
Suasana terasa sepi karena sedang ada rasa ketegangan di dalam ruangan ini. Di sini terdapat Dimas yang duduk di kursi kebesarannya dan juga Angelica yang duduk tepat di depannya.
“Jadi?” Angelica memulai pembicaraan diantara mereka.
Mereka berdua sudah hampir setengah jam di ruangan itu, lebih tepatnya ruang kerja Dimas.
Dimas menghela nafasnya pelan," jadi gue mau lo ngundurin diri dari perusahaan ini sebagai mata-mata," pinta Dimas.
"Nggak... Gue gak bakal berhenti sebelum ketemu sama tu brengsek," ucap Angelica dengan suar yang keras sambil menggebrak meja yang adadi depannya.
Dimas yang sudah tau akan situasi seperti ini jadi bingung harus menjelaskannya mulai dari mana. Pada dasarnya agak sulit menurunkan emosi dan sikap keras kepala Angelica. Kalau sudah begini ia bingung sendiri harus menjelaskan mulai dari mana agar Angelica paham dan mengerti situasi saat ini.
"Dengerin alasan gue dulu baru komentar-" ucap Dimas sambil melambaikan tangan seperti menyuruh Angelica duduk kembali. Dan akhirnya ia menurut kepada Dimas, ia kembali duduk di kursi depan Dimas.
"Dengerin ya ade tersayang-"
"To the point aja!" ucap Angelica memotong ucapan Dimas.
Lagi-lagi Dimas menghela nafas," Ok! gue mau lo ngundurin diri karena mulai besok lo bakal sekolah... Dan juga lo nantinya pasti bakal banyak tugas di sekolah, makanya gue pengen lo ngundurin diri," jelas Dimas.
"Lalu gimana caranya gue bisa nemuin tu si brengsek, kalau gue ngundurin diri.... Gue gak mau sampe dendam gue gak ke bales... Lo harusnya udah tau gimana sifat gue!Tapi kenapa lo malah nyuruh gue buat ngundurin diri? Kalau emang lo udah merasa terbebani dengan kehadiran gue lo tinggal ngomong aja. Gak perlu nyuruh gue buat ngundurin diri! Gue bakal ngundurin diri sendiri tanpa lo suruh!!Gue tau gue cuma orang asing dalam hidup lo dan cuman jadi beban buat lo aja... Gue tau semua itu!!" ucap Angelica dengan suara yang tinggi dan menggebrak meja untuk kedua kalinya. Angelica mengucapkan itu semua berdasarkan hati-nya, ia terus berusaha menahan air matanya supaya tidak jatuh.
Plaakkkk
Sebuah tamparan mendarat di pipi mulus angelica. Air mata yang tadinya di tahan sekarang sudah tumpah. Dimas yang sadar akan apa yang ia lakukan langsung berjalan mendekat ke arah Angelica dan menariknya kedalam pelukannya. Sehingga Angelica menangis pecah di dalam pelukan Dimas.
"Denger ya! Lo bukan orang asing dalam hidup gue, lo adek gue dan selamanya bakal tetep jadi adek gue. Gue sayang sama lo,gue gak mau lo terluka! Lo udah banyak terluka baik fisik maupun batin, gue gak mau sesuatu yang buruk terjadi sama lo. Gue sayang banget sama lo!!" Dimas menangkup wajah Angel, "Lo bukan beban buat gue, justru lo itu harta berharga dalam hidup gue. Dan bakal jadi permata gue. Please! jangan ngomong kayak gitu lagi! Gue gak mau kehilangan lo, lo keluarga gue satu-satu nya, dan gue ga mau lo kenapa – napa!! Please! kali ini aja lo nurut sama gue. Gue sayang banget sama lo Angel!" jelas Dimas.
Angelica tambah terisak mendengar apa yang di ucapkan oleh dimas, ia mempererat pelukannya. Ia sudah lama tak merasakan kehangatan dalam hidupnya setelah kejadian satu tahun yang lalu. Semenjak kejadian itu ia menutup diri dan bersikap dingin kepada orang lain, ia juga bersumpah akan membalaskan dendamnya. Ia tidak akan berhenti sampai dendamnya terlaksana.
"Dan satu lagi! Tentang dendam lo.. dendam lo itu dendam gue juga! jadi lo tenang aja! Gue bakal cari orang brengsek itu sampai ketemu!!" ucap Dimas denga pasti sambil mengelus - elus rambut Angelica.
"Jadi gimana? Lo mau kan nurutin permintaan gue?" tanya Dimas.
Angelica yang dari tadi menangis dan tak bisa berhenti hanya bisa menganggukkan kepala nya. Dimas merasa senang karena angelica mau menuruti permintaannya.
~*~*~*~*~
Di sisi lain terdapat pria sedang duduk santai menghadap kolam renang. Ia adalah Aldo.
"Angelica.. Angelica.." kata Aldo sambil tersenyum – senyum.
Kata itu yang terus diucapkan oleh Aldo. Entah kenapa ia jadi begitu penasaran dan tertarik dengan perempuan yang baru beberapa hari lalu ia temui. Yang merupakan adik dari rekan bisnis papanya. Ia terus terbayang - bayang dengan wajah datar dan dingin-nya Angelica. Seakan perempuan itu memiliki daya tarik sendiri bagi Aldo.
Tanpa ia sadari sepasang mata dari tadi memperhatikannya. Dia adalah Anto Wijaya, pria paruh baya yang memasuki kepala empat. Ia pemilik perusahaan Wijaya Group, ayah Aldo Prasetya.
"Kamu kenapa? kok senyum - senyum sendiri dari tadi," tanya Anto kepada anaknya.
Mendengar pertanyaan itu Aldo menoleh ke samping, ia sempat terkejut karena ketahuan sama papanya. Aldo bingung mau jawab apa, gak mungkin kalau ia menjawab lagi ngebayangin wajah dari adik rekan bisnis papanya bisa bisa ia di ketawain.
"Ee-enggak kok pa, gak apa apa," jawab aldo sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Tawa Anto pecah saat melihat tingkah malu-malu putranya. Ia tau kalau putranya itu sedang menutupi sesuatu darinya. Tapi ia mencoba untuk mengerti, ia tak akan memaksa putranya untuk cerita. Bila waktunya telah tiba nanti, ia yakin putranya akan menceritakannya dengan sendirinya tanpa ada yang memaksanya.
Aldo yang mendengar tawa dari dalam mulut papanya itu merasa malu. Kalau sudah malu pasti pipinya muncul semburat merah. Itu tambah membuatnya malu.Makanya ia langsung menutupi pipinya dan memilih diam.
Anto yang melihat putra-nya itu menutup pipi dengan kedua tangannya, Anto semakin tak bisa menahan tawanya lagi.
~*~*~*~*~
Semenjak kejadian semalam, Angelica sudah tidak tertutup lagi dengan Dimas. Ia mulai terbuka dan bersikap hangat kepada Dimas.
Pagi ini, ia akan pergi ke sekolah barunya. Kata Dimas disana juga ada teman lamanya, Putri. Ia jadi gak sabar ingin turun untuk bertemu dengan Dimas. Entah mengapa, ia mulai mulai merasa dengan Dimas, ia merasa selalu ingin bertemu dengan dimas dan juga ingin merasakan pelukan hangat darinya lagi. Pelukan yang sama seperti waktu di dalam ruang kerjanya itu.
"Pagi!?" ucapan Angelica kepada Dimas yang sedang menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.
"Pagi juga," balas Dimas sambil memberikan senyuman manisnya.
Degh
Senyuman itu entah kenapa begitu terasa di dalam hati Angelica. Ia merasa kalau jantungnya bekerja berpuluh - puluh kali lipat dari normalnya.
'Apa gue suka dengan Dimas.... Tapi mana mungkin, Dimas kakak gue, mana mungkin gue suka sama dia.. Mungkin ini karena gue udah lama gak merasa suasana yang hangat,' batin Angelica.
"Kenapa lo ngelamun? Ayo, sarapan dulu sebelum lo berangkat!" ajak Dimas. Sambil merangkul pundak Angelica dan menuntunnya duduk ke kursi meja makan.
Dimas yang merasa kalau angelica melamun dari tadi melambai-lambaikan tangannya di depan wajahnya.
"woi! Lo kenapa?Lo sakit?" tanya dimas.
"Hah? Eng-enggak kok.. Gue sehat! Ya udah ayo makan, ntar gue bisa telat gara-gara sarapannya lama lagi. Gak mungkinkan kalau gue harus telat di hari pertama masuk sekolah, Mau taruh dimana muka gue!" ucap Angelica lalu menggigit roti bakar yang di buat oleh Dimas.
Dimas terkekeh mendengar ucapan Angelica barusan. Ia tak tahu apa yang terjadi sama Angelica sehingga ia jadi cerewet seperti ini.
"Kenapa?" tanya Angelica, yang bingung dengan sikap Dimas yang terkekeh tanpa sebab.
"Nothing, " jawab Dimas
"Really? But i dont believe you."
"Hahhaaaaa.... Lagian lo kesambet apa sih jadi cerewet kayak gini? Lucu tau gak kalau lo cerewet kayak gini."
Angelica merasa malu karena sikapnya berubah drastis dalam waktu semalam karena sebuah pelukan saja. Karena tidak mau merasa tambah malu ia langsung meminum susunya dan langsung mengambil kunci motornya dan meninggalkan Dimas yang masih ketawa kecil.
~*~*~*~*~
Sebelum Angelica masuk kedalam kelasnya ia harus pergi ketoilet terlebih dahulu untuk melepas jaketnya dan mengganti celananya dengan rok sesuai peraturan sekolah, setelah itu ia harus keruang kepsek terlebih dahulu.
Tak mau menghiraukan sekalilingnya ia memainkan ponselnya. Tanpa ia sadari ia menabrak seseorang yang berjalan berlawanan arah dengannya.
Brukkkk
Angelica memejamkan matanya karena ia tahu kalau sebentar lagi bokongnya akan berciuman dengan lantai. Tapi anehnya, ia tak merasakan sakit sedikitpun. Ia hanya merasakan hangatnya hembusan nafas seseorang di lehernya.
"Lo milik gue," bisik orang itu di telinga Angelica.
Angelica langsung membuka matanya dan langsung melepaskan diri dari pelukan orang yang ada di depannya. Tanpa mengucapkan terima kasih karena telah menolongnya dari berciuman dengan lantai, ia langsung pergi meninggalkan orang itu. Ia juga merasa beruntung karena tadi sepi jadi tidak ada yang mengetahui kejadian tadi.
~*~*~*~*~
Setelah dari toilet ia ke ruang kepsek. Yah! saat ini ia sedang berada di dalam ruang kepsek, selain ada Angelica dan pak kepsek, juga ada seorang guru perempuan yang cantik walau sudah cukup berumur.
"Baiklah Angelica.. Perkenalkan ini Bu Ratna, dan Bu Ratna ini akan menjadi wali kelasmu. Ia akan mengantarkanmu ke kelasmu" jelas pak kepsek.
Setelah itu Angelica keluar dari ruangan kepsek. Ia mengikuti langkah Bu Ratna menuju kelas barunya.
Setelah sampai di kelas 10 IPA 1, Angelica masuk kedalam kelas dengan Bu Ratna yang masih berjalan di depannya dan ia masih setia mengekorinya.
Saat sampai di dalam kelas semua pandangan menuju ke arah Angelica, dan lagi-lagi ia harus menjadi pusat perhatian, sungguh! Ia membencinya.
"Anak anak.... Perkenalkan ini Angelica. Dia akan menjadi keluarga baru di kelas kita, jadi ibu harap kalian bisa berkerja sama untuk membantu Angelica mengenal sekolah ini."
Setelah mengucapkan itu Bu Ratna menyuruhnya duduk di bangku kosong yang berada di pejok dekat dengan jendela. Di sana juga ada seorang pria, yang akan menjadi teman semeja-nya.
Tak butuh waktu lama lagi ia berjalan ke arah bangku yang ditunjuk oleh Bu Ratna. Setelah perkenalan singkat tadi, pelajaran pun di mulai.
Ditengah tengah pelajaran Angelica dikagetkan dengan sebuah tangan yang tiba-tiba menggenggam tangannya. Ia menoleh kearah samping dan ternyata itu orang yang sama dengan orang yang menabraknya tadi pagi.
"Hai beb!!" ucap pria di sampingnya lalu mencium tangannya.
Dengen geram ia berusaha menahan emosinya agar tidak terjadi keributan di dalam kelasnya. Ia langsung menghadap kembali kearah papan tulis dan memperhatikan apa yang di jelaskan oleh gurunya.
~*~*~*~*~
Pagi ini sangat membosankan bagi seorang pria yang duduk di bangkunya yang berada di pojok kelasnya dan di dekat jendela.
Ia sudah tidak bisa menahannya lagi panggilan alam yang tiba-tiba datang. Ia langsung pergi ke toilet karena panggilan alamnya yang tak bisa di tunda-nya lagi.
Selesai dengan urusannya di toilet, ia terkejut karena melihat perempuan yang telah mencuri perhatiannya selama seminggu ini. Ia sampai sulit tidur karena terus kepikiran dengan perempuan itu.
Ini kesempatan nya untuk mencuri perhatiannya, perempuan itu terus memainkan ponsel nya dan tidak memperdulikan keadaan di sekitarnya.
Saat ia berjalan, ia dengan sengaja menabrak perempuan itu dan langsung menangkap tubuhnya.
Wangi. Sepertinya ia akan mendapatkan keuntungan disini, ia bisa mencium aroma tubuh gadis-nya.
'Aroma yang memabukkan' batinnya.
"Lo milik gue,"bisiknya di telinga perempuan itu.
Menyadari akan hal itu, perempuan itu melepaskan pelukannya dan pergi meninggalkan pria itu.
Pria itu tersenyum dengan kejadian barusan. Lalu ia melanjutkan perjalanannya menuju kelasnya.
Saat sampai di kelasnya ia berjalan menuju bangkunya.
" hei bro! Lo tau gak hari ini ada murid baru lo," ucap Briyan.
"Gak peduli gue," ucap pria itu dengan wajah datar.
"Kebiasaan lo Ndra.... Gak bisa di ajak bicara."
"Lo kira gue bisu apa.. Gak bisa ngomong! Gue udah ngejawab ucapan lo barusan, masih salah gue?"
"Hehehhee, biasa dong Allendra yang ganteng nya gak pernah luntur."
"Najis!" ketus Allen.
Briyan mendengus kesal, “untung temen lo.”
Tak lama setelah itu, guru datang dan diikuti oleh seorang perempuan di belakang nya.
"Anak anak.... Perkenalkan ini Angelica. Dia akan menjadi keluarga baru di kelas kita, jadi ibu harap kalian bisa berkerja sama untuk membantu Angelica mengenal sekolah ini." ucap Bu Ratna.
'Jadi namanya Angelica,' batin Allen.
Setelah memperkenalkan perempuan itu, Bu Ratna menyuruhnya duduk di bangku kosong di samping Allendra.
Entah kenapa ia merasa sangat gugup di setiap langkah Angelica yang terus menuju ke arah bangkunya.
'Gue pastiin lo bakal jadi milik gue selama-lamanya. Dan lo bakal menjadi nyonya Allendra suatu saat nanti, Angelica sayang' batin allendra.
Angelica duduk di samping Allendra, itu membuat jantung Allendra berdegub sangat cepat, ia berharap Angelica tidak mendengar degup jatungnya yang rasanya mau copot saat ini juga.
Setelah Angelica duduk, pelajaran dimulai. Bu Ratna menjelaskan materinya. Rasanya Allendra tidak bisa menahan untuk mengklaim bahwa Angelica itu miliknya dan tidak ada yang boleh memilikinya selain dirinya.
Ia sudah tak bisa menahannya lagi, ia langsung memgambil tangan angelica dan di cium olehnya.
"Hai beb!!" ucap Allendra.
Allendra tau kalau Angelica tidak terima dengan apa yang sudah ia lakukan. Ia kira Angelica akan menarik tangan nya dan marah-marah ke dia. Tapi ternyata ia salah! Angelica malah mengabaikannya. Seperti mendapat lampu hijau, ia langsung mempererat pegangannya.
'Semua wanita sama saja.. Lihat cowok ganteng langsung luluh... Untung gue ganteng' batin Allendra sambil tersenyum.