ANGELICA

ANGELICA
PART 44



Dimas mengacak-acak rambutnya, gursang.


Sejak kemarin adiknya kesayangannya tidak ada kabar. Semua pesan yang ia kirimkan tidak di balas satupun. Di telfon tidak diangkat. Sebenarnya apa kesalahannya? Apa hanya karena ia menggoda adiknya kemarin sampai membuat Angel semarah ini?


Ting


Dengan malas Dimas membuka hp-nya. Dalam hati ia menggerutu kesal. Kalau gak penting gue hajar orang yang mengirim pesan.


From : *Angel


Skrg jg*!!!


Dimas tersenyum melihat pesan itu, dengan segera ia menelfon Angel.


Senyum Dimas yang tadinya lebar sekarang luntur kembali. Lagi, lagi, dan lagi. Angel mengabaikan telfon darinya.


Dengan perasaan kesal, Dimas menelfon Dave.


'sialan lo Dim.. gak ada jam apa dirumah lo? Sampe nelfon gue tengah malam gini' gerutu Dave.


Dimas terkekeh mendengar gerutuan Dave.


'ck. Gak usah ketawa lo.. buruan apa mau lo? Gue mau lanjut tidur ini.'


Dimas menghela nafasnya, "gue mau lo lakuin sekarang... Angel udah minta gue buat lakuin sekarang."


'Angel nyuruh lo bukan gue, sialan!!!! lo ganggu gue tengah malam kayak gini cuma karena hal kayak gini... lama-lama gue gak betah kerja sama lo!' ucap Dave dengan kesal.


"kalau ada lo, kenapa juga gue harus ribet... inget gue itu bos lo Dave, jadi lebih baik lo turutin aja apa mau gue... tapi gue masih mau bermain sedikit lagi, jadi lo atur semuanya... udah ya, gue tunggu laporannya besok pagi di meja gue... sekarang gue mau ketemu sama pacar gue dulu, bye!!"


'Dimas siala--'


Belum sempat Dave menyelesaikan ucapannya, Dimas sudah lebih dulu memutuskan sambungan telfonnya.


Sekarang mood-nya sudah balik setelah mengusik ketenangan seorang Dave.


Ting


From : *Dave


Kalau gue g dapet bonus bulan ini, habis lo sama gue*!!!!


Tawa Dimas pecah setelah membaca pesan dari Dave.


Now, apa yang harus ia lakukan? Mencoba menghubungi Angel lagi? Itu bukan solusi yang tepat. Mengingat adiknya masih marah dengan dirinya.


Senyum Dimas kembali terbit, "sepertinya malam ini lo harus nemanin gue, Alexa!"


~*~*~*~*~


Ekhhh


Allen mengucek matanya. Ia melihat tempat di sampingnya kosong.


Allen mengedarkan penglihatannya di sekitar kamar ini, tidak ada tanda-tanda kalau Angel berapa di kamar ini. Sebenarnya dia kemana tengah malam seperti ini.


Ceklek


Allen menatap tajam orang yang berdiri di ambang pintu kamar, "dari mana kamu tengah malam gini?" Tanya Allen mengintimidasi. Dan di balas senyuman oleh Angel.


Emang pada dasarnya ia tak bisa menolak pesona seorang Angel. Niat awal ingin mengintrogasi Angel, tapi hanya karena senyuman Angel, semua niatnya langsung hilang entah kemana.


Allen menghela nafas, "kamu dari mana?" Tanya Allen sekali lagi dengan nada lembut.


Angel menyandarkan kepalanya di bahu Allen dan menggelengkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan Allen.


"Allen, bisa kan posisi kita seperti ini sampai besok?"


Allen tersenyum dan mengelus kepala Angel, "kenapa? Sampai kapanpun kamu butuh bahu ku, aku akan langsung ada di samping kamu... jangankan sampai besok, sampai minggu depan pun aku mau, asal sama kamu."


Angel terkekeh, "aku lama-lama bisa bosan sama kamu, kalau kamu terus ngucapin gombalan-gombalan gak bermutu itu."


"Gak bermutu tapi kamu suka kan," ucap Allen dan di balas anggukan oleh Angel.


Hening, tidak ada yang memulai pembicaraan setelah ucapan Allen.


Allen yang sibuk menciumi kepala Angel. Dia menyukai aroma tubuh Angel. Semua hal yang ada di dalam diri Angel akan selalu menjadi favoritnya.


Sedangkan Angel sibuk dengan pemikirannya, ia takut jika suatu saat Allen akan pergi dari sisinya. Ia sudah sangat nyaman dengan keberadaan Allen disisinya. Ia tak ingin Allen pergi dari sisinya.


Angel mengangkat kepalanya dan menatap Allen. Tatapan mata yang membuat Allen keheranan.


"Kenapa?" Tanya Allen dan Angel langsung menggelengkan kepalanya.


Allen tersenyum, "kalau ada masalah cerita sama aku... aku selalu ada buat kamu."


Angel menggelengkan kepalanya, "aku hanya takut kamu pergi."


"Pergi kemana?"


"Entah, aku punya firasat kalau kamu bakal pergi jauh dari aku... aku gak mau kamu pergi," ucap Angel dengan lirih.


Allen dengan sigap menghapus air mata yang keluar dari mata kekasihnya ini, "hei, jangan nangis oke! Aku gak bakal pergi dari kamu... kamu tau itu kan!"


Angel menggeleng, "itu sekarang, bagaimana dengan semua yang aku perbuat... setelah itu aku yakin kamu bakal pergi jauh dariku... aku gak mau kamu pergi All!!! Kenapa harus kamu All?!! Kenapa?!!"


"Sebenarnya rencana apa yang sedang kamu lakukan? Kenapa kamu akan menjadi psychopath? Kenapa kamu gak cerita sama aku? Kenapa aku bakal membenci kamu setelah itu? Kenapa aku harus pergi dari kamu? Kenapa aku bisa..."Allen menelan salivanya dengan susah payah," kenapa aku bisa gak cinta sama kamu lagi dan akan menyesal... sebenarnya apa yang sedang kamu lakuin di belakangku, apa semua rencana kamu itu berkaitan denganku?"


Angel membeku seketika. Ia tak sanggup untuk memberitahu yang sebenarnya kepada Allen. Ia masih belum siap kehilangan Allen untuk saat ini. Allen berarti buat dirinya.


"Allen, aku sayang kamu!!!"


Cup