
Sebelumnya Shi yang berhasil melumpuhkan Ayaka, Michael, Mikael, dan Wisang untuk sementara segera menuju ke arah Russel dan Urami yang sedang bertarung.
"Apakah aku terlambat?" Ucap Shi yang baru saja datang di lokasi tersebut.
"Tidak, kau datang di waktu yang cukup tepat. Aku terkejut ternyata anak ini cukup kuat juga." Ucap Urami
"Ya, seperti yang sudah aku katakan sebelumnya. Kekuatan magnetmu tidak bisa digunakan untuk menarik senjatanya, jadi untuk menghadapinya, sepertinya aku harus turun tangan langsung." Ucap Shi
"Haha.. baiklah.." Ucap Urami
'Apa?! Ayaka, Michael, Mikael, dan Wisang berhasil dikalahkan oleh Shi? Secepat itu pertarungan mereka? Seberapa kuat dia sebenarnya?'
Banyak pertanyaan yang muncul dalam benak Russel.
"Baiklah, sekarang kau sendirian." Ucap Shi
"Cih.." Ucap Russel
"Aku tawarkan sekali lagi, apakah kau ingin menyelesaikan hal ini dengan cepat? Kau hanya perlu menyerahkan senjata legendaris itu kepada kami lalu setelah itu kami tidak akan mengganggumu dan teman-temanmu lagi." Ucap Shi
"Udah berapa kali kubilang, bahwa aku gak akan menyerahkan senjata legendaris ini kepada kalian tanpa perlawanan. Kami yang akan menyelamatkan dunia ini dari orang-orang seperti kalian yang tidak memikirkan nasib orang lain di luar sana yang kalian invasi." Ucap Russel
"Cih, anak seperti dia sepertinya perlu diberikan pelajaran." Ucap Urami
*Urami hendak ingin segera menyerang Russel, tetapi Shi menahannya supaya ia tetap sabar.
"Tunggu dulu, Urami." Ucap Shi
"Hmm.. baiklah.." Ucap Urami
"Apakah kau pernah mengalami keputusasaan?" Ucap Shi kepada Russel.
"Kenapa kau bertanya tentang hal itu?" Ucap Russel
"Tidak ada, aku hanya ingin mendengar pendapatmu mengenai keputusasaan." Ucap Shi
"Hmm.. aku rasa semua orang pasti pernah mengalami kondisi seperti itu." Ucap Russel
"Benar, lantas kenapa kau masih bisa berada di sini sekarang untuk melawan kami. Apa keyakinan yang kau miliki sehingga kau bisa bertahan dan berpegang teguh kepada prinsipmu?" Ucap Shi
"Hmm.. yang membuat aku masih bisa bertahan sampai saat ini tentunya tidak terlepas dari dukungan teman-temanku, orang tua, dan orang-orang yang berada di sekitarku. Sebagai manusia pada umumnya, tentu rasa putus asa selalu datang di saat yang tidak kita duga. Untuk dapat melewatinya merupakan sesuatu yang bisa dibilang tidaklah mudah dan tak sedikit juga manusia yang menyerah akan hal itu. Tetapi bagi diriku sendiri, aku masih memiliki banyak tanggung jawab dan kewajiban yang harus aku penuhi di dalam hidupku." Ucap Russel
"Apa saja tanggung jawab dan kewajiban itu?" Ucap Shi
"Tentunya tidak bisa ku jelaskan satu persatu, yang pasti tanggung jawabku saat ini adalah untuk mempertahankan senjata legendaris agar tidak jatuh ke tangan kalian." Ucap Russel
"Cih, sombong sekali anak ini.." Ucap Urami
"Tenang dulu, Urami." Ucap Shi
"Apa kau tidak terlalu membuang banyak waktu dengan mengajak anak ini berbicara?" Ucap Urami
"Aku sudah memperkirakan ini semua." Ucap Shi
"Hmm.. baiklah." Ucap Urami
"Sekarang aku yang akan bertanya kepada kalian." Ucap Russel
"Apa?" Ucap Urami
"Baiklah, apa pertanyaanmu?" Ucap Shi
"Apa tujuan kalian melakukan semua hal ini? Kalian menginvasi dimensi lain hanya untuk mengumpulkan senjata-senjata legendaris dari mereka yang tidak bersalah. Hingga kalian datang ke dunia kami sekarang, mengusik kehidupan kami yang normal, hingga menghancurkan gedung sekolah kami. Apa yang sebenarnya kalian rencanakan?" Ucap Russel
"Hmm.. tujuan kami adalah membuat alam semesta ini terjaga dalam kedamaian abadi, di bawah pimpinan Shadow." Ucap Shi
"Tetapi kenapa kalian harus mengusik kedamaian yang sudah ada di dimensi lain, bahkan sekarang di dunia kami? Apakah itu sama saja dengan menghancurkan tujuan kalian sendiri?" Ucap Russel
"Apa yang diketahui bocah seperti dirimu!! Misi ini diberikan langsung oleh Tuan Shadow. Kau tak berhak menghancurkan tujuan kami." Ucap Urami
"Kedamaian seperti apa yang bisa didapatkan dari kehancuran?" Ucap Russel
"Ini terlalu lama, Shi! Aku akan menyerangnya! Bocah ini terlalu sombong!" Ucap Urami yang langsung berlari dengan cepat ke arah Russel
"Urami!! Tunggu dulu!!" Ucap Shi
"Ce-cepat sekali?!" Ucap Russel
Ia berusaha untuk menangkis cakram tersebut dengan Sacred Black Staff miliknya, namun gagal karena kecepatan cakram milik Urami yang sangat tinggi tak sanggup ditahan oleh Russel.
"Akhh!!" Ucap Russel
Ia terjatuh ke arah belakang.
Tak berhenti di situ, Urami yang masih berlari hendak menebas Russel.
"A-apa?!" Ucap Russel
"Rasakanlah keputusasaan ini!!" Ucap Urami
"Ha...." Ucap Russel ketika melihat posisi Urami yang tepat berada di depannya, dan telah siap untuk menebasnya.
"Tamatlah riwayatmu bocah!!" Ucap Urami
*CTANGGG
Seketika cakram yang dipegang oleh Urami terlepas dari tangannya.
"APA?!" Ucap Urami
"TERIMA INI!!!" Ucap Ayaka yang memutar Kusharigamanya
Ia tiba-tiba datang dari arah belakang Urami dan langsung menebasnya hingga Urami terpental cukup jauh.
*BRUKKKKK...
"AKHHH... Si-sialan.." Ucap Urami
"Urami!! Kau tidak apa?!" Ucap Shi
"Hah... kalian datang di saat yang tepat ya.. terimakasih.." Ucap Russel
"Tidak apa.. ini berkat kamu mengulur waktu untuk kami bisa pulih dan segera menuju ke sini." Ucap Ayaka
"Biar aku bantu berdiri, Sel." Ucap Mikael
"Oh makasih, Mik." Ucap Russel
"Haha.. tembakan energiku berhasil mengenai cakramnya ya.." Ucap Rafael menghampiri mereka.
"Loh udah sembuh, Raf?" Ucap Wisang
"Yah.. belum sih, kakiku masih pincang." Ucap Rafael
"Jadi serangan yang menyelamatkan aku tadi dari kamu ya.." Ucap Russel
"Yah.. tadi sebenernya hampir aja. Untung aja tembakan energiku gak meleset dan kena ke cakramnya sampe terlempar. Terus juga Ayaka dateng di saat yang tepat, sebelum Urami sadar dengan apa yang sedang terjadi. Ayaka langsung berada di belakangnya dan menebasnya sampe kepental." Ucap Rafael
"Hah.. itulah yang ingin aku sampaikan kepada kalian. Jangan biarkan musuh kalian untuk mendapatkan waktu sedikit pun untuk dapat mengatur strategi dan berpikir langkah selanjutnya. Karena jika musuh kalian dapat mengulur waktu, itu merupakan suatu kesalahan besar yang akan dapat langsung dimanfaatkan musuh untuk dapat melakukan serangan balik." Ucap Russel
"Yah.. mungkin hal itu ada benarnya.." Ucap Wisang
"Ya, sekarang kita udah berkumpul lagi. Apa kita habisi mereka sekarang?" Ucap Michael
"Tindakan mereka sudah terlampau batas." Ucap Mikael
"Akan ku beri tau apa arti putus asa sebenarnya." Ucap Wisang
.
.
.
Russel berhasil mengulur waktu dengan mengajak bicara Shi dan Urami yang membuat Ayaka, Michael, Mikael, dan Wisang dapat bergerak lagi dan segera menolongnya di saat yang tepat. Bersamaan dengan itu, Rafael yang sudah membaik keadaannya juga dapat kembali bertarung. Kondisi sekarang berbalik, Shi dan Urami yang terdesak sepertinya tidak memiliki banyak kesempatan untuk dapat melarikan diri.
Selanjutnya Another Place - 他の場所 (Hoka No Basho) Chapter 36: Kesalahan