
Sebelumnya Russel dan teman-temannya telah menyelesaikan penyelidikan mereka mengenai kasus pembunuhan kepala desa, mereka mendapatkan beberapa informasi dan petunjuk yang cukup berguna dalam membantu penyusutan kasus ini. Beberapa waktu berlalu, dan rapat singkat di balai desa segera dilaksanakan. Di dalam rapat tim otopsi menjelaskan beberapa detail luka yang terdapat pada tubuh korban, kemudian dilanjutkan dengan penjelasan Russel sebagai perwakilan tim investigasi dan juga Ayaka sebagai perwakilan tim pencari informasi. Namun, saat rapat masih tengah berlangsung mendadak hujan disertai petir mengguyur desa, disusul dengan kemunculan dua sosok misterius di tengah ruangan balai kota. Ayaka, Michael, Rafael mengenali dua sosok tersebut sebagai pedagang asing yang mereka wawancarai saat siang hari tadi.
.
"Si-siapa kalian?" ucap salah satu penjaga keamanan.
"Apa tujuan kalian datang ke sini?" ucap Russel.
"Hah.. sepertinya kita sudah terpojok yah.. apa boleh buat.. bagaimana jika kita mulai sekarang saja, Sora?" ucap salah satu dari kedua sosok misterius itu.
"Yah.. kalau begitu, mari kita mulai, Noru!" ucap Sora.
"Noru, Sora? Siapa kalian?" ucap Mikael.
"Wind blaze: Gather!" ucap Noru.
"Apa?!" ucap Russel.
*BWOSHHHHH (Muncul sebuah pusaran angin yang sangat kuat, hingga dapat menarik beberapa objek menuju ke dalam pusarannya).
"A-apa apaan ini?! Angin itu menarik kita ke pusarannya!!" ucap Mikael.
"Berpegangan semuanya!" ucap Ayah Rezz.
"Si-sial! Angin itu kuat banget!" ucap Rafael.
"Bertahanlah Raf!" ucap Wisang.
"Aku rasa ini sudah cukup," ucap Sora.
"Baiklah. Wind blaze: Explode!" ucap Noru.
*BOOOMMMMM (Seketika ledakan kuat muncul dari pusaran angin tersebut, melemparkan semua partikel ke luar, sehingga menghancurkan gedung balai desa dengan sangat parah).
.
"AKHH!!" ucap Mikael.
"Kau gak apa-apa Mik?" ucap Russel.
"Hahh.. untung aja aku sempat make bola pelindung ini," ucap Rafael.
"Yah, makasih Raf bola pelindungnya," ucap Wisang.
"Apa semuanya aman?" ucap Ayaka.
"Yah, cuma Mikael yang kena benturan agak keras, yang lainnya aman," ucap Russel.
"Ta-tapi, balai desanya..," ucap Michael.
"Yah.. karena ledakan dari pusaran angin tadi yang cukup kuat, tembok balai desa ini jadi roboh," ucap Wisang.
"Apakah kita harus mulai menyerang sekarang?" ucap Mikael.
"Sabar dulu, Mik," ucap Russel.
"Ya, lagipula kita masih belum tau kekuatan mereka sepenuhnya," ucap Wisang.
"Hanya orang satu itu yang baru saja menggunakan teknik elemen angin yang cukup kuat," ucap Rafael sambil menunjuk ke arah Noru.
"Kalian semua tak apa?" ucap Ayah Rezz.
"Ya.. kami semua baik-baik saja," ucap Russel.
"Untunglah, kalau begitu apakah sebaiknya kita mundur terlebih dahulu, karena jika kita berada di sekitar sini akan berbahaya, sisanya akan diurus oleh petugas keamanan desa kabut," ucap Ayah Rezz.
"Tidak apa, karena tujuan kami datang ke sini adalah untuk menungkap dalang dibalik teror yang terjadi di desa kabut, dan sepertinya hal itu ada hubungannya dengan dua orang di sana," ucap Russel.
"Hmm.. baiklah aku mengerti, tetapi kalian harus tetap berada di belakang petugas keamanan, jangan mencoba untuk melakukan serangan tanpa aba-aba," ucap Ayah Rezz.
"Baiklah kami mengerti," ucap Russel.
.
.
.
Setelah beberapa saat kemudian, akhirnya Sora dan Noru mulai berbicara.
"Baiklah, kami di sini tak akan berbicara banyak, kami hanya meminta kalian untuk menyerahkan senjata legendaris yang ada di desa ini, dan semua teror akan berakhir," ucap Sora.
"Apa-apaan itu?" ucap Rafael.
"Mereka terlalu meremehkan kita," ucap Mikael.
"Hmm.. mereka malah bernegosiasi seperti ini," ucap Wisang.
"Menurutmu gimana, Sel?" ucap Michael.
"Yah.. tentunya kita harus mempertahankan senjata legendaris itu, jangan sampai jatuh ke tangan mereka," ucap Russel.
"Kau benar," ucap Ayah Rezz.
"Bagaimana? Apakah kalian mau menyerahkannya?" ucap Sora.
"Kami tak akan mau menyerahkannya, bodoh!" ucap salah satu petugas keamanan.
"Beraninya kau?!" ucap Noru.
"Ha.. kau terlalu meremehkan kami," ucap Sora.
"Kalau kalian tahu, kami bisa saja memusnahkan kalian semua dalam waktu satu malam saja," ucap Noru.
"Cih! Sombongnya!" ucap salah satu petugas keamanan.
"Sialan kalian!!" ucap petugas keamanan lain yang langsung berlari menuju ke arah Sora dan Noru, berniat menyerang mereka.
.
"Dia lumayan cepat!" ucap Noru.
"Biar aku yang mengatasinya," ucap Sora, ia mengeluarkan dua bilah cakar bermata tiga dan bersiap untuk menyerang petugas keamanan tersebut.
.
"Ke sini kau!!" ucap petugas keamanan yang langsung mencoba untuk menebas Sora.
*TSKKKKK (Sora menusukkan cakarnya ke perut petugas keamanan tersebut).
"AKHHH!!" ucap petugas keamanan tersebut.
"Oi oi oi, sabar dulu, belum apa-apa sudah ada satu korban?!" ucap Mikael.
"Sekarang aku akan menawarkan kepada kalian sekali lagi, apakah kalian ingin menyerahkan senjata legendaris yang ada di desa kabut ini? Dengan itu aku akan melepaskan orang ini," ucap Sora.
"Cih! Mereka licik!" ucap Rafael.
"Atau...," ucap Sora.
.
.
.
"AKHHH...!!" ucap petugas keamanan itu kesakitan.
Sesuatu yang mengerikan terjadi, Sora menggunakan suatu teknik yang dimilikinya, yaitu menarik jiwa korban menggunakan perantara claw dengan satu tusukan kepada tubuh korban. Tetapi jiwa korban tak sepenuhnya tertarik keluar, namun Sora dapat memotong jiwa tersebut dan seketika korban akan tewas setelahnya.
.
.
.
.
"Cih, dia benar-benar licik," ucap Mikael.
"4..," ucap Sora.
"Apa yang harus kita lakukan..?" ucap Ayaka.
"3..," ucap Sora.
"Kita harus menyerahkan senjata nya," ucap Ayah Rezz.
"2..," ucap Sora.
"Ya, kau benar," ucap Russel.
"1..," ucap Sora.
"Ba-baiklah, kami akan menyerahkan senjata tersebut, tetapi lepaskan dia," ucap Russel.
"Terlambat..!!" ucap Sora, menggunakan cakar pada tangan kanannya ia memotong jiwa petugas keamanan tersebut, dan korban tewas seketika itu juga.
"Si-sialan!!" ucap Rafael.
"Ini sudah tidak bisa dibiarkan lagi! Auto-Generated Katana: Phase 1, M4A1 Transform!!" ucap Mikael.
"Sabar dulu, Mik!" ucap Russel.
"Hm?" ucap Noru.
.
Mikael memunculkan Auto-Generated Katana miliknya, dan mengubahnya menjadi sebuah assault rifle berjenis M4A1 dan langsung menghujani Sora dan Noru dengan peluru.
"Heh, boleh juga, tapi masih terlalu lemah, Earth Element: Earth Wall!!" ucap Noru.
.
Seketika muncul dinding tanah yang menjulang dan dinding itu mampu menahan peluru yang ditembakkan oleh senjata Mikael.
"Cih, mereka masih bisa berlindung!" ucap Mikael
"Kita harus sabar, Mik!" ucap Russel.
.
Tetapi..
"Earth Element: Phase 7!" ucap Noru.
Seketika itu juga tanah berguncang, Noru menciptakan gempa bumi dengan kekuatan yang cukup untuk meretakkan tanah di sekitar lokasi tersebut. Dari dalam tanah di bawah balai desa muncul sebuah pilar yang merupakan tempat dimana senjata legendaris desa kabut berada.
"Ha, akhirnya muncul juga, Senpuki of Myth," ucap Sora.
"Aku akan mengambilnya," ucap Noru.
"Sial, mereka menemukannya!" ucap Ayah Rezz.
"Apa yang harus kita lakukan?!" ucap Rafael.
"Kita harus mencegahnya, ayo! Kita serang mereka!" ucap Russel sambil memunculkan Sacred Black Staff.
"Ayo!!" ucap Wisang yang langsung berlari ke arah Sora dan Noru.
"Ya, ayo!" ucap Ayaka, ia mengayunkan Sacred Crimson Kusharigama ke arah Sora.
"Masih berusaha menyerang?!" ucap Sora, ia masih bisa menangkis kusharigama milik Ayaka yang menuju ke arahnya.
.
Sementara itu Senpuki of Myth telah berhasil diambil oleh Noru dan mereka langsung berusaha untuk melarikan diri dari sana.
.
"Selamat tinggal..," ucap Sora, ia melayang ke atas udara, bersama dengan Noru, dan mereka lenyap begitu saja.
"Cih, aku tak bisa menjangkau mereka menggunakan energy ball milikku," ucap Rafael.
"Yah, tak apa Raf," ucap Russel.
"Hah.. mereka berhasil kabur," ucap Michael.
"Kita gagal mencegah mereka mengambil senjata legendarisnya," ucap Wisang.
"Lihat kekacauan yang mereka buat, gempa tadi sangat membawa kehancuran di sini, banyak rumah yang roboh, dan pepohonan tumbang," ucap Ayah Rezz.
"Sialan Sora dan Noru!!" ucap Rafael.
"Tenang Raf! Untuk saat ini kita harus menyelesaikan dampak dari kekacauan barusan, untuk menghadapi mereka, kita akan lakukan di lain waktu," ucap Russel.
"Yah, kau benar," ucap Rafael.
"Syukurlah kita semua selamat," ucap Ayaka.
"Yah.., ayo kita bantu evakuasi warga desa lainnya terlebih dahulu," ucap Michael.
"Baiklah, ayo," ucap Wisang.
Sementara Ayaka, Michael, Rafael, dan Wisang telah duluan bersama yang lainnya mengevakuasi warga akibat gempa barusan, Russel melihat Mikael yang terduduk di antara reruntuhan balai desa.
.
.
.
"Kau gak apa Mik?" ucap Russel.
"Yah.. tapi aku hanya kecewa, kita gagal melindungi senjata legendaris desa ini, bagaimana yang akan terjadi selanjutnya, apakah kita akan bisa mengalahkan mereka?" ucap Mikael.
"Yah.. memang semua ini tak mudah, tetapi menyelesaikan banyak masalah dalam satu waktu justru tak akan banyak menghasilkan solusi, jadi sekarang lebih baik fokus untuk membantu warga desa untuk mengamankan diri mereka akibat gempa, selebihnya kita selesaikan masalah tentang senjata legendaris ini nanti," ucap Russel sambil mengulurkan tangannya untuk membantu Mikael berdiri.
"Hah.. okelah, ayo..," ucap Mikael.
.
.
.
-CHAPTER 76-
.
Kekacauan terjadi di tengah-tengah rapat. Dua sosok misterius yang memperkenalkan diri mereka sebagai Sora dan Noru ternyata memiliki tujuan untuk merebut senjata legendaris yang dimiliki desa kabut.
Akibat kekuatan besar yang ditimbulkan oleh teknik Noru, gempa besar terjadi dan mengakibatkan lokasi senjata legendaris menjadi terungkap, dan ia dapat merebut Senpuki of Myth dari desa kabut, dan membawanya kabur bersama dengan Sora.
Noru teridentifikasi memiliki kekuatan untuk mengendalikan 3 elemen sejauh ini, yaitu air, angin, dan tanah. Sementara itu Sora memiliki kemampuan yang tak masuk akal, dirinya dapat menarik jiwa korban yang tertusuk senjata miliknya.
Mereka berdua bukanlah musuh yang mudah, kini Russel dan teman-temannya harus memikirkan cara untuk menghadapi mereka apabila teror datang kembali untuk kedepannya...
Selanjutnya di Another Place - 他の場所 (Hoka No Basho) Chapter 77: Misi Desa Kabut (4)