Another Place

Another Place
Chapter 75: Misi Desa Kabut (2)



Sebelumnya Russel dan teman-temannya telah berhasil keluar dari ilusi berkat bantuan seorang anak beenama Rezz, kemudian Rezz mengajak Russel dan teman-temannya untuk sekedar beistirahat di rumahnya. Setelah membereskan barang, mereka mengobrol bersama ayah Rezz tentang asal usul mereka datang ke desa kabut, tiba-tiba rumah Rezz mendadak didatangi oleh seorang warga desa.


*TOK TOK TOK (Suara ketikan pintu)


.


"Ke-kepala desa ditemukan tewas di rumahnya!" ucap warga tersebut.


"Apa?! Bagaimana bisa?" ucap Ayah Rezz.


"Kalau begitu kita harus segera ke sana!" ucap Russel.


"Ya, kau benar, ayo kita segera mengecek situasi di sana," ucap Ayah Rezz.


"Baiklah, kita tunda dulu istirahat nya, karena sekarang masih belum malam hari, jadi ayo kita pergi ke sana," ucap Russel.


"Oke aku mengerti," ucap Michael.


"Ayo kita ke sana," ucap Mikael.


"Rezz, kamu tunggu di rumah saja ya," ucap Ayah Rezz.


"Baiklah," ucap Rezz.


"Ayo kita segera ke rumah kepala desa," ucap Ayah Rezz.


"Ayo," ucap Russel dan teman-temannya.


.


Setelah berjalan menyusuri desa selama beberapa saat, akhirnya ayah Rezz, Russel, Ayaka, Michael, Mikael, Rafael, dan Wisang tiba di rumah kepala desa yang terlihat sudah cukup ramai orang di sana.


.


"Kalau begitu aku akan mengecek ke dalam terlebih dahulu, kalian tolong menunggu di sini sebentar ya," ucap Ayah Rezz.


"Baiklah," ucap Russel


"Baik, pak," ucap Mikael.


.


"Ternyata udah rame banget di sini," ucap Russel.


"Wajar aja sih, soalnya ini bener bener kejadian yang gak terduga," ucap Michael.


"Iya," ucap Ayaka.


"Hmm.. kira-kira siapa ya pelaku dari ini semua?" ucap Wisang.


"Gimana kalo kita nawarin diri buat bantu mengusut kasus ini? ucap Russel.


"Wah boleh tuh," ucap Ayaka.


"Oke aku setuju," ucap Wisang.


"Tapi gimana caranya?" ucap Rafael.


"Sebelumnya kita harus membagi jadi dua kelompok, pertama kelompok investigasi yang tugasnya menyelidiki area sekitar tkp ini, terus yang kedua kelompok pencari informasi, dengan wawancara para warga yang jadi saksi dan berada di sekitar tempat ini," ucap Russel.


"Okelah," ucap Rafael.


"Jadi gimana pembagian kelompoknya?" ucap Michael.


"Aku menawarkan diri buat masuk ke dalam kelompok pencari informasi," ucap Ayaka.


"Oke, kalo gitu aku bakalan masuk ke kelompok investigasi," ucap Russel.


"Kami gimana?" ucap Mikael.


"Kalian bisa nentuin kelompok sesuai yang kalian mau kok," ucap Russel.


"Hmm, kalo gitu aku masuk ke kelompok investigasi deh," ucap Wisang.


"Oke, kalo gitu aku masuk ke kelompok pencari informasi," ucap Michael.


"Aku juga mau ke kelompok pencari informasi," ucap Rafael.


"Yosh, berarti sisa Mikael, kamu otomatis masuk ke kelompok investigasi," ucap Wisang.


"Ehh... oke deh," ucap Mikael.


"Kok kayak agak terpaksa gitu Mik?" ucap Wisang.


"Ah, gak apa-apa kok," ucap Mikael.


.


.


.


Russel yang berinisiatif untuk membantu warga desa dalam mengusut kasus tewasnya kepala desa disambut baik oleh ayah Rezz, ide mereka langsung disetujui dan mereka bisa langsung memulai penyelidikan di sekitar tempat kejadian perkara. Sementara itu ayah Rezz beserta beberapa warga desa lainnya akan berusaha untuk mengamankan area sekitar agar sesuatu yang mengancam tidak terjadi kembali.


.


.


.


Setelah membagi tugas, mereka mulai melaksanakan penyelidikan. Russel, Wisang, dan Mikael yang bertugas melakukan investigasi di rumah kepala desa sebagai tempat kejadian perkara langsung masuk ke dalam rumah tersebut.


.


"Kalau begitu kami pergi dulu buat wawancara warga yang ada di sekitar rumah ini," ucap Ayaka.


"Oke," ucap Russel.


Setelah itu Ayaka, Michael, dan Rafael pergi untuk melakukan misi kelompok mereka.


.


"Yosh, jadi apa yang harus kita lakukan sekarang?" ucap Mikael.


"Ya kita harus cari petunjuk di tempat ini lah, apa lagi?" ucap Wisang.


"Oh, oke," ucap Mikael.


"Kalo gitu pertama-tama kalau kita lihat secara sekilas, memang rumah kepala desa ini tak memiliki banyak ruangan, hanya ada ruangan yang besar tempat kita berada sekarang sebagai ruang tamu sekaligus dapur di sana, kemudian ada satu ruangan kamar tidur dan sebuah toilet," ucap Russel.


"Ya, dan hanya ada satu lantai saja," ucap Wisang.


"Jadi gimana?" ucap Mikael.


Russel mulai menyelidiki salah satu bagian ruangan yang nampak tak biasa.


.


"Hmm.. kalau kita lihat di sini, nampak bahwa tanahnya naik," ucap Russel


"Bukan hanya naik, retak bahkan," ucap Wisang.


"Ya, di sini ada beberapa pecahan tanahnya juga," ucap Mikael.


"Hmm.. bagaimana bisa pecahan tanah ini sangat kokoh?" ucap Wisang.


"Sedangkan tekstur tanah asli rumah ini seperti tanah liat pada umumnya," ucap Russel.


"Itu bisa menjadi salah satu jawabannya, tetapi kita masih harus menunggu pernyataan dari pihak yang melakukan otopsi kepada jasad kepala desa," ucap Russel.


"Kalau begitu sambil menunggu pernyataannya, ayo kita cari petunjuk lain," ucap Mikael.


"Ya, ayo," ucap Wisang.


.


Sementara itu Ayaka, Michael, dan Rafael mewawancarai beberapa pedagang yang nampak asing, mereka berpakaian cukup berbeda dari penduduk desa kabut kebanyakan, dan kebetulan mereka berjualan tak jauh dari rumah kepala desa.


.


"Hmm.. permisi," ucap Rafael.


"Ah, pembeli baru?" ucap Pedagang 1.


"Eh.. bukan, kami ke sini mau mewawancarai kalian, karena tempat kalian berjualan tak jauh dari rumah kepala desa," ucap Michael.


"Memangnya kenapa?" ucap Pedagang 2.


"Apa kalian tak tahu apa yang sedang terjadi saat ini?" ucap Ayaka.


"Ya, kami tahu, katanya kepala desa telah tewas," ucap Pedagang 1.


"Jadi apakah kalian mengetahui sesuatu dibalik semua ini?" ucap Michael.


"Tidak, seharian ini kami berada di tempat ini, menunggu para pembeli yang ingin membeli barang jualan kami," ucap Pedagang 2.


"Tetapi kenapa kalian terlihat sangat asing di sini? Pakaian kalian juga sangat berbeda dari kebanyakan orang di desa ini?" ucap Rafael.


"Ya memang, kami berasal dari daerah yang tak jauh dari desa ini, kami pedagang yang berkelanjutan banyak dunia, setiap beberapa saat sekali kami akan berpindah tempat untuk berdagang di sana," ucap Pedagang 1.


"Hmm.. baiklah, jadi kalian tak mengetahui apapun mengenai kejadian ini?" ucap Michael.


"Sudah kami bilang tadi, kami tak tau apapun soal kejadian ini, jadi kalau kalian tak memiliki kepentingan lain silahkan pergi dari sini!" ucap Pedagang 2.


"Hmm.. ya ya, kami pergi," ucap Rafael.


"Ba-baik, maaf mengganggu waktunya," ucap Ayaka.


.


.


.


"Apa-apaan mereka itu, aku jadi mencurigai mereka," ucap Rafael.


"Tenang dulu, Raf, sekarang kita cari warga lain dan kumpulin informasi yang udah kita dapat dulu," ucap Michael.


"Iya benar," ucap Ayaka.


"Oke deh," ucap Rafael.


.


.


.


Pada akhirnya kedua kelompok penyelidikan kasus pembunuhan kepala desa berjalan cukup baik, setelah beberapa saat berlalu mereka semua berkumpul di balai desa untuk memberitahukan apa saja informasi yang mereka dapatkan.


Sesampainya di balai desa nampak ayah Rezz, beberapa tim otopsi, dan anggota keamanan telah berkumpul, karena itu Russel dan teman-temannya pun segera duduk dan bersiap untuk memulai rapat.


.


.


.


"Baiklah, pertama-tama saya ingin mengucapkan terimakasih kepada kalian semua yang telah bekerja cepat selama beberapa jam ini untuk mengejar waktu menyelidiki kasus pembunuhan kepala desa, khususnya untuk Russel beserta teman-temannya. Maka dari itu sekarang kita berada di balai desa ini untuk mengadakan rapat singkat, mengenai apa saja petunjuk yang telah didapatkan untuk mengusut siapa pembunuh kepala desa," ucap Ayah Rezz.


"Baik, pertama-tama kami dari tim otopsi telah mendapatkan beberapa hasil yang dirasa dapat menjadi petunjuk, yang pertama pada tubuh kepala desa ditemukan luka tusukan yang terdapat di daerah perutnya, total ditemukan 3 buah hasil tusukan yang ada pada tubuh korban, selebihnya tak ditemukan luka berat lain, hanya beberapa luka kecil dan goresan pada kaki korban yang diduga akibat tanah," ucap Juru bicara tim otopsi.


"Hmm, kalau begitu dugaan Mikael bahwa tanah dirumah kepala desa dibakar langsung terpatahkan, karena tak ditemukan luka bakar pada tubuh korban," ucap Russel.


"Eh.. begitu ya," ucap Juru bicara tim forensik.


"Iya, kami hanya menemukan beberapa tanah yang lebih solid muncul seperti bukit ke permukaan, dan beberapa pecahan tanah di sekitar area tersebut," ucap Russel.


"Hmm, jadi dugaan sementara adalah kepala desa dibunuh dengan cara di tusuk ya?" ucap Ayah Rezz.


"Ya, sepertinya begitu," ucap Russel.


"Baik, kalau dari tim pencari informasi bagaimana, apa ada petunjuk yang kalian dapatkan?" ucap Ayah Rezz.


"Hmm.. kami tak menemukan banyak petunjuk, dari hasil wawancara kami tadi, banyak warga desa mengaku tak mendengar adanya kebisingan atau suara teriakan dari dalam rumah kepala desa saat pembunuhan terjadi, beberapa dari warga juga mengaku tak melihat adanya tanda tanda orang yang masuk ke rumah kepala desa tadi pagi, dan selebihnya kami hanya mewawancarai pedagang asing yang tak mengetahui apapun tentang kejadian ini," ucap Ayaka.


"Pedagang asing?" ucap Ayah Rezz.


"Iya, mereka menggunakan pakaian seperti jubah hitam, dan sikapnya gak begitu baik," ucap Rafael.


"Eh.. aku belum pernah mendengar ada orang dengan ciri-ciri seperti itu di desa ini," ucap Ayah Rezz.


"Apakah mereka perlu dicurigai?" ucap Rafael.


"Tenang dulu, untuk sekarang kita tak perlu terlalu terburu-buru, biarkan waktu yang mengungkap siapa pelaku pembunuhan kepala desa ini," ucap Ayah Rezz.


.


*DARRRRR (Mendadak hujan yang cukup deras turun dan muncul kilatan petir).


"Eh? Mendadak hujan?" ucap Russel.


"Anginnya kuat banget, atap balai desa ini seakan mau tertiup," ucap Mikael.


"Kok cuacanya bisa berubah secepat ini? Perasaan tadi cerah?" ucap Rafael.


*DARRRR (Petir menyambar sekali lagi, dan mengantarkan dua orang misterius dengan jubah hitam muncul di tengah tengah balai desa).


"LOH?! ITUKAN?!" ucap Rafael.


"Pedagang misterius tadi?!" ucap Ayaka.


"Bagaimana bisa?!" ucap Russel.


.


.


.


-CHAPTER 75 END-


.


.


.


Apa yang terjadi sebenarnya, dan bagaimana pedagang misterius yang diwawancarai oleh Ayaka, Michael, dan Rafael tadi siang dapat mendadak muncul di tengah-tengah balai desa. Apa tujuan mereka sebenarnya datang pada saat rapat tengah berlangsung, dan siapakah mereka sebenarnya?


Selanjutnya di Another Place - 他の場所 (Hoka No Basho) Chapter 76: Misi Desa Kabut (3)