
"Kalau gitu kamu gak boleh pergi!!"
"Dan lo gak bakal gue ijini buat nyentuh gue, baik itu nyium maupun meluk!" balas Angel tak mau kalah.
"Shit!!! Stop bermain-main denganku sayang, aku pusing dengan semua permainan yang telah kamu ciptakan hari ini. Sebenarnya kamu itu kenapa? Kenapa hari ini kamu sangat aneh sekali!!!"
"Lo bilang apa barusan!!?" Tanya Angel dengan dingin dan mengintimidasi.
Allen merasa bingung, apa yang harus ia lakukan sekarang, pikir Allen. Sepertinya dirinya sudah membangunkan singa betina yang sedang tidur. Tapi kali ini apa salah dirinya? Sungguh sikap dan nada bicara Angel mulai membuatnya merasa tak nyaman. Bahkan bukan cuma dirinya saja. Seisi kelas yang tadinya riuh mendadak hening karena suara Angel-nya.
"Eh, enggak ngomong apa-apa kok, suer!!" cengir Allen.
"Sekali lagi gue denger lo bilang kalau gue aneh, gue patahin leher lo!" ucap Anggel dengan kesal dan langsung pergi meninggalkan kelas sambil mengambil tasnya.
"Sayang, tungguin!!"
Angel tak memperdulikan panggilan Allen. Well, dia akuin jika dirinya aneh hari ini. Aneh banget malah. Tapi ia juga tidak tau apa alasannya.
~*~*~*~*~
"Dim!" panggil Angel.
Dimas tersenyum dan langsung memeluk erat Angel. Sungguh ia merindukan adiknya ini. Sudah 2 minggu mereka jarang bertemu semenjak adiknya itu menjalankan rencana sialan itu. Sialan? Tentu saja rencana itu sialan. Karena salah sedikit saja bisa bahaya untuk adiknya. Keluarga satu-satunya.
Dimas melepaskan pelukannya "Kenapa lo baru dateng sekarang!!? Lo tau? Gue kangen banget sama lo!" ucap Dimas dan mencium hangat kening Angel.
"Gue juga kangen sama lo," kikuk Angel.
Dimas tersenyum dan membawa Angel duduk di sofa.
"Jadi apa yang mau lo bicarakan?"
~*~*~*~*~
"Jadi gimana menurut lo?"
"Gak salah gue mau jadi adek lo Dim, ide lo bagus banget!! Gue setuju," jawab Angel dengan bangga.
"Ya iyalah lo gak salah, mau lo nolak gue jadi kakak lo. Gue bakal tetep jadi kakak lo" ucap Dimas dengan malas.
Angel terkekeh melihat Dimas.
"Jadi kapan rencana ini di mulai?" Tanya Angel.
"Kalau bisa secepatnya karena Hengki sepertinya sudah menyadari pergerakan kita? Dan satu yang gue minta dari lo, jaga diri lo selagi lo masih tinggal disana. Gue gak mau karena dendam ini, gue harus kehilangan lo. Cukup gue kehilangan Prima. Gue gak mau kehilangan lo. Lo keluarga gue satu-satunya."
"Lo kenapa? Mendadak aneh kayak gini."
Dimas menghela nafas, "gue cuma gak mau kehilangan lo, karena lawan kita kali ini gak bisa dianggap enteng. Enteng kalau dia gak di bawah naungan pacar lo itu, tapi pada kenyataannya Hengki berada di lindungan pacar lo!"
Dukkk
Angel dengan kesal melempar bantal ke muka Dimas. Pacar? Pacar yang mana? Dirinya saja tidak punya pacar
"Gue gak punya pacar!"
"Terus si kunyuk Allen mau lo kemanain Angelll?" tanya Dimas gemas.
Angel yang baru saja sadar dengan apa yang ia ucapkan langsung menutup mulutnya dan meruntuki dirinya sendiri.
"Hah!! Tadi lo bilang apa? Lo suka sama gue" tanya Dimas tak percaya.
"Gu..gu..gue salah ngomong tadi!"
"Hahahaaaaa!!! Angel telinga gue masih waras kok."
Angel kesal melihat Dimas tertawa lepas, apa salahnya suka sama dia. Toh mereka berdua tidak ada hubungan darah.
"Kakak sialan lo, ketawain aja terus!"
"Lagian lo aneh-aneh aja sih, ngapain juga lo suka sama gue? Mending lo suka pacar lo aja sana!"
"Udah gue bilang, gue gak punya pacar. Gue gak suka sama Allen, gue sukanya sama lo Dima--"
Belum selesai Angel bicara, ucapannya terpotong dengan suara yang tak asing.
"Gak punya pacar?"
Angel menelan ludahnya dengan susah payah? Kenapa jadi begini? Suara Allen terdengar sangat dingin. Apa laki-laki itu marah dengan dirinya?
Angel menghela nafas, bagaimanapun ia harus menjelaskan sesuatu ke Allen, supaya rencananya tetap berjalan dengan lancar.
"Iya, gue gak punya pacar!"
"Gue lo anggap apa selama ini, hah!!"
"Lo?? Cuma orang gila yang tiba-tiba dateng di kehidupan gue dan mengklaim gue sebagai milik lo."
Allen tertawa sinis," seharusnya gue udah tau ini dari awal, kalau semua usaha gue sia-sia buat ngedapatin lo. Gue cuma gak nyangka aja, gue kira lo udah mau membuka hati lo buat gue. Lo selalu ngasih gue harapan. Kalau akhirnya kayak gini, gue lebih baik ngenal lo.”
"Kata siapa usaha lo sia-sia?" Tanya Angel.
Allen mengernyitkan dahinya, "apa maksud lo? Lo mau ngasih gue harapan lagi? Tapi lo telat, gue udah terlanjur kecewa sama lo!" ucap Allen dan langsung pergi dari situ.
Baru beberapa langkah, langkahnya harus terhenti karena ucapan Angel. Mendengar ucapan itu membuat jantungnya berdetak kecang.
"Bukannya udah jelas? Usaha lo selama ini gak sia-sia. Bukannya waktu di mall kemarin gue minta sama lo 'buat nyaman gue sama lo' dari situ hati gue udah mulai tersentuh dengan semua perlakuan lo ke gue, bahkan dengan suka rela gue ngasih first kiss gue ke lo. Dan lebih gilanya lagi lo juga ngedapatin keperawanan gue. Gue udah nyerahin diri gue ke lo. dan setelah lo dapet semuanya, lo mau pergi gitu aja. Banci lo!" jelas Angel dengan kesal.
"Apa maksudnya tadi?" Tanya Dimas dengan emosi.
"Iya, gue udah gak perawan lagi!" jawab Angel dengan malas.
"Laki-laki brengsekk" ucap Dimas dengan emosi.
Dengan berjalan dengan cepat, ia menghampiri Allen. Ia memukul Allen habis-habisan. Marah? Tentu saja dirinya sangat marah saat mengetahui kalau keperawanan adeknya sudah diambil orang yang bukan suaminya.
"Dimas stop, ini urusan gue sama Allen". Ucap Angel yang berusaha menenangkan Dimas.
"Gimana gue bisa berhenti kalau di depan gue ada laki-laki brengsek seperti dia!!”
"Tapi laki-laki yang lo bilang brengsek ini itu orang yang gue suka saat ini, dan lo orang yang gue suka dulu!!" ucap Angel dengan lantang.