ANGELICA

ANGELICA
PART 21



"Tentu saja bukan, ini bener perusahaannya... bukan orang lain... lo tenang aja... seperti rencana awal, kita goyahkan perusahaannya setelah itu dia akan mengambil uang dari tambang emas lo itu, dengan begitu itu akan memudahkan kita untuk menjebak dia kedalam rencana kita," jelas Dimas secara rinci.


Wait!!!


Apa maksud dari kata 'tambang emas lo itu' ? Apa dia pikir ia suka sama target sendiri. Lelucon macam apa itu, tentu saja itu tidak mungkin.


Dasar kakak gila. Bagaimana bisa kakaknya mengatakan seperti itu disaat ia masih menyukainya.


"Geli gue dengernya, udah ah terserah lo mau lo kasih nama atas siapa terserah lo yang penting tu orang brengsek hancur... kagak peduli gue sama dia... gue mau tidur dulu udah ngantuk... good night!"


"-"


Belum sempat Dimas membalas ucapan Angelica, ia sudah terlebih dulu memutuskan panggilan sepihak.


Ahhh, hari ini ia benar-benar lelah. Haruskah besok ia membolos lagi buat istirahat? Dia butuh me time untuk istirahat dan menenangkan hati dan pikirannya.


Tapi jika ia membolos lagi, ia bakal terkena masalah dengan sekolahnya. Apalagi ia seorang siswa baru, pantaskah untulk membolos 2 hari berturut-turut?. Bagaimana jika ia mendapat surat panggilan wali murid? Ia tak mau menggagu Dimas dan tentunya ia juga belum siap untuk bertemu dengannya.


Ahhh, masa bodo dengan besok, besok pikir besok, sekarang yang ia butuhkan adalah istirahat.


~*~*~*~*~*


"Masak apa?"


"Hmm, cuma roti panggang sama susu doang."


"Ck kenapa gak masak nasi sih? Gue lebih suka sarapan pake nasi ketimbang roti!" ucap Angelica.


"Eh sorry sayang, aku gak tau... kan kamu gak ngasih tau aku jadi aku gak tau... so, jangan nyalahin aku, oke!" Ucap Allen dengan senyuman hangatnya.


Ckk, ayolah! Ini negara Indonesia bukan luar. Mana bisa ia kenyang hanya dengan roti saja. Itu cuma mengganjal perut, bukan sesuatu yang mengenyangkan. Disini 'sebelum makan nasi, namanya bukan makan'.


"Serah lo deh!" acuh Angelica.


Angelica berjalan melewati Allen begitu saja. Ia mengambil panci.


"Buat apaan pancinya?" Tanya Allen penasaran.


"Masak nasi."


"Nanti pulang sekolah aja buatnya, ini udah jam tujuh kurang lima belas menit, mending kamu siap-siap buat berangkat sekolah... gak mungkin kamu bolos lagi kan?"


Sial, ia begitu malas untuk sekolah. Haruskah ia sekolah hari ini? Sepertinya begitu. Ia belum siap jika harus mendapat surat pemanggilan wali murid disaat rasa sukanya kepada Dimas menghilang.


Hufftt


Dengan langkah malas ia kembali ke dalam kamar untuk siap-siap berangkat sekolah. Harusnya dulu ia menolak saja saat disuruh sekolah lagi. Bikin repot di pagi hari saja.


Allen yang melihat Angelica yang malas, tersenyum geli. Begitu menggemaskan wajah gadisnya itu. Ia ingin sekali mencubit dan menggigit gemas pipi tembamnya itu.


Aneh!! Bagaimana bisa seorang gadis memiliki tubuh mungil dan ramping, tapi pipinya berisi alias tembam?.


Ah bodo amat sama itu, hal itu menjadi salah satu point plus yang ada dalam diri Angelica yang membuatnya tertarik. Bukan salahnya, jika ia sudah tertarik dengan Angelica saat pertama kali ia melihatnya. Gadisnya itu sangat menarik, cantik, menggemaskan, tapi ada satu sisi yang membuatnya misterius. Seperti ada suatu hal yang di sembunyikannya, tapi apa?. Itu yang selalu ada di benaknya, dan sampai sekarang ia belum mendapatkan jawaban dari itu.


Dia harus mencari tau tentang hal itu!


Tapi bagaimana caranya? Bertanya langsung? Oh, itu ide yang sangat buruk. Bukannya mendapat jawaban, ia malah akan mendapat tatapan mematikan dari gadisnya itu. Mending ia memdapatkan pukulan yang keras saja dari pada tatapan mematikan dari gadisnya itu. Jika tatapan itu sudah keluar, sudah dipastikan gadisnya akan lebih bersikap dingin dari sekarang. Oh god! Dia tak mau hal itu terjadi. Ia belum berhasil meluluhkan hati gadisnya.


~*~*~*~*~*


Apa yang harus ia lakukan terhadap perasaannya saat ini?


Itu yang terus terlintas di otak cantik Angelica sejak kemarin. Tentu saja menghilangkannya bodoh! Tapi bagaimana caranya?. Apa ia harus membuka hatinya untuk orang lain? Tapi siapa? Allendra? Tentu itu bukan ide yang bagus. Ia bisa masuk jebakan sendiri jika melakukan itu. Senjata makan tuan itu namanya. Aldo? Bisa gila setiap hari jika ia membuka hati untuk orang gila itu. Lagian yang dia lihat dari Aldo, cowok itu cuma tertarik dengan bukan cinta. Bisa gila jika ia beneran cinta sama dia.


"Mikirin apa?" Tanya seseorang yang di belakangnya.


"Mikir siapa yang cocok buat isi di hati gue," jawab Angelica tanpa sadar.


"Hah?"


Ya ampun!!! Apa yang barusan ia katakan. Oh god! Ia melamun dari tadi tapi tak menyadari jika Allen sudah masuk kedalam kamarnya, lebih gila lagi ia menjawab pertanyaan Allen. Bisa ketauan dong dia jika lagi patah hati, malu banget. Ia terus meruntuki ucapannya tadi. Ingatkan dia untuk mengunci kamarnya saat sedang banyak pikiran seperti ini!!.


"Bukan apa-apa... udah ah keluar!! gue mau dandan dulu!"


"Kamu mau dandan pake apa kamu sayang? Bedak aja gak punya," ucap Allen tersenyum geli.


Shit


Dia bahkan sampai lupa kalau dirinya tak pernah memakai alat make-up apapun. Ia sudah terbiasa alami sejak kecil. Lagian dia tidak memakai alat make-up apapun itu, ia cuma memakai pembersih wajah.


Kadang dia heran dengan cewek diluaran sana, mereka rela mengeluarkan banyak uang untuk membeli alat make-up keluaran terbaru. Apa mereka gak sayang sama uangnya? Lagian semua make-up sama saja tak ada bedanya.


"Sial!! Lo sana keluar aja deh, gak usah bikin gue emosi pagi-pagi deh"


"Kok malah marah sih? Aku salah lagi?"


"Serah lo... sana lo keluar, gue mau nyiapin buku dulu.”


"Iya-iya, aku tunggu sarapan di depan ya.”


"Serah!”


~*~*~*~*~*


Ting tong ting tong


"Bentar!” teriak sang pemilik rumah.


Ceklekkk


" ngapain pagi-pagi lo kesini?"


"Hehehee, santai dong kak jangan ngegas tanya-nya."


Ckkk


Gimana gak nge-gas coba? Pagi-pagi si curut satu itu sudah nangkring dirumahnya aja, ganggu orang istirahat saja. Apa gak ada kerjaan itu bocah? Gerutu Dimas dalam hati.


"Gak usah banyak ngomong deh, ngapain lo udah kesini pagi-pagi? Ganggu orang aja,” ucap Dimas dengan kesal.


"Cuma mau jemput my Angel, dia belum berangkatkan?"


"Lo belum tau do? Kan Angelica udah gak tinggal satu rumah lagi sama gue... dia tinggal di apartement sekarang."


"Gak usah canda deh kak.... udah jauh-jauh gue kesini nih!" kesal Aldo.


"Gue gak ada niat buat bercanda... udah deh sana lo pergi dari sini! eneg gue liat muka lo pagi-pagi gini," usir Dimas.


Setelah mengucapkan kalimat itu, Dimas kembali masuk kedalam rumah tak lupa menutup pintunya lagi. Dia tak ingin diganggu orang lagi. Dia butuh istirahat sebelum meeting nanti siang.


Aldo yang sudah biasa diusir seperti ini tak merasa marah atau kesal. Itu tak mengganggu pikirannya. Tapi satu hal yang mengganggu pikirannya saat ini.


My Angel tinggal di apartement? Di apartement siapa? Setaunya kalau Angelica lebih suka tinggal dirumah sendiri ketimbang di apartement.