
Menemui seseorang yang telah membuatnya jatuh hati. Ia bisa memanfaatkan 3 permintaannya itu supaya ia bisa lebih dekat lagi dengannya.
"Aldo kamu mau kemana?" Tanya Anto yang baru saja turun dari tangga.
"Biasa pah, mau ngapelin si doi... do'a in ya pah supaya lancar acaranya... habis itu kita berdua nanti pacaran terus nikah deh, dan punya anak yang banyak... Amin!” ucap Aldo.
"Nikah aja yang di pikirin... sekolah sana dulu yang bener baru nikah.. lagian kamu juga kapan berhenti dari pekerjaanmu itu?! kamu harus fokus sekolah dulu baru kerja!”
" iya pah iya! nanti kalau kontraknya dah habis ya berhenti dan gak bakal memperpanjang lagi,” ucap Aldo dengan rasa jengah. Ia bosan kalau papanya terus saja menyuruhnya berhenti jadi model.
" iya-iya terus! tahun kemarin kamu juga bilang kayak gitu, tapi diam-diam kamu malah memperpanjang satu tahun lagi.”
" yaudah lah pah... kalau papa ngajak aku bicara terus kapan aku bisa pergi ngapelin sama kencan nya.. dah ah aku mau berangkat dulu... bye pa" ucap Aldo sambil berjalan keluar pintu dan menjalankan motornya.
~*~*~*~*~
Angelica merasa begitu kesal dengan Allendra. Ia hanya mengikuti Allendra dari belakang yang terus berjalan menuju apartement nya.
Disisi lain Allendra malah merasa senang, akhirnya ia bisa bersama dengan Angelica. Setelah membuka pintu apartementnya ia masuk ke dalam dan di susul oleh Angelica.
"Itu kamar kita,”ucap Allendra sambil menunjuk sebuah pintu yang ada tulisan "Allica".
"Allica?” ucap Angelica.
"Itu kamar khusus kita... Allica, artinya Allendra dan Angelica... kamu suka nggak?" Ucap Allendra sambil memeluk Angelica dari arah belakang.
“Alay,” ucap Angelica sambil berusaha melepas pelukan dari Allendra.
Allendra yang merasa kesal dengan sikap Angelica yang terus saja menolak pelukan yang ia berikan malah mempererat pelukannya dan menaruh kepalanya di bahu Angelica sambil mencium aroma tubuh Angelica yang menurutnya sangat harum dan membuatnya ketagihan.
Angelica yang merasa kesal dengan sikap Allendra langsung menginjak kakinya dan pergi ke dalam kamar yang ada tulisan Allica.
Allendra merasa kesakitan hanya bisa meringis sambil memegang kakinya. Tapi disisi lain ia juga merasa senang karena Angelica mau masuk kedalam kamarnya.
Kamar itu memang sudah di persiapkan Allendra untuk Angelica. Ia berjanji akan membawa Angelica ke apartement nya menang atau kalau tadi. Tapi dewi keberuntungan berpihak kepadanya sehingga ia bisa memenangkan pertandingan tadi, itu mempermudah semua rencananya.
Dengan senyum yang tidak luntur dari wajahnya, ia menyusul Angelica masuk ke dalam kamarnya.
'Akan aku pastikan kamu akan menjadi milikku, Angelica'
~*~*~*~*~
Dengan langkah lebar ia berjalan menuju ke rumah yang ada di depannya itu. Ia tersenyum sambil membayang reaksi apa yang akan ia dapatkan nanti dai si pemilik rumah.
Ting tong ting tong
Tak lama kemudian pintu rumah itu terbuka dan memperlihatkan seorang laki-laki berumur 20 tahunan memakai baju santai berwarna biru langit.
"Ngapain lo kesini?"
"Angel nya ada gak kak?"
"Ditanya malah balik nanya gimana sih lo Do, Angelica lagi keluar juga! dia lagi gak di rumah.”
Ya, orang yang datang kerumah Angelica dia adalah Aldo.
Ada rasa kecewa di dalam diri Aldo saat mengetahui kalau orang yang ia cari tidak ada di rumahnya.
"Lagi ngelakuin hal yang biasanya ia lakukan... emang kenapa sih?"
"Hal apa kak? gue kesini mau ngajak dia jalan,” jawab Aldo.
"Lo gak perlu tau apa kebiasaannya, lagian gue juga yakin kalau di bakal nolak ajak lo itu.”
"ya elah kak... lo tau dari mana coba kalau dia bakal nolak ajak gue... coba kak Dimas telpon dia bilang kalau ada Aldo yang ganteng ini di rumahnya dan mau ngajak dia jalan... gue yakin dia bakal langsung pulang," ucap Aldo dengan rasa percaya dirinya itu.
Dimas yang mendengar ucapan Aldo merasa geli dan mendadak ingin mutah.
"Percaya diri banget lo jadi orang... pengen mutah gue jadinya... yaudah sana masuk dulu gue mau nelpon Angel.”
"Kak boleh minta kontak sama akun nya dong?!”
"Minta aja sendiri!”
"Ya elah kak pelit amat sih... yang ada kalau gue minta ke dia langsung bisa habis gue di hajar sama dia... pegang tangannya aja gue dihajar.”
Dimas yang mendengar ucapan Aldo langsung tertawa. Sudah ia duga kalau Aldo bakal kena hajar dari Angelica. Dimas bisa melihat kalau Aldo suka sama Angelica. Sedangkan Angelica tidak suka sama Aldo.
"Ketawain aja terus sampai puas sana... terus kapan nelpon Angelicanya kalau lo ketawa terus kak."
"Iya iya bawel amat sih lo... ya udah sana masuk... gue mau nelpon kesayangan gue!”
"Idih pake kesayangan segala lagi...dia itu kesayangan gue kak bukan kesayangannya lo... inget tu kak, gak ada yang boleh ngambil dia dari gue... dia itu milik gue," ucap Aldo dan berjalan ke dalam rumah.
Dimas yang mendengar ucapan hanya bisa menggelengkan kepalanya. Lagian apa salahnya juga kalau manggil adiknya sendiri dengan kesayangan. Toh itu juga bener adanya, Angelica emang kesayangannya.
"Udah gesrek tu otak udangnya! main klaim adik gue miliknya segala. untung lo anak dari rekan kerja gue kalau gak udah gue tendang tu anak dari rumah gue," gerutu Dimas.
"Gue denger kak!”ucap Aldo dari dalam rumah.
Dimas tak memperdulikan ucapan Aldo. Ia lebih memilih menelpon Angelica, ia merasa khawatir sama dia. Seharusnya dia sudah pulang. Ini sudah jam 7 malam dan dia belum pulang juga. Walau ia juga yakin kalau Angelica bisa menjaga dirinya dengan baik tapi tetap saja ia merasa khawatir.
Dimas menelpon Angelica berharap langsung di angkat. Dan harapannya terkabul sekali telpon langsung diangkat.
"Halo?! Angel lo dimana? Kenapa belum pulang?"
"Gue malam ini gak pulang masih ada urusan jadi gak usah nungguin gue pulang Dim!"
"Urusan apa sih? biasanya juga kalau habis balapan juga pulang lo... lo satu kali kan tandingnya malam ini?"
"Iya... gue cuma ada satu kali tanding tadi tapi sekarang gue ada urusan mendadak jadi gak bisa pulang malam ini.”
"Ya udah kalau gitu. Tadinya gue mau bilang kalau ada Aldo disini lagi nyariin lo."
"Suruh dia pulang aja!! Lagian gue juga ogah ketemu sama dia.”
"Ya udah... good night and i love you!”
"Night too and i love you too."
Dimas sekarang merasa senang akhirnya Angelica sudah tidak bersifat dingin lagi walaupun itu hanya kepadanya. Ia tak peduli dengan yang lain yang masih saja di cuekin oleh Angelica penting dirinya nggak.