja dia tidak ada.” Tutur Ashton santai sambil mengarahkan tongsis untuk mengambil gambar mereka.


“Bagaimana aku bisa menganggap dia tidak ada, jika badan nya saja besar seperti itu.” Ujar Liona lalu dia ikut berpose juga bersama Ashton.



Pengawal yang mendengar pembicaraan sepasang suami istri itu hanya tersenyum dan tidak mengatakan apa-apa, karena sudah tugas nya untuk selalu berada di sisi mereka dan menjaga mereka berdua selama disana.


“Ayo kita ke pantai.” Kata Ashton seraya menangkap pergelangan tangan Liona dan membawanya berjalan beriringan.


Liona mengikuti kemana suami nya itu membawa nya.


Ketika sudah tiba di pantai mereka berdua tidak segera menikmati air laut melainkan hanya berjemur menikmati sinar matahari yang sangat menyengat dengan menggunakan kacamata. Seperti kebiasaan nya orang barat yang ingin kulit mereka terlihat eksotis jadi berjemur adalah pilihan utama mereka.



“Sayang,” panggil Liona manja, seraya tersenyum.


“Hmmmm?” Jawab Ashton seraya menengadahkan kepala nya keatas untuk menikmati cahaya matahari.


“Coba kau lihat orang-orang disana, kenapa tidak ada yang memakai bikini. Semua nya pakaian utuh seperti kita,


“Itu karena disini dilarang menggunakan pakaian seperti itu. Penduduk disini hampir semuanya beragama muslim dan ada sekitar 80 persen perempuan di negara ini yang menggunakan hijab. Karena itu, mereka sangat menjunjung tinggi nilai-nilai agama.” Jawab Ashton seolah telah mengerti budaya ditempat itu.


“Seperti nya waktu kita tiba di resort kemarin aku melihat ada beberapa wanita lain yang menggunakan bikini.” Ujar Liona merasa heran jika ada larangan seperti itu.


“Bikini hanya diperbolehkan di tempat-tempat milik pribadi, seperti pantai khusus, resort, villa, atau di hotel. Pantai tempat kita berada saat ini adalah pantai warga lokal, ada larangan berenang memakai bikini bagi warga lokal di pantai lokal seperti ini dan juga mereka tidak memperbolehkan minuman beralkohol beredar disembarang tempat, jadi hanya bisa dijumpai di hotel, restoran, atau bar tertentu.” Ashton menjelaskan dengan baik kepada Liona.


“Sayang, kau tau semua itu darimana?” Liona heran darimana suami nya mengetahui semua itu, padahal yang dia tau mereka sama-sama baru pertama kali berada di Maldives.


“Kemarin resepsionis resort memberitahukan kepada ku,


“Oohh,” Liona tidak melanjutkan perkataan nya lagi.


Tiba-tiba Ashton menarik tangan Liona, “Sayang kita mau kemana?” Tanya Liona tidak tau.


“Nanti juga kau akan tau,


Ternyata Ashton mengajak mereka berdua untuk bermain JetSki, awal nya Liona menolak karena tidak ingin pakaian nya basah. Tapi Ashton terus memaksanya hingga akhirnya dia mengalah dan mengikuti kemauan Ashton.



* * *


Ketika sudah sore hari Ashton mengajak Liona menikmati swasta mita dan juga melihat kegiatan masyarakat setempat pada saat sore hari.


Mereka duduk di sebuah tangga bangunan tua yang sangat besar yang dimana sering dijadikan tempat bagi masyarakat lokal untuk menikmati sore hari, banyak turis yang juga mengunjungi tempat tersebut.


Liona menyandarkan punggung nya di kedua kaki Ashton yang bertumpu jadi satu, dan Ashton juga meletakkan pergelangan tangan nya di kedua bahu Liona yang sedang bersandar padanya, sontak Liona langsung menggenggam jemari tangan suami nya itu seraya tersenyum dengan rasa nyaman begitu pun dengan Ashton.



“Sehabis pulang dari sini aku akan memakan mu lagi.” Liona tidak menjawab, wajah dihiasi dengan senyuman sumringah nya. Malu-malu tapi mau.


Hingga mereka terdiam dengan pemikiran nya masing-masing, menikmati sore itu dengan bahagia. Sampai pada saat mereka kembali ke resort karena sudah hampir menjelang malam.


“Kita pesan layanan kamar saja nanti, aku tidak ingin kita keluar lagi.” Ujar Ashton ketika mereka dalam perjalanan kembali ke resort.


“Padahal aku ingin makan makanan yang ada di restoran resort.” Balas Liona pura-pura.


Tak lama ponsel Ashton berdering menandakan jika ada seseorang yang menghubungi nya diseberang sana.


“Ada apa?” Jawab Ashton dengan malas.


“Maaf jika aku mengganggu bulan madu mu.” Balas Austin, ada rasa takut ketika dia hendak menyampaikan sebuah informasi yang sudah dia terima sejak pagi tadi.


“Iya kau memang mengganggu ku, jadi katakan ada apa?


“Begini Ash perusahaan Jerman menarik kerjasama mereka.” Terang Austin, masih ada kata-kata yang tercekat di tenggorokan nya namun dia tidak berani melanjutkan nya.


“Iya lalu kenapa? Bukan nya waktu itu mereka memang terlihat ragu-ragu untuk menjalin kerja sama dengan kita. Biarkan saja. Perusahaan ku tidak akan bangkrut meskipun mereka tidak bekerjasama dengan ku. Masa kalian bertiga tidak mampu menangani hal sepele itu.” Jawab Ashton dengan tenang.


“Mmmm,” Austin ragu-ragu menyampaikan sesuatu kepada atasan sekaligus sahabat nya itu.


“Kalian bertiga pasti bisa menanganinya, jika ada hal yang mendesak segera hubungi aku. Klik.” Sambungan telepon itu terputus secara sepihak oleh Ashton. Padahal Austin belum menyelesaikan pembicaraan nya.


* * *


Di negara London, dengan selisih waktu 4 jam dengan Maldives.


“Bagaimana? Apa kata Ashton?” Christian bertanya kepada Austin yang tadi melakukan panggilan dengan atasan nya itu.


“Dia bilang jika ada hal yang mendesak segera hubungi dia.” Jawab Austin lemas.


“Bukan nya kau menghubungi dia karena ini sangat mendesak? Lalu kenapa dia masih berkata seperti itu?” Sahut Christian.


“Ashton belum tau yang sebenarnya terjadi, makanya dia bisa berbicara sesantai itu. Lagian kau ini bicara nya tadi lemot sekali.” Timpal Andrew yang memang mendengar percakapan kedua sahabat nya itu tadi di sambungan telepon.


“Ya aku harus bagaimana? Aku tidak enak mengganggu bulan madu nya. Sedangkan tadi saja ketika dia baru mengangkat telepon ku, suaranya berat sekali. Dia pasti tau jika aku ingin mengganggunya.” Austin mencebikkan bibirnya mengingat tatkala sahabat nya itu menyahut telepon dari nya beberapa saat yang lalu.


“Lalu kita harus bagaimana? Membiarkan perusahaan ini bangkrut? Begitu?” Ujar Christian tidak tenang.


“Sebaiknya kita tunggu sampai besok pagi, jika tidak ada perubahan aku yang akan menghubungi Ashton.” Jawab Andrew.


* * *


Kini Ashton dan Liona sedang menikmati layanan kamar yang mereka pesan beberapa saat yang lalu setelah tiba di resort. Meskipun disana menyediakan pantry dan beberapa perlengkapan memasak, Ashton tidak ingin istri tercinta nya itu menghabiskan waktu bulan madu mereka hanya untuk memasak hidangan makan malam untuk mereka.


Liona yang memang baru selesai mandi tidak langsung berganti pakaian, dan langsung mencicipi makanan tersebut. Sementara Ashton dia memilih untuk makan terlebih dahulu sebelum mandi atau mungkin persiapan tenaga nya untuk pergulatan nya dengan sang istri nanti.



Setelah selesai makan, Ashton beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya sementara Liona tetap melanjutkan makan nya.


Selang beberapa saat setelah menyelesaikan makan malam nya Liona beranjak lalu membuka lemari yang berisikan pakaian nya dan juga Ashton hendak menukar jubah nya dengan piyama sekaligus menyiapkan pakaian suaminya, namun Ashton yang baru selesai mandi menghentikan pekerjaan istrinya itu.


“Kau mau apa sayang?” Ujar Ashton seraya melingkarkan kedua tangan nya di pinggang Liona.


“Memang nya aku mau apa lagi, jika tidak menggunakan pakaian ini?” Liona menunjukkan piyama yang berada dalam genggaman nya kepada Ashton, “memang nya kau mau jika aku masuk angin.” Ucap Liona kemudian.


“Kau tidak akan masuk angin, karena aku akan menghangatkan tubuh mu ini.” Ujar Ashton dan tangan nya mulai membuka tali jubah yang membungkus tubuh istrinya tersebut.


Liona tak pandai menolak ajakan Ashton, dia membiarkan suaminya itu menjelajahi tubuhnya yang sudah tidak mengenakan sehelai benang pun.


Dengan posisi mereka saat ini sangat mudah bagi Ashton melakukan kehendaknya terhadap tubuh istrinya itu. Begitu pun dengan Ashton yang awalnya memang baru menyelesaikan mandi nya dan keluar hanya menggunakan handuk sebatas pinggang nya saja, akan lebih mudah baginya melepaskan kain tersebut.


Ashton membalikkan tubuh Liona yang memang sedari tadi membelakanginya dirinya, lalu dia segera ******* puncak gunung kembar Liona. Tak kuasa menahan kenikmatan yang menggelegar ditubuh nya itu dan bercampur aduk dengan rasa geli desahan itu pun lolos begitu saja dari bibir Liona.


Puas bermain dengan puncak gunung kembar Liona Ashton kembali memegang tengkuk istrinya itu lalu menyatukan bibir mereka berdua dan ******* itu terjadi dengan sangat bergairah lalu Ashton menggendong Liona dan membawanya keatas tempat tidur dan memposisikan istrinya itu dibawah kungkungan nya.


Tak lama Ashton mulai menghujam Liona dengan senjatanya yang sudah dia rawat dan dia besarkan selama 29th itu (bukan biji malika ya wkwkwkwkwk), benda pusaka yang dia harapkan mampu memberikan keturunan bagi mereka berdua kelak.


Ashton mengerjakan tugasnya dengan sangat telaten, naluri nya sebagai laki-laki benar-benar bekerja dengan baik.


Entah sudah berapa kali dia menumpahkan lahar panas tersebut pada dinding rahim istrinya hingga badan nya tak sanggup lagi melanjutkan aktivitas mereka, begitupun dengan Liona yang sudah lemas tak berdaya akibat permainan Ashton.


Ashton membawa Liona kedalam pelukannya, mengusap peluh yang membasahi dahi istrinya itu. Lalu dia mengusap punggung Liona dengan penuh kasih membiarkan napas mereka kembali tenang.


Tak lupa Ashton menyisipkan kata-kata terimakasih kepada sang istri dan Liona menganggukkan kepalanya seraya tersenyum manis sebagai jawaban.


“Semoga disini segera ada Ashton junior.” Tangan Ashton menyelusup masuk kebawah selimut yang membungkus tubuh mereka berdua dan mengusap perut Liona yang masih tak terbalut kain.


Liona terkekeh dengan penuturan Ashton, kemudian dia menjawab “Iya, semoga saja segera ada.” Balas Liona yang menginginkan nya.


“Tapi kau harus tetap mengingat janji mu,” Ujar Liona lagi.


“Janji apa?” Tanya Ashton yang memang benar-benar lupa, kening berkerut mencoba mengingat-ingat.


“Tuh kan,” Kata Liona cemberut karena Ashton melupakan janji nya.


“Janji apa sayang? Aku benar-benar lupa.” Terang Ashton.


“Kau bilang jika setelah menikah aku akan........” Ashton memotong perkataan Liona.


“Ooohhh melanjutkan S2?!” Ujar Ashton setelah mulai mengerti.


“Itu kau ingat, atau jangan-jangan kau.....” kedua bola mata Liona membulat penuh.


“Tidak, aku tidak akan menghentikan mu untuk melakukan apa pun yang kau ingin kan, selama tidak diluar batas dan kau tidak menunda kehamilan mu.” Jelas Ashton.


“Love you.” Kata Liona seraya mencium pipi Ashton.


“Love you too honey.” Balas Ashton semakin mengeratkan pelukannya ditubuh Liona.


Kemudian setelah beberapa saat mengobrol, mata mereka mulai terpejam dengan indah dan masuk ke alam mimpinya masing-masing.


Sengaja up siang karena takut tidak sempat kalau malam. Semoga suka dengan cerita nya. 🙏🙏🙏


Jangan Lupa Berikan Rate 🌟 5 nya, Tekan Like nya, Ketikkan komentar nya, dan Favoritkan ASHTON & LIONA di Cerita mu agar tidak ketinggalan update terbaru.


Terima Kasih


♥️