ANGELICA

ANGELICA
PART 16



Allendra menutupi matanya dari silau cahaya lampu motor yang berjalan menuju ke arahnya.


"Maafin gue ya! tadi gue kebawa emosi. Mungkin bener kata lo, gue lagi sensitif," ucap Angelica dengan lembut.


Allendra membulatkan matanya saat mendengar ucapan Angelica.


Apa dia gak salah denger? Angelica bicara lembut kepadanya.


Keterkejutannya bertambah saat Angelica berjalan mendekatinya dan memeluknya dengan erat seperti orang yang tak mau kehilangan.


"Gue ikuti permainan lo," bisik Angelica.


Allendra tersenyum saat mendengar bisikan Angelica. Itu mempermudah rencana awalnya.


"Jadi kamu udah maafin aku?" Tanya Allendra.


"Iya, seharusnya gue yang minta maaf karena udah mukul lo sampe babak belur gini!” ucap Angelica sambil mengusap lembut wajah Allendra.


"Jadi kamu udah mau balik ke apartement kan?" Tanya Allendra.


Angelica tersenyum saat mendengar pertanyaan Allendra. Sudah ia duga kalau Allendra merencanakan sesuatu.


"Tentu saja. gue bakal balik ke apartement kok," jawab Angelica dengan lembut.


"Ya udah, ayo kita balik!" Ajak Allendra dan langsung menarik tangan Angelica.


"Motor gue?"


"Nanti aku nyuruh orang buat membawa motor kamu ke apartement,” jawab Allendra.


Angelica hanya mengenggukkan kepalanya. Ia mengikuti Allendra sampe di depan motor Allendra.


Angelica merasa risih saat Allendra sengaja mengendarai motornya dengan cepat agar dia memeluk Allendra. Tapi mau gak mau ia harus tetap memeluk cowok itu.


"Kamu mau kamarnya terpisah atau bareng?" Tanya Allendra saat mereka sudah sampai di apartement Allendra.


"Ya terpisahlah.. gue masih normal ya, gue masih pake otak buat mikir gak kayak lo yang gak pake otak!" jawab Angelica dengan nada santai, walau sebenarnya ucapannya itu sangat menyakitkan untuk di dengar. Untung Allendra udah mulai terbiasa dengan sikap Angelica yang satu ini.


"Ya udah kamu pake kamar yang itu aja," ucap Allendra sambil menujuk kamar yang di pintunya ada tulisan "Allica".


Angelica berjalan memasuki kamar itu. Tapi sebelum masuk ia mengucapkan kalimat yang membuat Allendra bingung.


"Inget satu hal!! Bahwa di setiap senyuma terdapat rencana yang sudah tersusun rapi!” ucap Angelica.


"Apa maksudnya?" Tanya Allendra pada dirinya sendiri.


~*~*~*~*~


"Gue udah punya rencana jadi lo gak perlu khawatir lagi," ucap Angelica kepada seseorang yang ada di seberang telepon sana.


"...."


"Udah gue bilang.. gue udah ada rencana, lo tinggal ngikuti rencana yang gue buat!"


"...."


"Hmmm, gue bakal hati-hati kok!"


"...."


"Kali ini kita gak bakal gagal! karena gue udah punya tambang emasnya" ujar Angel dengan yakin.


"...."


"....."


"Ok, bye!" ucap Angelica dan menutup telpon nya.


Angelica tersenyum miring. Saatnya untuk dia beraksi. Udah waktunya ia bertindak. Ia bakal menerima semua resiko dari rencananya ini walau nanti ia bakal terluka.


"Kali ini gue bakal berhasil! gue bakal ngelakuin apa aja agar semua rencana gue berhasil. Gue gak peduli lagi dengan nantinya," ucap Angelica dengan pelan.


Ia berjalan memasuki kamar, kamar yang sekarang akan menjadi kamarnya. Meninggalkan balkon kamar yang terasa hawa dingin malam hari.


Ia menjatuhkan tubuhnya sambil memejamkan matanya. Ia perlu menenangkan fikirannya, setelah satu hari ini ia menguras semua pikirannya.


Ia harus tetap menenangkan fikirannya agar rencananya berjalan dengan lancar. Ia tidak mau kalau nanti rencananya gagal. Ia sudah menunggu saat ini.


"Dengan tambang emas orang itu, gue yakin gue bisa menang... kita liat aja nanti.”


~*~*~*~*~


Sementara di kamar sebelah ada Allendra yang tersenyum bahagia. Ia merasa senang Angelica mau tinggal bersamanya.


"Gue gak bakal ngelepasin lo Angelica."


Allendra terus saja tersenyum. Ia terus terbayang saat Angelica bersikap lembut kepadanya.


Ia tersenyum sampai rasa kantuk datang, membuatnya lama-lama menutup matanya. Ia tertidur dengan perasaan senang.


~*~*~*~*~


Silau sinar matahari mengganggu tidur nyenyaknya, mau tak mau ia harus bangun.


"Eghhhh!” erangnya.


Ia berjalan keluar kamar menuju kamar mandi. Ia melewati dapur, ia melihat orang yang selalu ia pikirkan disetiap detiknya.


"Kamu ngapain?" Tanya Allendra yang memeluk Angelica dari belakang dan meletakkan kepalanya di atas bahu Angelica.


"Masak," jawab singkat Angelica dengan lembut.


"Oh... mau masak apa? Kelihatan enak tu!"


"Rawon.. lo mau makan apa? Nanti gue buatin kalau bisa."


"Aku mau makan kamu aja boleh gak?" Tanya Allendra dengan manja.


Angelica hanya menanggapinya dengan senyuman. Walau dalam hati kecilnya ia merasa jijik dengan semua ucapan yang keluar dari mulut Allendra.


"Lo basuh muka dulu sana!" suruh Angelica.


"Gak ah, aku males. mending disini aja bareng kamu."


"Gak usah jadi jorok lo! udah sana basuh muka dulu syukur kalau mandi sekalian.”


"Iya-iya... bawel banget sih calon istriku ini,” ucap Allendra mencubit pipi Angelica.


"Ihhh... alay banget sih lo!” protes Angelica.


Allendra ketawa keras melihat ekspresi Angelica dan berlari menuju kamar mandi. Sedangkan Angelica mendumel tak jelas, ia kesal dengan sikap Allendra yang menggannggu di pagi hari sudah membuatnya badmood di pagi hari.


~*~*~*~*~