
Hawa dingin yang menemaninya malam ini. Ia merasa menyesal dengan apa yang ia katakan tadi, ia bukan merasa tapi sudah sangat menyesal.
Seputung rokok ia hisap untung menghilangkan rasa menyesal dari dalam dirinya. Walaupun ia tetap tidak bis menghilangkan rasa itu, tapi setidaknya bisa menenangkan pikirannya.
Sudah empat rokok yang ia habiskan. Tapi tetap saja ia masih merasa pikirannya sangat kacau. Ia melihat pemandangan yang ada di depannya sambil menyesali apa yang telah ia katakan tadi.
Ia merasa hidupnya begitu miris. Dulu ia sudah keluarganya, orang-orang yang ia sayangi karena dirinya. Dan sekarang ia harus kehilangan orang yang ia sayangi lagi karena kesalahannya lagi.
Ia terus saja tersenyum miris terhadap apa yang terus saja menimpa dirinya. Apakah ia tak pantas untuk merasakan kebahagian lagi. Jika ia bisa mengatur semua yang terjadi di masa depan nanti. Ia akan memilih akan terus bersamanya.
"Sampai kapanpun aku gak akan ngelepasin kamu begitu saja Angelica... apa yang sudah menjadi milikku akan terus jadi milikku... gak ada yang bisa mengambilnya dariku!!" ucap Allendra pada dirinya sendiri.
Ia menatap pemandangan dari atas balkon apartementnya sambil menghisap rokok yang ada di tangannya. Sekali-kali ia tersenyum miris.
~*~*~*~*~
Angelica yang mendengar ucapan Aldo merasa jijik. Ia terus berjalan ke dalam rumah tanpa memperdulikan Aldo.
Di dalam ruang tamu, ia melihat Dimas sedang duduk disofa sedang memainkan laptopnya. Walau ia yakin kalau Dimas tidak sedang bermain, ia yakin kalau Dimas lagi ngerjain tugas kantornya.
Apa ia harus menerima tawaran Dimas untuk melajutkan perusahaannya itu?
Angelica berjalan mendekati Dimas. Entah kenapa ia merasa senang saat melihat Dimas dan melupakan semua kemarahan dan kekesalannya tadi.
Dimas yang merasa ada yang berjalan mendekatinya, ia mendongakan kepalanya. Dan ia melihat Angelica disana langsung tersenyum dan di balas dengan senyuman manis Angelica.
"Katanya ada urusan mendadak, kok pulang?" Tanya Dimas.
"Jadi gak seneng kalau gue pulang nih ceritanya?" Tanya balik Angelica kepada Dimas.
Dimas yang mendengar ucapan Angelica hanya bisa terkekeh. Ia tidak pernah berpikir kalau ia gak akan senang kalau Angelica pulang kerumah. Malah ia akan merasa senang sekali.
Dimas menepuk sofa di sampingnya. Itu pentanda kalau ia meminta Angelica duduk disampingnya. Angelica hanya menurut, Angelica berjalan dan duduk di samping Dimas. Setelah Angelica duduk disampingnya, Dimas langsung memeluknya.
"Gue malah gak seneng kalau lo gak pulang. Ini rumah terasa sepi, walau tetep sepi kalau lo dirumah karena lo gak pernah ngomong sama sekali.”
Angelica terkekeh mendengar ucapan Dimas. Entah kenapa ia merasa begitu nyaman di pelukan Dimas. Ia tidak mau melepasnya. Ia rela ngelakuin apa saja agar ia bisa merasa senyaman ini lagi.
'apa gue bener suka sama dimas beneran? Tapikan Dimas kakak gue, walau bukan kakak kandung' pikir Angelica.
"Sumpah demi apa... adek gue ketawa!” ucap Dimas dengan antusias.
"Paan sih!! tadi juga ketawa,” ucap Angelica sambil mengerucutkan bibirnya.
"Tadi senyum pe'ak bukan ketawa... gak usah manyunin tu bibir,di gigit orang baru tau rasa lo!!" ucap Dimas dan menjitak kepala Angelica.
"Sakit setan!!!" ucap Angelica tidak terima di jitak oleh Dimas.
"Adek durhaka lo.. nagatai kakak sendiri kayak gitu."
"Lo duluan yang ngatain gue... pake jitak pula!"
"Terserah lo dah... semerdeka lo.”
Angelica yang mendengarnya merasa senang. Ia mengangkat kedua tangannya.
"Peluk lagi dong!" pinta Angelica.
Dimas yang mendengar permintaan Angelica hanya terkekeh dan langsung memeluk adik tercintanya itu.
"Gini ya, ini yang lo lakuin setelah ninggalin gue gitu aja diluar... kejam banget sih Angelnya aku ini,” ucap Aldo dengan nada tak suka.
Sedangkan Angelica dan Dimas yang mendengarnya langsung melepas pelukan mereka dan langsung memasang raut wajah jijik.
"Najis,” ucap Angelica dengan nada dingin.
"Lo ngapain masih disini? bukan nya lo udah gue usir!!! masih aja disini!!" ucap Dimas.
Aldo meringis mendengar perkataan dari dua orang yang ada di depannya itu. Sangat terlihat banget kalau mereka tidak suka dengan kehadirannya.
"Sapa yang mau jadi kakak ipar lo?"
"Kejam lo kak... Angel lihat tu kakak lo masa kayak gitu... dia gak ngerestuin hubungan kita... gimana nih?”
"Bodo!" ucap Angelica dan berjalan menuju ke lantai atas.
Aldo hanya memasang wajah tak percaya dengan semua ini. SedangkanSedangkan Dimas tertawa terbahak-bahak melihat itu.
Aldo yang melihat Dimas tertawa sampai terbahak-bahak memasang wajah cemberut.
"Ketawa aja terus sampe kehabisan suara baru tau rasa lo kak.”
"Enak gak di gituin sama Angel?"tanya Dimas.
"Lo pikir aja sendiri!!" jawab Aldo dengan tidak suka.
Hahahaahaaa
Dimas tertawa lagi bahkan lebih keras dari yang tadi. Aldo yang melihat itu bertambah kesal langsung saja dia melempar Dimas dengan bantal sofa yang ada di dekatnya.
"Anjirr!” umpat Dimas saat di lempar bantal oleh Aldo.
Hahahahhaaa
Sekarang ganti Aldo yang tertawa melihat Dimas kesal karena di lempar pake bantal.
"Ketawa lagi... gak gue bolehin datang kesini nemuin Angel!!” ancam Dimas.
Ancaman itu berhasil membuat aldo langsung diam di tempat. Ia gak bisa apa-apa kalau berurusan sama Angelica.
"Sana lo pulang!!” usir Dimas.
"Elah lo kak... gue nginap ya.dah malem nih.”
"Kagak!!! Apaan, gak ada acara nginap-nginapan... pulang sana lo!”
"Dah malem kak!”
"Bodo!! bilang aja lo mau deketin adek gue!" Ucap Dimas tepat sasaran.
"Tuh tau... makanya ijinin gue nginap di sini ya?”
"Kagak ya kagak!! udah sana lo pulang... kalau lo gak pulang gue seret lo!”
" iya iya bawel amat jadi orang untung calon kakak ipar kalau nggak-"
"Kalau nggak mau apa lo hah? udah sana pulang lo!”
"Iya iya!! pulang nih gue... bye calon kakak ipar gue yang galak," ucap Aldo dan lansung berlari keluar rumah.
"*****... sana lo pergi kalau perlu gak usah balik lagi."
~*~*~*~*~
"Gue tau gue udah gak bisa seluasa dulu buat nyari orang brengsek itu... tapi gue janji bakal tetep nyari pria itu sampe ketemu!" ucap Angelica sambil mengusap foto yang ia pegang.
Foto pria yang ada di masa lalu nya. Pria yang sangat ia sayangi dan ia banggakan. Sampai sesuatu terjadi sehingga ia harus berpisah dengan pria itu.
Angelica memeluk foto itu sambil terisak. Jika kalian mengira Angelica sangat kuat dan gak akan pernah merasakan rasa sakit, kalian semua salah. Nyatanya ia hanyalah seorang gadis yang rapuh dan menutupi kerapuhannya dengan sikap dinginnya itu.
Tak mau terlarut dalam kesedihannya, ia mengembalikan foto itu ke atas meja di samping tempat tidurnya.
Ia ingin tidur, baru saja ia mau memejamkan matanya terdengar telepon rumahnya berdering. Ia langsung duduk dan mengangkat telepon.
" hai honey!"
~*~*~*~*~