ANGELICA

ANGELICA
PART 19



" jadi gimana?"


"Gue udah ngatur semuanya. Lo tinggal ngikuti semua rencana gue."


"Angelica gue tau rencana lo emang bagus. Gue kasih jempol, tapi apa gak ada rencana lain apa? Gue gak mau nantinya lo sendiri yang kejebak sama rencana lo sendiri,” protes Dimas yang tak setuju dengan rencana Angelica. Dimas akui kalau rencana Angelica itu bagus tapi itu sangat beresiko apalagi untuk Angelica.


"Gak ada! itu adalah rencana yang paling pas untuk balas dendam,” jawab Angelica dengan santai.


Dimas mengusap wajahnya dengar kasar. Ia tak habis pikir dengan otaknya Angelica. Adiknya itu memikirkan rencana yang tersusun rapi tapi sangat beresiko.


"Ok.. kali ini gue ngikuti rencana lo. Tapi nanti kalau lo kenapa-kenapa gue gak bakal tinggal diam!”


"Kalau dia udah nangkap gue, ya pasti gue kenapa-kenapa kali.. paling dia cuma mukul wajah gue... tapi itu bagus karena nanti ia nganggep gue itu lemah, saat dia lengah baru gue nunjukin gue yang asli dan lo gak usah macam-macam.. gue bakal hancurin dia lewat tambang emasnya dan lo lewat perusahaannya.. lo cukup buat dia terancam udah cukup.. yang selanjutnya biar gue yang nyelesaiin,”Jelas Angelica.


"Gue gak bisa kayak gini. Mana ada seorang kakak yang tega dan diam aja saat adiknya dalam bahaya.”


***Deg


Deg


Deg***


Hati Angelica terasa ngilu saat mendengar 'mana ada seorang kakak yang tega dan diam aja saat adiknya dalam bahaya'.


'Jadi selama ini lo cuma nganggep gue cuma adik lo dan gak lebih' pikir Angelica.


Angelica berusaha mempertahankan ekspresi santai-nya walau sebenarnya ia merasa sakit. Sakit di dalam hatinya, ya ia akui kalau ia sudah menyukai Dimas. Ia berharap hubungannya dan Dimas bisa lebih dari kakak-adik. Tapi mendengar ucapan Dimas tadi benar-benar membuat hatinta sakit.


"Lo gak usah lebay. Gue bakal baik-baik aja, lo gak usah khawatir kayak gitu. Lo cuma tinggal ngikuti rencana yang gue bikin dan gak usah banyak protes" ucap Angelica setenang mungkin.


"Gimana gak protes.. lagian kamu buat rencananya mendadak dan itu juga bahaya!"


"Udah ah.. kalau lo gak mau ngikuti rencana gue biar gue aja yang ngelakuinnya," ucap Angelica. Dan langsung berdiri meninggalkan Dimas begitu saja.


"Yakkkk!!! Angel!!! Angelica!" Dimas terus memanggil Angelica tapi tak di hiraukan oleh Angelica.


Gimana ceritanya kok gue bisa suka sama lo sih Dim? Udah tau kalau lo cuma nganggep gue adek gak lebih.. bodohnya gue malah suka sama lo.


Angelica terus merutuki dirinya. Ia terus berjalan meninggalkan cafenya.


Tadi pagi dia memang membuat janji bertemu dengan Dimas untuk membahas rencana selanjutnya yang akan mereka lakukan untuk balas dendam.


Balas dendam yang ia tunggu dari dulu, tak mungkin ia sia-siakan begitu saja mengingat sudah satu tahun lamanya dia menemukan si keparat brengsek itu. Sangat bodoh jika dia menyia-nyiakan kesempatan yang ada jika ia tidak segera mengambil langkah berbahaya ini.


Ia tau resiko dari cara yang ia lakukan saat ini, itu bisa membuatnya hancur jika tak berhati-hati. Salah satu langkah saja ia bisa masuk keperangkap sendiri. Tapi mau gimana lagi? Ia tak punya cara lain untuk balas dendam. Ini adalah cara yang paling ampuh untuk dilakukan.


Tapi kenapa harus sekarang? Kenapa harus sekarang hatinya terluka? Baru saja ia merasa bahagia karena menemukan si brengsek itu tapi hatinya merasa sakit karna ulahnya sendiri. Kesalahan yang tak sengaja ia buat sendiri. Kenapa bisa ia bisa suka sama kakak angkatnya sendiri? Padahal dirinya tau kalau rasa suka itu tidak akan pernah terbalas, tapi kenapa ia membiarkan rasa itu tetap ada untuk kakaknya.


Sialan!


Dengan kecepatan di atas rata-rata Angelica melajukan motor kesayangannya. Balapan? Itu yang dia inginkan sekarang. Balapan salah satu pelariannya jika dia merasa down. Tapi rasanya mustahil balapan disiang hari. Bisa mati dia tertangkap polisi.


Sial, dia lupa memberitahu Allendra, ia harus memberitahu cowok itu. Bisa pusing tujuh keliling dia jika pulang nanti di serbu banyak pertanyaan sedangkan dirinya sedang dalam mood buruk yang bisa-bisa langsung menghajar Allen sampai babak belur jika hal itu terjadi.


~*~*~*~*~*


Ting


*From : Mine❤


Gw plg tlt, da ursan ptg*.


Allendra tersenyum geli membaca pesan yang dikirimkan oleh kekasihnya itu. Ia bisa gila sendiri jika terus membaca pesan itu, tapi ia tak bisa berhenti untuk membacanya. Padahal tidak ada kata romantis atau menarik dari pesan itu.


"Al lo udah minum obat belum?" Tanya Briyan yang kebetulan duduk di samping Allen. Ia merasa heran dengan temannya itu, tak biasa tersenyum seperti itu. Bahkan ia tadi sempai berfikir jika temannya itu sedang kerasukan, ia jadi bergidik ngeri jika hal itu benaran terjadi.


"Kenapa?"


"Lo kerasukan apa belum minum obat sih? Liat pesan satu aja senyam-senyum kayak orang gila. Belum minum obat ya?" Tanya Briyan bergidik ngeri.


"Terserah," ucap Allen lalu meninggalkan Briyan begitu saja.


Mata Briyan membulat mendengar jawaban dari temannya itu. Wah!! Beneran kesurupan nih orang. Pikir Briyan. Ditanya apa jawabnya apa, bener-bener ajaib kelakuan temannya yang satu ini. Tak biasanya temannya seperti itu.


"Kerasukan jin mana sih tuh bocah?" Tanya Briyan yang entah kepada siapa.


Wait, dia seperti lupa akan sesuatu, tapi apa?. Briyan terus berfikir apa yang ia lupakan.


Ah sial, dia ingat sekarang.


"Woiiiii!!! Allendra sialan, siapa yang bayar makanan lo *****!!!" teriak Briyan tak terima dengan kelakuan sahabatnya yang sialnya sedang kerasukan entah jin mana yang mau saja merasuki tubuh temen gilanya itu.


~*~*~*~*~*


Dimas memijat keningnya berulang kali, ia pusing memikirkan balas dendam, memikirkan adik kesayangannya Angelica, bahkan memikirkan rencana gila yang di buat adiknya itu.


Ia tidak tau lagi, gimana caranya supaya menghentikan rencana yang sedang dijalankan adiknya itu. Ia tidak mau adiknya menjadi salah satu korban di rencana adiknya sendiri.


Gila memang adiknya itu, bagaimana bisa adiknya bermain perasaan untuk objek balas dendamnya. Tidak ada obat yang bisa mengobati rasa sakit hati, jika sampai adiknya itu sampai memakai perasaan saat memerankan perannya untuk balas dendam bisa hancur hati adiknya. Pilihannya adalah orang yang di citainya atau rencana balas dendamnya. Kedua pilihan itu beresiko besar untuk adiknya.


"Argghhhhhh!!!" teriaknya mengacak-acak rambutnya.


Bisa gila dia jika terus memikirkan hal ini. Ia harus bisa mencegah adiknya bagaimanapun caranya. Tapi bagaimana? Jika adiknya sudah mengatakan iya berarti iya. Dan itu berarti akan susah buat menghentikan rencana adiknya. Hanya ada satu solusi yang bisa ia lakukan untuk melindungi adiknya.


Jangan pernah membiarkan adiknya terjebak di kobangan permainan yang ia buat sendiri, apalagi menggunakan perasaan kepada targetnya sendiri.


~*~*~*~*~*