
"ANGELLLL!!!"
Terdengar suara teriakan dari seseorang yang berada di belakang Angelica.
Mendengar namanya di panggil, Angelica membalikkan badannya. Penglihatannya menangkap orang yang sedang ia cari. Ia melihat seorang wanita berambut panjang dengan kulit putih juga wajah yang cantik. Dia adalah Putri. Teman lamanya. Teman yang mengetahui sifat-sifat nya. Teman yang menjadi tempat bercuhat. Teman seperti saudaranya sendiri.
Angelica bisa merasakan senyum di wajahnya sendiri. Sudah lama ia tidak merasakan hal itu. Kecuali saat bersama Dimas.
Putri yang melihat Angelica diam sambil tersenyum saat melihatnya pun merasa begitu senang. Ia langsung berlari kearah Angelica dan memeluknya.
Hangat!!
Satu kata itu yang Angelica rasakan saat mendapatkan pelukan dari teman sekaligus sahabat nya ini. Ia merindukan pelukan hangat ini. Pelukkan yang ia rasakan saat ia merasa sedih. Pelukkan yang menenangkan dirinya saat marah dan emosi.
"gue kangen lo, Angel!!” ucap Putri.
"Gue juga," balas Angelica lalu melepas pelukan.
"Lo dari mana aja?! Kangen banget tau gak gue sama lo!! Udah gak ada kabar!! Semua akun lo juga gak bisa di hubungi... gue kangen banget pokoknya sama lo," ucap Putri lalu kembali memeluk Angelica.
Angelica merasa senang bisa bertemu dengan sahabat nya ini. Ia hanya menikmati kehangatan yang diberikan oleh sahabatnya ini lewat pelukan.
Putri yang menikmati pelukan hangatnya itu. Sampai matanya menemukan sosok pria yang ada di belakang angelica.
Dia adalah Aldo Prasetia. Cowok nyabelin yang pernah ia temui. Teman sekelasnya itu sangat jail. Sayang kalau punya wajah tampan dan terkenal tapi memiliki sifat buruk, pikir Putri.
"Lo ngapain disini?" tanya Putri ke Aldo.
"Suka-suka gue lah... Ini kan juga sekolah gue... Jadi bebas dong gue mau kemana, itu hak gue!! Masalah buat lo?” balas Aldo.
"Resek ya lo!!”
"Kenal?" tanya Angelica ke Putri.
"Siapa? Aldo? Ya kenal lah... Siapa sih yang gak kenal sama ni cowk tengil yang satu ni,” jawab Putri.
"Enak aja... Apaan cowok tengil-cowok tengilan! Gue terkenal karena kegantengan gue! Bukan ketengilan gue."
"Ganteng lo bilang... Iya ganteng kalau dilihat dari lubang sedotan.”
" mata lo katarak ya... Cowok seganteng gue gak perlu dilihat dari lubang sedotan juga udah ganteng dari sono nya... Lo nya aja yang gak bisa nerima takdir baik gue sejak lahir..."
"Hah... Apa lo bilang?!!!"
"Udah selesai apa belum?" tanya Angelica yang mulai jengah dengan kelakuan mereka berdua.
"BELUM!!!” ucap mereka serentak.
Angelica hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar. Dari tadi ia hanya menyaksikan mereka berdua berdebat tanpa henti.
Dari pada melihat Aldo dan Putri berdebat, Angelica memilih pergi meninggalkan mereka berdua.
Ia terus menyusuri setiap lorong yang ia temui. Tujuan utamanya adalah kantin. Karena belum mengetahui letak kantin dimana ia terus berjalan mengikuti arah kakinya berjalan.
Satu tarikan yang Agelica dapatkan saat ia mau berbelok. Tangan-nya terus ditarik sampai di depan sebuah pintu yang sudah kelihatan usang dan tidak terawat lagi. Ia di dorong masuk oleh pria yang menarik tangannya tadi.
"Siapa lo?" tanya Angelica dengan nada dingin.
"Hai!" sapa cowok itu ke Angelica.
"Basi!!” Angelica berdecih saat orang itu menyapanya. Orang yang ternyata adalah teman sebangkunya.
"Hai.. Nameless!” ucap cowok itu.
Ucapan cowok itu berhasil membuat Angelica memalingkan wajahnya ke arah cowok itu.
"Siapa lo?!!!” tanya Angelica sekali lagi.
"Gue?" cowok itu tersenyum. “Gue Allendra... Gue milik lo... Dan lo milik gue!” ucap cowok itu yang tak lain adalah Allendra.
"Brengsek!! Bukan itu maksud gue!! Gue yakin lo udah tau maksud gue... Cepet jawab!!" bentak Angelica.
"Gue Allendra... Gue temen duel lo minggu lalu. Gak mungkin lo ngelupain itu kan?!"
"Brengsekkk... Sekali lo bongkar identitas gue... Habis lo ke gue!” ancam Angelica.
"*** kuda lo!” umpat Angelica.
"Jadi gimana Lica? Atau nameless? Enaknya gue manggil lo apa ya?”
"Brengsekk!” ucap Angelica sambil melayang kan sebuah pukulan ke arah wajah Allendra.
Allendra yang mendapatkan pukulan itu hanya tersenyum. Ia berhasil membuat amarah Angelica meledak. Dengan begini angelica sulit berfikir jernih karena amarahnya yang sedang meledak.
"Jadi gimana?" tanya Allendra.
"Apa syaratnya?" tanya Angelica denga nada dingin.
"Mudah aja... Lo tinggal balapan ulang dengan gue!”
"Ok gue terima tantangan lo!” ucap Angelica dengan yakin.
" ok!! Jadi kali ini taruhannya beda dari yang biasanya.”
"Maksud lo?” tanya Angelica yang merasa bingung dengan perkataan Allendra barusan.
"Iya! kali ini taruhannya beda dari yang kemarin-kemarin.." ucap allendra sambil menunjukkan senyuman liciknya.
"Taruhannya kali ini adalah- Kalau lo menang gue bakal jadi babu lo dan lo juga bebas minta apapun ke gue.." lanjut Allendra.
"Kalau kalah?”
"Lo jadi pacar gue dan nurutin 3 peraturan dari gue"
"Brengsekk!” umpat Angelica lagi dan melayangkan sebuah pukulan lagi ke wajah Allendra.
"Gue bukan cewek murahan yang seenak jidat lo buat lo jadiin taruhan nanti!!! Lo pikir gue sudi nerima tantangan dari lo ini.. Hah!! Jangan ngimpi lo!” ucap Angelica lalu berjalan menuju ke pintu.
"Ya udah berarti siap-siap aja... Semua orang bakal tau siapa lo... Lo cuma cewek pecundang yang gak mau nerima tantangan dari gue!”
Ucapan Allendra berhasil membuat langkah Angelica terhenti. Ia tidak mau identitasnya tebongkar dan dia paling tidak suka di bilang pecundang apalagi orang yang tidak bisa nepatin janjinya sendiri.
"Gue terima tantangan lo... Kalau gue menang lo jadi babu gue selama sebulan dan selama itu gue bisa minta apa aja ke elo! Dan kalau gue kalah gue bakal jadi pacar lo selama sebulan!"
"Enak aja sebulan gak... Lo bakal jadi pacar gue buat selama nya! Dan lo harus nurutin 3 peraturan dari gue.”
"Taik!! Lo mau apa kagak?! Kalau gak mau sebulan, perjanjian batal!”
"3 bulan!”
"Sebulan!"
"2 bulan!”
"Sebulan!”
"Ok sebulan! Tapi inget! Lo harus naatin peraturan yang gue bikin buat lo!”
"Iya kalau lo menang,” ucap Angelica lalu meninggalkan Alllendra sendiri di ruangan itu.
"Gue pastiin gue bakal menang di arena!! Dan gue pastiin bisa dapetin lo, sayang!” ucap akan sambil tersenyum tipis.
~*~*~*~*~
Angelica yang merasa kesal langsung pergi ke kelasnya. Ia tidak jadi pergi ke kanti karena kejadian tadi.
Tak lama setelah itupun bel tanda masuk pun berbunyi.
Allendra masuk kedalam kelas dengan wajah santai meski ia menjadi pusat perhatian semua siswa dan siswi kelas 10 IPA 1 karena wajahnya lebam. Ia tidak memperdulikan semua itu, ia yerus berjalan ke arah bangku mejanya lebih tepatnya di samping Angelica.
Angelica yang masih merasa kesal kepada allendra. Ia memalingkan wajahnya supaya tidak bertatap muka dengan allendra.
"are you ready to be mine?" bisik Allendra ke Angelica.
'Gue gak bakal kalah dalam balapan kali ini... Liat aja nanti!' Batin Angelica.
~*~*~*~*~