
"ANGELICAAAA!!!"
Mendengar namanya di panggil, Angelica membalikkan badannya.
Ia bisa melihat siapa yang memanggil dirinya, orang itu berlari kearahnya. Apa terjadi sesuatu? Tanya Angel pada dirinya sendiri.
"Kenapa?"
"Hosh... hosh... bentar gue ambil nafas dulu, capek gue ngejar lo," ujar orang itu mengambil nafas rakus.
"Lo beneran pacaran sama Allendra? Si anak ketua yayasan itu?" Tanya orang itu.
"Put, lo dapat info dari mana?" tanya Angelica penasaran.
Oh god!!!
Jangan sampai berita itu tersebar luas, Angelica tidak mau jadi pusat perhatian karena berita ia menjalin hubungan dengan Allendra. Ia lebih memilih tidak pacaran sama sekali jika itu bisa membuat hidupnya selama di sekolah ini tentram.
"Jadi bener ya?" Ucap Putri.
Dia bingung mau menjawab apa? Ia tak suka berbohong. Kalau ia menjawab 'tidak' itu berarti dia bohong. Kalau ia menjawab 'iya' ia tidak sudi mengakui hubungan yang sekarang sedang ia jalani. Apalagi jika berita itu tersebar bisa ada kemungkinan mengganggu rencananya.
"Info dari mana?" Tanya Angelica.
"Ck, lo nggak liat grub sekolah ya? Disana heboh membahas tentang kalian, jadi kalian pacaran apa nggak sih?"
"Bukan urusan lo."
"Anak ini!! Gue tanya serius nih... lo pacaran nggak sama Allendra?"
"Hmmm," jawab Angel sekenanya
"Beneran lo pacaran?"
Angel berdecak kesal, "Iya!"
"Demi apa lo!!!!! Lo pacaran sama dia!!! Kenapa lo gak cerita sama gue sih? Kesel gue sama lo, tapi gue juga seneng sih sama lo... akhirnya lo bisa buka diri sama orang lain... lo tau nggak dulu gue pikir lo gak normal loh, masa dari kecil belum pernah suka sama jenis... gue kira lo lesbie," canda Putri
What!!! Gila nih orang, sahabat sendiri dikatain lesbie. Ingin sekali Angelica menjahit itu mulut sekarang juga. Lagian belum pernah suka lawan jenis bukan berarti tidak normal kan? Dulu ia masih terlalu polos buat suka sama lawan jenis. Gila nih sahabatnya main ngatain orang sembarangan aja.
Untung sahabat.
"Kayak lo udah pernah aja!" balas Angelica tak terima.
"Wihhhh, santai dong mbak... tapi gue masih normal ya... buktinya gue suka sama oppa-oppa korea... aduh ganteng banget mereka... kulitnya mulus-mulus, sampai gue minder jadi cewek karena kalah mulus... apalagi Jimin, oh god! Pengen gue gondol pulang dia... gue bawa ke KUA paksa dia buat nikahin gue, habis itu gue kurung dalam kamar... kagak gue biarin dia melangkah satu langkah saja dari pintu kamar!”ucap Putri membayangkan bias kesayangannya itu yang memiliki suara yang sangat merdu. Bahkan setiap mau tidur-pun ia harus mendengarkan suara sang pujaan hatinya itu.
Angelica yang melihat kelakuan sahabatnya itu bergidik ngeri. Kayaknya sahabatnya ini udah mulai gila! Dia juga seorang fangirl tapi ia tidak sampai kayak gitu. Ia bisa membatasi rasa sukanya terhadap k-pop. Ia suka k-pop karena dia, ia hanya mendengarkan lagu-lagu k-pop hanya untuk mengenang dia, jika ia merindukan sosok itu di dekatnya, ia akan mendengarkan lagu korean.
"Lebay!" cibir Angelica.
"Halah kayak lo gak aja," balas Putri tak terima.
"Serah lo deh, btw seventeen mau comeback... lo beli albumnya nggak?" Tanya Putri antusias.
"Buat apaan? Buang-buang duit aja cuma buat beli kayak gitu.”
Ayolah, buat apa beli album yang harganya 300 ribuan itu. Buang-buang duit aja. Lagian ia bisa mendownload lagunya dan streaming di youtube, bukankah itu juga termasuk menghargai kerja keras mereka?. Menghargai bukan berarti harus membelikan?. Dia bukan seorang fans yang fanatik yang harus membeli semua hal yang berbau idol-nya. Dia cukup suka itu saja tidak lebih. Dia tidak suka boros, lebih baik ia tabung uangnya bisa berguna di masa yang akan datang dari pada membeli album itu.
"Elah lo, kayak orang susah aja! biasanya juga lo buang-buang duit. Tuh motor lo, itu juga beli pake duit kali!". Putri tak terima. Dia merasa tersindir akan hal itu, soalnya jika idol-nya comeback ia pasti langsung pesan album itu.
"Lah gue beli motor pake duit sendiri kali, itu juga gue pake buat cari duit dan pergi kalau mau keluar."
"Serah lo deh Ngel, kalah gue kalau ngomong sama lo.”
"Hmmm, gue mau ke kelas dulu," ucap Angelica, langsung pergi meninggalkan Putri begitu saja.
"ANGEL, GUE TUNGGU ISTIRAHAT DI KANTINN!!!" teriak Putri saat melihat Angelica berjalan cukup jauh didepannya.
Angelica mengeleng-gelengkan kepalanya. Sungguh ajaib kelakuan sahabatnya itu. Ia bisa saja mengucapkan tadi kalau nggak bisa pake chat untuk memberitahu-nya tanpa harus berteriak seperti itu.
Memalukan!
~*~*~*~*~*
"Kenapa lama banget, yang?" Tanya Allendra ke Angelica.
15 menit untuk ganti celana? Waktu yang lama hanya untuk ganti celana.
Mereka berdua memang berangkat bersama tapi Angelica menolak keras jika harus satu motor dengan Allendra. Dia nggak suka dibocang orang lain. Berasa kayak orang cacat aja!. Dia benci di bonceng.
Setelah perdebatan kecil tadi pagi di apartemen, akhirnya Allendra memutuskan mengalah. Lagian bukan masalah juga buat dirinya kalau Angelica mengendarai motor sendiri. Asal gadisnya itu bisa jaga diri, ia sudah merasa lega. Lagian apa yang perlu di khawatirkan jika gadisnya itu naik motor sendiri. Gadisnya itu lincah dalam mengendarai motor! Gadis tangguh! Bisa beladiri!. Jadi ia tak terlalu khawatir, walau dalam hati masih ada rasa khawatir yang tak bisa ia hilangkan.
Angelica menghembuskan nafasnya pelan. Ini yang paling dia tak sukai jika hubungannya denga Allen terbongkar. Ia akan menjadi pusat perhatian. Ayolah! Siapa yang suka jadi pusat perhatian. Ia bukan cewek alay yang suka jadi pusat perhatian. Tapi apa yang barusan ia lihat? Setiap langkah di koridor tadi semua orang memperhatikannya. Seakan ia adalah seorang napi yang kabur dari tahanan.
Gue congkel juga mata kalian semua!!!!
Ingin sekali ia melontar keinginannya yang terpendam dari tadi.
Dan sekarang apa? Ia jadi pusat perhatian lagi saat melangkahkan kakinya ke dalam kelas-nya. Dengan sekuat tenaga dan ekstra kesabarannya. Ia melangkahkan kakinya menuju bangku-nya. Gak di koridor gak di kelas sama saja.
"Urusan sama Putri.” jawab Angelica.
"Ouh,"
Angelica mencoba mengalihkan rasa kesalnya dengan membaca novel favorite-nya dan mamasang earphone ke telinganya dengan volume tinggi. Berharap bisa menghilangkan rasa kesal dan rasa dongkol-nya terhadap teman sekelasnya itu.
Sial!!!!
Ia berusaha fokus dengan apa yang di bacanya tapi susah. Seakan otaknya menolak keras setiap baris kalimat yang ia baca. Oh God!!! Ia ingin membunuh mereka semua saat ini. Jiwa-nya saat ini haus akan kematian mereka semua. Sudah lama sekali ia tak membunuh orang. Tapi apa yang harus ia lakukan sekarang? Ia susah mengontrol emosinya jika jiwa pembunuh yang ada di dalam dirinya muncul seperti ini. Dia butus pelampiasan. Setidaknya harus ada orang yang ia buat sekarat saat ini. Bisa kah ia berbuat seperti itu sekarang? Di sekolah?. Dia tidak gila melakukannya di sekolah. Tapi bagaimana dengan keadaannya saat ini. Bisa tersiksa ia jika tak mendapatkan pelampiasan.
"sekali lagi gue liat lo semua ngeliatin gue terus, gue pastiin lo semua tinggal nama saat ini juga!" ucap Angelica dengan dingin dan penuh penekanan di setiap katanya. Dan jangan lupa tatapan membunuh yang ia nyalangkan ke semua murid yang ada di kelasnya itu.