Another Place

Another Place
Chapter 74: Misi Desa Kabut



Sebelumnya Russel, Ayaka, Michael, Mikael, Rafael, dan Wisang telah menemui Creator melalui portal seperti rencana yang telah mereka buat. Dipertemuan itu mereka telah mengobrol tentang beberapa hal yang ingin mereka bicarakan, seperti kejadian saat Mikael yang mendadak menghilang sewaktu study tour di Kyoto, hingga perihal upgrade senjata legendaris yang dibilang oleh Creator sewaktu itu.


Setelah semua pembicaraan telah selesai, mendadak Creator menyampaikan suatu hal yang sangat penting, yang dimana di dimensi lain, tepatnya di desa kabut yang merupakan salah satu desa yang masih memiliki senjata legendaris sebagai pelindung desanya tengah mendapatkan teror dari seseorang yang tidak diketahui.


Alhasil, Creator menugaskan Russel, Ayaka, Michael, Mikael, Rafael, dan Wisang untuk menyelesaikan misi tersebut. Yaitu mencoba untuk mengusut dalang dibalik teror yang terjadi di desa kabut, dan sebisa mungkin mengembalikan kedamaian desa yang hilang akibat teror tersebut. Russel dan teman-temannya menyanggupi misi tersebut, dan mereka segera memasuki portal dimensi yang langsung terhubung dengan desa kabut yang telah dibentuk oleh Creator.


.


.


.


"Oh, ternyata ini desa kabut," ucap Rafael.


"Woah.. ternyata tempatnya jauh berbeda dari yang aku pikirkan," ucap Wisang.


"Yah.. tempatnya bener-bener keliatan suram," ucap Michael.


"Ini cuma perasaan aku aja, atau di sini emang sepi banget sih?" ucap Russel.


"Iya ya, kayak gak ada tanda-tanda keberadaan orang lain di sini," ucap Ayaka.


"Gimana kalo kita coba jalan dulu ke arah sana, soalnya kayak ada beberapa rumah di sana," ucap Russel.


"Iya bener, kayaknya di sana ada rumah penduduk," ucap Michael.


"Yaudah deh, ayo," ucap Mikael.


.


.


.


Mereka pun segera berjalan mendekati rumah penduduk yang di maksud, setelah beberapa saat, akhirnya mereka tiba di sana. Namun yang mereka temukan hanyalah rumah yang telah terbengkalai, tanpa ada seorang pun yang nampak terlihat di sekitar sana.


.


"Yah.. aku udah cek ke dalam rumah ini, gak ada siapapun di dalamnya," ucap Michael.


"Hah.. jadi beneran gak ada siapapun kah di tempat ini? Apa kita salah dimensi?" ucap Mikael.


"Aku juga gak tau," ucap Wisang.


"Tapi emang bener sih, di sini banyak kabut, dan entah kenapa semakin lama terlihat semakin tebal," ucap Russel.


"Eh, jarak pengelihatan kita semakin menipis lama-kelamaan," ucap Ayaka.


"Kita harus segera cari warga desa ini, setidaknya kita harus keluar dari kabut ini," ucap Rafael.


"Hah.. kok aku merasa kayak semakin aneh ya," ucap Mikael.


"Apa yang terjadi sebenarnya?" ucap Wisang.


"Ada yang aneh di sini," ucap Russel.


"Apa kamu tau sesuatu Sel?" ucap Michael.


"Eh- kabutnya semakin tebal!" ucap Ayaka.


"Kalo gitu ayo kita cepat masuk ke rumah itu," ucap Russel.


"Iya, ayo," ucap Mikael.


.


.


.


Karena merasa banyak keanehan yang terjadi, dan kabut juga semakin tebal. Mereka tak mempunyai pilihan lain selain masuk ke dalam rumah dan berlindung di sana untuk beberapa saat.


.


"Hah.. ini gawat," ucap Michael.


"Ya, kita harus segera cari jalan keluar," ucap Rafael.


"Tapi gimana?" ucap Ayaka.


"Untuk sementara waktu kita lebih baik berlindung di sini," ucap Mikael.


"Iya," ucap Rafael.


"Hmm.. semenjak awal kita tiba di dimensi ini, emang banyak hal aneh yang terjadi," ucap Russel.


"Apa itu, Sel?" ucap Wisang.


"Aku bingung, kenapa semenjak kita pertama kali tiba di dimensi ini, kita gak melihat satu orang pun. Padahal seperti yang creator bilang, seharusnya sekarang kita berada di desa kabut," ucap Russel.


"Hmm iya juga," ucap Mikael.


"Eh-?!" ucap Ayaka.


"Kabutnya masuk ke dalam rumah ini!" ucap Michael.


"Ini bukan situasi yang baik!" ucap Wisang.


"Kita terjebak di sini!" ucap Rafael.


"Sial! Aku gak bisa liat apa-apa!" ucap Mikael.


"Apakah ini akhirnya..," ucap Wisang.


"Hoam.. aku jadi ngantuk," ucap Michael.


"Aku juga," ucap Rafael.


.


Pada akhirnya kabut menjadi semakin tebal dan memasuki ruangan rumah tersebut, hingga Russel dan teman-temannya tak bisa melihat apapun di sana. Namun entah mengapa tiba-tiba mereka malah merasa mengantuk dan tertidur.


.


.


.


Beberapa saat berlalu, tiba-tiba seseorang datang menghampiri mereka, dan membangunkan mereka.


"Ka-kalian bangunlah..," ucap seseorang itu.


"E-eh? Ini dimana?" ucap Russel.


"Loh? Dimana rumah kosong tadi?" ucap Mikael.


"Kok kita bisa ada di sini?" ucap Michael.


"Kenapa sekeliling kita hutan bambu?" ucap Ayaka.


"Te-tenang dulu, kalian pasti pendatang dari dimensi lain kan," ucap seseorang itu.


"Kamu siapa?" ucap Russel.


"Perkenalkan, namaku Rezz. Rumahku berada gak jauh dari sini," ucap Rezz.


"Hmm.. oke, tapi yang mau aku tanyain kenapa mendadak kami bisa berada di sini?" ucap Mikael.


"Hmm.. kayaknya tadi kalian terkena ilusi kabut, makanya kalian bisa halusinasi terus pingsan di sini," ucap Rezz.


"Eh? Kok bisa?" ucap Russel.


"Nanti akan aku jelasin, gimana kalo sekarang kalian ke rumah ku dulu, soalnya bahaya di luar kayak gini, apalagi sekarang semua penduduk nampaknya gak berani keluar rumah buat menghindari teror," ucap Rezz.


"Tunggu dulu, kalo semua penduduk takut keluar rumah, kok kamu bisa ada di sini?" ucap Russel.


"Iya juga," ucap Wisang.


"Hmm.. sebenernya aku sekarang lagi keliling desa buat patroli. Desa kami sekarang mengadakan patroli setiap hari untuk memastikan keamanan desa, kebetulan hari ini giliran rumah ku buat patroli," ucap Rezz.


"Baik, ayo ikuti aku, tapi tetap waspada ya," ucap Rezz.


"Oke," ucap Mikael.


"Ya, aku tau," ucap Wisang.


"Hmm.. kelihatannya ini bakalan jadi lebih menarik daripada perkiraan ku," ucap Michael.


"Iya, ya," ucap Ayaka.


"Yah.. kita liat kedepannya aja, Mich," ucap Russel.


.


.


.


Kemudian karena merasa cukup berbahaya berada di area terbuka, Rezz mengajak Russel dan teman-temannya untuk pergi ke rumahnya dan berdiam diri di sana. Hal tersebut juga merupakan sesuatu yang baik untuk mereka karena akan membantu sebagai tempat sementara sembari mereka menjalankan misi untuk menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi di desa kabut ini.


.


Sesampainya mereka di rumah tempat tinggal Rezz, mereka langsung disambut oleh orang tua nya yang menyuruh mereka untuk masuk ke dalam rumah.


.


"Nah ini dia rumahku," ucap Rezz.


"Wah.. tapi ngomong-ngomong desa ini sepi banget ya," ucap Mikael.


*KREKKK (Pintu rumah Rezz tiba-tiba terbuka)


"Rezz coba kamu jelaskan siapa mereka?" ucap Orang tua Rezz.


"Jadi aku menemukan mereka tadi ketika sedang patroli di tengah hutan bambu," ucap Rezz.


"Ah- tenang saja, kami bukan orang jahat kok," ucap Ayaka.


"Apa aku bisa mempercayai kalian?" ucap Orang tua Rezz.


"Kedatangan kami ke sini bukan untuk hal sepele, kami kemari karena mendapatkan misi penting dari Creator untuk menyelidiki teror yang sedang terjadi di desa kabut ini," ucap Russel.


"Betul itu," ucap Mikael.


"Oh- Creator ya, jadi kalian merupakan orang yang ditugaskan kemari. Kalau begitu maaf sudah berburuk sangka, kalau begitu sekarang silahkan masuk ke dalam rumah, kalian bisa menginap di rumah ini selama penyelidikan berlangsung," ucap Orang tua Rezz.


"Baik, terimakasih," ucap Russel.


"Silahkan masuk," ucap Rezz.


.


.


.


Setelah mereka masuk ke dalam rumah, orang tua Rezz mengajak Russel dan teman-temannya untuk berbicara mengenai perihal penyelidikan mereka.


.


"Sebelumnya, aku bisa memanggil kalian apa?" ucap Orang tua Rezz.


"Nama saya Russel," ucap Russel.


"Nama saya Ayaka," ucap Ayaka.


"Saya Mikael, dan ini Wisang, yang ini Michael, dan yang satu ini Rafael," ucap Mikael.


"Baiklah, senang mengenal kalian semua, pertama-tama apakah kalian sudah mengetahui daerah di sekitar desa kabut ini?" ucap Orang tua Rezz.


"Oh iya, berhubungan dengan itu tadi ketika Rezz menyelamatkan kami, ia bilang bahwa desa kabut memiliki ilusi yang membuat orang akan berhalusinasi, apakah itu benar?" ucap Russel.


"Betul, itu merupakan salah satu bentuk pelindung yang diciptakan oleh senjata legendaris yang berada di desa ini, bentuknya sebuah kipas yang akan terus mengeluarkan kabut ilusi sepanjang waktu, orang dari luar yang mencoba masuk ke dalam desa kabut akan terkena ilusi tersebut," ucap Orang tua Rezz.


"Ehh.. menarik juga," ucap Wisang.


"Tapi bagaimana sebenarnya teror yang tengah terjadi di desa ini sekarang?" ucap Michael.


"Ya, seperti yang bisa kalian lihat sendiri, di luar sana terjadi hujan selama terus menerus, sudah sekitar satu bulan terakhir seperti ini," ucap Orang tua Rezz.


"Tapi kalau sudah satu bulan seperti itu mengapa tidak terjadi banjir?" ucap Rafael.


"Desa kabut sendiri memiliki sistem resapan yang cukup baik, karena itu air hujan dapat teratasi sejauh ini. Tapi, tidak untuk waktu yang lama, jika hujan turun selama sekitar beberapa hari lagi, mungkin saja desa kabut akan mengalami banjir," ucap Orang tua Rezz.


"Hmm.. kita harus segera mencari cara untuk menghentikan hujan ini," ucap Mikael.


"Tapi gimana?" ucap Wisang.


*TOK TOK TOK (Suara pintu yang diketuk, dan mendadak seseorang penduduk desa muncul dari balik pintu)


.


"Hah..!!" cap Penduduk desa.


"Ada apa?" ucap Orang tua Rezz.


"Ke-kepala desa, ditemukan telah tewas di rumahnya!!" ucap Penduduk desa.


"Apa! Bagaimana bisa?!" ucap Orang tua Rezz.


"Apa?! Kepala desa kabut tewas?!" ucap Mikael.


"Kita harus cepat ke sana!" ucap Orang tua Rezz.


"Apakah kami boleh ikut?" ucap Russel.


"Baiklah ayo kita segera ke sana," ucap Penduduk desa.


"Oke ayo," ucap Michael.


"Ayo," ucap Rafael.


.


.


.


-CHAPTER 74 END-


.


.


.


Setelah sebelumnya Russel, Ayaka, Michael, Mikael, Rafael, dan Wisang telah berhasil menemui Creator dan membicarakan beberapa persoalan yang mereka hadapi, termasuk perihal upgrade senjata legendaris yang dijanjikan oleh Creator.


Kemudian mereka mendapatkan misi secara tiba-tiba yang diberikan oleh Creator, yaitu teror secara tiba-tiba oleh orang tak dikenal yang tengah terjadi di desa kabut. Creator memberikan misi tersebut bukan tanpa alasan, hal itu terjadi karena desa kabut merupakan salah satu desa yang masih memiliki senjata legendaris sebagai pelindung desa mereka. Oleh karena itu, kemungkinan besar teror tersebut dilakukan oleh Kuro dan anak buahnya.


Setelah mempertimbangkannya, Russel dan teman-temannya menyetujui misi tersebut dan mereka langsung mmemasuki portal menuju ke dimensi kabut yang telah dibuat oleh Creator. Namun hal pertama yang mereka temukan setelah berada di dalam dimensi kabut adalah hanya sebuah tanah datar yang sangat luas tanpa adanya tanda-tanda kehidupan.


Sejauh mereka dapat melihat yang ada hanyalah kabut yang sangat tebal, kabut tersebut menutupi jarak pandangan merrka sehingga mereka tak bisa melihat jauh. Pada akhirnya, mereka memutuskan untuk berjalan bersama, sambil mencoba untuk menemukan rumah penduduk desa kabut.


Beberapa lama kemudian nampaknya mereka berhasil menemukan salah satu rumah penduduk desa kabut yang telah terbengkalai. Saat mereka sibuk berbincang di depan rumah tersebut, Ayaka menyadari bahwa kabut di sekeliling mereka perlahan semakin tebal. Karena merasa ada yang aneh, Russel memutuskan untuk masuk ke dalam rumah tersebut dan berlindung dari kabut yang semakin tebal.


Tetapi nampaknya hal tersebut tidak berpengaruh banyak, karena kabut menjadi semakin tebal dan masuk melalui sela-sela kayu rumah tersebut. Akibat itu, seisi rumah menjadi putih dan mereka tak bisa melihat apapun. Hal aneh kembali terjadi setelah itu, mereka mulai mengantuk dan tertidur di rumah terbengkalai tersebut.


Setelah lama tak sadarkan diri, mendadak mereka dibangunkan oleh seorang anak yang berasal dari desa kabut. Setelah bangun mereka terkejut karena di sekeliling mereka tak ada rumah sama sekali, melainkan hanya hutan bambu yang sangat rimbun. Kemudian setelah itu untuk mengamankan diri mereka terlebih dahulu, anak itu mengajak Russel dan teman-temannya untuk pergi ke rumahnya yang terletak di desa kabut yang sebenarnya.


Sesampainya di sana mereka di sambut oleh orang tua dari anak itu. Mereka mendapatkan penjelasan mengenai semua kejadian aneh yang mereka alami akibat halusinasi yang diciptakan oleh kabut, hingga teror yang sedang terjadi di desa ini. Setelah memahami kondisi, Russel dan teman-temannya memutuskan untuk menginap di rumah anak tersebut sambil menjalankan misi mereka di desa kabut untuk kedepannya.


Namun saat mereka sedang mengobrol, mendadak Rezz menyampaikan berita yang sangat mengejutkan! Kepala desa kabut ditemukan telah terbunuh dirumahnya. Apa yang terjadi sebenarnya, mengapa hal tersebut bisa terjadi?!


.


Selanjutnya di Another Place - 他の場所 (Hoka No Basho) Chapter 75: Misi Desa Kabut (2)