
"Itu," tunjuk Angelica ke sebuah permain. Permain mengambil boneka yang menggunakan capit dan membutuhkan kosentrasi tinggi untuk menggerakan capit itu supaya bisa mengambil boneka yang diinginkan.
"Boleh... ntar kalau aku berhasil mendapatkan boneka yang ada disana kamu harus mencium aku!!" Ucap Allendra tanpa mau di bantah.
Baru saja Angelica mau memprotes ucapan Allendran. Tapi Allen sudah pergi menuju permainan itu. Yang benar saja! Dia harus mencium pria itu? Tentu saja dia tak mau. Pria itu pikir dia siapa? Berani sekali meminta seperti itu.
"Well!! Dia pacar lo sendiri Angel," hati kecilmya menjawab.
Haisshhhh!!! Kenapa harus kayak gini coba!!! Tau akan terjebak kayak gini, dia akan menolak tawaran Allen dulu. Walau dulu juga tak bisa menolak.
Berbeda dengan Angelica yang sedang uring-uringan dengan pikirannya sendiri. Allen sedang fokus dengan permainan yang sedang ia mainkan. Yang dia pikirkan saat ini, bagaimana caranya untuk mendapatkan boneka yang ada di dalam kotak kaca itu. Dia harus mendapatkannya. Bagaimanapun caranya! Dia penasaran bagaimana rasanya dicium oleh Angel-nya. Dia sangat menanti saat itu.
Allen terlalu fokus dengan permainannya sehingga tak memperdulikan sekitarnya.
Melihat Allen yang begitu fokus dengan permainan itu, Angelica terkekeh geli dalam hati. Begitu lucu kelakuan Allen. Apalagi ekspresi saat gagal mengambil boneka itu. Sungguh itu pemandangan paling lucu dari setiap kelakuan Allen.
Kalau bisa, ia ingin menyaksikan kelakuan Allen yang sekarang setiap hari. Begitu menggemaskan.
"Kalau gak bisa, mending gak usah!" ucap Angel sambil terkekeh.
Dan untuk kesekian kalinya Allen gagal mengeluarkan boneka yang ada di sana.
"Gak!!! Ini pasti ada yang salah dengan mesinnya!!! Masa dari tadi gak ada satupun yang kena!!" Protes Allen.
"Buat mendapatkan boneka itu gak semudah kelihatannya. Sama halnya cinta, kelihatannya begitu mudah buat jatuh cinta!! Tapi nyatanya yang mereka semua rasakan bukanlah cinta. Tapi itu adalah rasa kagum sesaat. Cinta tak semudah itu timbul. Cinta butuh proses yang panjang agar tumbuh rasa itu. Beda lagi dengan cinta pada pandangan pertama!! Bahkan sampai sekarang gue masih belum yakin kalau hal semacam itu memang ada. Karena saat bertemu pertama kali atau bisa di bilang kita baru melihat orang itu, kita langsung mengira kalau kita jatuh cinta kepada orang itu. Menurut gue itu bukan cinta. Yang mereka rasakan pertama kali saat melihat orang lain pasti rasa tertarik bukan cinta. Gak ada cinta yang timbul dalam waktu sekejap. Gue gak tau siapa orang bodoh yang membuat kata 'cinta pada pandangan pertama' karena pada dasarnya hal seperti itu tak ada sama sekali.”Jelas Angelica.
Allen mengerjapkan matanya dengan kagum.
"Sayang kamu dapet kata-kata itu darimana?" Tanya Allen dengan polos.
Good job bro!!! Lo baru saja merusak suasana yang bagus. Allen membatin.
Angelica berdeham untuk menetralkan rasa malunya. Entah setan apa yang merasuki dirinya sehingga berani mengutarakan kalimat seperti itu. Itu sama sekali bukan dirinya!!!.
"Lupain semua ucapan gue tadi, anggap aja angin berlalu!!"
"Mana bisa!!! Ini menyangkut cinta aku ke kamu... aku jatuh cinta sama kamu saat pertama kali melihat kamu di arena saat itu."
Angelica tersenyum miring, "dan gue yakin itu bukan cinta. Itu cuma rasa tertarik dan rasa penasaran lo terhadap gue.”
"Well!! Emang bener saat pertama kali melihat kamu aku merasa kagum, tertarik, sekaligus penasaran sama kamu. Karena baru pertama kali ada yang bisa mengalahkan aku dan itupun dikalahkan oleh seorang cewek.. so hal itu yang membuat aku penasaran dan tertarik sama kamu. Saat itu juga yang ada dipikiran aku cuma bagaimana caranya supaya bisa mendapatkan kamu dan saat itu juga aku sudah mengklaim dirimu, apa salah jika aku menginginkan kamu sayang? Apa salah kalau aku ingin kamu cuma milikku sendiri tanpa ada gangguan dari orang lain? Apakah salah kalau aku menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kamu? Dan apa seburuk itu aku sehingga kamu merasa kalau aku tak pantas berada di sampingmu dan memiliki hatimu?" Ucap Allen memandang dalam manik mata Angelica.
Bisa Angel lihat mata Allen yang melihatkan rasa keputus-asaan. Entah perasaan apa yang saat ini sedang ia rasakan!! Tapi satu yang pasti. Ia tak suka melihat keputus asaan Allen. Ia benar-benar tak suka hal itu. Hatinya menolak keras akan hal itu. Hatinya merasa sakit melihat itu.
Bahkan tanpa ia sadari setetes air matanya jatuh dengan sendirinya. Hatinya kesakitan saat ini. Ada apa dengan hatinya? Ia tak mengerti akan hal itu.
"Terus aku harus gimana? Aku merasa semua usahaku sia-sia, kamu seakan tak mau aku masuk kedalam kehidupanmu. Aku harus gimana Angel?" Lirih Allen.
Allen harus bagaimana? Ia tak tau pria ini harus bagaimana? Ia tak ingin pria ini memasuki kehidupannya!! Tapi hatinya merasa sakit melihat Allen seperti ini. Ia harus bagaimana? Apa yang harus ia lakukan? Apa yang harus ia lakukan kepada pria ini? Apa yang harus ia lakukan terhadap hatinya? Ada apa dengan hatinya?
Cukup sudah!! Ia pusing dengan semua ini. Ia tak mau berada di dalam situasi seperti ini. Sungguh itu menyakitkan.
"Ah, apa aku terlalu cengeng? Maaf ya sayang, seharusnya aku gak menunjukkan sifat cengengku di depan kamu.. padahal aku tau kamu gak suka pria cengeng seperti aku ini," Allen mencoba mencairkan suasana. Tapi apa yang ia dapatkan? Bukannya suasana kembali seperti semula. Tapi air mata yang ia dapatkan. Baik itu air matanya maupun air mata Angel-nya.
Angel-nya??
Masih pantaskah dirinya mengklaim Angelica sebagai miliknya? Sedangkan saat ini ia sudah merasa putus asa dengan semuanya. Ia tak tau harus bagaimana!!. Semua usahanya sia-sia saja. Bahkan tak ada gunanya sama sekali.
Apakah ini saatnya?
Apakah ini waktunya untuk melepas Angel-nya?
Baru beberapa hari ia bisa mendapatkan Angel-nya!! Apakah harus ia lepas setelah susah payah ia mendapatkan Angel-nya.
Tapi apa gunanya semuanya? Semua usahanya sia-sia!!!
"Apa ini saatnya sayang?" Tanya Allen.
"Apa ini saatnya aku melepas kamu? Apa ini yang kamu mau sayang? Kalau itu bisa membuat kamu bahagia, aku bisa apa? Ini pasti saat-saat yang kamu tunggu kan? Mungkin keinginan kamu akan terwujud," lanjut Allen.
Air mata Angelica tak bisa berhenti sekarang. Apa yang sebenarnya kamu inginkan Angel!! Bukankah ini yang kamu inginkan!!! Tapi kenapa kamu merasa sakit? Kenapa hatinya seperti di remuk? Semua ini terasa menyakitkan. Apa ini yang kamu inginkan? Ah, ini memang yang kamu inginkan!!! Tapi kenapa setalah mendapatkannya hatimu merasa kesakitan Angel!!.
Dengan air mata yang terus mengalir dan berat hati Allen harus mengatakan kalimat yang sudah Angel-nya tunggu.
"Sayang... sayang.... sa-yangg," lirih Allen. Ia tak bisa melanjutkan kalimat selanjutnya seakan mulut terkunci rapat. Allen memeluk erat Angel-nya. Ini akan menjadi pelukan terakhirnya.
"Sayang, kenapa susah sekali mengucapkan kalimat itu?" Bisik Allen di telinga Angelica.
"Jangan ucapkan!!"ucap Angelica membalas erat pelukan Allen. Seakan Allen akan pergi selamanya darinya.
Allen menggelengkan kepalanya, "nggak, aku gak mau memaksa kamu di dalam hubungan ini lagi... tapi susah sekali mengucapkannya.”
Tangis Angel semakin menjadi. Mendengar penuturan Allen barusan. Oh God!! Kenapa ini sangat menyakitkan??.
Angel terus menggelengkan kepalanya. Entah apa yang sebenarnya yang ia inginkan? Tapi ia tak mau Allen melepaskannya.
"Sayang, mulai saat ini aku melepas---"