
Suara teriakan-teriakan memenuhi di sepanjang jalan. Jalan yang akan menjadi arena balapan. Balapan liar yang akan menentukan nasib mereka.
*Satu
Dua
Tigaaa*...
Suara seorang perempuan yang berdiri di tengah jalan sambil melempar kain putih yang ia pegang ke atas.
Meraka, para pembalap saling menyalib satu sama lain. Melewati setiap tikungan-tikungan dengan lihainya. Mereka hanya fokus pada jalanan dan tidak memerdulikan dengan keadaan di sekitarnya yang terus meneriaki nama mereka. Tujuan mereka hanya satu yaitu garis finis.
Citttttt....
Suara gesekan ban motor dengan jalanan. Yang menandakan pemenangnya sudah berhenti di garis finis.
'Sial!!' upatnya dalam hati.
Dia hanya menatap lawannya dengan senyuman miring. Ia berjalan mendekati lawannya dan membisik sebuah kalimat kepada lawannya yang baru saja ia kalahkan.
"Temui aku di belakang gedung kosong itu," bisiknya dan meninggalkan lawannya yang sedamg memasang wajah geramnya.
~*~*~*~*~
Dia berjalan mendekati orang yang memintanya datang kemari tadi. Lebih tepatnya memintanya ke belakang gedung kosong ini. Dengan rasa kesal karena kekalahannya itu ia terus mendekati orang itu.
Sedangkan orang yang di dekatinya hanya tersenyum, sangat terlihat kelicikan dan rasa bangga pada orang itu.
Saat sudah di depan orang itu siapa sangka hal yang selanjutnya orang itu lakukan. Orang itu menariknya dan memeluknya dengan erat.
"Kamu milikku Angelica... you're mine!!" ucap orang itu.
"Lepas!” ucap Angelica dengan nada dingin dan penuh dengan penekanan. Ia juga berusaha melepaskan diri dari Allendra yang memeluknya dengan erat.
Ya, orang-orang yang balapan tadi adalah Angelica dan Allendra. Mereka balapan karena kesepakatan yang telah mereka buat kemarin.
Allendra akhirnya melepaskan Angelica tapi masih saja menatap Angelica. Entah apa yang harus ia lakukan karena ia tidak bisa berpaling dari Angelica meskipun itu hanya satu detik saja.
"Sesuai perjanjian, kamu harus jadi pacar aku selama sebulan dan kamu harus nurutin 3 peraturan yang aku bikin untuk kamu,” ucap Allendra dengan rasa penuh kemenangan.
Allendra memang merasa senang, sangat senang lebih tepatnya. Ia bisa mengalahkan Angelica jadi ia bisa memiliki Angelica walau cuma satu bulan tapi selama itu juga ia akan terus memikirkan cara agar Angelica bisa menjadi miliknya untuk selamanya.
"Buruan!" ucap Angelica dengan wajah datarnya. Bisa dilihat raut ketidak sukaan dari wajah Angelica.
"Pertama kamu harus menurutin semua keinginanku kalau kamu menolak kamu akan medapat hukuman. Hukumannya sesuai dengan apa yang kamu tolak," ucap Allendra dengan penuh kemenangan.
"Licik!” satu kata yang keluar dari mulut Angelica. Yang hanya di balas sebuah senyuman miring dari Allendra.
"Terserah kamu, yang kedua kalau kamu buat aku marah akan ada pertambahan satu hari dari kesepakatan awal dan yang terakhir kamu gak boleh deket-deket dengan pria manapun selain aku," ucap Allendra dengan penuh kemenangan.
"Gila ya lo!! lo pikir lo siapa, HAH!! itu sama aja gue gak bisa ngapa-ngapain tanpa lo suruh! gue juga yakin kalau lo bakal minta yang aneh-aneh sehingga gue bakal nolak dan lo bisa kasih gue hukuman semau lo... brengsek lo,” ucap Angelica dengan nada ketus.
"Emang itu tujuan aku. Aku bakal ngikat kamu dalam hubungan ini sehingga aku ga bakal merasa kalau cuma aku yang ngerasa kalau kita itu pacaran... kalau kamu tanya aku siapa jawabannya adalah aku pacar kamu mulai sekarang.”
Angelica yang mendengar itupun hanya bisa pasrah karena gak ada yang bisa ia lakukan untuk saat ini. Ini semua juga kesalahannya seharusnya ia tidak menerima tantangan dari Allendra waktu itu, jika saja waktu bisa ia putar balik ia bakal memilih tidak menerima tantangan dari Allendra. Jika sudah begini ia merasa sangat dirugikan dan pihak yang diuntungkan tentu saja Allendra.
"Sialan!" ucap Angelica. Baru saja ia akan pergi dari tempat itu ada sebuah tangan yang menggenggam tangannya siapa lagi kalau bukan tangan Allendra.
"Mau kemana?"
"Pergi!”
"Aku antar!”
"Gak!”
"Kamu nolak, kamu harus aku hukum!” ucap Allendra dengan sebuah senyuman miring.
Allendra sebenarnya tau kalau Angelica akan menolak ajakkannya jadi itu ia jadikan kesempatan untuk bisa bersama Angelica lebih lama lagi.
Angelica yang mendengar perkataan Allendra hanya bisa menggeram kesal. Baru saja ia mendengarkan peraturan gila yang dibuat oleh Allendra sekarang ia harus menanggung semuanya karena melanggar peraturan gila itu.
"Malam ini kamu tidur di apartement ku."
Ucapan Allendra sukses membuat Angelica melotot.
"Gila ya lo... gue gak mau harus tinggal di apartement lo!” tolak Angelica, tentu saja ia menolak dia pikir ia cewek murahan apa.
"yah kamu nolak lagi... jadi hukuman kamu ditambah... sebenernya tadi mau bilang kalau kamu bisa tidur di samping kamar aku. Tapi berhubung kamu nolak lagi, jadi hukuman kamu aku tambah... kamu tidur sekamar denganku... kalau kamu nolak lagi hukuman kamu aku tambah.”
Baru saja ia mau mengajukan protesnya tapi sudah di potong duluan sama Allendra. Ia hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar. Mau tidak mau ia harus nurutin permintaan Allendra kalau dia masih mau selamat. Ia bisa saja menghabisi Allendra saat ini juga tapi ia tidak mau lari tanggung jawabnya. Ia sudah menerima kesepakatan gila ini jadi ia jug harus bisa menerima akibat yang ia dapat kan dari apa yang ia lakukan.
Allendra yang melihat Angelica kesal ia sangat merasa senang. Secara tidak langsung ia bisa mengendalikan Angelica. Ia akan terus berusaha agar Angelica bisa berada di sampingnya terusa dan akan menjadi miliknya untuk selamanya.
"Buruan!” ucap Angelica dengan rasa penuh kekesalannya.
"Ayo!” ucap Allendra sambil menarik tangan Angelica.
~*~*~*~*~