ANGELICA

ANGELICA
PART 41



"Ngapain masuk ke sini?" Tanya Angel ke Allen.


Allen tersenyum menatap Angel dengan penuh rasa sayang. Seperti tak ada rasa bosan yang hadir di dalam hatinya saat manatap wajah cantik wanitanya. Ada rasa senang saat mengetahui bahwa sekarang hanya dirinyalah pemilik Angel. Bukan hanya sekarang tapi nanti dan selamanya, Angel akan tetap menjadi miliknya. Tidak ada yang bisa mengganti semua itu.


"Di tanya malah senyum-senyum sendiri, waraskan?"


"Gak pa-pa, cuma mau lihat kamar kamu aja.. ternyata rapi ya," ucap Allen dan mengangguk-anggukan kepalanya.


Angel menatap curiga ke Allen, " kamu gak lagi ngelakuin yang aneh kan?" Selidik Angel.


"Kamu curigaan mulu jadi orang."


Angel mengedikkan bahunya, cuek. Ia berjalan ke ranjangnya. Ia sungguh rindu dengan ranjangnya, sudah hampir satu bulan ia tak menempati tempat ini.


"Ahhh" desis Angel saat rasa nyaman itu hadir waktu ia rebahan di atas kasurnya ini.


Allen tertawa kecil saat mendenger suara Angel, "kamu kayak lagi ngapain aja."


Angel langsung duduk dan menatap Allen bingung, " maksud kamu?"


Allen berjalan dan duduk disamping Angel. Ia tersenyum dan menatap Angel dalam.


"Dari pada aku jelasin, mending langsung praktekin aja gimana? Aku yakin kamu akan suka," ucap Allen dengan lembut.


Belum sempat Angel mengeluarkan suaranya, ia dapat merasakan kalau bibir Allen mendarat tepat di bibirnya. Entah apa yang harus ia lakukan? Ia bingung harus berbuat apa! Walau ia dan Allen cukup sering berciuman. Tapi tetap saja ia masih merasa aneh dengan semua ini.


"Balas ciumanku sayang" ucap Allen


Bak sebuah mantra, Angel melakukan apa yang di ucapkan Allen.


Ciuman yang tadinya lembut tanpa nafsu, sekarang menjadi semakin liar.


Entah siapa yang mulai terlebih dahulu, tapi semua itu terjadi begitu saja. Tanpa adanya paksaan.


~*~*~*~*~


"Angel," ucapnya tanpa sandar.


Putri, nama sahabatnya di sebut oleh orang yang ada di depannya hanya bisa mendengus pelan. Bagaimanapun juga, dirinya hanyalah tempat pelarian saja.


Dengan berat hati, ia pergi meninggalkan tempat itu bersama dengan orang yang seharusnya tak ia miliki.


Seharusnya ini ia lakukan sejak awal, sehingga ia tak akan jatuh sedalam ini. Dia udah tau kalau akhirnya akan seperti ini. Tapi kenapa rasanya masih terasa sangat sakit.


Gila memang!!!


"Kenapa sakit banget rasanya!" lirih Putri dan tanpa ia sadari air matanya mulai menetes.


Kenapa rasanya seperti ini? Kenapa harus sahabatnya yang jadi tempat untuk hati pria itu berlabuh? Kenapa harus sahabatnya sendiri?


Ini semua gak adil untuk dirinya!! sahabatnya sekarang sudah bahagia, tapi kapan dirinya akan merasakan bahagia jika orang yang bisa membuatnya bahagia hanya bisa menatap sahabatnya saja tanpa mau melihat dirinya.


hiks hiks hiks


"Sudah nangisnya?"


Putri mengangkat kepalanya, lalu ia tertawa lirih saat melihat orang yang berbicara.


"Apa hak lo bertanya ke gue.. ini bukan urusan lo... minggir lo."


Baru beberapa langkah ia berjalan. Tangannya di tarik orang itu dan berakhir di pelukkannya.


Orang itu menghembuskan nafasnya, " nangis gih, mumpung aku lagi baik minjemin bahu aku buat kamu."


Tangisan Putri semakin menjadi. Rasanya berkali lipat lebih sakit dari yang tadi.


"Kenapa sakit banget Do? Kenapa harus Angel, Do? Kenapa?"


Aldo tak menjawab ucapan Putri, ia terus mengelus lembut rambut Putri.


"Jawab Do!! kenapa harus Angel!! Kenapa harus sahabat gue sendiri?!!! Kenapa harus dia?" Ucap Putri dengan lirih.


"Bukannya udah jelas?" Balas Aldo.


Putri menatap Aldo bingung.


Aldo tersenyum dan menangkup wajah Putri, " Angel sudah aku anggap sebagai adik... lain halnya dengan kamu, kamu milikku yang gak boleh di sentuh sama orang lain karena kamu cuma milikku. Tadi aku tanpa sadar memanggil nama Angel, aku juga gak tau kenapa tiba-tiba memanggil namanya. Aku merasa terjadi sesuatu ke Angel dan tanpa sadar aku memanggil namanya... Angel cuma adik aku, gak lebih... jadi buat apa kamu cemburu dengan Angel?" Jelas Aldo.


Putri mengerjapkan matanya, "cemburu? Gue?"


"Kalau gak cemburu apa namanya? Kamu aja sampe nangis kayak gini!!"


"Gue gak nangis!!" Bantah Putri sambil mengusap air matanya yang masih aja jatuh dari matanya.


Aldo terkekeh, " udah gak usah nangis... aku cuma milik kamu bukan milik Angel atau yang lainnya.. sekarang kita pulang, dinnernya di ganti besok aja!" ucap Aldo dan menarik tangan Putri.


~*~*~*~*~


Dimas mendengus kesal saat melihat Angel turun dari tangga. Bukan tanpa alasan ia merasa kesal ke adik semata wayangnya itu.


Hampir semalaman ia tak bisa tidur dengan nyenyak hanya gara-gara suara sialan yang membuat gairahnya bangkit. Sialnya lagi, yang menjadi fantasinya itu orang yang susah untuk ia miliki. Alexa. Satu nama yang sampai saat ini masih mengganggu pikirannya.


"Morning!" sapa Angel.


Dimas mendengus, " mata lo perlu di periksain... udah jam 11 ini, masih bilang pagi."


Angel terkekeh mendengar jawaban dari Dimas.


"Mau sarapan apa?" Tanya Angel.


"Ini namanya udah gak sarapan Angel... lama-lama gue bisa gila gara-gara si kutu kupret satu ini nginep disini... baru satu malam aja udah buat gue pusing.... ingetin gue setelah ini untuk membuat kamar lo jadi kedap suara.... dan gue juga baru tau kalau adik gue liar banget kalau di ranjang," ucap Dimas saat melihat Allen turun dari tangga, dan jangan lupakan tanda merah di sekitar lehernya.