
Selamat Membaca 🤗
...• • • • •...
Selepas membersihkan diri Ashton menuju meja kerja nya untuk kembali menjalani aktivitas seperti biasanya. Sementara Liona masih membenahi riasan, pakaian, serta membereskan tempat tidur yang terlihat berantakan akibat aktivitas mereka tadi.
“Keruangan ku sekarang.” Begitu kata-kata Ashton yang terucap melalui interkom yang dihubungkan ke ruangan Austin.
“Dia sudah selesai ternyata dengan aktivitas nya.” Gumam Austin dan beranjak menuju ke ruangan Ashton.
Bertingkah seolah-olah tidak ada yang terjadi disana saat Austin memasuki ruangannya, namun tidak bagi laki-laki yang baru saja mendaratkan pantatnya di kursi depan meja kerja Ashton tersebut.
"Dengan rambut yang masih setengah kering, dan mengunci pintu kerja tidak seperti biasanya, dan ada wanita cantik yang tak lain adalah istrinya sendiri, apa lagi bayangan yang Anda harapkan, selain pergumulan panas itu?" Batin Austin sambil tersenyum tipis.
“Ehem...ehem...” Austin sengaja mengusap-ngusap leher nya yang sama sekali tidak gatal sedikit pun. “Kenapa kau mengunci pintu mu tadi?” Tanya Austin padahal dia sudah tau jawaban nya.
“Memang nya kenapa aku tidak boleh mengunci ruangan ku sendiri?” Jawab Ashton sinis.
“Kau takut di ganggu ya?” Seru Austin lagi.
“Kan kau memang pengganggu.?!” Ujar Ashton dengan enteng.
“Dasar bos tidak ada akhlak.” Batin Austin mengumpat laki-laki yang memasang wajah polos nya itu.
“Jadi ada apa kau memanggil ku kesini?” Tanya Austin tidak ingin berlama-lama lagi.
“Cari kan posisi lain untuk wanita itu.” Ujar Ashton sambil membuka laptop kerjanya.
“Wanita? Wanita yang mana? Bicara yang jelas. Gumam Austin mulai jengah.
“Memang nya kau pikir wanita yang mana lagi, tentu saja wanita yang kau kirim untuk jadi sekretaris ku kemarin.” Balas Ashton.
“Aku pikir wanita yang ada dikamar mu saat ini.” Austin memberikan senyuman remeh nya.
“Dari mana kau tau jika Liona ada disini?” Tanya Ashton menelisik.
“Hahaha, ternyata benar jika istrimu ada disini?
“Pasti wanita itu yang memberitahu mu kan?
“Tentu saja, tadi aku menggedor-gedor pintu mu tapi tidak kau buka kan. Lalu Jeny datang dan dia lah yang memberitahuku jika Liona ada disini.
“Kalau begitu segera cari posisi lain untuk nya, karena mulai sekarang Liona yang akan menjadi sekretaris ku.” Wajah Ashton seketika tersenyum renyah, terlihat sedikit meledek.
“Dan juga kirim kan aku data-data mengenai wanita itu." Ujar Ashton lagi. Tanpa bantahan Austin mengiyakan permintaan Ashton dan segera berlalu dari sana.
...• • • • •...
Siang harinya saat jam istirahat ketika Ashton dan Liona hendak meninggalkan ruangan Ashton, datang lah ketiga sahabat Ashton hendak mengajak nya makan siang bersama-sama.
Dua laki-laki lain nya terkejut melihat Liona ada disana, sedang kan laki-laki satu nya nampak biasa saja. Malahan dia yang menyuruh mereka untuk mengajak Ashton untuk makan siang bersama.
“Hai.....” Sapa Christian sok kenal sok dekat.
“Hai.....” Liona membalas sapaan sahabat suami nya tersebut dengan suara lembutnya.
“Kalian mau makan siang kan? Ayo kita makan bersama.” Ajak Christian.
“Tidak perlu aku akan makan berdua dengan istri ku.” Balas Ashton.
“Sayang ayo kita makan bersama-sama saja, pasti akan seru jika makan ramai-ramai.” Senyuman penuh harap itu muncul di wajah Liona.
“Tapi kan aku ingin makan siang berdua dengan mu sayang.” Ujar Ashton manja.
Andrew menatap tidak percaya kepada Ashton yang bersikap sangat-sangat berbeda dengan dirinya yang dulu.
“Ternyata kekuatan cinta mampu membuat seseorang berubah menjadi tidak seperti dirinya lagi.” Batin Andrew.
Namun laki-laki itu tetap menampakkan wajah datar nya. Padahal banyak sekali yang melintas didalam benak nya.
“Ya sudah jika kalian tidak ingin makan siang bersama kami, tidak apa-apa. Ayo kita pergi.” Gumam Austin dengan suara sedikit tinggi sambil berpura-pura ngambek.
“Sayang ayo kita makan bersama mereka, lagian ini juga pertama kali nya kan.” Ujar Liona dengan wajah memelas.
Tak ingin Liona kecewa akhirnya Ashton mengiyakan ajakan ketiga sahabat nya tersebut dan disaat mereka berjalan menuju lift kedua mata Liona menangkap keberadaan Jeny yang sedang duduk di kursi meja kerja nya masih menatap tumpukkan berkas yang sangat banyak.
...• • • • •...
“Sayang kenapa kau mengajak nya?” Bisik Ashton saat mereka dalam perjalanan menuju lantai dasar.
“Tidak apa-apa sayang, lagian ini juga kan jam istirahat tidak apa-apa kalau dia ku ajak.” Jawab Liona seraya tangan nya memeluk lengan tangan Ashton.
Akhirnya Ashton mengalah lagi dan membiarkan Jeny untuk bergabung bersama mereka.
Saat tiba di restoran dari banyak nya kursi yang kosong, Jeny malah membawa dirinya untuk duduk disamping Ashton. Tapi Ashton tidak banyak bicara dan membiarkan wanita itu berbuat sesuka nya saja, karena yang ia pedulikan saat ini adalah menjaga Liona dari tatapan ketiga sahabat nya yang masih bujangan itu.
Saat menu makan siang yang mereka pesan sudah datang, Jeny hendak melayani Ashton dengan memberikan makanan di piring Ashton, mengambilkan tisu, mendekatkan minuman nya, disaat Liona ingin melakukan nya dengan cepat wanita itu mengambil alih.
Liona sebenarnya kesal dengan sikap Jeny yang tidak menghargai dirinya sebagai istri Ashton, namun saat wanita itu berkata “saya ingin membalas kebaikan Tuan Ashton, karena tidak jadi memecat saya. Jadi saya akan melayani anda Tuan di makan siang kita kali ini.” Liona akhirnya membiarkan wanita itu melakukan nya.
Ashton merasa kesal karena Liona membiarkan hal itu terjadi begitu saja, hingga akhirnya Ashton pun ikut-ikutan bermain-main dengan sikap Jeny tersebut. Jeny menjadi salah sangkah karena Ashton merespon dengan baik perlakuan nya terhadap bos nya tersebut, sedangkan Ashton didalam pikiran nya sudah ada rencana lain untuk mengeluarkan Jeny dari perusahaan nya.
Menurut Ashton sikap Jeny tersebut sangat dibuat-buat dan akhirnya dia benar-benar curiga atas semua itu. Firasatnya sangat yakin jika Jeny bukan lah orang yang baik.
...• • • • •...
“Sayang kenapa diam aja dari tadi?” Tanya Ashton ketika mereka sudah didalam ruangan nya.
Liona duduk di sofa sedangkan Ashton duduk di kursi kerjanya sambil sesekali menatap layar persegi empat di hadapan nya itu. Namun Liona tidak menjawab dan memilih diam saja.
“Kenapa juga kau membiarkan wanita itu melakukan nya tadi, jika kau sendiri juga akan cemburu seperti ini.” Gumam Ashton dalam hatinya.
Liona kemudian berdiri dan memilih masuk kedalam kamar pribadi didalam ruangan itu. Ashton menghela nafas kasar karena Liona mendiamkan nya.
“Nanti juga dia akan baik sendiri.” Ujar Ashton lagi dan melanjutkan kembali kerjaannya.
...• • • • •...
Didalam kamar Liona terus mengomel karena Ashton tidak berusaha membujuknya, tapi dia juga sadar itu semua terjadi karena dia yang membiarkan Jeny untuk melayani Ashton di jam makan siang mereka tadi.
“Kenapa aku jadi bodoh begini sih, seharusnya aku tidak membiarkan wanita manapun melayani suami ku meskipun itu sekretarisnya sendiri. Karena bisa saja itu akan menjadi celah kecil bagi mereka untuk masuk ke dalam hubungan ku dengan Ashton.” Liona menyesali keputusan nya yang membiarkan suaminya dilayani oleh wanita lain.
“Semoga saja tidak ada hal buruk yang akan terjadi kedepan nya terhadap hubungan ku dengan Ashton.” Gumam nya lagi, hingga tak terasa mata nya mulai berkaca-kaca perasaan takut akan kehilangan mulai menguasai perasaanya. Lalu hingga tak sadar ia pun tertidur saking mengantuk nya.
Ashton yang merasa khawatir dengan Liona segera mengecek istrinya itu kedalam kamar dan ia tersenyum saat mendapati Liona tengah tertidur pulas diatas kasur nya.
Ashton membelai wajah Liona sesekali memberikan ciuman disana, “kamu tidak perlu khawatir sayang karena hati ku ini hanya untuk mu.” Gumam Ashton lalu menarik selimut menutupi tubuh Liona dan kembali melanjutkan pekerjaan nya yang tinggal sedikit lagi.
...• • • • •...
Hujan mulai turun pada saat perjalanan mereka pulang kerumah, sore itu seolah menandakan langit ikut merasakan apa yang tengah Liona rasakan. Namun ketegangan yang diakibatkan oleh perasaan takut kehilangan, rasa lelah, semuanya bercampur aduk membuat mereka saling diam selama di perjalanan.
Hari masih tidak terlalu malam saat mereka berdua tiba dirumah, keadaan rumah yang sedikit sepi semakin menambah kesunyian diantara mereka berdua.
Liona mempercepat langkahnya menuju kamar mereka dilantai dua. Tapi tidak dengan Ashton yang pergi menghampiri kamar adik bungsu nya yang bersebelahan dengan kamarnya dan Liona.
Menjelang malam harinya ada sedikit kesal dalam hati Liona karena Ashton tak kunjung masuk kedalam kamar mereka. Apalagi sejak dia tertidur di kantor tadi Ashton hanya membangunkan nya dan mengajak nya pulang dan setelah itu tak ada obrolan lagi diantara mereka.
Saat mendapati Ashton bergerak masuk kedalam kamar Liona memandangi wajah Ashton yang tampak sangat datar saat itu. Ia semakin kesal karena Ashton tidak mengajak nya bicara sampai saat ini juga.
Dengan penuh kekesalan Liona pergi tidur menghadap tembok, tidak seperti biasanya jika Liona sedang marah atau kesal Ashton dengan cepat membujuk istri nya itu.
Tapi kali ini Ashton benar-benar membiarkan Liona seperti itu dan tidak mencoba membujuk istrinya yang sedang marah saat ini. Ashton langsung masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya lalu setelah berganti pakaian ia kembali keluar kamar dan membiarkan Liona menangis sendirian.
Ashton berdiri didepan pintu kamar mereka saat ini sambil kepala nya menengadah keatas, “maaf sayang jika aku membiarkan mu kali ini, ada yang harus aku selesaikan agar kau tidak terus salah paham.” Batin Ashton lalu ia masuk kedalam ruang kerja nya yang dimana sudah ada ketiga sahabatnya yang menunggu disana.
Jangan Lupa Berikan Rate 🌟 5 nya, Tekan
Like nya, Ketikkan komentar nya, dan
Favoritkan ASHTON & LIONA di Cerita mu
Agar tidak ketinggalan update terbaru.
Terima Kasih
♥️