
Sebelumnya penyerangan secara mendadak tak dapat dihindari, dua sosok misterius yang mengaku sebagai Sora dan Noru berhasil memporak-porandakan desa kabut dengan sangat hebat. Mereka menciptakan sebuah gempa yang cukup dahsyat, hingga mengakibatkan kerusakan pada rumah-rumah penduduk desa kabut. Juga, pada akhirnya Sora dan Noru berhasil mengambil Senpuki of Myth yang merupakan senjata legendaris yang sangat dijaga di desa kabut sejak dahulu kala.
Oleh karena itu, Russel dan teman-temannya merasa cukup kecewa karena gagal untuk melindungi senjata legendaris tersebut. Namun, mereka lebih memprioritaskan keadaan yang sedang terjadi saat ini, mereka memilih untuk mengevakuasi warga desa terlebih dahulu, agar dapat berkumpul di tempat pengungsian yang sudah ditentukan. Baru setelah itu, mereka dapat berpikir untuk beberapa saat ke depan dan membuat strategi mengantisipasi apabila terjadi penyerangan untuk yang kedua kalinya.
.
"Ayo, lewat sini semuanya, ikuti aku menuju ke tempat pengungsian," ucap Rafael.
"Yah.. terimakasih Raf, aku akan mengecek daerah sebelah sana terlebih dahulu," ucap Russel.
"Ya, kalau sudah tolong koordinasikan dengan yang lainnya," ucap Rafael.
"Baiklah," ucap Russel.
"Gimana Sel? Daerah sana aman?" ucap Wisang.
"Baru aja aku mau ngecek," ucap Russel.
"Yaudah ayo sekalian aja," ucap Wisang.
"Oke ayo," ucap Russel.
.
.
.
Setelah beberapa jam melakukan evakuasi warga menuju ke tempat pengungsian, pada akhirnya Russel dan teman-temannya berhasil melakukan evakuasi dengan cukup baik. Kemudian, di malam hari yang dingin ini, Russel dan teman-temannya kembali merenungkan apa yang telah terjadi sepanjang hari ini, sambil membaringkan tubuh mereka menatap langit malam yang dihiasi oleh bintang-bintang.
.
"Hah.. akhirnya evakuasi warga selesai juga, capek banget aku," ucap Mikael.
"Yah.. rasanya badanku pegel semua," ucap Wisang.
"Hah.. kalo saat-saat kayak gini aku jadi pengen dunia bisa damai seperti semula," ucap Michael.
"Ya, aku juga pengennya begitu, tapi pasti ada aja orang yang mementingkan kekuatan daripada kedamaian," ucap Rafael.
"Kita harus bisa mengatasinya, lagipula tujuan kita di sini kan buat menyelamatkan dunia," ucap Russel.
"Ya.. jangan pernah putus asa," ucap Ayaka.
"Yah.. aku tau itu," ucap Mikael.
"Gimana kalo sekarang kita kumpulin data yang udah kita dapet dari musuh?" ucap Michael.
"Boleh tuh," ucap Wisang.
"Jadi informasi yang telah kita dapatkan diantaranya. Noru itu merupakan seseorang pengguna multi elemental technique, ia mampu untuk menggunakan elemen angin dan membuat gempa bumi dengan elemen tanahnya pada pertarungan kita tadi sore," ucap Russel.
"Tapi apa mungkin, hujan deras tadi ada hubungannya dengan kekuatan elemental Noru?" ucap Mikael.
"Aku rasa itu mungkin aja ada hubungannya," ucap Wisang.
"Ya, aku rasa Noru menguasai kelima elemen dasar," ucap Ayaka.
"Hmm.. dia benar-benar merepotkan," ucap Rafael.
"Kita harus lebih waspada ketika berhadapan dengan dia," ucap Michael.
"Ya, jika itu benar bahwa Noru bisa menguasai kelima elemen dasar, kita harus mengincar dia lebih dulu dibandingkan Sora," ucap Russel.
"Tapi Sora juga gak bisa dianggap remeh," ucap Mikael.
"Ya, kalau kalian ingat, dia bisa langsung membunuh targetnya dengan serangkaian serangan, dia bisa menarik jiwa target yang tertusuk oleh cakarnya," ucap Wisang.
"Yah.. jadi sebenernya kita harus melawan mereka menggunakan strategi lama," ucap Russel.
"Apa itu?" ucap Rafael.
"Strategi pengalihan," ucap Russel.
"Tapi apa masih efektif? Kita udah sering banget pake strategi itu di beberapa pertarungan sebelumnya," ucap Wisang.
"Yah.. kalo belum dicoba kita gak akan pernah tau hasilnya, Wis," ucap Russel.
"Iya sih, menurutku gak ada salahnya kita coba strategi pengalihan, tapi ada kemungkinan kalau pengalihan itu gak berhasil, jadi kita harus buat strategi cadangannya mulai dari sekarang," ucap Ayaka.
"Hmm.. aku punya strategi cadangan..," ucap Russel.
"Apa itu?" ucap Wisang, Mikael, dan Michael bersamaan.
"Jadi begini..," ucap Russel.
.
.
.
.
Sementara itu, jauh di dalam tanah sana...
Kuro, Sora, Noru, dan beberapa anggota lainnya kembali merencanakan sesuatu...
.
"Ini dia, Senpuki of Myth, kami berhasil mendapatkannya..," ucap Noru.
"Bagus.. dengan ini, kita bisa menjadi jauh lebih kuat, dan impian tuan Shadow akan terwujud," ucap Kuro.
"Jadi, apa yang akan kita lakukan selanjutnya?" ucap Sora.
"Hanya kita bertujuh yang tersisa di sini, Kirin juga masih belum kembali dari mengembara sejak hari itu," ucap Shi.
"Yah.. setelah kepergian Jack, aku merasa sedikit kesepian di sini," ucap Akane.
"Apakah kita akan segera melakukan penyerangan berikutnya?" ucap Sora.
"Ya, aku rasa mereka juga masih belum meninggalkan desa kabut," ucap Noru.
"Kita tidak bisa melewatkan kesempatan ini," ucap Akane.
"Baiklah, kalau begitu kita akan segera melakukan penyerangan kembali, dan tujuan kita adalah mengambil senjata legendaris yang dimiliki anak-anak itu," ucap Kuro.
"Tapi, siapa yang akan menjalankan misi kali ini?" ucap Noru.
"Aku rasa tak cukup jika hanya kami berdua saja," ucap Sora.
"Hmm.. kalau begitu aku akan turun tangan langsung untuk menghadapi misi kali ini," ucap Kuro.
"A-apa kau yakin tuan?!" ucap Akane.
"Yah, tujuan kita sudah semakin dekat," ucap Kuro.
"Kalau begitu, aku juga akan ikut dalam penyerangan kali ini," ucap Akane.
"Hmm.. baiklah, kita bertempat akan langsung menghadapi mereka," ucap Noru.
"Kalau begitu, semoga beruntung," ucap Shi.
"Ya, kami akan kembali membawa senjata legendaris mereka," ucap Sora.
"Akan ku pegang perkataanmu, Sora," ucap Shi.
"Apakah kau tak akan ikut kami dalam penyerangan kali ini, Shi?" ucap Akane.
"Sepertinya tidak, aku harus menjaga Kirei, dan juga tempat ini, selagi Kirin masih belum kembali dari mengembara," ucap Shi.
"Yah, kau benar, tolong jaga Kirei dan tempat ini baik-baik selama kami pergi nanti," ucap Akane.
"Yah.. serahkan padaku," ucap Shi.
"Baiklah, sepertinya kita harus mulai bersiap-siap," ucap Noru.
"Ya, penyerangan kali ini aku jamin akan lebih besar daripada penyerangan sebelumnya," ucap Sora.
"Haha.. kita pasti bisa merebut senjata legendaris mereka.., Kalian tunggu pembalasanku!" ucap Akane.
.
.
.
-CHAPTER 77 END-
.
Evakuasi telah selesai dilakukan, dan Russel, Ayaka, Michael, Mikael, Rafael, dan Wisang telah membuat strategi yang mereka persiapkan apabila terjadi penyerangan untuk yang kedua kalinya.
Seakan telah mengetahui bahwasanya dalam pertemuan Kuro dengan anggotanya juga telah merencanakan penyerangan untuk merebut senjata legendaris milik Russel dan teman-temannya. Kali ini mereka tak hanya mengirimkan dua orang untuk menjalankan misinya, tetapi empat orang, dengan Kuro sendiri akan ikut turun tangan dan menyerang desa kabut.
Sepertinya ancaman masih belum berakhir! Sesuatu yang lebih besar akan segera terjadi! Akankah Russel dan teman-temannya dapat mempertahankan senjata legendaris mereka pada pertarungan berikutnya, atau malah pertempuran selanjutnya adalah akhir dari kisah mereka...?
Selanjutnya di Another Place - 他の場所 (Hoka No Basho) Chapter 78: Misi Desa Kabut (END)