
WARNING!!!! TERDAPAT ADEGAN KEKERASAN. BAGI YANG TIDAK BISA MEMBACA PART KEKERASAN, BISA DI SKIP :v
~*~*~*~*~
Brakkk
Dengan kasar Angel membuka pintu itu. Ia manatap tajam pria paruh baya yang tepat lurus pada pandangannya. Ingin sekali ia langsung membunuhnya, tapi keinginannya kali ini tidak akan terjadi. Ia hanya perlu menyiksa pria itu, siksaan yang setara dengan yang selama ini ia alami.
pria paruh baya itu harus membayar mahal atas kematian kakaknya, keluarga terakhirnya. Masih teringat dengan jelas, dimana pria itu menyiksa kakaknya yang sudah tak berdaya.
Angel menghampus air mata yang tiba-tiba keluar dari matanya. Tidak! Ia tak boleh kelihatan lemah saat ini. Ini saatnya ia membalas kematian kakaknya.
Plakkk
Tamparan keras Angel layangkan.
Tak melihat gerakan apapun dari tua bangka itu, Angel kembali menamparnya lebih keras.
Akkhh
"Bangun juga lo, akhirnya!" Sinis Angel.
"Angel, apa-apaan ini!!!" Tanya-nya tak percaya melihat kondisinya, tangan dan kakinya diikat. "Lepasin saya, Angel!!" Perintahnya.
Angel tersenyum miring, mencengkram rahang pria itu, "gue bakal lepasin kalau lo udah membayar semua perbuatan lo ke keluarga gue, tentunya dengan harga yang sepadan." Melepas cengkraman dengan kasar.
Orang itu menatap Angel tak mengerti, "apa maksud kamu Angel? Saya tidak mengerti... lepaskan saya!!" Perintahnya lagi.
Angel tertawa hambar. Melihat wajah pria ini membuatnya muak. Mengingatkannya pada tingkah-tingkahnya yang sudah keterlaluan.
Sudah cukup. Ia tak bisa menahan diri lagi. Tangannya sudah gatal untuk menyiksa pria ini.
Ia mengeluarkan silet dari jaketnya. Merendahkan tubuhnya supaya setara dengan posisi pria tua itu.
"Lo tau? Gue paling suka nyiksa musuh-musuh Dimas dengan silet daripada pisau... silet itu kecil, tapi rasa perih yang diberi gak bisa dibayangkan-"
Akhhh
Teriak orang itu saat Angel mulai mengukir bebas di tangannya dengan silet.
"Ini untuk tangan yang udah menembak kakak gue."
Tangan Angel berpindah ke sudut bibir orang itu, dan kembali mengukir disana sampai ke pipi
Akhhhh
"Dan ini untuk mulut lo yang udah berani mengancam kakak gue."
"LEPASIN SAYA ANGELLL!!!! atau saya akan memberi tahu semua perbuatan kamu ke saya, kepada Andra!! Kamu tahu!? Dia tidak akan tinggal diam jika mengetahui ini semua." Ancam Hengki dan membuat Angel terkekeh.
Angel mulai menguliti lengan Hengki. Darah segar keluar dari lengan Hengki. Darah itu membangkitkan semangat Angel untuk melanjutkan semua ini.
Srakkk
Angel merobek kemeja yang di pakai Hengki. Ia menyayat dada itu. Sayatan demi sayatan ia berikan ke tubuh Hengki.
Ia juga mengukir insial namanya tepat di perut pria itu.
Ia juga memberi sayatan luruh dari perut ke paha. Tepat di kaki pria itu, Angel menguliti-nya.
Berbeda dengan Angel yang merasa senang, Hengki berusaha keras untuk menahan rasa sakit dan perih yang ia terima.
Angel bangkit dan berjalan memutari tubuh Hengki yang penuh dengan karyanya.
Tepat di belakang tubuh Hengki, Angel kembali membuat sayatan di bahu pria itu.
Jlebb
Angel menancapkan siletnya di bahu Hengki. Bersamaan dengan itu, suara teriakan Hengki menggema di ruangan itu.
"Lo juga harus tau sesuatu om! Allen tidak akan meninggalkan saya dalam keadaan apapun! Dia akan melindungi saya! Mungkin memang benar dia tidak akan tinggal diam setelah tau semua ini... tapi tenang saja om, saya sudah menghilangkan semua bukti yang. So, dia tidak akan tau mengenai kematian om."
"Hahahaahahaa," tawa Hengki purau. "Dia akan tau dengan sendirinya. Tanpa bukti-bukti itu dia akan tau kalau kamu yang sudah menculik say- akhhh!!"
Angel memperdalam siletnya di bahu Hengki. Ia sudah muak dengan semua omong kosong tua bangka ini. Ia pergi meninggal Hengki begitu saja.
Selang beberapa waktu, Angel kembali dengan 2 botol di kedua tangannya.
Hengki menelan salivanya susah, "Angel, lebih baik kita bicarakan ini semua dengan baik-baik, okey!! Andra tidak akan suka dengan semua ini dan bahkan kakak kamu yang saya juga gak tahu siapa dia, saya yakin dia gak akan suka- akhhh!" teriak Hengki saat Angel mencabut siletnya dan kembali menancapkannya di bahunya dengan keras.
Mata Angel memerah menahan air matanya yang akan jatuh. Ia tidak suka jika kakaknya di bawa-bawa saat ini. Seketika ingatannya kembali berputar saat kakaknya meregang nyawa di depannya.
Masih teringat dengan jelas saat tua bangka ini menyiksa kakaknya. Menendang tubuh tak berdaya kakaknya. Selalu menggunakan namanya untuk mengancam kakaknya.
Dengan sekuat tenaga, kakaknya tetap bertahan hidup. Karena ia yakin, kakaknya tak ingin pergi meninggalkan dirinya sendirian.
Hingga perjuangan kakaknya untuk bertahan berhenti saat suara letusan pistol menggema.
Sejak saat itu, ia bertekat untuk balas dendam. Ia akan membalas semua rasa sakit yang kakaknya alami. Walau tidak tau bagaimana rupa wajah pria ******** itu, tapi ia tak menyerah begitu saja.
"Jangan pernah lo bawa-bawa kakak gue dalam hal ini... mulut lo gak pantes buat memanggilnya... soal Allen, saya sendiri yang akan memastikan bahwa dia akan lupa dengan lo secepatnya."
"Dia tidak akan tinggal diam saat tau ayahnya di bunuh."
Angel tertawa hambar, "ayah? Siapa? Lo? Gak usah terlalu percaya diri!!! Dia gak akan peduli dengan lo, lo hanya ayah angkatnya. Lo cuma orang asing yang ingin memanfaatkannya."
"Dia terlalu bodoh untuk menyadari semua ini. Dia haus akan kasih sayang. Dan saya yang memberinya semua itu. Dia menganggap saya orang tua kandungnya. Bahkan dia akan memberikan perusahaannya ke say- akhhhhh"
Angel sudah muak dengan khayalan tua bangka ini. Sudah mau mati masih banyak berkhayal. Ia menyiram semua luka itu dengan air garam dan air lemon yang tadi ia bawa.
"Gue bakal membuat dia lupa sama lo... jadi nggak usah banyak berkhayal... untuk orang yang mau mati, khayalan lo terlalu tinggi!!!" Ucap Angel dan langsung mencabut siletnya," jadi sekarang, mending lo nikmatin rasa sakit ini. Tapi jangan mati dulu!! Tahan bentar.. tunggu Dimas kesini!! Karena gue yakin Dimas ingin motong tangan lo, karena tangan lo udah berani menyentuh miliknya!!" Angel langsung pergi meninggalkan Hengki begitu saja.
"Andra tidak akan tinggal diam Angel!!! Ingat itu!!! AKKHHHH!!" Teriak Hengki yang di abaikan oleh Angel.
~*~*~*~*~
Dengan langkah tenang Angel memasuki apartementnya. Ia sudah tidak sabar untuk memberitahukan kabar bahagia yang ia terima beberapa hari yang lalu. Ia yakin Allen akan senang mendengar berita ini.
Angel tersenyum saat melihat Allen duduk sedang barmain hp.
Wait. Allen bermain hp. Sejak kapan hp itu menyala? Apa Allen sudah mengetahui semuanya?
Senyum yang tadinya menghiasi wajah Angel perlahan menghilang saat melihat Allen serius dengan hp-nya. Raut wajah Allen tak terbaca.
"All?" Panggil Angel.
Allen mendongak menatap Angel dengan pandangan yang sulit di artikan.
Allen berjalan mendekati Angel.
"Apa maksudnya ini semua?" Tanya Allen.
Paham akan arah pertanyaan Allen, Angel terkekeh," kenapa? Lo mau marah sama gue karena gue mengambil alih perusahaan bokap lo?" Tajam Angel.
"Angel, aku tanya sekali lagi, apa maksud semua ini?" Tanya Allen mencoba sabar.
"Kenapa lo ingkari janji lo untuk gak buka hp?"
"Itu sekarang gak penting, Angel!!"
"Itu penting buat gue!!! lo gak bisa memegang janji lo sendiri!!!"
"Itu gak penting Angel!!! Kenapa kamu mengambil perusahaan papa, Angel?!!! Kenapa?"
"Pembohong!!" Ucap Angel kecewa.
Allen mencengkram kuat bahu Angel, "itu gak penting. Kenapa mengambil perusahaan papa? Dan DIMANA PAPA GUE ANGELLLL!!!" hilang sudah kesabarannya.
"Mati." Jawab Angel asal.
"Apa?"
"Bokap lo bakal mati."
Brakkkkkk
Allen melempar tubuh Angel dengan kasar dan keras ke dinding. Ia meninggalkan Angel yang merintih kesakitan memegang perutnya.
"Angelll!!!!" teriak Aldo kaget dan langsung menghampari Angel.
Aldo kaget saat melihat darah keluar dari sela kaki Angel. Tak sengaja melihat kertas yang di pegang Angel. Ia mengambilnya dan membukanya.
"Angell... lo.. ha-mil?" Tanya Aldo tak percaya.