ASHTON & LIONA

ASHTON & LIONA
Bab 27



Tidak Bisa Jauh



Selamat Membaca 🤗


...


Keesokkan harinya Liona sudah mendapatkan izin untuk pulang kerumah setelah melakukan terapi kognitif oleh dr. Edward. Awalnya orang tua Liona sedikit ragu untuk menerima jika Liona sudah harus pulang secepat itu, mengingat saat Liona yang menangis histeris di kamar nya waktu itu. Namun setelah mendengarkan penjelasan dari dr. Edward dimana akhirnya mereka setuju.


Saat ini Ashton bersama Liona dengan kedua orang tua Liona sedang dalam perjalanan pulang kerumah, suasana didalam mobil itu nampak begitu tenang dengan sedikitnya pembicaraan diantara mereka. Hingga saat mobil keluarga itu mulai memasuki gerbang kediaman mereka.


Ashton dengan terampil membukakan pintu mobil untuk calon istrinya itu lalu membawa nya masuk beriringan dengan kedua calon mertua nya dan ruang keluarga menjadi tempat persinggahan mereka.


“Setelah ini kau mau kemana?” Liona dengan manja menyenderkan kepalanya di dada bidang Ashton berharap jika laki-laki itu akan terus bersama dengan dirinya disana.


“Aku harus ke kantor karena ada meeting mendadak, tapi aku janji begitu sudah selesai aku akan segera menemui mu.” Balas Ashton sambil mengusap kepala Liona dengan lembut.


“Kau ingin aku bawakan apa?” Tanya Ashton lagi.


‘Hhh’ nafas Liona terdengar berat saat mendengar Ashton akan pergi, lama dia tak menjawab perkataan laki-laki itu hingga dia melepaskan sandaran nya dan menatap wajah didepan nya saat ini.


“Aku ingin kau membawa diri mu secepat nya kemari.” Jawab Liona sembari menyilang kan kedua tangan nya didepan dadanya.


Ashton menarik sudut bibirnya sehingga menampakkan seulas senyuman disana, dia tau gadis itu ingin selalu bersama dengan dirinya. Kedua mertuanya menggelengkan kepala melihat percakapan pasangan muda itu dan mereka memilih untuk meninggalkan mereka berdua disitu.


“Keinginan mu adalah perintah untuk ku.” Ujar Ashton sambil membawa tangan nya mengusap pipi gadis dihadapan nya itu.


Hingga akhirnya Ashton pamit dari sana dan meninggalkan kediaman Liona.


...


Dirumah orang tua Ashton, Freed dan Lucy sedang duduk diruang keluarga sambil menonton siaran televisi. Lucy memilih-milih channel yang menurut nya menarik karena sejak tadi suaminya itu hanya menonton berita bisnis dan itu sangat membosankan bagi dirinya yang sama sekali tidak mengerti apa-apa.


Pilihan nya jatuh ke channel yang menayangkan gosip-gosip yang sedang populer belakangan ini, karena tidak setuju dengan channel pilihan istrinya tersebut Freed mencoba mengambil alih remote tersebut. Namun belum sempat dia mengganti ke channel yang lain, mereka dibuat terkejut dengan sesosok manusia yang ada didalam layar tersebut.


“Ashton,.!?” Ucap mereka berdua secara bersamaan.


Mereka melihat Ashton yang sedang diwawancarai oleh beberapa wartawan, dan dia mengakui jika dirinya sudah mempunya calon istri, lalu memperkenal Liona sebagai calon istri yang dia maksudkan. Freed dan Lucy sama-sama tidak percaya ketika melihat putra nya itu mau melakukan itu, karena yang mereka tau Ashton sangat menghindari media masa, ia sangat tidak suka jika dirinya terekspos dan menjadi bahan pembicaraan.


Saat itu juga laki-laki yang namanya baru disebutkan tadi, menjejaki langkah nya hendak menuju ke kamarnya. Namun langkah nya dibuat terhenti karena mendengarkan kedua orang tuanya menyebut nama nya, pikirnya jika mereka sedang memanggil nya dan dia membawa langkahnya menghampiri mereka.


Belum sempat dirinya menyapa dua orang paruh baya itu, dirinya terkejut melihat tayangan televisi didepannya saat ini yang menampilkan dirinya sendiri.


“Anak ku memang sangat romantis, siapa dulu Daddy nya.” ucap laki-laki itu tanpa tau jika anak nya sedang berdiri dibelakang mereka menyaksikan siaran yang sama.


Ashton tersenyum mendengar Daddy berkata seperti itu.


“Giliran yang romantis-romantis siapa dulu Daddy nya, padahal kau sendiri tidak pernah romantis kepada ku.” Balas Lucy lalu bangkit dari duduk nya hendak meninggalkan suaminya itu. Tapi dia malah dibuat terkejut ketika melihat putra tampan nya itu sudah berdiri dengan gagah nya didepan nya saat ini.


“Eh anak Mommy sudah pulang, bagaimana keadaan Liona? Apa dia sudah dibolehkan pulang?” Lucy melemparkan pertanyaan demi pertanyaan kepada Ashton.


Ashton tidak bergeming dan masih tetap fokus pada layar televisi.


Freed pun langsung mengalihkan pandangannya ketika mendengar istrinya itu berbicara kepada seseorang di ruangan itu selain dirinya.


“Ash sejak kapan kau berdiri disitu?” Tanya Freed dengan sedikit terkejut, karena yang mereka tau Ashton sedang menemani Liona dirumah sakit.


“Sejak Daddy berkata Anak ku memang sangat romantis, siapa dulu Daddy nya.” Jawab Ashton dengan ekspresi datar.


Freed tertawa renyah mendengarkan jawaban Ashton yang seolah-olah ingin menirukan suaranya. Lalu dia membawa langkah nya kepada Ashton dan menepuk pelan pundak kokoh putra sulung nya itu.


“Kau memang mewarisi sifat Daddy nak.”


Ashton menarik senyum paksa nya ketika mendengar Daddy nya berucap seperti itu.


“Ash mau siap-siap dulu, ada meeting di kantor.” Lalu dia berlari menuju kamarnya dilantai atas untuk segera bersiap-siap.


Lucy sudah menunggu Ashton didepan pintu keluar rumah mereka saat ini, siap menanyakan kembali pertanyaan nya yang tadi tidak dijawab oleh laki-laki itu. Tak lama terlihat Ashton turun dengan pakaian nya yang sudah rapi sambil menenteng tas kerja nya.


“Ash bagaimana keadaan Liona?” Lucy bertanya dengan terburu-buru agar mendapatkan jawaban dari anak nya itu.


Ashton berjalan mendekati pintu keluar dimana Mommy nya sedang berdiri saat ini “Mom, Liona sudah pulang kerumah dan dia baik-baik saja. Ashton pamit dulu ada meeting penting di kantor sebentar lagi.” Ujar Ashton lalu melangkah kan kaki nya keluar rumah setelah berpamitan dengan Mommy nya itu.


“Hati-hati sayang, jangan ngebut.” Teriak Lucy namun masih bisa dijangkau oleh telinga Ashton yang saat ini sudah duduk didepan kemudi. Ashton hanya menganggukkan kepalanya lalu menekan gas mobil nya menuju ke perusahaan.


...


Di Perusahaan tepat nya di ruangan Ashton, ketiga sahabat nya itu sudah duduk dengan gaya nya masing-masing sembari menunggu kedatangan sahabat mereka itu.


“Kira-kira bagaimana keadaan Liona ya?!” Tanya Austin kepo.


“Entahlah, tapi semoga dia baik-baik saja.” Jawab Christian.


“Sepertinya dia baik-baik saja.” Sahut Andrew.


“Tau dari mana kau.” Ujar Andrew dengan kening berkerut dalam.


Christian dan Austin menganggukkan kepalanya, seakan menyetujui hasil pemikiran dari sahabat nya yang satu itu.


Tak lama pintu ruangan itu terbuka lebar dan menampilkan sosok yang mereka tunggu dari tadi.


Ashton tidak heran melihat ketiga laki-laki tersebut berada disana, pasalnya dia memang sudah terbiasa melihat hal itu. Dia pun tidak pernah melarang mereka untuk masuk di ruangan nya itu meskipun dia sedang tidak ada disana, karena dia menaruh kepercayaan penuh kepada mereka bertiga.


“Apa kalian bertiga tidak punya pekerjaan lain selain menjaga ruangan ini.” Ujar Ashton ketika sudah duduk di kursi kebesarannya.


“Tidak ada.” Jawab mereka bertiga secara bersamaan, lalu terkekeh.


'Hhh' Ashton menghela nafas dalam melihat kelakuan tiga manusia single itu.


Entah mengapa ketiga sahabat nya itu senang sekali mengunjungi ruangannya, padahal suasana di ruangan mereka tidak jauh berbeda dengan ruangan Ashton. Tapi mungkin karena mereka nyaman menjadi ruangan itu sebagai tempat perkumpulan mereka, jadi itulah sebabnya mereka sering mengunjunginya. Apalagi bos mereka yang satu itu mulai jarang berkumpul bersama mereka, jadi mereka lah yang berinisiatif untuk menghampirinya.


“Ash bagaimana keadaan Liona?” Tanya Austin kemudian.


Ashton menjentikkan jari-jarinya diatas meja kerja nya sambil memandang kepada Austin “dia baik-baik saja kau tidak perlu mengkhawatirkannya, ada aku yang menjaganya.” Jawab Ashton dengan wajah datar nya.


“Kau cemburu aku menanyakan Liona?” Pandangan tidak percaya.


“Menurut mu?” Ashton malah balik bertanya.


Austin menggelengkan kepalanya tidak percaya, padahal dia melakukan itu karena dia peduli dengan Liona atas insiden yang terjadi kepada calon istri sahabat nya itu. Christian pun sedikit heran melihat sikap Ashton yang menurutnya berlebihan. Namun tidak dengan Andrew yang memang sudah pernah terpergok oleh Ashton, padahal dirinya saat itu hanya niat membantu.


“Nanti kalian juga akan mengerti dengan apa yang aku rasakan, jadi cepat-cepatlah mencari pasangan.” Sahut Ashton lagi.


Tangan nya mulai sibuk membuka mengeluarkan isi dari dalam tas kerja nya tersebut. Sementara yang lain nya memandang Ashton dengan pandangan yang sulit di artikan.


“Kau saja yang tidak pernah pacaran sok-sokan mengajari kami.” Christian.


“Sombong sekali, pacaran saja tidak pernah.” Austin.


”Jangan merutuki ku didalam hati kalian.” Tegur Ashton yang seakan bisa mendengar isi hati sahabat nya itu.


“Aku tidak.” Balas Andrew seketika.


Ashton mengangkat kepalanya, melihat kearah pria yang baru saja membalas perkataannya.


“Oohh kalau kau sudah jelas tidak mungkin, hanya saja itu tidak berlaku untuk dua orang itu.” Sahut Ashton sambil menunjuk dua orang yang dia maksud menggunakan mulutnya.


Austin menggelengkan kepalanya bergidik ngeri dengan sikap Ashton. “Kenapa Tuhan menciptakan laki-laki ini begitu sempurna.” Batin Austin.


...


Kini Ashton sedang dalam perjalanan menuju kerumah Liona setelah tadi dia menyelesaikan meeting nya, mulai satu bulan kedepan dia hanya akan berada di perusahaan jika ada meeting penting. Karena dia sudah berjanji kepada Liona waktu itu untuk menyelesaikan semua pekerjaannya sebelum menginjakkan kakinya di bulan pernikahan mereka, agar dia bisa fokus untuk mengurus persiapan pernikahannya dan juga sekalian menemani Liona yang sangat membutuhkan kehadiran nya di masa-masa seperti ini.


“Pangeran ku datang.” Liona menyambut kehadiran Ashton ketika melihat mobil Ashton memasuki gerbang rumah nya.


“Sedang apa?” Tanya Ashton setelah dia keluar dari dalam mobil nya.


“Menunggu mu.” Jawab Liona dengan wajah sumringah.


“Kenapa tidak menunggu didalam saja.” Tegur Ashton karena dia juga masih belum bisa melupakan kejadian penculikan Liona.


“Aku bosan didalam rumah, jadi aku jalan-jalan disekitar sini sambil menunggumu.” Balas Liona dengan lembut.


“Ya sudah ayo kita masuk dan mengobrol didalam.” Ajak Ashton sambil meraup pinggang gadis itu kedalam pelukannya.


“Apa kau sudah makan?” Tanya Ashton lagi.


“Aku menunggu mu biar kita bisa makan sama-sama,


“Kenapa harus menunggu ku, nanti kau sakit sayang,


“Tapi aku ingin makan bersama mu,


Ashton menggelengkan kepala nya melihat tingkah Liona yang mulai sedikit berubah.


Gadis itu mulai menunjukkan bahwa dia tidak bisa jauh dari Ashton walau sekejap saja, meskipun begitu Ashton merasa senang bahwasanya dia juga sama seperti Liona tidak ingin berada jauh-jauh darinya.


Hingga mereka berdua mulai makan bersama diruang makan, tanpa ada kedua orang tua Liona karena mereka sudah terlebih dulu makan beberapa saat yang lalu. Ashton dengan telaten menyuapi calon istrinya itu, menunjukkan sisi sayang nya yang teramat dalam.





Jangan Lupa Berikan Rate 🌟 5 nya, Tekan Like nya, Ketikkan komentar nya, dan Favoritkan ASHTON & LIONA di Cerita mu agar tidak ketinggalan update terbaru.


Terima Kasih


♥️