ANGELICA

ANGELICA
PART 48



Suasana yang tadinya mencengkam sekarang menjadi ricuh setelah kepergian Angel.


Bagaimana bisa anak sekecil itu memimpin *perusahaan ini


Dari penampilannya saja tidak mencerminkan seorang pemimpin. Kaos longgar dan celana levis, yang benar saja!!


Dia masih bau kencur, tapi sudah mau memimpin perusahaan ini?


Sepertinya tidak ada masalah jika dia memimpin perusahaan ini, dia memiliki aura yang kuat.


Apa yang di ucapkannya tadi benar*?


Dan masih banyak lagi ucapan-ucapan tak percaya.


Berbeda halnya dengan Dimas, ia sangat menikmati suasana saat ini. Sungguh ini menjadi pertujukan yang menarik. Apalagi ekspresi yang di keluarkan Hengki. Marah, tak percaya, dan bingung menjadi satu. Pemandangan yang indah, sayang kalau di lewatkan. Ia bahagia melihat musuhnya menderita.


Hahahaha


Tawa Dimas lepas begitu saja melihat kacaunya Hengki saat ini.


Dimas berdehem, "bapak Hengki, apa anda mendengar ucapan adik saya tadi?" Dimas menatap Hengki, "mulai hari ini, anda sudah bisa meninggalkan tempat ini. Dan untuk masalah pengembalian saham, sepertinya Alexa sudah menyelesaikannya." Ucap Dimas dan menatap Alexa.


Alexa, yang namanya dibawa-bawa menatap Dimas dan semua orang yang sedang menatapnya dengan tatapan berbeda-beda. Alexa menelan salivanya dengan susah saat melihat tatapan tajam dari bosnya sendiri. Tatapan yang menuntut Alexa untuk menjelaskan ini semua.


"Kenapa lo cuma diem aja? Bicara Alexa!" Tekan Dimas.


Alexa menatap Dimas dengan kesal. Ia bersumpah gak akan membiarkan Dimas masuk ke dalam apartement-nya dan menginap disana.


Alexa mengeluarkan map yang sedari tadi ia bawa dan meletakkannya tepat di hadapan Hengki.


"Ini pak- secara resmi, mulai hari ini bapak bukan lagi pemilik perusahaan ini dan bapak bukan lagi pemegang saham di sini... ini berkas bukti pengembalian saham anda disini... dan untuk menutupi semua kerugian yang terjadi disini-" Alexa menelan susah salivanya," saya mengambil dari keuntungan saham anda tahun ini dan juga dari saham anda di sini." Jelas Alexa.


Hengki terkekeh melihat Alexa, " jadi selama ini kamu menghianati saya!!" Alexa menggelengkan kepalanya, " baik saya terima semua ini," Hengki berdiri dan mendekatkan wajahnya ke telinga Alexa, "tapi ingat Alexa, saya bisa menghancurkan kehidupan kamu dan semua adik-adik kamu bahkan saya akan menghancurkan ibu kamu... sama persis seperti kamu yang menghancurkan saya dengan menghianati saya." Bisik Hengki.


Alexa menggelengkan kepalanya. Ia tak sanggup jika orang-orang yang ia sayangi menderita. Ia sangat menyayangi mereka semua. Bahkan tanpa ia sadari, sekarang matanya mengeluarkan cairan bening. Dan semua itu tak lepas dari pandangan Dimas.


Akhh!!


Pekik Alexa pelan saat rambutnya di tarik oleh Hengki, walau tak terlalu keras.


"Kamu tau kalau saya tidak pernah main-main dengan ucapan saya, Alexa-akhhh!"


Dimas melempar kursi yang tadi ia pake ke tubuh Hengki. Dan membuat Hengli tersungkur.


Dimas merasa berang dengan perilaku Hengki ke Alexa. Memangnya siapa dia, berani mengancam miliknya. Sekarang dia bukanlah apa-apa. Yang memegang kendali saat ini dirinya dan Angel.


Dimas menatap Dave, "suruh anak buah lo untuk membawa tua bangka ini, gue tunggu kabar dari lo selanjutnya." Perintah Dimas dan menarik kasar tangan Alexa, membawanya pergi.


Dave hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat tingkat absurd temannya itu. Cuma di jambak sedikit, ngamuknya sampai segitu. Coba kalau di tampar, mungkin Hengki udah mati di tempat.


Sedangkan semua orang yang sedari tadi hanya menonton mulai bertanya.


"Sebenarnya ada apa ini? Kenapa semuanya jadi kacau seperti ini?"


Dave menatap orang-orang itu datar, "sebaiknya kalian diam dan seolah tak melihat ini semua." Dave beranjak, "kalian semua bisa bubar sekarang. Rapat sudah selesai. Dan untuk bapak Hengki, anda bisa meninggalkan tempat ini sekarang juga. Saya permisi."


~*~*~*~*~


Di tempat lain. Allendra kesal melihat Aldo yang sekarang berada tepat di hadapannya.


"Ngapain lo kesini?" Ketus Allen.


"Minggir lo!! Gue mau masuk." Mendorong tubuh Allen dan berjalan masuk ke dalam.


Allen mendengus kesal dan mengejar Aldo yang seenaknya masuk ke apartementnya.


"Ngapain sih lo kesini!! Gak ada yang butuh lo disini. Jadi lebih baik lo pergi deh dari apart gue." Usir Allen.


Aldo mengedikkan bahunya dan duduk di sofa, "sejak kapan apartement my Angel jadi punya lo... lagian gue kesini di suruh my Angel, katanya biar lo gak kesepian di tinggal sendiri... lo kan bocah kesepian."


"Punya Angel punya gue juga, begitu-pun sebaliknya... dan apa tadi lo bilang, gue bocah kesepian? Sejak kapan gue ngerasa sepi? Lo kali yang kesepian."


"Gue gak pernah kesepian kali, tinggal telfon cewek, langsung dateng dia... akuin aja lah kalo lo kesepian kalau gak ada my Angel disini."


Allen menatap tajam Aldo, " sialan lo. Pergi lo dari sini. Gue gak butuh lo." Melempar bantal ke Aldo.


Aldo menangkap bantal itu dengan senang hati langsung ia pakai buat tidur. Jujur saja ia masih merasa ngantuk, kemarin malam ada pemotretan sampai jam 3 pagi. Gila memang. Lebih gila lagi ia baru tidur 2 jam langsung di telfon Angel, disuruh ke Bandung.


"Diem lo. Gue ngantuk, mau tidur. Dan lo gak usah banyak bacot atau gue bakal lapor ke my Angel kalau lo ngusir gue... dan gue jamin lo gak bakal dapat jatah dari my Angel."


Allen terdiam


Sial. Kenapa kalau masalah tentang Angel, dirinya gak bisa berkutik sedikit pun.


Arrgghhh


Allen geram. Dan langsung pergi ke kamarnya.