
"Gak ada tawar menawar, pilih!!! lo tidur di luar dan gue mau satu kelompok sama lo, atau lo tetep tidur di kamar tapi gue satu kelompok dengan Chris?" Ucap Angel dengan santai.
Allen memandang tak suka Angel, kesal? Tentu saja ia kesal.
"Dan kamu pasti tau kalau aku gak bakal milih salah satu dari itu"
Angel tersenyum miring, "gak milih, gue pulang kerumah Dimas seminggu"
"Shitt!! Kenapa sekarang kamu mengancam aku?? Dan kamu tau kalau aku paling gak bisa jauh dari kamu, kenapa harus ngasih pilihan yang tak bisa aku pilih!" protes Allen tak terima.
"Itulah serunya, gue mau tau apa yang lo pilih."
"Ck, seharusnya pilihannya itu. Satu kelompok denganku dan mendapat morning kiss atau satu kelompok dengan Chris dan program buat dedek gemes," ucap Allen dengan bangga.
Takkk
Tanpa ba bi bu, Angel mukul kepala Allen dengan sendok yang ada di depannya. Ia berharap setelah ini, otak cowok satu ini bakal bener dan nggak kongslet lagi.
"Lo jadi cowok omes banget sih!!! Gue jadi semakin nyesel kenal sama lo.” Ucapan Angel langsung mendapat delikan tajam dari Allen.
"Apa? Mau marah?? Semakin lo marah, gue bakal beratin hukuman buat lo... tentunya itu nguntungin buat gue," ucap Angel dengan santai.
"Fine!! Satu kelompok dan tidur di kamar sebelah. Puas!!!" Sahut Allen kesal.
"Of course, karena gue lagi seneng. Boleh beliin gue bakso? Tapi satu mangkok berdua," ucap Angel senang.
Allen mengedipkan matanya berkali-kali. Ini Angel-nya kan? Wow!!! Hari ini sepertinya Angel-nya memang sedang dalam tahap keanehan tingkat dewa.
"Sayang, kamu tadi pas berangkat sekolah nggak jatuhkan?"
"Kenapa?"
"Kamu agak aneh hari ini," jujur Allen.
Angel mendelik tajam, " ngomong aja lo jijik makan satu mangkok sama gue.”
Allen kebingungan." Eh, gak gitu sayang.... yaudah aku beli baksonya sekarang juga ya". Ucap Allen dan langsung pergi membeli bakso.
Sebenarnya bukan hanya Allen saja yang bingung dengan Angel. Angel-pun juga merasa aneh dengan dirinya sendiri. Tapi dia juga bingung, kenapa dirinya bisa seperti ini. Dia merasa tak salah makan ataupun jatuh. Tapi kenapa ia merasa aneh dengan dirinya sendiri.
Bodo!!!
Dia tak mau memikirkan hal itu, terserahlah dirinya kenapa. Yang penting dirinya merasa senang sekarang. Tidak peduli dengan tanggapan orang lain tentang dirinya. Yang penting ia sekarang ingin sekali makan bersama Allen. Allen-nya.
Allen-nya??
Angel menggelengkan kepalanya. Wah, sepertinya bukan hanya sikapnya yang aneh, otaknya pun ikut aneh. Sejak kapan dirinya menganggap Allen sebagai miliknya.
Sebenarnya diri gue kenapa sih? Kenapa jadi aneh kayak gini?. Pikir Angel.
Tak lama kemudian, Allen datang dengan semangkuk bakso pesenannya. "Sayang, maaf ya nunggu lama," ucap Allen dengan senyuman.
Angel menggeleng, "gak pa-pa, penting baksonya sudah datang... suapin gue ya,”
"Uhukkk" Allen tersedak salivanya sendiri.
Allen mengerjapkan matanya, "sayang, tadi kamu bilang apa?" Tanya Allen untuk memastikan.
"Suapin!”
"Kenapa? Gak mau nyuapin gue? Kalau gak mau, yaudah bilang aja!!" Jawab Angel dengan kesal.
Allen gelagapan, "eh, bukan itu maksudku sayang... oke, kamu mau aku suapin kan? Sini aku suapin.”
Allen mengambil bakso yang ada di depan Angel, lalu menyuapkan satu bakso ke Angel.
"Emmm, enak!" ucap Angel.
Allen tersenyum bahagia. Angel-nya memang sudah mulai membuka hati untuk dirinya. Senang. Tentu saja dirinya merasa sangat senang bahkan bahagia, sangat bahagia.
"Allen, lo juga harus makan," ucap Angel dan menyuapi Allen. Dan tentu saja suapan itu diterima dengan senang hati oleh Allen.
"Kamu juga sayang, kamu harus makan banyak biar cepet gede!" ucap Allen sambil terkekeh.
Bukan salah dirinya, jika ia mengucapkan itu. Angel memang tomboy, sudah cocok jadi cowok beneran. Tapi sayangnya cuma satu. Tinggi badan. Angel bisa di katakan kurang tinggi. Walau itu cukup ideal untuk cewek seusiannya.
Saat Allen akan menyuapi Angel, Angel menggelengkan kepalanya.
"Kenapa?"
"Gue udah kenyang, kita balik ke kelas aja ya."
"Hmm, ok!" sahut Allen dan mengusap sayang rambut Angel.
~*~*~*~*~
"Hmm, Allen!"
"Iya, kenapa?" Tanya Allen.
"Nanti gue mau balik kerumah Dimas, boleh?" Tanya Angel pelan-pelan.
Allen menatap tajam Angel, "nggak!! Mau ngapain juga kamu kesana?" Jawab Allen kesal.
"Minggu kemarin gue mau balik ke rumah Dimas gak jadi gara-gara lo, gue kangen sama kakak gue!!" kesal Angel.
Allen tersenyum, tentu saja dia mengingat hal itu. Akibat dirinya, Angel-nya tidak jadi pulang. Well, sebenarnya itu semua bukan hanya salah dirinya. Tapi juga salah Angel-nya yang mau menerima dirinya.
"Gara-gara aku? tapi kamu senangkan dengan apa yang aku lakuin," ucap Allen menggoda Angel.
Angel gelagapan, mau gimana lagi. Jujur, waktu itu ia menikmati setiap sentuhan yang di berikan Allen untuk dirinya.
"Ekhmm, terserah apa kata lo... pokoknya gue mau pulang ke rumah!"
"Hahahhaaaa... oke..oke nanti aku antarkan ya?!"
"Hmm"
"Tapi nanti aku ikut nginep ya," pinta Allen.
"Nggak!"
"Tapi aku gak pengen di apartement sendirian sayang," melas Allen.
"itu DL!"
"Kalau gitu kamu gak boleh pergi!!"