
Happy reading semuanya🤗
~*~*~*~
Hampa
Itu yang Angel rasakan saat ini. Tatapan kosong. Tak tau harus berbuat apa. Ia baru saja merasakan bahagia, tapi kebahagiaannya hilang dalam sekejap.
Tangan Angel mengepal kuat, mengingat bagaimana Allen memperlakukan dirinya tadi. Semua berbanding terbalik dengan semua ucapannya dulu. Seharusnya sejak awal ia tidak mempercayai kaum yang bernama laki-laki. Mereka brengsek.
"Aldo!?" Panggil Angel.
"Ya, my Angel? Lo butuh apa? Biar gue ambilin."
Angel menatap Aldo, "Telfon Dimas!"
"Buat apa? Lo udah siap ngasih tau ke kak Dimas tentang anak-" Aldo langsung bungkam mendapat tatapan tajam Angel.
"Berisik!! Tinggal telfon apa susahnya sih, siniin hp lo" pinta Angel.
Bak anak yang takut kepada ibunya. Aldo langsung memberikan hp-nya ke Angel.
Angel mengambil hp itu, langsung mendial nomor Dimas.
"Halo?" Dimas di seberang.
"Kita bunuh hari ini." Ucap Angel dan memutuskan sambungan telfon-nya.
Angel menghela nafas, "thanks!" Memberikan HP itu ke Aldo.
Aldo menerima HP-nya, menatap Angel bingung. Apa maksud dari ucapan Angel barusan. Kenapa sekarang ia merasa menjadi orang yang paling **** disini, tak tau apapun. Bahkan kemarin, saat dirinya keluar dari kamar mandi, terkejut melihat keadaan Angel. Kesakitan dan memegang perutnya. Dirinya memang sempat mendengar suara dari luar, tapi ia kira itu hanya pertengkaran kecil sepasang kekasih. Jadi ia memutuskan untuk melanjutkan panggilan alam yang tak bisa ia tunda.
~*~*~*~*~
Angel memutar mata malas.
Didepan matanya sekarang, Dimas sedang mencium Alexa dengan rakus.
"Ekhemmm," suara Angel menghentikan kegiatan mereka.
Dapat ia lihat jika Dimas kesal dengannya, tapi sayangnya tak bisa memarahi dirinya. Dalam hati ia tertawa geli melihat tingkah Dimas. Sedangkan Alexa, wanita itu terlihat merasa lega.
Satu yang ia tahu saat ini, Dimas yang mencium Alexa secara sepihak.
"Lo kapan datang?" tanya-nya dengan nada santai dan kesal.
Sedangkan Alexa merasa gugup dan lega. Ia merapikan penampilannya, serapi mungkin. Kegugupan Alexa semakin menjadi saat Amgel duduk tepat di hadapannya dan menatapnya. Tatapan yang sulit diartikan.
Angel menatap Dimas,"lo yang budek!! Gue udah ketuk berkali-kali!! Jadi gue langsung masuk," ucap Angel.
Dimas mengedikan bahunya," jadi lo mau apa? Urusan gue sama tua bangka itu udah kelar. Gue udah mau bunuh dia, tapi lo ngelarang gue, tapi sekarang lo ingin ngebunuh dia. Sebenarnya lo kenapa sih?" Tanya Dimas kesal.
"Gue mau minta jari tengahnya," pinta Angel.
"Buat apaan? Jari-jari itu punya gue!"
Angel tak mau ribet, "jari sialan itu atau gue?!" Ancam Angel.
Dimas berdecih kesal. Tentu saja ia memilih adiknya. Tapi ia juga gak rela ngebagi jari-jari itu, kan lumayan untuk koleksinya.
"Lo ambil sendiri di lemari, tapi ingat! Cuma jari tengah, gak yang lain!!"
Angel beranjak, tapi berhenti lalu menatap Alexa,"kak Alexa?!" Alexa menatap Angel," kalau gak mau, jangan di paksa. Tendang aja burungnya, biar dia gak macam-macam. Jadi cewek jangan mau di kendalikan sama cowok. Terlebih cowok itu berengsek!" Ucap Angel dan langsung pergi.
Alexa mengerjabkan matanya. Mencerna ucapan Angel barusan.
Sebuah senyuman terbit dari bibir Alexa.
Melihat senyuman Alexa, Dimas merasa semakin kesal kepada Angel, "ANGELLLLLLLL!!!!!!"
~*~*~*~*~
"ANGELLLL... ANGELLLL!!!!"
Dimas menggeram kesal. Kenapa hari ini ia tidak bisa bermesraan dengan Alexa. Selalu saja ada pengganggu. Tadi pagi adik-nya. Dan sekarang! Si bocah sialan itu! Mereka berdua memang cocok.
"Mau apa lo?!" Tanya Angel dengan santai.
Melihat Angel santai, membuat hatinya sedikit lega. Setidaknya, adik-nya itu tidak akan kehilangan kendali untuk menghajar bocah itu.
"Lo masuk ke kamar gue, sekarang!" Bisik Dimas ke Alexa dan Alexa hanya menganggukan kepalanya. Karena ia tidak mau lagi terseret dengan masalah keluarga ini.
"Lo bisa bacakan! Jadi pasti lo udah paham maksudnya itu!"
Allen semakin geram dengan tingkah Angel yang sungguh menyebalkan di matanya.
"apa maksudnya 'nyawa anak dibalas nyawa bokap' apa maksudnya itu!!!! Kenapa kamu ngirim jasad papa bersama dengan kertas sialan ini, dan juga jari papa! KENAPAA!!!" Allen mengatur nafasnya, "ka-kamu gak lagi hamilkan?" Tanya Allen pelan.
Angel tertawa miris,"jadi lo kesini mau apa? Tanya tentang bokap lo.. atau kehamilan gue?"
Allen menelan salivanya susah. Ia sendiri juga bingung dengan semua kejadian kemarin dan hari ini. Bahkan ia sampai kesini pun juga bingung karena apa? Ia hanya emosi saat melihat jasad ayah-nya berada di depan pintu rumahnya. Terlebih saat membaca kertas yang ada di samping ayahnya berlumuran darah dan terdapat jari tengah ayahnya di sela lipatan kertas itu.
Angel tersenyum sinis melihat kebingungan yang terjadi di diri Allen, "see, lo sendiri gak tau tujuan lo apa kesini. Mending lo pergi dari sini. Gue udah muak ngelihat muka lo!" Usir Angel.
Allen mengembalikan kesadarannya, "gimana keadaan anak kita?"
Angel mengernyit bingung, "anak? Anak siapa lo bilang tadi?"
Allen terkekeh sinis,"anak kita. Atau sebenarnya anak yang kamu kandung itu bukan anak-ku?!" Ucap Allen dengan sinis.
Tanpa disadari Allen. Angel mengepalkan tangannya dengan kuat.
"Jadi? Maksud lo kalau gue hamil, itu bukan anak lo?!!"
"Shit! Jangan mancing amarahku, Angel!! Gimana anak-ku?!"
Angel tertawa hambar mendengar ucapan Allen. Sungguh menggelikan.
"Anak lo udah mati!"
Allen tersenyum kecut, "kamu bercanda kan? Gak mungkin anak kita pergi hanya karena benturan kemarin," Allen mencengkram bahu Angel kuat, "jawab sayang, kamu bercanda kan!!" Allen mengguncang tubuh Angel," JAWAB ANGELLL!!" dan mendorong kuat Angel.
Angel yang di dorong kuat pun hampir jatuh dari tangga. Jika saja tidak ada sepasang tangan yang menahan tubuhnya.
Dimas menggeram marah," LO GILA, HAH!!! LO MAU NGEBUNUH ADEK GUE LAGI, HAH!!! lo pergi dari rumah gue sekarang!!!! Lo gak pantes menginjakan kaki disini!" marah Dimas.
Mata Allen memanas. Sungguh, ia tak bermaksud menyakiti Angel-nya, apalagi membunuh Angel-nya. Ia bahkan tak berani memikirkan itu semua. Hatinya menolak itu semua, sedangkan di otaknya masih tidak bisa menerima semua perbuatan Angel terhadap papa-nya. Kenapa harus Angel-nya, kenapa bukan orang lain yang mudah untuk di hancurkannya. Kenapa harus Angel-nya.
Angel-nya? Masih pantas kah ia memanggilnya seperti itu?
"A-Angel?!" Panggil Allen lirih, "anak kita baik-baik aja kan? Semua hal yang ada di pikiran aku tidak benarkan? Kamu pasti bisa nyelamatin anak kita kan?" Lirih Allen.
Angel menatap datar Allen, "perlu gue jelasin ke lo detailnya gimana?" Allen menggelengkan kepalanya, "anak lo udah mati, dan lo sendiri yang telah membunuhnya," ucap Angel yang membuat Allen meneteskan air matanya.
"Kamu bercandakan? Anak kita pasti masih di rahim kamu, aku yakin itu!" Ucap Allen memaksakan tersenyum. Seakan semua yang diucapkan oleh Angel memang hanya sebuah candaan semata.
Angel tertawa hambar, "bahkan gue merasa gak sudi lagi hamil anak lo!" Sarkas Angel, "lo tau? Sekarang gue gak sudi melihat muka lo.. muka seorang ******** yang bisanya cuma mengumbar janji dan kata-kata manis, tapi nyatanya semua itu hanya bullshit semata. Kemana semua janji lo? Kemana semua kata-kata manis lo? Gue udah muak sama lo."
Allen berusaha menggenggam tangan Angel, "sayang, maafin aku?! Semua-nya terjadi secara tiba-tiba. Aku gak bia berfikir jernih untuk itu. Aku mohon maafin aku," pinta Allen.
Angel tersenyum sinis, "sayangnya gue gak mau termakan sama ucapan lo lagi!!" Menatap Allen tajam,"lo harus tau!! Cewek sekali sakit, sampai kapanpun gak akan pernah lupa sama sakit yang tertanam dihatinya, dia akan mengingat itu selamanya, apalagi sakit itu di akibatkan oleh orang yang dia percaya... gue bukan cewek **** yang dengan mudahnya maafin lo. Gue gak mau masuk ke kobangan yang sama. Jadi lebih baik lo pergi dari sini!! Karena mau lo sujud dan mati sekalipun, gue gak peduli. Gue udah muak sama lo," final Angel dan langsung masuk ke dalam kamarnya.
Dimas langsung menyeret Allen keluar.
Sudah cukup ia melihat drama klise antara adiknya dan bocah ini. Ia juga sudah muak. Muak dengan tingkat bocah ini.
Bughhhh
Dimas memukul wajah Allen dengan keras, "itu buat lo yang udah ngehancurin adik gue. Pengen gue ngebunuh lo saat ini, tapi sayangnya gue bisa," Dimas mencengkram kuat kerah baju Allen," gue pernah bilang sama lo, restu gue ke lo itu tergantung gimana lo menyikapi setelah semua perbuatan gue sama Angel selesai. Dan sekarang gue kasih jawaban ke lo. Sampai kapanpun gue gak akan merestui lo sam adik gue!! Jadi mending lo pergi dari sini, sekarang juga!!" Tegas Dimas dan mendorong Allen. Allen tersungkur. Dimas meninggalkannya begitu saja.
Allen menatap nanar kebawah. Apa seperti ini nasib percintaannya? Cinta pertama yang buruk! Sudah kehilangan anaknya, cintanya, dan papanya. Kenapa semua harus hilang di waktu bersamaan.
Aakkkhhhhh!!
Ia juga ingin merasakan kebahagian. Tapi kenapa semua berakhir seperti ini. Ia belum siap kehilangan semuanya.
Sakit!
Saat cintanya menolaknya kembali untuk kesekian kalinya. Tapi kali ini sakitnya berasa berkali-kali lipat saat tau kalau cintanya tidak akan pernah kembali lagi!! Semuanya sudah berakhir. Hubungannya sudah berakhir.
~*~*~*~*~
\-**THE END**\-
**Tunggu ekstra part-nya ya😅 tapi setelah aku benerin part 29😁
Terima kasih🤗
Salam dariku untuk kamu yang baca cerita Angelica😘**