ANGELICA

ANGELICA
PART 39



Dengan langkah malas Dimas memasuki rumahnya. Entah kenapa akhir-akhir ini dirinya merasa cepat sekali capek.


Dimas menghembuskan nafasnya dengan keras. Ia rindu adik kesayangannya. Ia ingin rencana balas dendam ini cepat selesai supaya adiknya kembali tinggal bersamanya. Walau keadaannya akan sama seperti ini, rumah terasa sepi dan sunyi. Tapi ia tak mau tinggal sendiri di rumah sebesar ini.


"Kenapa telat pulang?"


Dimas mendongak dan menatap orang yang ada di hadapannya tak percaya.


"Angel? Lo disini?" Tanya Dimas tak percaya.


"Menurut lo? Gue udah nunggu lo dari tadi. Tapi lo nya gak pulang-pulang. Lo sebenernya ngapain aja sih di kantor? Lama banget. Gue capek nunggu lo, masakan gue jadi dingin gara-gara lo!" protes Angel tak terima.


Dimas terkekeh, "kok gue makin gak rela ya kalau lo sama si brengsek itu."


Angel mengernyit bingung, " maksud lo?" Tanya Angel.


Dimas menatap dalam Angel, "gue gak rela kalau lo sama Allendra. Sampe gue mati-pun gue gak bakal ngerestuin hubungan lo sama si brangsek satu itu. Gue gak rela adik gue di lecehin, emang sialan bocah itu. Memang seharusnya dari dulu gue gak harus ngelibatin lo ke dalam rencana sialan ini" ucap Dimas.


Angel mengerjabkan matanya. Ia tak tau harus merespon seperti apa. Karena dia sedikit setuju dengan ucapan Dimas. Kalau saja ia tak ikut dalam rencana balas dendam ini, mungkin sekarang ia masih perawan dan gak akan jatuh hati ke Allen. Tapi apa mau di buat, nasi sudah jadi bubur. Ia tak bisa berbuat apa-apa lagi, ia sudah terlanjur berjalan sejauh ini. Tak mungkin ia akan berhenti di tengah jalan.


"Rencana apa?" Tanya seseorang.


Angel membalikkan badannya dan melihat Allen berdiri disana dengan santai. Apa Allen mendengar semuanya?. Tanya Angel di dalam otaknya.


Dimas berjalan kedepan, "bukan urusan lo!" balas Dimas cuek dan melewati Allen begitu saja.


Allen mengepalkan tangannya, "denger ya calon kakak ipar!! Mau lo ngerestuin hubungan gue sama Angel atau nggak, gue gak peduli!!! Karena dengan ada atau tidaknya restu dari lo, Angel bakal tetep sama gue. Gue gak peduli lo suka atau nggak. Karena cepat atau lambat, Angel bakal hamil anak gue. Jadi lo jangan ikut campur dalam hubung gue sama Angel. Lo bakal tau akibatnya kalau lo berani mengusik ketenangan gue!" ucap Allen dengan tajam.


Dimas menggeram marah di tempat. Ingin sekali ia membunuh ******** satu ini sekarang juga.


"Lo gak tau siapa yang lo ancam saat ini seperti apa!!! Dan gue tegasin sekali lagi ke lo. Angel terluka sedikit akibatnya akan buruk ke lo. Jadi lo jangan macam-macam sama gue!" ucap Dimas tak kalah tajam.


Angel menghela nafas, "kalau lo berdua masih mau debat, gue bakal pergi dari sini!" ancam Angel dan berharap ada yang mau mendengarkannya kali ini.


Dimas menghela nafasnya, ia mencoba untuk mengontrol emosinya kali ini. Tidak mungkin ia membiarkan adiknya pergi dari sini begitu aja, ia sangat merindukan adiknya.


Mata Angel membelalak, "apa lo bilang? Lo belum makan dari siang? Heh Dim, gue udah pernah bilang ke lo jangan pernah telat makan. Kalau lo sakit gimana? Gue males ngurusin orang sakit!" protes Angel.


Dimas tertawa kecil, entah kemana perginya rasa kesal tadi.


"Jangan salahin gue, salahin aja Dave yang ngatur jadwal gue. Gue cuma ngikuti jadwal yang dia buat."


Mata Angel memincing, "Dave gak bakal salah ngatur jadwal, kalau jam istirahat pasti bakal di kosongkan. Gak mungkin Dave teledor kayak gitu. Berhenti nyalahin Dave kalau nyatanya lo sendiri yang salah Dim!" peringat Angel.


"Iya, iya.Gak usah cerewet sekarang ya!, mending lo panasin masakan lo. Gue mau mandi dulu," ucap Dimas dan pergi ke kamarnya.


"Ck, untung lo kakak gue. Kalau nggak udah gue matiin lo!" gumam Angel.


"Sayang!?" Panggil Allen.


Angel menatap Allen bingung, "apa?" Tanya Angel.


"Siapa Dave?"


"Bukan orang penting, cuma sekretaris merangkap sebagai asisten sekaligus."jawab Angel sekenanya lalu pergi ke dapur untuk menghangatkan masakannya.


"Bukan orang penting? Benarkah? Tapi kamu begitu paham seperti apa dia!"


Angel menghentikan langkahnya, "please All!! Jangan munculin rasa cemburu lo saat ini. Gue gak mood untuk debat sama lo. Gue paham dia itu juga karena gue pernah kerja bareng dia. Dia cuma gue anggap sebagai temen doang gak lebih. Dulu, waktu Dimas gak ada di samping gue, dia selalu ada buat gue. Jadi apa salahnya kalau gue paham tentang temen gue sendiri."


"Lalu bagaimana dengan aku? Seberapa kamu gak pernah ngertiin aku!! Kamu gak tau bagaimana perasaanku saat lihat kamu dekat dengan cowok lain selain aku.. kamu gak ngerti Angel!! Aku juga gak mau terlalu terpikat ke kamu. Aku gak mau jadi orang yang selalu cemburu karena itu sama aja nyakitin aku. Tapi aku harus apa Angel?"


"Gue ngerti lo tanpa lo sadari. Gue tau semua tentang lo. Tanpa lo sadari, gue selalu memperhatiin lo setiap saat. Tapi lo aja yang gak ngerti cara gue merhatiin lo. Simpelnya, kalau lo mau gue ngerti lo, lo juga harus ngerti gue gimana." Final Angel.


Allen tertegun mendengar perkataan Angel, ia ingin membalas ucapan itu. Tapi dirinya tidak tau harus membalas dengan apa


"Satu lagi!!! Jangan buat gue semakin badmood cuma gara-gara rasa cemburu lo yang berlebihan. Gue masih gak terima dengan panggilan lo tadi siang ke gue" lanjut Angel.