ANGELICA

ANGELICA
PART 34



"Akhh!" ringis Allen.


"Tahan!" ucap Angel dengan dingin.


Allen hanya diam saja mendengar ucapan Angel. Bukannya dirinya sudah terbiasa dengan sifat dingin itu. Jadi dia tak mempermasalahkan semuanya.


"Buat apa lo datang ke rumah Dimas?" Tanya Angel.


"Mau nemuin mantan pacar gue," jawab Allen dingin.


Deg


Bagai di sambar petir. Hati Angel merasa sakit saat mendengar Allen mengucapkan kata 'mantan pacar'. Apa secara tidak langsung Allen sudah memutuskan dirinya?.


"Mantan pacar?" Tanya Angel dengan pelan-pelan.


"Orang yang gak mengakuin gue sebagai pacar setelah memberi gue harapan. Bukannya itu udah cocok untuk di bilang mantan pac.. akkhhh!!" pekik Allen saat Angel dengan sengaja menekan lukanya.


Allen mendelik tajam ke Angel, "kalau gak niat buat ngobatin mending kagak usah ngobatin!" ucap Allen.


"Kalau gak niat cinta sama gue gak usah buat gue cinta sama lo!" balas Angel dengan dingin dan pergi ke kamarnya.


Dengan perasaan kesal, Angel menutup pintu kamar dengan keras. Siapa suruh membuat dirinya kesal. Memangnya siapa laki-laki itu, udah baik di tolongin malah kayak gitu. Rasanya ia ingin mencekik laki-laki itu saat ini juga.


"Tau gini, mending gue biarin lo mati aja tadi di tangan Dimas. Udah untung diobati, bukannya makasih malah kayak gitu. Minta di gorok itu orang," ucap Angel dengan kesal.


~*~*~*~*~


"Gak niat cinta? Tapi gue udah terlanjur cinta," ucap Allen kepada dirinya sendiri.


Bahkan dirinya udah jatuh terlalu jauh. Gak niat cinta? Apa kalimat itu cocok untuk dirinya, sedangkan dirinya sudah jatuh cinta.


Mungkin kata orang-orang ada benarnya, kalau cinta itu buta. Dirinya bukannya membenci atau kecewa sama Angel. Tapi dirinya merasa marah, marah keoada dirinya sendiri. Karena dirinya terlalu terobsesi dengan Angel, membuatnya menghalalkan segala cara untuk mendapatkan Angel. Dan berakhir menyakiti dirinya sendiri.


Allen berjalan ke kamarnya. Walau dengan setengah hati. Ia tak bisa jauh dari Angel-nya. Bagaimanapun juga, ia sangat mencintai Angel. Susah untuknya buat jauh dari Angel.


Allen berusaha untuk memejamkan matanya, tapi selalu saja tidak bisa. Angel memang sudah terlalu dalam mempengaruhi dirinya terlalu dalam.


"Akhhh, gue udah gak tahan lagi!"


Allen berjalan dengan cepat keluar dari kamarnya dan menuju ke kamar Angel.


Senyum Allen terbit saat melihat Angel-nya terlelap. Sungguh cantik. Allen berjalan perlahan mendekati Angel.


Allen mengusap lembut pipi Angel, "Kapan kamu menganggap aku ada sayang?" lirih Allen.


Allen mengecup lama kening Angel dan memeluknya dengan erat.


"Have a nice dream, baby!"


~*~*~*~*~


"Eugghhhh!" lenguh Angel.


Dengan perlahan ia membuka matanya.


Angel tersenyum melihat objek yang dilihatnya saat pertama kali membuka matanya.


Allen


Angel tersenyum geli, saat mengingat semua kenangan mereka berdua. Kenangan yang sebentar lagi akan menjadi kenangan sesaat untuk dirinya, karena dirinya harus segera mengakhiri semua ini.


Senyuman itu hilang seketika, kenapa ia harus teringat dengan rencananya di saat-saat seperti ini.


"Maafin gue All, gue harus ngelakuin ini semua sama lo.. mungkin ini bakal menyakitkan buat lo, dan mungkin membahagiakan lo sekaligus?!" lirih Angel dan mengecup kening Allen.


"Eughhh!"


"Morning All," sapa ramah Angel.


Allen tersenyum, "morning."


"Mau sarapan apa? Nanti gue bikinin," tanya Angel.


"Mau kamu, gimana?" Goda Allen.


Pipi Angel merona seperti tomat saat mendengar itu. "Apaan sih!"


"Cie yang blushing," kekeh Allen


"Diem gak lo. lepasin gue, gue mau mandi!" ucap Angel dan berusaha untuk melepaskan pelukan Allen.


Bukannya melepaskan, Allen semakin mempererat pelukannya dan menyebunyikan kepalanya di ceruk leher Angel.


"Allen geli, gak usah ngendus-ngendus kayak gitu kenapa!" protes Angel.


"Aku kangen kamu," ucap Allen dengan serak.


"Gue lagi kedatangan tamu, jadi lo jangan macam-macam!" ancam Angel.


"Ck, memangnya beneran gak boleh ya kalau lagi kedantangan tamu?"


"Nggak, bisa jadi penyakit," jawab Angel dengan santai.


"Hmm, cium kalau gitu!"


"Nyium tembok aja sana!" ketus Angel.


"Gausah balik ketus gitu sayang, atau aku bakal marah lagi sama kamu!"


"Marah aja sana, lo pikir gue peduli. Gue gak peduli kali, mau lo marah atau ngilang juga gue gak peduli," cuek Angel.


Mendengar itu, Allen langsung melepas pelukannya dan beranjak dari kasur menuju ke pintu keluar.


Angel gelagapan, apa Allen beneran marah lagi ke dirinya. Padahal baru saja mereka baikan, kenapa harus marahan lagi.


"Oke, fine!! Lo jangan marah lagi, puas lo!"


Allen berbalik dan tersenyum senang.


"Dengan syarat, kamu harus menggunakan aku-kamu, berhenti pake lo-gue. Dan kamu harus mencium ak---"


Cup