
"sekali lagi gue liat lo semua ngeliatin gue terus, gue pastiin lo semua tinggal nama saat ini juga!" ucap Angelica dengan dingin dan penuh penekanan di setiap katanya. Dan jangan lupa tatapan membunuh yang ia nyalangkan ke semua murid yang ada di kelasnya itu.
Mendengar ancaman dan tatapan itu, semua penghuni kelas itu langsung mengalihkan pandangannya. Baru kali ini mereka melihat Angelica bisa semenyeramkan itu. Gadis yang biasanya cuek dengan sekitar dan bersikap dingin itu sudah marah. Menyeramkan.
Berbeda dengan Allen, ia merasa heran dengan sikap yang ditunjukan gadisnya itu. Tak biasanya gadisnya itu marah. Tapi apa barusan? Gadisnya marah.
Allen juga bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Angelica. Jadi pusat perhatian? Oh, ini bukan pertama kalinya ia jadi pusat perhatian. Ini sudah berkali-kali. Ia juga merasa risih. Tapi mau gimana lagi? Itu resiko yang harus ia terima. Mereka semua gak bakal jera sebelum di beri pelajaran. Ia pasti bakal memukul siapa saja yang sudah kelewatan. Tak peduli senior atau satu angkatan.
Berbeda dengan Angelica, gadisnya itu memilih mengancam dari pada melakukan kekerasan. Padahal bisa saja gadisnya melakukan kekerasan, dengan ilmu beladiri yang di punya, gadisnya tak akan kalah dengan mudah. Bahkan cenderung bakal menang.
Tapi ada yang aneh dari raut wajah Angelica, dan Allendra bisa melihat hal itu. Mungkin buat semua disini tak melihat perubahan dari raut wajah Angelica. Seperti ada sesuatu yang ditahan dalam dirinya. Tapi apa? Apa gadisnya itu ingin melakukan sesuatu?.
Melihat gadisnya berjalan keluar. Allen ikut beranjak dari bangkunya. Ia harus mengikuti gadisnya itu, jangan sampai gadisnya melakukan hal gila yang bisa membahayakan diri gadisnya. Ia tak rela kalau gadisnya terluka sedikitpun. Lebih baik dia saja yang terluka dari pada gadisnya.
Mau apa dia di rooftop?
Allendra bingung dengan arah jalan Angelica menuju rooftop. Mau apa dia kesana pagi-pagi seperti ini? Apa dia mau bertemu dengan Aldo? Sial, pemikiranannya sampai sejauh itu. Membuatnya mendidih saat ini. Mengingat dulu dia pernah memergoki gadisnya itu sedang berpelukan dengan cowok lain selain dirinya. Mengingat itu membuat amarahnya susah terkontrol. Ia tak bisa membiarkan hal itu terjadi untuk kedua kalinya.
"kalau gak mau mati, sekarang juga balik ke kelas! Gak usah ngikutin gue lagi!" ucap Angelica.
Apa maksudnya?
Allendra merasa bingung. Apa yang dimaksud Angelica? Apa hubungan antara mati sama ngikutin?. Baru saja sampai di rooftop langsung di beri ucapan yang tajam seperti itu.
Wait!!!
"Sayang kamu gak mau loncat dari sini kan?" Tanya Allendra dengan panik.
Kenapa ia baru kepikiran. Mati? Rooftop?
Shit!!
Jangan sampai yang ia pikirkan terjadi beneran. Kenapa dari tadi otak-nya selalu aja memikirkan hal negatif. Sekali-kali otaknya harus di laundry supaya bersih.
"Bukan urusan lo! gue mau loncat apa nggak!! sekarang juga lo mending pergi dari sini!!" Perintah Angelica yang tak dihiraukan oleh Allendra.
"Jelas itu urusan aku, kamu sekarang itu pacar aku... jadi semua yang mau kamu lakukan itu aku harus tau!"
"Lo bukan bokap-nyokap gue. Jadi lo gak perlu tau, lagian otak gue masih jalan kali, gak secetek itu... buat loncat dari sini itu urusan gue, bukan lo!"
"Tapi aku pacar kamu!" balas Allendra tak mau kalah.
"Pacar satu bulan gak perlu tau semua tentang gue... mending lo diem aja!" ucap Angelica tajam.
Allendra terdiam sejenak mendengar ucapan tajam Angelica itu. Mengingat hal itu membuatnya merasa sedih. Kanapa gak buat selamanya aja sih? Cuma satu bulan! Itu waktu yang sangat singkat untuknya.
"Walau gimana pun juga aku tetap pa--"
"Banyak bacot lo!"
Brukk
Sebuah pukulan mengenai wajah Allendra. Pukulan yang di layang sendiri oleh Angelica. Pukulan yang dilayangkan sekuat tenaga membuat Allendra jatuh seketika. Pukulan yang membuat sudut bibir Allendra robek dan mengeluarkan sedikit darah.
Shit!!!
"Udah gue bilang buat pergi dari sini kalau lo gak pengen mati saat ini juga."
"Kalau gitu aku pengen mati!" Ujar Allen dengan yakin.
Shit!!!
Ucapan Allendra semakin membuat jiwa pembunuh semakin memuncak. Susah payah tadi ia tahan, tapi sekarang dipancing keluar. Jangan salahkan dirinya jikan nanti ia bakal membunuh Allendra. Cowok itu sendiri yang minta sendiri.
*Brukk
Brukk
Brukk*
Pukulan bertubi-tubi Angelica layangkan ke Allendra. Ia menyerang Allendra membabi buta, tak memberi kesempatan untuk Allendra membalas dirinya. Ia tak memperdulikan dimana dia saat ini. Tak peduli jika nanti Allendra mati di tangannya sendiri. Tak peduli jika ia nanti ketahuan sama pihak sekolah. Yang ia pikirkan saatnya hanya memukul Allendra sampai ia puas.
Puas?
Ia bahkan baru puas jika korbannya mati ditangannya. Tak ada ceritanya jika ia ingin membunuh orang tapi orang itu bisa berjalan normal. Membuat orang itu mati itu sebuah kepuasan yang menyenangkan untuknya. Jikapun orang itu selamat. Orang itu harus sekarat. Rasa puas yang ada dalam dirinya lah yang akan membuat jiwa pembunuh yang ada didalam dirinya tertidur lagi.
~*~*~*~*~*
"Jadi gimana perkembangannya?"
"Sesuai rencana pak, kita sudah berhasil mengambil saham sebesar 45% dari PUTRA CORP. atas nama nona Angelica sebanyak 35% dan atas nama bapak 10%." jelas Dave.
"Bagus, sekarang buat mereka percaya terlebih dahulu dengan kita... ah bukan, maksud gue biarkan dulu mereka semaunya mereka... jika sudah saatnya tarik semua saham itu... tapi gue pengen lo berusaha lagi buat mengambil beberapa persen lagi dari saham disana, setidaknya 3% atau 4% lagi." jelas Dimas.
"Baik pak!"
"Udah gue bilang kalau kita lagi berdua gak usah formal... lo temen gue disini... anggap aja kita lagi ngobrol biasa gak usah kayak lagi di ruang meeting aja!"
"Tapi sekarang kita lagi di kantor pak... tak sopan jika saya bicara non-formal ke anda," balas Dave.
"Serah lo deh Dave... capek gue ngingetin lo terus."
"Capek istirahat lah, bukannya kerja.”
Takkk
Sebuah pena melayang pas mengenai kepala Dave.
"Sial, giliran gue udah kesel baru bicara non-formal, asem bener lo dan udah tau kalau gue capek dan perlu istirahat, tapi lo malah bikin jadwal gue padet banget kayak gini... waras gak sih lo!!!" kesal Dimas.
Dave yang melihat raut kesal Dimas tertawa puas. Ia memang suka mengganggu temannya itu. Apa salah-nya mengganggu temannya sendiri? Biar otak gak di isi sama berkas-berkas sialan itu. Ia sendiri aja suka pusing sendiri jika berhadapan dengan berkas-kantor yang bejibun banyaknya.
"Santai dong Dim, oh ya, habis ini lo ada meeting jam 10."
"Masih lama, gue mau istirahat dulu, gue capek!"
"2 jam lagi Dim... itu waktu sebentar buat lo memahami dan mempelajari materi meeting nanti bukan malah istirahat!"
"Serah lo deh... sana lo keluar," usir Dimas.