ASHTON & LIONA

ASHTON & LIONA
Bab 29



Cincin Pernikahan dan Gaun Pernikahan



Selamat Membaca 🤗


...


Kini Freed dan juga Ashton, mereka berdua sudah berada didalam ruangan kerja milik Freed.


“Apa yang ingin Daddy bicarakan ?” Tanya Ashton setelah mereka berdua duduk di sofa di dalam ruangan itu saling berhadapan.


Freed diam sejenak sebelum akhirnya dia mulai berbicara.


“Daddy mau jika setelah kau menikah nanti kalian tetap tinggal disini sampai Liona hamil, karena Mommy mu juga setiap malam berkata kepada Daddy jika dia belum siap jika melepas mu dan memulai hidup sendiri diluar sana. Hanya sampai Liona hamil saja, setelah itu kalian bisa tinggal sendiri.” Ujar Freed.


Ashton menundukkan kepalanya, merasa heran dengan penuturan Daddy nya tersebut. Sebenarnya bukan Mommy nya tidak siap jika harus membiarkan Ashton dan Liona tinggal sendiri sehabis menikah nanti, hanya saja ini adalah alasan agar Liona bisa cepat-cepat memberikan cucu kepada orang tua Ashton. Setelah itu mereka bisa memilih untuk tetap tinggal dirumah itu atau mencari tempat tinggal sendiri.


“Baik Dad, Ashton akan bicarakan hal ini dengan Liona nanti.”


Pembicaraan mereka pun berhenti sampai disitu, dan Ashton pamit kembali ke kamar nya untuk beristirahat.


...


Keesokkan harinya Ashton sudah bersiap-siap untuk menjemput Liona, karena hari ini mereka akan pergi untuk membeli cincin pernikahan mengingat pernikahan mereka tinggal menghitung hari saja.


Setibanya Ashton dihalaman rumah Liona, gadis itu sudah menunggu kedatangannya didepan rumah. Lalu seperti biasanya Ashton membukakan pintu mobil untuk calon istrinya tersebut dan mereka pun segara berlalu dari sana.


Mobil Ashton berhenti didepan gedung V&Co Jewellery salah satu toko penjual cincin pernikahan terbaik di London, tentu saja harganya jangan ditanyakan lagi.


“Ada yang bisa saya bantu?” Ucap seorang laki-laki yang sedang menjaga tempat tersebut.


Ashton menganggukkan kepalanya sambil tangan nya menyelip dibelakang pinggang calon istrinya itu.


“Saya mencari cincin pernikahan yang hanya saya dan calon istri saya yang mempunyai nya di dunia ini, barangkali ada.” Ujar Ashton tanpa ragu.


Liona terheran-heran mendengar perkataan Ashton, namun dia juga sebenarnya mengharapkan hal yang sama. Bagi orang seperti mereka harga bukan lah yang utama melainkan kualitas serta arti dibalik cincin tersebut.


“Baik Tuan, akan saya ambilkan dulu.” Ucap penjaga laki-laki itu kemudian berlalu dari sana.


Ketika pemilik toko cincin V&Co Jewellery mendengar jika ada yang ingin membeli cincin yang hanya tersedia satu di dunia itu, rasa penasaran nya muncul seketika terhadap dengan orang yang mau membeli cincin tersebut mengingat harganya yang tidak lah murah dan dia segera menghampiri mereka.


Ketika cincin tersebut sudah berada dihadapan mereka, Liona sangat bahagia sekali selain indah cincin tersebut juga terlihat sangat elegan siapapun yang memakai nya pasti jari-jari nya akan terlihat semakin indah.


“Kau suka sayang?” Tanya Ashton sembari membawa pandangan nya kepada Liona.


Liona hanya mangguk-mangguk bahagia, entah kata-kata apa yang bisa dia ucapkan untuk mengutarakan rasa bahagianya saat ini. Intinya dia hanya ingin cepat-cepat cincin tersebut tersematkan di jari manis tangan nya dan juga Ashton.


“Tolong siapkan cincin ini.” Ujar Ashton kepada penjaga laki-laki tersebut.


Penjaga itu pun tidak percaya jika mereka akan membeli cincin tersebut, apalagi mereka sama sekali tidak menanyakan harganya.


Bos pemilik toko cincin V&Co Jewellery mendekati Ashton dan Liona untuk menanyakan apakah mereka serius ingin membeli cincin tersebut.


“Kami akan membelinya.” Tegas Ashton kepada pemilik tersebut.


“Tapi tuan harganya sangat mahal.” Jawab pemilik tersebut.


“Aku sama sekali tidak perduli dengan harganya, yang penting calon istri ku menyukainya.” Sahut Ashton.


“Baik Tuan kami akan segera menyiapkan barangnya, dan silahkan melakukan pembayaran terlebih dahulu.” Ujar pemilik tersebut.


“Jika aku tau cincin ini ada dua nya di kemudian hari, maka bersiap lah kehilangan usaha mu ini.” Ucap Ashton tidak main-main karena pemilik itu tadi sempat meragukan mereka.


“Akan saya pastikan bahwa cincin ini hanya ada satu di dunia. Silahkan tuan ikut saya untuk melakukan pembayaran terlebih dahulu.” Jawab pemilik toko cincin V&Co Jewellery tersebut, dia ingin melayani pelanggan nya yang sudah berani membeli cincin termahal di toko nya tersebut.


Setelah itu Ashton dan Liona menuju tempat pembayaran untuk menebus cincin pernikahan mereka itu dan penjaga laki-laki tersebut menunjukkan nota pembayaran kepada Ashton dengan ragu-ragu karena takut mereka akan shock dengan harga yang tertera disana.


Cincin yang akan mereka beli itu memang sangat indah dipandang mata dan juga hanya ada satu di dunia, itulah sebabnya mereka sangat ingin membelinya. Di nota pembayaran tertulis angka USD71,2 Juta atau setara dengan Rp1 triliun. Ashton hanya menyeringai memperhatikan angka yang tertera disana.


“Ini sama sekali tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kebahagian Liona saat akan memiliki cincin tersebut.” Gumam Ashton dalam hatinya.


Ashton mengeluarkan ponselnya dari saku celananya dan menelepon seseorang disana.


“Hallo?” Jawab seseorang diseberang sana yang tak lain adalah Austin asisten pribadinya.


“Siap kan uang USD71,2.” Ujar Ashton dengan mudah.


“Untuk apa?” Tanya Austin kepo.


“Cincin pernikahan.” Jawab Ashton malas meladeni sahabat nya itu.


“Oohhh baiklah.” Ucap Austin lagi.


Klik, telepon itu dimatikan sepihak oleh Ashton.


Tak lama cincin tersebut diberikan kepada Ashton dan Liona setelah uang masuk kedalam akun bank toko tersebut. Pemilik usaha cincin V&Co Jewellery sangat tidak percaya jika mereka sungguh-sungguh akan membeli cincin tersebut. Ketika Ashton dan Liona sudah meninggalkan tempat itu, pemilik tersebut meminta data Ashton kepada penjaga tersebut dan mencari tau siapa Ashton sebenarnya. Pemilik tersebut geleng-geleng kepala sesaat sudah mengetahui siapa Ashton.


“Ini tidak ada apa-apa nya jika dibandingkan dengan kekayaan nya.” Gumam pemilik tersebut lalu bersorak bahagia karena mendapatkan uang yang sangat banyak saat itu.


...




Kini Liona dan Ashton berada disalah satu restoran favorit mereka untuk makan siang bersama sebelum menuju ke butik. Selepas keluar dari toko perhiasan tadi Liona berpikir jika hari ini adalah waktu yang pas untuk memilih gaun pernikahan karena jika besok-besok takut nya tidak sempat lagi.


Liona langsung menghubungi Kak Charllote dan Kak Hanna untuk membantu nya menyiapkan gaun pernikahan dan kedua perempuan itu tanpa ragu langsung menyetujui saat itu juga. Karena memang mereka sudah berjanji untuk membantu Liona menyiapkan gaun pernikahan nya dan ini adalah saat yang mereka tunggu-tunggu setelah sekian lama.


Tak lama makanan pesanan mereka sudah tersedia diatas meja dan siap untuk dinikmati, Liona langsung menyerbu makanan tersebut karena dia memang sudah sangat kelaparan.


“Apa makanan itu jauh lebih menarik dari pada aku?” Ujar Ashton dengan wajah cemberut.


“Kau dari tadi makan dan tidak menghiraukan ku.” Ucap Ashton sambil mengaduk-aduk makanan nya namun tidak dimakan.


Liona langsung tersadar dan menjadi tidak enak, pasalnya dia memang sangat lapar dan tidak menghiraukan Ashton. Lalu dia membawa tubuhnya pindah untuk duduk disamping Ashton.


“Maafkan aku. Aku tidak bermaksud begitu.” Sesal Liona dengan wajah ditekuk.


Ashton tersenyum melihat keluguan Liona dan tangan nya dia bawa untuk mengusap rambut Liona dengan lembut.


“Aku hanya bercanda sayang, jangan buat dirimu merasa bersalah. Lanjut kan lagi makan nya ya.” Ucap Ashton seraya tersenyum.


Liona menggelengkan kepala nya sebagai bentuk penolakan.


“Aku sudah kenyang, sekarang aku akan menyuapi mu.” Ujar Liona seraya mengambil sendok dari tangan Ashton dan mencoba menyendok makanan ke mulut Ashton.


“Sayang tidak perlu, kau lanjutkan saja makan mu.” Ucap Ashton merasa tidak enak karena sudah membuat Liona berhenti makan.


“Aku sudah kenyang, jadi biarkan aku yang menyuapi mu.” Jawab Liona lagi.


“Tapi sayang.....” Perkataan Ashton terhenti karena Liona menyela.


“Ash.....” Ucap Liona tidak ingin ada bantahan.


“Tapi apa kau yakin sudah kenyang?” Tanya Ashton memastikan dan dijawab anggukan oleh Liona.


Lalu Liona mulai menyuapi Ashton dengan telaten tanpa menghiraukan tatapan mata yang sedang melihat kemesraan mereka saat itu.


Setelah menghabiskan makan siang, mereka segera melanjutkan perjalanan menuju butik yang sudah di pesankan oleh kedua kakak perempuannya itu tadi.


...


“Maaf membuat kakak menunggu.” Ujar Ashton berbasa-basi.


“Tidak apa-apa, kami juga baru saja tiba.” Jawab Charllote.


Lalu mereka bertemu dengan pengelola butik tersebut dan membicarakan masalah gaun pernikahan itu.


“Saya mau gaun yang terbaik dari butik ini.” Ujar Hanna karena dia memang sudah sangat lama langganan di butik tersebut.


Sementara Ashton dibawa oleh Charllote untuk memilih jas yang pas dan sesuai untuk nya dan dibantu oleh petugas butik lainnya.


“Seperti nya ini dipadukan dengan tuxedo akan semakin menarik Ash.” Ujar Charllote sambil menempelkan jas yang ada disana ke tubuh Ashton.


Ashton hanya menganggukkan kepalanya membiarkan calon kakak ipar nya itu membantu memilihkan jas untuknya.


Sementara Liona sedang mencoba gaun yang tadi sudah di sediakan oleh pemilik butik tersebut. Hanna membantu Liona untuk mencoba gaun tersebut.


“Kau benar-benar sangat cantik sayang.” Ujar Hanna kepada adik iparnya itu ketika gaun tersebut sudah berhasil melekat ditubuh Liona.


Liona tersenyum bahagia melihat pantulan dirinya dari cermin dihadapannya saat itu.


“Kak apa ini benar-benar cocok untuk ku?” Tanya Liona memastikan.


Hanna memegang kedua bahu Liona dan menatap kedua manik mata itu, “tanyakan pada hatimu jika kau merasa ragu, jika kau tidak yakin dengan gaun ini kita bisa mencari yang lebih bagus lagi. Pernikahan hanya sekali dan kakak ingin kau benar-benar memilih gaun yang menurut mu nyaman dan pantas untuk kau gunakan. Kakak dan Kak Charllote disini membantu mu untuk menemukan yang terbaik.” Jelas Hanna dengan lembut.


Liona tersenyum mendengar perkataan kakak ipar nya tersebut karena selalu mengerti dirinya, hingga Liona akhirnya mencoba beberapa gaun lagi sampai akhirnya ia mendapatkan gaun yang sesuai dengan keinginan nya.



Setelah mendapatkan gaun yang dinginkan, lalu tak lama Ashton juga menyusul bersama dengan Charllote sambil menenteng belanjaannya dan mereka segera melalukan pembayaran untuk membawa pulang belanjaannya mereka tersebut.


“Sudah selesai?” Tanya Ashton sambil memandangi Liona.


“Sudah.” Jawab Liona dengan wajah manisnya.


“Sepertinya kau terlalu bersemangat hari ini, kau sampai keringatan.” Ujar Ashton sambil mengusap peluh yang menempel di dahi Liona dengan lembut.


“Sepertinya memang begitu.” Jawab Liona dengan manja.


“Kenapa aku tidak di perlihatkan tadi saat kau menggunakan gaun nya?” Tanya Ashton penasaran.


“Calon Pengantin pria nya seperti nya sangat tidak sabaran.” Jawab Hanna menimpali pertanyaan Ashton tadi.


Ashton sedikit malu dan menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal, karena dia memang penasaran melihat Liona menggunakan gaun pengantin.


“Nanti kau akan melihat nya Ash, dia akan tampil sangat cantik.” Ucap Hanna lagi.


“Dia memang selalu terlihat cantik kak.” Sahut Ashton sambil menatap gadis dihadapan nya itu yang terlihat malu-malu.


“Jangan menggoda ku Ash, kita tidak sedang hanya berdua.” Ucap Liona dengan rona kedua pipinya.


“Aku tidak menggoda mu sayang, tapi ini memang kenyataan. Kau itu selalu terlihat cantik di mataku. Bahkan jika aku tutup mata pun kau akan tetap terlihat cantik, karena pikiran ku terus dibayangi oleh wajah cantik mu ini.” Ujar Ashton tanpa malu-malu didepan kedua kakak Liona tersebut.


“Ya sudah kalau begitu silahkan kalian lanjutkan lagi rencana kalian, tugas kami sudah selesai. Sekarang hanya tinggal menunggu hari nya saja.” Sahut Charllote dengan senyum.


“Terima kasih kak sudah membantu kami mencari gaun dan jas hari ini.” Ashton berucap dengan penuh rasa terima kasih.


“Iya kak terima kasih ya, kalian memang kakak-kakak ku yang paling terbaik.” Ucap Liona sembari tersenyum sumringah.


“Untuk kalian apa sih yang tidak.” Ujar Hanna.


“Ya sudah kalau begitu kami pergi dulu, jika ada perlu apa-apa lagi jangan sungkan menghubungi kakak.” Ucap Charllote menyudahi pertemuan mereka hari itu.


“Iya kak, terimakasih banyak.” Jawab Liona.


Lalu Charllote dan Hanna memutuskan pergi dari sana meninggalkan mereka berdua dan kembali kerumahnya sementara Ashton memutuskan untuk tidak langsung membawa Liona pulang dan mengunjungi sebuah cafe untuk dia bisa mengobrol dengan Liona sejenak.


Jangan Lupa Berikan Rate 🌟 5 nya, Tekan Like nya, Ketikkan komentar nya, dan Favoritkan ASHTON & LIONA di Cerita mu agar tidak ketinggalan update terbaru.


Terima Kasih


♥️