ANGELICA

ANGELICA
PART 20



"Baru pulang?" Ucap Allen duduk di sofa sambil menyilangkan kedua tangannya didepan dada.


"Lo bisa liat sendiri!” jawab Angelica acuh.


Allen mendengar jawaban Angelica menggeram marah. Bagaimana dia tidak marah jika gadisnya itu pulang tengah malam. Urusan apa yang harus dikerjakan sampai tengah malam seperti ini? Dia tak habis pikir dengan jalan pemikiran Angelica, bagaimana jika terjadi sesuatu dengannya. Apa gadis itu tak berfikir sampai situ? Bagaimanapun juga ia seorang gadis, tak baik seorang gadis pulang tengah malam seorang diri.


"Ini udah tengah malam dan kamu baru pulang? Kemana aja kamu seharian ini? Di telefon gak diangkat, di sms gak dibales!! mau kamu apa sih? Kamu bikin aku khawatir tau nggak?" Ucap Allen berusaha mengontrol emosi.


Ia tak ingin mengulang kesalahan untuk kedua kalinya lagi. Gara-gara tidak bisa mengontrol amarahnya dulu ia hampir kehilangan gadisnya.


"Ada urusan dan hp gue emang gue matiin," jawab Angelica dengan enteng.


Shit!


Ingin sekali Allen mengumpat sekarang juga. Apa gadisnya itu tak mengetahui seberapa khawatirnya dia karena gadisnya tak segera pulang, dan gadisnya menjawab semuanya dengan enteng tanpa beban dan merasa bersalah sama sakali.


Good job!!


Angelica berhasil memancing emosi Allen sampai ke batas kesabarannya.


"Urusan apa yang sampai tengah malam seperti ini, hah? Dan apa tadi kamu bilang? Sengaja mematikan hp? Biar apa? Biar kamu bisa main sama cowok lain di belakang aku, hah?!!” Ucap Allen dengan penuh emosi. Ia sudah tak bisa menahan emosinya lagi.


Jangan lupa ingatkan dia untuk tidak mengizinkan Angelica pulang telat lagi mulai saat ini.


Angelica menatap Allen bingung, dimana letak kesalahannya kali ini? Bukannya tadi dia sudah memberi kabar ke Allen kalau dia bakal pulang telat? Lalu apa salahnya kali ini?.


"Urusan gak penting, gue matiin hp karena baterainya mau habis yaudah gue matiin,” jawab Angelica.


"Gak penting tapi sampai tengah malam kayak gini? Kamu pikir aku percaya begitu aja? Siapa dia?" Allen dengan sinis.


"Maksud lo apa?"


"Gak usah sok polos dan gak tau maksud aku, siapa selingkuhan kamu itu?" Tanya Allen yang lagi-lagi dengan nada sinis.


Angelica menghembuskan nafasnya dengan keras, sepertinya dia harus punya stok kesabaran yang ekstra tinggi untuk menghadapi sikap gila bin aneh-nya Allendra. Bisa ikutan gila dia jika lama-lama meladeni Allen.


"Ok, gue jelasin sekarang.. gue tadi ke resto gue yang ada di Bandung buat ngecek resto... karna lagi ada sedikit masalah jadinya gue beresin sekalian mumpung gue lagi disana... gue lembur disana, dan baru selesai sampai jam 10 malam tadi... jadi lo gak usah nuduh-nuduh gue sembarang deh pake alasan selingkuh lagi... lo pikir gue cewek apaan? Gue lupa ngecas tadi karna fokus sama masalah disana, jadi gak usah nuduh gue yang nggak-nggak dengan alasan yang tak berdasar seperti tadi," jelas Angelica.


Allendra mengerjapkan matanya tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Baru kali ini Angelica mengucapkan kalimat yang pajang seperti tadi, walau dengan wajah datar seperti biasanya.


Wow, itu kalimat terpanjang yang pernah Angelica ucapkan buat Allendra. Haruskah Allen bangga akan hal itu? Bagaimanapun juga itu hal langka yang dilakukan Angelica didepan Allen.


Wait, sepertinya ada yang ganjal dari penjelasan Angelica tadi, tapi apa? Ah, tadi dia bilang 'resto gue' itu berarti gadisnya itu mempunyai usaha sendiri kah? Atau punya kakaknya yang sedang di kelolanya?.


" tadi kamu bilang resto kamu? Kamu punya restoran sendiri?" Tanya Allen yang dibalas anggukan kepala Angelica.


Dia capek memikirkan masalah direstonya tadi. Masalah yang ia pikir masalah sepele ternyata cukup besar juga jika tidak segera ditanganni. Niatnya untuk menenangkan diri ke puncak tapi tiba-tiba ia mendapatkan pesan dari menejer restonya kalau masalah kemarin sampai sekarang belum bisa diatasi dan itu harus diatasi sendiri oleh dirinya.


Belum lagi baru dia pulang malah diajak berdebat unfaedah dengan Allen. Benar-benar mengganggu waktu istirahatnya. Sudah capek ditambah pusing memikirkan kelakuan ajaib cowok itu.


"N-night," ucap Allen tak percaya.


Baru kali ini Angelica mengucapkan 'good night' seperti tadi. Jangan ditanya bagaimana perasaan Allen saat ini, tentu saja merasa sangat bahagia bahkan sampai tak bisa diucapkan dengan kata-kata lagi.


Alay, memang. Tapi itu yang dirasakan Allen saat ini. Ia tak bisa membohongi perasaannya saat ini. Ia merasa jika itu pertanda kalau hubungannya dengan Angelica semakin membaik.


Ah, sepertinya dia bakal tidur nyenyak sekali nanti. Mengingat betapa bahagianya dia saat ini. Oh god! Dia begitu bahagia sekali. Dia berharap Tuhan akan selalu memberikan kebahagian seperti ini.


~*~*~*~*~*


Kringg kringg kringg


Hp Angelica terus berbunyi sejak ia menyalakannya. Entah itu sms, chat, dan telefon dari Dimas.


Dia merasa belum siap untuk berbicara dengan Dimas, bagaimanapun juga dia baru saja sakit hati gara-gara Dimas, yang sialnya itu kakak angkatnya sendiri.


Oh god! Kubur dia sekarang hidup-hidup. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Dimas terus saja menelfonnya. Bagaimana jika itu sangat penting? Tapi dia harus menyikapinya dengan cara apa? Dengan tenang? Tentu saja dia tak mungkin melakukan itu, disaat hatinya masih merasa sakit. Tak mungkin ia bisa tenang.


Huufffftttt


Dia harus mengakatnya sekarang, jika tidak, itu bisa membuat Dimas curiga. Ia pasti bisa melakukannya.


"Hallo?” sapa orang yang disebrang sana.


"Ada apa? Tengah malam gini ganggu orang mau istirahat tau nggak" ucap Angelica yang dibuat agal kesal sendiri, padahal dalam hati ia merasa gelisah.


"Sorry, ini mendesak sekali... gue bingung mau kasih atas nama siapa saat gue membeli saham di perusahaan si brengsek itu... gue kasih atas nama lo gimana? Ini udah ada yang mau menjual sahamnya besok, gue harus minta pendapat lo segera... gue gak bisa tanya besok karena besok gue ada meeting penting... jadi gimana?"


"Wait! Itu perusahaan si brengsek itu sendirikan? Bukan tambang emasnya?" Tanya Angelica.


Dia tidak mau kalau perusahaan orang yang tak bersalah disini akan kena imbas dari perbuatannya. Itu tidak adil. Ia hanya memanfaatkan sang tambang emas untuk balas dendam, tapi bukan dia yang harus terkena efek balas dendamnya.


"Tentu saja bukan, ini bener perusahaannya... bukan orang lain... lo tenang aja... seperti rencana awal, kita goyahkan perusahaannya setelah itu dia akan mengambil uang dari tambang emas lo itu, dengan begitu itu akan memudahkan kita untuk menjebak dia kedalam rencana kita," jelas Dimas secara rinci.


Wait!!!


Apa maksud dari kata 'tambang emas lo itu' ? Apa dia pikir ia suka sama target sendiri. Lelucon macam apa itu, tentu saja itu tidak mungkin.


Dasar kakak gila.