Another Place

Another Place
Chapter 72: Kyoto (END)



"Si-siapa kamu?!" ucap Mikael.


"Kau gak perlu tahu siapa aku, karena semuanya akan tiba sebentar lagi," ucap seseorang itu.


"Apa maksudmu?! Lepaskan aku dari sini!" ucap Mikael.


"Kau tidak akan bisa keluar dari sini, berapa kali pun kau mencobanya," ucap orang itu.


"A-apa yang sebenarnya terjadi, kenapa aku ada di sini?!" ucap Mikael.


"Aku akan memberikan sebuah penawaran bagimu, jika kau setuju aku akan mengembalikan dirimu ke dunia asalmu," ucap orang itu.


"Apa?" ucap Mikael.


"Berikan aku senjata legendarismu, setelah itu kau dapat hidup dengan damai," ucap orang itu.


"Ha?! Mana mungkin aku mau menyerahkannya! Coba saja kalau kau bisa mengambilnya dariku!" ucap Mikael.


"Sialan! Rasakan ini!" ucap orang itu.


"Arghhh!!!" ucap Mikael kesakitan.


.


Orang itu menggunakan kekuatannya untuk menyakiti Mikael, nampak seperti bayangan yang mencekik Mikael hingga akhirnya tak sadarkan diri.


"Keras kepala sekali, kalau seperti ini, saatnya menerapkan rencana kedua, dan dengan ini secara perlahan kau akan menjadi pion ku," ucap orang itu.


.


.


.


Sementara itu di dunia nyata, Russel, Ayaka, serta teman-teman yang lain telah sampai di penginapan. Terlihat, Miko hanya terduduk sambil menangis di dalam kamar, sedangkan Mikael masih belum terlihat keberadaannya sedari tadi.


.


"Miko!" ucap Ayaka.


"Fiuh, akhirnya sampe juga, apa yang sebenarnya terjadi?" ucap Wisang.


"Kok Mikael bisa hilang?" ucap Rafael.


"Terakhir kali sih dia masih tidur di sini," ucap Michael.


"Tapi masa secepat itu demamnya pulih?" ucap Russel.


"Tenang dulu semuanya, coba kita tanya kronologinya ke Miko dulu, soalnya dia yang terakhir kali di sini," ucap Tsubaki.


"Be-betul itu," ucap Suiren.


"Jadi, gimana kondisi penginapan pas kamu sampe ke sini Miko?" ucap Russel.


"Ta-tadi, pas aku sampai ke sini, aku coba buat ketuk pintu kamar ini, tapi gak ada respon dari dalam kamar. Jadi aku coba buat nunggu beberapa lama di luar kamar, tapi semakin lama masih aja gak ada respon, karena itu aku coba buat telepon Mikael, dan masih tetap gak ada respon juga. Jadi aku coba buat buka pintu kamarnya, dan ternyata pintunya itu gak terkunci. Aku masuk ke dalam kamar dan gak bisa menemukan Mikael di sini," ucap Miko.


"Hmm.. apa jangan-jangan Mikael diculik?" ucap Rafael.


"Ah, yang bener kamu, Raf," ucap Michael.


"Yakali Mikael diculik, gak mungkin rasanya," ucap Tsubaki.


"Tapi masuk akal juga kalo ada kemungkinan dia diculik, mengingat Mikael kondisinya lagi demam, gak mungkin kalau dia keluar dari penginapan sendiri, soalnya sepatu dan sandal dia masih ada di sini," ucap Russel.


"Ah iya, sendalnya ada di sini, gak mungkin Mikael pergi keluar tanpa alas kaki, udah gitu lagi demam," ucap Ayaka.


"Hmm.. tapi, kalo Mikael diculik.. siapa yang nyulik dia?" ucap Michael.


"Apakah ini kelakuan mereka?" ucap Wisang.


"Yah.. seperti yang kita bicarain waktu itu di onsen, udah beberapa bulan belakangan ini, sama sekali gak ada ancaman lagi yang datang kepada kita," ucap Rafael.


"Aku rasa ada kemungkinan kalo ini ulah mereka," ucap Russel.


"Kalo gitu kita harus secepatnya cari Mikael," ucap Michael.


"Ya, kamu benar," ucap Wisang.


"Kalo gitu kita semua berpencar dan cari Mikael di sekitar area ini, kalo ada petunjuk kalian bisa kirim chat di grup ya," ucap Russel.


"Oke..," ucap Ayaka.


.


.


.


Kemudian mereka sepakat untuk berpencar ke daerah sekeliling penginapan, untuk mencari tanda-tanda keberadaan Mikael. Mereka mulai mencari dari tempat yang ramai dikunjungi orang, hingga ke tempat yang cukup sepi. Selama beberapa jam mereka mencari, namun tetap tak menemukan hasil, dan Mikael masih belum terlihat keberadaannya.


.


"Hah.. kita udah sekitar 1 jam keliling tempat ini, tapi Mikael gak ketemu juga," ucap Rafael.


"Gimana nih sekarang..," ucap Sumire.


"Apa jangan-jangan dia beneran diculik?" ucap Michael.


"Kalo semakin lama Mikael gak ketemu bakalan susah nantinya, soalnya hari ini hari terakhir kita di Kyoto juga," ucap Wisang.


"Ki-kita harus cari cara secepatnya," ucap Suiren.


"Kalo kayak gini, kita harus segera lapor ke pengawas gak sih, soalnya bisa gawat nantinya," ucap Russel.


"Ya, aku setuju," ucap Ayaka.


"Kalo gitu ayo kita lapor keadaan ini ke pengawas," ucap Ayaka.


"Oke, ayo, kita ke penginapan," ucap Tsubaki.


.


.


.


Karena hari mulai sore dan akan semakin gawat apabila tak melakukan tindakan yang tepat, Russel dan yang lainnya memutuskan untuk segera melaporkan keadaan ini kepada pengawas study tour mereka yang berada di penginapan. Sesampainya di penginapan, mereka memutuskan untuk mengecek ke dalam kamar sekali lagi, sebelum melapor kepada pengawas. Namun yang mereka dapatkan di dalam kamar...


.


.


.


"Kita harus cepat lapor ke pengawas," ucap Michael.


"Ya aku tau," ucap Rafael.


"Terus kenapa kita malah ke kamar lagi?" ucap Wisang.


"Aku mau ke toilet dulu," ucap Rafael.


"Kenapa gak daritadi?!" ucap Michael.


"Yaudah lah, gak apa-apa, sekalian cek kamar juga sebelum lapor ke pengawas kan," ucap Russel, sambil membuka kunci pintu kamar penginapan.


*KREEKKK (Pintu kamar terbuka)


.


.


.


"LOH?!" ucap Rafael.


"EHH?!! Kok bisa?!!" ucap Russel.


"Mikael?!!!" ucap Michael.


"Tunggu, kok Mikael bisa tiba-tiba ada di sini?" ucap Tsubaki.


"E-eh.. d-dimana aku? Arghh..," ucap Mikael sambil memegangi kepalanya.


"Kok kamu bisa ada di sini, Mik? Tadi kamu pergi ke mana?" ucap Russel.


"Iya, kan tadi Russel buka kunci pintu kamar ini," ucap Sumire.


"Oi, sadar Mik!" ucap Rafael.


"Eh- ja-jangan!!" ucap Mikael.


"Lah, kenapa lagi ini si Mikael?" ucap Rafael.


"Mik, sadar Mik!" ucap Michael.


"Ah- oh.. untunglah, hahh.. aku capek banget," ucap Mikael.


"Kenapa?" ucap Rafael.


"Emang kamu abis dari mana aja?" ucap Sumire.


"Hmm.. sebaiknya kita harus biarin Mikael istirahat dulu, yang penting kan dia udah ada di sini, mungkin hari ini cukup segini dulu aja," ucap Russel.


"Iya, bener itu," ucap Rafael.


"Yaudah deh, ayo kita kembali ke kamar kita," ucap Tsubaki.


"Oh oke, ayo," ucap Ayaka.


"Yaudah deh," ucap Sumire.


"A-ayo Miko," ucap Suiren


"I-iya," ucap Miko.


.


.


.


Setelah Ayaka, Miko, Sumire, Suiren, dan Tsubaki kembali ke kamar mereka. Kini mereka menunggu hingga kondisi Mikael lebih tenang dan cukup stabil untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.


.


.


.


"Halo kalian semua," ucap Mikael, sambil berjalan menuju ke meja tamu.


"Oh, akhirnya kamu sadar juga Mik," ucap Russel.


"Udah stabil kan?" ucap Michael.


"Coba cerita, gimana tadi kamu bisa hilang dari sini," ucap Rafael.


"Aku hilang?" ucap Mikael.


"Iya, sampe kami nyariin kamu berjam-jam di sekitar sini," ucap Wisang.


"Kamu sebenarnya kemana Mik?" ucap


"Jadi, tadi kan aku tidur, setelah itu aku bangun di tempat yang berbeda, aku juga gak tau tempat apa yang pasti, tapi di sana ada orang berjubah yang mengancam aku dan dia ingin mengambil senjata legendaris ku," ucap Mikael.


"Hmm, aku rasa kejadian ini ada hubungannya sama Kuro dan anak buahnya," ucap Russel.


"Tapi kita gak tau juga, Sel," ucap Rafael.


"Ya, gak ada bukti yang kuat juga," ucap Michael.


"Hmm.. gimana kalo nanti kita pergi bicarain soal ini sama Creator," ucap Russel.


"Boleh tuh," ucap Mikael.


"Ya, aku rasa itu rencana yang paling bagus," ucap Wisang.


"Oke, nanti sehabis kita sampai di Hokkaido," ucap Michael.


"Yaudah, kalo gitu aku mau tidur dulu, sekarang udah lumayan malem juga," ucap Rafael.


"Oke deh," ucap Michael.


"Kalian gak tidur?" ucap Wisang.


"Ya, sebentar lagi lah paling," ucap Mikael.


"Iya," ucap Russel.


.


Sambil mengobrol selama beberapa saat, tak lama setelah itu mereka semua pun tidur cepat malam ini, karena mereka akan melakukan perjalan pulang yang panjang esok hari.


.


.


.


Pagi pun tiba, setelah semalam mereka melalui hari yang panjang, dengan segala kejadian mengejutkan, namun semua itu telah mereka lewati. Sekarang, mereka sudah harus kembali pulang ke Hokkaido, ke rumah mereka masing-masing, dan menjalani keseharian mereka seperti biasa kembali.


Russel, kelompoknya, berserta seluruh siswa segera mengemasi barang bawaan mereka dari kamar masing-masing, dan segera menuju ke stasiun Kyoto, untuk naik kereta kembali ke Hokkaido, dengan satu kali transit di Tokyo terlebih dahulu. Sesampainya mereka di dalam kereta.


.


.


.


"Ya, selesai sudah study tour kita di Kyoto," ucap Russel.


"4 hari yang seru, gak kerasa udah selesai aja," ucap Michael.


"Yah, terimakasih Kyoto selama 4 hari terakhir ini," ucap Wisang.


"Iya sih, banyak kenangannya," ucap Mikael.


"Terutama pas kamu hilang kemaren, Mik," ucap Rafael.


"Diam kamu," ucap Mikael.


"Hahaha," ucap Rafael.


"Yah.. hari-hari biasa bakalan segera dimulai lagi," ucap Russel.


"Hah.. aku bakalan kangen masa-masa ini..," ucap Wisang.


"Oh kereta nya mulai jalan," ucap Mikael.


"Yosh, Hokkaido kami datang!" ucap Michael.


"Selamat tinggal, Kyoto," ucap Wisang.


.


.


.


Sebelumnya, Miko mengatakan bahwa Mikael telah hilang di penginapan. Seketika itu juga, Russel, Ayaka, serta teman-teman yang lain segera menuju ke penginapan dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Sesampainya di penginapan, Miko menjelaskan bahwa ketika ia sampai di penginapan, dari dalam tak ada tanda-tanda keberadaan Mikael sama sekali. Setelah lama menunggu dan tak ada respon juga, Miko memutuskan untuk mencoba masuk ke dalam penginapan yang kebetulan tak terkunci. Sesuai dugaan, memang benar di dalam kamar tak ada Mikael, hanya saja masih ada sandal dan sepatunya di dalam kamar.


Hal itu membuat beberapa spekulasi, pada awalnya mereka menduga bahwa Mikael hanya sedang pergi keluar penginapan. Tetapi setelah mengetahui bahwa sandal dan sepatu Mikael masih tersimpan rapi di dalam kamar, dan ditambah kondisi Mikael yang sedang demam. Mereka mulai mencurigai bahwa mungkin saja Mikael sedang diculik oleh seseorang, ditambah selama beberapa bulan terakhir ini tak ada ancaman yang begitu membahayakan dari Kuro dan anak buahnya.


Pada akhirnya, tak mau berpikiran terlalu jauh terlebih dahulu, mereka memutuskan untuk mencari keberadaan Mikael di sekitar penginapan, sebelum melaporkan keadaan ini kepada pihak yang bertanggung jawab di sekolah mereka.


Sebelum semua itu dilakukan, Rafael merasa ingin pergi ke toilet, sehingga mereka mencoba untuk mengecek ke dalam kamar penginapan sekali lagi. Tiba-tiba ketika mereka masuk, ternyata Mikael berada di dalam sana. Namun, karena kondisi Mikael yang belum stabil, Ayaka, dan kelompoknya memutuskan untuk kembali ke kamar penginapan mereka.


Sementara itu sambil menunggu kondisi Mikael lebih stabil, mereka mengemasi barang bawaan dan oleh-oleh yang mereka beli, setelah itu mereka mengobrol dan akhirnya tidur dan bersiap untuk perjalanan pulang ke Hokkaido esok hari.


.


Study Tour ke Kyoto akhirnya selesai...


.


Selanjutnya di Another Place - 他の場所 (Hoka No Basho) Chapter 73: Pertemuan Dimensi Lain