
Kedua Kalinya Tidur Bersama
Selamat Membaca 🤗
...
Andrew pun keluar masuk ruangan minuman alkohol tersebut untuk mengambil sampanye yang lebih banyak lagi, mereka betul-betul berpesta tanpa mengingat waktu.
Dan orang yang mempunyai kesadaran penuh hanya lah Liona, karena dia memang hanya diperbolehkan menikmati segelas minum alkohol itu oleh Ashton. Sementara yang lainnya sudah benar-benar kehilangan kesadarannya begitupun dengan Ashton yang sudah terbaring lemas di atas sofa.
Liona menghembuskan nafasnya berat ketika melihat hal itu terjadi, ia bingung apa yang harus dilakukan. Ketiga sahabatnya sudah tertidur karena pengaruh alkohol begitu pun sahabat Ashton. Dia menepuk pipi Ashton pelan-pelan mencoba menyadarkan laki-laki itu, sehingga hampir setengah jam baru Ashton mulai mendapatkan kesadarannya namun tidak sepenuhnya.
“Kenapa?” Tanya Ashton dengan kening berkerut dalam, kepalanya mulai terasa sakit.
“Kau ini minum tidak tanggung-tanggung, awas saja jika kau ulangi lagi.” Sahut Liona dengan wajah kesalnya.
“Maafkan aku, tidak biasanya aku minum sampai hilang kesadaran seperti ini.” Gumam Ashton seraya memijit kepalanya yang sakit.
“Lalu bagaimana ini Ash, sahabat ku sudah teler semua.” Liona menunjuk ke arah ketiga sahabat nya tersebut.
“Ya sudah tidak apa, lagian ini sudah larut malam sekali. Sangat bahaya jika kalian pulang dalam keadaan seperti ini.” Seru Ashton seraya membawa kepalanya bersender di bahu Liona.
“Ash kau yang benar saja, masa iya sahabat ku tidur disini bersama sahabat-sahabat mu itu?” Tanya Liona tidak percaya jika hal itu benar terjadi.
Ashton mengusap wajahnya kasar, pasalnya tidak mungkin juga dia membiarkan keempat wanita itu pulang dengan keadaan seperti itu. Dia tidak mau terjadi apa-apa dengan calon istri nya itu, apa lagi harus menyetir mobil larut malam seperti ini dan membawa tiga wanita yang sedang tidak sadarkan diri.
“Lalu kau mau bagaimana?” Tanya Ashton balik.
“Antarkan kami berempat pulang kerumah Papah saja.” Jawab Liona kemudian.
Ashton membelalakkan matanya, kesadarannya kembali penuh setelah Liona mengatakan hal tersebut.
“Apa kau bilang, membawa mu pulang bersama ketiga sahabat mu yang sedang mabuk itu kerumah Papah? Sayang kau pasti sedang bercanda kan? Orang tua mu pasti akan berpikiran buruk tentang ku nanti. Apa lagi aku juga sedang mabuk sekarang dan yang sadar hanya dirimu, apa kau mau mereka berpikir yang tidak-tidak tentang ku? Lalu membatalkan pernikahan kita? Kecuali aku tadi tidak mabuk, aku pasti akan mengantarkan kalian. Tapi tidak dengan dengan keadaan diriku yang seperti sekarang ini.” Jelas Ashton, dia tidak mau orang tua Liona berpikir buruk tentang nya.
“Lalu bagaimana?” Tanya Liona kebingungan.
Biar aku hubungi orang tua mu jika malam ini kau tidak bisa pulang.
“Ash kau yang benar saja ini sudah yang kedua kalinya ketika aku bersama mu, aku tidak pulang kerumah.” Seru Liona, dia malah berpikir jika ini akan membuat orang tua nya akan berpikiran buruk tentang Ashton.
“Kau harus mulai terbiasa, karena nanti kau tidak akan pulang kerumah orang tua mu lagi setelah kita menikah.” Ucap Ashton seraya tersenyum kepada Liona.
Lalu dia mengeluarkan ponselnya dari saku celana nya itu dan melakukan panggilan kepada orang tua Liona.
Tut...tut...tut...Pada sambungan ketiga terdengar suara laki-laki paruh baya dari seberang sana, suara nya terdengar serak karena terbangun ketika mendengarkan ponselnya berdering.
“Selamat malam Pah, ini Ashton.”
“Iya Ash, ada apa? Tumben kamu telepon malam-malam begini?”
“Maaf jika Ashton mengganggu Papah malam-malam begini. Ash ingin memberitahukan jika Liona tidak bisa pulang malam ini, Papah tidak perlu khawatir Liona baik-baik saja.”
“Bukan nya tadi Liona keluar bersama ketiga sahabatnya?”
“Iya Pah, Liona memang keluar bersama ketiga sahabatnya dan mereka bertiga juga masih ada bersama Liona sekarang.”
“Oh ya sudah, kalian baik-baik ya di luar. Jangan aneh-aneh Ash, belum waktunya.”
“Papah percaya saja sama Ash, Ash tidak akan melakukan yang macam-macam terhadap Liona.”
“Memang Papah tidak salah dalam memilih menantu, kalau begitu kalian segera beristirahat ini sudah larut malam.”
“Baik Pah, selamat malam.”
Klik...Panggilan itu pun terputus. Ashton membawa pelukannya ke tubuh Liona, yang sedari tadi mendengarkan percakapan nya dengan Papah nya.
“Hei kau tadi sudah bilang kepada Papah jika kau tidak akan melakukan yang macam-macam.” Liona mendorong kepala Ashton menggunakan jari telunjuknya.
“Aku ini hanya satu macam, lagian aku juga tidak berbuat apa-apa kepada mu.” Seru Ashton sinis.
"Kalau begitu tidak usah peluk-peluk dong." Sahut Liona yang tak kalah sinis nya.
Namun Ashton tidak menghiraukan ucapan calon istrinya tersebut.
“Lalu ketiga sahabat ku ini bagaimana?" Tanya Liona sambil menunjuk ketiga sahabat nya tersebut dan membiarkan Ashton tetap memeluk tubuhnya.
“Ya biarkan saja mereka tertidur, memang nya ada apa?” Ucap Ashton seraya memejamkan mata nya.
“Ash mereka ini perempuan, bagaimana jika sahabat mu terbangun tengah malam nanti dan malah melakukan sesuatu terhadap mereka.” Sahut Liona khawatir.
“Apa itu benar Ash?” Tanya Liona sedikit ragu.
“Sayang kau harus percaya kepada ku, hmm,.!” Ashton mencoba menghilangkan keraguan di hati Liona.
“Baiklah aku percaya kepada mu. Tapi apa di apartemen ini tidak memiliki selimut Ash, kasihan sahabat mu nanti kedinginan.” Gumam Liona.
"Hatimu ini Baik sekali sayang ku, aku tidak akan menyesal memberikan hatiku sepenuhnya untukmu." Batin Ashton memuji calon istrinya tersebut.
“Ada, kau tenang saja. Andrew itu jiwa keibuan nya tinggi sekali, dia menyediakan hal-hal yang bahkan membuat kami tidak habis pikir. Tunggu sebentar disini, biar aku ambilkan.” Ashton berlalu untuk mengambilkan selimut dan juga bantal untuk orang-orang yang sudah teler diruangan itu.
...
Ashton kembali keruang itu sambil membawa bantal dan juga selimut untuk keenam orang tersebut, lalu Liona mengambil barang yang dibawa oleh Ashton tadi dan dia mulai menyelimuti ketiga sahabatnya dan mengatur posisi mereka agar tubuh mereka tidak sakit saat terbangun di pagi hari.
Begitupun dengan Ashton dia melakukan hal yang sama dengan yang Liona lakukan kepada ketiga sahabatnya itu. Namun Liona merasa ada kejanggalan, jumlah selimutnya kurang untuk dua orang yaitu dirinya dan juga Ashton.
“Ash kenapa jumlah nya kurang? Untuk ku dan dirimu tidak kebagian.” Seru Liona seraya menghampiri Ashton yang sedang sibuk membalut selimut ditubuh sahabatnya itu.
“Karena kita tidak akan tidur disini sayang.” Ucap Ashton setelah menyelesaikan tugasnya.
“Maksud mu?” Kening Liona berkerut dalam diikuti kedua alisnya, dia bertanya-tanya maksud dari perkataan Ashton barusan.
“Ayo ikut dengan ku.” Ashton memegang tangan Liona dan membawanya melangkah kesebuah ruangan di apartemen itu.
“Kita berdua akan tidur disini.” Sahut Ashton kemudian.
“Kita?” Liona memperjelas perkataan Ashton barusan.
“Iya sayang, kita.” Ashton kembali mempertegas perkataannya pada kata kita.
“Ash ini tidak benar, kau tadi sudah berjanji kepada Papah ku jika kau tidak akan berbuat yang macam-macam terhadap aku.” Sahut Liona, pikiran nya menjadi Liar ketika Ashton membawa dirinya masuk kedalam dalam kamar yang dia tidak tau itu kamar siapa.
“Memang nya aku akan melakukan apa?” Tanya Ashton menelisik. “Kau lupa waktu kita ke stratford? Kita bahkan tidur sambil berpelukkan, dan aku tidak melakukan apa-apa terhadap tubuh mu ini. Ketika aku membawa mu kerumah hutan waktu itu, aku juga tidak melakukan apa-apa. Sayang kau harus percaya kepadaku jika aku ini bukan penjahat wanita.” Gumam Ashton meyakinkan Liona lagi.
Liona seketika ingat dan benar bahwa Ashton tidak pernah berbuat yang macam-macam terhadap dirinya, bahkan hanya untuk mencium bibirnya saja Ashton tidak pernah melakukan itu.
“Tapi ini kamar siapa Ash? Aku tidak mau tidur diatas kasur bekas orang lain.” Seru Liona, karena dia berpikir jika sahabat Ashton pasti sudah pernah bermain dengan wanita lain diatas kasur tersebut.
“Kau jangan pikir yang macam-macam sayang, selain kalian berempat tidak ada wanita lain yang pernah berkunjung kemari. Memang apartemen ini dibeli atas nama Andrew, tapi kami membeli nya bersama-sama. Andrew yang tinggal dan menetap disini karena keluarganya berada di kota lain, tapi kami juga memiliki hak atas apartemen ini. Dan bila sedang bosan dirumah, tempat ini lah menjadi tujuan utama kami. Itulah sebabnya apartemen ini memiliki empat kamar khusus, dan tempat kita berada sekarang ini adalah kamarku sendiri.” Jelas Ashton panjang lebar.
“Pantas saja kamar ini terlihat sangat mewah sekali, ternyata ini milikmu.” Sahut Liona kemudian.
“Ya sudah, ayo kita tidur. Ini sudah larut malam.” Ucap Ashton.
“Tapi Ash, apa aku harus tidur dengan pakaian ini?” Tanya Liona seraya memegang dress yang sedang melekat ditubuh nya itu.
“Tunggu sebentar, aku punya beberapa baju disini. Kau bisa menggunakan nya.” Ashton berjalan ke arah lemari pakaiannya dan mengambilkan baju beserta celana kaos yang kira-kira muat ditubuh Liona.
“Ini, silahkan kau ganti terlebih dahulu.” Ashton menyodorkan pakaian yang sudah dipilihkan nya tadi untuk Liona.
Setelah menerima pakaian yang diberikan oleh Ashton tadi, Liona berlalu dan masuk kedalam kamar mandi untuk mengganti pakaian nya. Sementara Ashton dia sudah mengganti pakaian nya didalam kamar itu dan pergi mengambilkan air putih untuk mereka berdua.
Ketika Liona keluar dari dalam kamar mandi, Ashton juga baru masuk kedalam kamar tersebut sambil membawa dua gelas yang berisi air putih.
“Untuk jaga-jaga jika tengah malam kau merasa haus.” Kata Ashton perhatian lalu ia meletakkan gelas tersebut di atas nakas dekat tempat tidur itu.
“Terima kasih Ash.” Sahut Liona dan dia berjalan kearah tempat tidur lalu mendudukkan tubuhnya diatas kasur tersebut.
“Aku akan menggosok gigi dulu.” Ashton lalu meninggalkan Liona dan masuk kedalam kamar mandi.
Liona hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Lalu dia membawa tubuhnya berbaring diatas kasur tersebut dan menarik selimut sampai batas dadanya, dia menunggu Ashton keluar dari dalam kamar mandi.
Tak lama Ashton keluar dan melihat Liona sudah berbaring sambil mengenakan selimut, dia tau jika Liona sedang menunggu nya sebab mata gadis itu belum terpejam.
Ashton pun naik keatas tempat tidur setelah mengurangi pencahayaan di dalam ruangan itu dan ikut memasukkan tubuhnya dibawah selimut yang juga digunakan oleh Liona.
“Mendekatlah.” Ashton memiringkan tubuhnya menghadap Liona dan kepalanya yang sedikit terangkat dengan tangan kanan nya sebagai tumpuan untuk melihat wajah gadis yang berbaring disampingnya saat ini, dan pelan tangan kanan nya tadi yang dia gunakan sebagai tumpuan terulur menandakan jika dia menyuruh gadisnya untuk membaringkan kepalanya diatas lengannya itu.
Kemudian Liona mendekat dan meletakan kepalanya seperti yang tersirat melalui gerakkan laki-laki itu tadi.
“Tidurlah.” Gumam Ashton sembari menciumi kening gadis nya itu lalu membetulkan letak selimut yang sedang membungkus tubuh mereka kemudian mengelus kepala Liona dengan lembut. Secara perlahan dia membawa tangan gadis itu melingkar ditubuhnya, dan akhirnya mereka tidur bersama untuk yang kedua kalinya.
Sementara enam manusia lain nya yang berada di apartemen itu tidur dengan gaya nya masing-masing, tidak ada rasa khawatir dalam benak mereka saat ini. Tapi entahlah jika mereka tersadar di esok hari, dan melihat diri mereka sedang berbagi ruangan dengan orang yang baru mereka kenal semalam. Mungkin akan ada banyak drama dipagi hari nanti.
Jangan Lupa Berikan Rate 🌟 5 nya, Tekan Like nya, Ketikkan komentar nya, dan Favoritkan ASHTON & LIONA di Cerita mu agar tidak ketinggalan update terbaru.
Terima Kasih
♥️